Cerita Tentang Mirisnya Tanggal Tua

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.

mataharimall-kompetisi

 

Kenapa ya, hal yang berkaitan dengan kata ‘tua’ itu selalu terkesan menakutkan?

Kalau kita denger kata ‘rumah tua’ maka otomatis dibenak kita terbesit sebuah anggapan bahwa rumah tersebut tergolong angker dan menakutkan.

Kalau kita mendengar kata ‘motor tua’ maka otomatis dibenak kita terbesit sebuah anggapan bahwa motor tersebut tergolong motor lama yang menyimpan banyak kenangan akan mantan atau gebetan yang pernah duduk diboncengan.

Kalau kita mendengar kata ‘manusia tua’ maka sudah pasti yang terbesit dibenak kita semua pasti adalah muka gue.

Eng…

Dunia juga tau itu.

Nah, lantas, bagaimana kalau kita mendengar kata ‘tanggal tua’?

Hmm…

Mungkin, yang terbesit dibenak beberapa orang adalah :

‘Duh… waktunya penurunan gizi nih, gue’

Yap, menurut beberapa orang, selalu ada hal pahit dibalik tanggal tua. Entah ada yang menganggap bahwa tanggal tua adalah neraka. Ada pula yang menganggap bahwa tanggal tua lebih baik dihapuskan aja. Pasalnya, banyak orang yang seolah tersiksa ketika tanggal tua itu tiba.

Pada awalnya gue berpikir :

‘Apa iya tanggal tua semengerikan itu?’

Soalnya, dulu sewaktu masih duduk di bangku SMK gue selalu melihat temen-temen satu kelas yang selalu mengeluh setiap tanggal tua tiba. Keluhan terbesar muncul dari temen-temen gue yang ngekost. Mereka merasa kalau tanggal tua adalah tanggal yang menyiksa dan lebih baik dihapusin aja dari kalender nasional. Dari situ, gue yang seolah buta akan tanggal tua dan nggak ngerti dibagian mana ‘menakutkannya’ tanggal tua hanya bisa geleng-geleng kepala sembari membatin.

‘Emang ada apa sih dengan tanggal tua?’

Sampai pada akhirnya, Tuhan berbaik hati untuk memberi gue sebuah pengalaman berarti perihal momen di tanggal tua tersebut, yang kemudian membuat gue berteriak dengan nada yang cukup mengenaskan :

‘KAMPRET, TANGGAL TUA KOK BEGINI AMAT, YA?’

Kok bisa gitu?

Mari gue ceritakan.

Semua berawal pada pertengahan tahun 2012 silam. Kala itu, selepas lulus dari SMK, gue beruntung bisa langsung diterima kerja di salah satu perusahaan pertambangan di Kalimantan. Disitulah pengalaman pertama gue dalam hal merantau dimulai.

Pada saat itu, ketika awal-awal berada di Kalimantan, tepatnya pada tanggal 4 Juni 2012, gue merasa bahwa bekerja itu menyenangkan banget. Pasalnya, untuk seminggu awal disana, gue difasilitasi kamar hotel untuk menginap beserta jatah makan yang rutin 3 kali sehari.

Surga banget.

Saat merasakan kebahagiaan dan kenyamanan ini, gue pun langsung berucap syukur sembari membatin.

‘Ah, kalau begini terus mah hidup gue bakal lancar-lancar aja. Nggak ada istilah tanggal tua mengerikan di perantauan.’

Anggapan gue tersebut memang benar. Namun sayangnya, hal itu hanya berlaku selama satu minggu aja.

Pasalnya, setelah satu minggu berlalu, gue diminta oleh pihak perusahaan untuk mencari tempat penginapan sendiri (tentu dengan biaya sendiri) beserta mencari makanan sendiri. Disitulah gue merasa seolah terbuang. Dan disitu pula gue merasakan kesedihan yang amat sangat mendalam.

Semua bukan tanpa alasan. Soalnya, sewaktu hendak berangkat ke Kalimantan, gue hanya diberi pesangon oleh orang tua sebesar satu juta rupiah, dan pada waktu itu gue nggak minta lebih karena menurut gue uang satu juta rupiah adalah nominal uang yang sudah cukup banyak.

Pandangan gue begini :

Harga satu nasi kucing : 1500. Duit gue : Satu Juta. Duit satu juta bisa buat beli : 667 nasi kucing. Maka, dengan uang satu juta itu, gue bisa hidup selama 200 hari penuh beserta menghidupi beberapa fakir miskin dan anak terlantar yang tidak diperdulikan oleh negara karena pejabatnya sibuk akan harta dan tahtanya.

Namun pada akhirnya, pandangan gue tersebut ternyata salah besar.

Ketika gue nyari kost-an di Kalimantan, gue sengaja nyari kost yang nggak bagus-bagus amat. Setelah dapet, ternyata biayanya lumayan juga. Ya, gue dapet kost-kostan yang biaya satu bulannya sebesar empat ratus ribu rupiah.

Belum apa-apa, duit gue habis separo cuma buat ngekost.

Huft.

Setelah dapet kost-an, gue pikir penderitaan gue akan berhenti sampai situ. Namun sayangnya… Enggak.

Setelah ngekost, gue baru menyadari bahwa perut gue butuh nasi. Butuh asupan gizi. Hati gue pun butuh diisi. Butuh seseorang yang mampu mengisi. Setelah menimang-nimang banyak hal dan beranggapan bahwa nasi nggak mungkin bisa turun dari langit, beserta hati yang nggak mungkin bisa diisi, akhirnya gue pun mencoba untuk mencari makan disekitaran kost.

Baru beberapa langkah jalan keluar kost, gue menemukan sebuah rumah makan lesehan ayam penyet yang cukup menggoda. Tanpa banyak berpikir, gue pun nggak ragu untuk mampir dan mesen satu porsi ayam penyet.

Pikiran gue kala itu masih menganggap bahwa biaya hidup di Kalimantan sama kayak di Jogja yang mana harga satu ayam penyet itu cuma berkisar Rp.9000 rupiah.

Gue memakan ayam penyet dengan lahap, tanpa ada beban pikiran apapun.

Sampai akhirnya, setelah selesai makan, gue pun bertanya perihal berapa yang harus gue bayar untuk satu porsi ayam penyet beserta  satu gelas es teh ke ibuk-ibuk sang penjual.

‘Tiga Puluh Ribu, Mas’

Gue masih inget banget gimana nyaringnya suara si Ibuk-ibuk itu yang dengan enteng mengucapkan kalimat ‘Tiga Puluh Ribu, Mas’.

Gue yang kala itu masih syok dan beranggapan kalau si ibuk-ibuk itu salah hitung pun mencoba meyakinkan.

‘Maaf, bu? Berapa? Nasi Ayam Penyet satu, es teh satu.’

Lagi-lagi ibu-ibu itu berucap dengan entengnya.

‘Tiga Puluh Ribu Rupiah, Mas’

Gue pengen nangis rasanya.

Sepulangnya dari Warung Lasehan Ayam Penyet bedebah itu, gue pun cuma bisa termenung di kost-an sambil menatap langit-langit kamar. Ternyata, biaya hidup di Kalimantan itu luar biasa edan ya? Baru satu hari hidup mandiri di perantauan, empat ratus tiga puluh ribu melayang. Edan aja.

Diatas kasur lusuh yang disediakan oleh pihak kost-an, gue pun mencoba mencari informasi di google, siapa tau ada angkringan nasi kucing murah di Kalimantan. Namun, ketika mencari, gue malah dikatain google begini :

sjaksladasdasdad

Kan, Kampret.

Akhirnya, setelah mencoba pasrah dengan keadaan, gue pun mengambil satu buah pensil dan kertas guna menghitung berapa biaya minimal yang bisa gue gunakan untuk hidup di Kalimantan.

Ketika duit gue hanya bersisa Rp.570.000, tanggal di kalender masih berada di angka 11 pada bulan Juni 2012 yang mana artinya sebisa mungkin gue harus bisa hidup selama 19 hari dengan uang sebesar Rp.570000.

Yang mana kesimpulannya adalah : MODARO, FEB.

Perhitungan pun dimulai :

Satu kali makan di Kalimantan berkisar antara Rp. 15.000 – Rp.30.000, gue pun mengambil angka aman pada Rp.20.000.

Dari situ gue mempunyai beberapa opsi :

  1. Jika satu hari gue makan 3 kali, maka biaya yang gue butuhkan untuk makan selama 19 hari adalah : Rp. 1.140.000

MAMPUS !

CORET !

  1. Jika satu hari gue makan 2 kali, maka biaya yang gue butuhkan untuk makan selama 19 hari adalah : Rp. 760.000

MASIH MAMPUS !

CORET!

  1. Jika satu hari gue makan 1 kali, maka biaya yang gue butuhkan untuk makan selama 19 hari adalah sebesar : Rp. 380.000

YEAH ! SISA RP. 190.000

AMAN !

  1. Jika satu hari gue nggak makan, maka biaya yang gue butuhkan untuk makan selama 19 hari adalah : Rp. 0

HORE ! HEMAT BANGET INI MAH.

TAPI LANGSUNG MODAR.

Akhirnya, merujuk pada  empat opsi diatas, gue pun memilih opsi ketiga untuk menghindari hal-hal buruk ditanggal tua.

Namun, pada kenyataannya, rencana memang tidak sesuai dengan kenyataan wahai teman-temanku yang budiman.

Setelah beberapa hari mematuhi opsi ketiga dan berhemat ria, godaan selalu datang darimana saja. Hal itu terjadi karena pada suatu waktu, seorang rekan kerja ada yang mengajak nongkrong di Tepian (Tempat hits nongkrong yang ada di Kalimantan) untuk sekedar makan-makan bersama. Otomatis, dana yang sudah gue rencanakan untuk hidup pas-pasan selama 19 hari pun jadi berantakan.

Sampai ketika tanggal tua mulai tiba, duit gue hanya tinggal Rp.50.000. Gue pun bingung harus berbuat apa kala itu. Akhirnya, untuk menyiasati hal tersebut, di tanggal tua itulah akhirnya gue mencoba untuk makan sebanyak-banyaknya ketika dapat jatah makan siang di kantor. Dan ketika waktu pulang kerja tiba, gue sebisa mungkin mengambil beberapa cemilan kantor yang tersisa untuk dibawa pulang.

Hidup itu butuh perjuangan wahai saudaraku yang baik hatinya.

Sampai akhirnya, di tanggal tua yang amat kronis yaitu tanggal 29 Juni 2012, secercah harapan untuk hidup kembali muncul ketika untuk pertama kalinya dalam hidup, gue mendapat gaji pertama sebagai pekerja.

Gue langsung sujud syukur saking girangnya.

Sembari melihat nominal yang tertera di layar hape perihal gaji pertama gue yang ternotifikasi dari sms banking, gue senyum-senyum sendiri dan bertekad untuk belajar dari masa-masa kelam gue ditanggal tua sebelumnya yang memaksa gue untuk hidup dengan dengan uang seadanya.

Pada akhirnya, gue pun berkesimpulan bahwa tanggal tua itu sebenernya nggak semengerikan apa yang dibayangkan kalau kita telah mempersiapkan banyak hal sebelumnya, seperti nggak berboros ria untuk sesuatu yang nggak berguna adanya.

Di tanggal tua pun terkadang selalu ada pahlawan-pahlawan yang datang secara tak terduga, seperti gue yang nggak terduga ternyata gajian di penghujung di tanggal tua. Atau pun seperti Budi, yang nggak terduga mendapat bantuan dari ‘Matahari Mall’ untuk mengatasi masalahnya di tanggal tua.

Tanggal tua memang tidak seharusnya diratapi dengan ketakutan. Namun, tanggal tua seharusnya kita hadapi dengan senyum lebar penuh ketegaran dan persiapan yang matang… beserta harapan untuk kedatangan sang ‘Pahlawan’

Jika memang sudah begini adanya, nggak ada alasan lagi untuk takut pada tanggal tua bukan?

 

 

Advertisements

119 comments

  1. aku dapet nih emailnya buat ikutan kompetisi ini tapi belum dibikin sama sekali :-). tanggal tua pas jan kuliah dulu sering bikin sesak nafas, rasanya kok tgl 1 lama banget,hehe
    btw gambar roti di olesin sabun colek itu ya ampuun :-))

    1. Wkwkwk kayaknya semua dapet email buat ngeramein lomba ini deh ya 😀 wkwkwk

      Iyaa ya mbak ._. Alhamdulillah aku nggak ngerasain gimana tanggal tua pas kuliah wkwk pasti seret banget rasanya 😀

      Eng… agak gilak juga ya mbak 😀

  2. Dulu pas masih ngajar di SMA, gajianku tgl 25. Eeeeh trs suatu hari, di tgl 25 yg (awalnya) ceria krn (disangka) akan gajian….. Bendahara sekolah ngabari klo gajian mulai bln itu, dipindah jd tiap tgl 30. Disitu saya merasa sedih dan sakitnya tuh disini…. #tunjukDompet

  3. Andalan saya wakty jadi mahasiswa dulu selalu ngutang ke temen2 wa ha ha…… Jadi semua pada ngehindar waktu saya main ke kostannya. Takut klo dihutangin.

      1. Waaa makasiiiih banyaaak ya 🙂 heheheh ayoook nulis dong 😀
        Aku udah mampir ke blogmu. Tapi kayaknya harus baca yang part 1 dulu deh ya 🙂

  4. Huahaha Feb, ceritamu ini benar2 memutar ingatan jaman2 ngekos. Aku mulai ngekos umur 15 tahun di Surabaya. Diumur segitu aku sudah harus mengatur keuangan sendiri, sudah dijatah ortu sebulannya jadi ya harus dipas2in. Padahal SMA ku dulu terkenal banget dengan anak2 berduit, tapi aku tak mampu mengikuti gaya hidup mereka,tapi sering kecipratan ditraktir, lumayan ngirit makan haha. Pas jaman kuliah aku ada sambilan ngasih les,jadinya terbantukan ada uang tambahan. Tapi tetap saja ada triknya untuk makan : awal bulan makan di warung yg lumayan enak dengan harga diatas rata2, tengah bulan sampai akhir makan diwarung yg jual seporsi Rp 1000 – Rp 5000. Seribu sudah dapat makan seporsi lho Feb di Sby haha.

    1. Waaaaaa 😀 kehidupanmu berwarna banget ya mbak wkwk umur 15 tahun udah ngekos 😀 kereeeen wkwkw mandiri banget 😀

      Lumayaaaan banget itu ditraktir makan wkwk
      Waaa kereen, ada sambilan ngelesin yaaa. asupan dana banget itu mbak wkwkk
      Nah, selalu ada trik ya buat mengatasi tanggal tua yang pasti mendera wkwkwk

      Itu… seriusan ada warung makan yang jual makan seporsi cuma 1000? *langsung mau berumah tangga di surabaya aja* wkwkkw

  5. …. APAAAN SIH FEB! aku sampe googling beneran tapi kecewa karena gak dapet tanggapan kmprt dari google :’))) nyebelin!
    Bahwasanya semua anak kost yang pernah ngerasain pahitnya tanggal tua punya kemampuan untuk jadi financial planner di masa depan :’)
    good luck Feb!

    1. Wkwkwkw jadi yang dapet tanggapan kampret itu cuma aku :’ #FEBRIEMANGBIASADIGINIIN wkwkwkw

      Hihihi jadi anak kost yang ngerasain tanggal tua itu sebenernya mereka baru belajar ya mbak 😀 hihi

      makasiih banyak, Mbak 🙂

  6. Hehe begitulah hidup di Kalimantan. Biaya tinggi banget. Tapi di Banjarmasin masih ada kok nasi yang sebungkus 7500. Biasanya nasi kuning or putih plus lauk masak habang(ayam/tekor/haruan)
    Makanya aku kalau pulang ke Jawa berasa kaya banget. Wong dhuwite diblanjakne ora entek2. Sembarang2 murah.
    Btw Kalimantan mana Feb?

    1. Bangeeeeet banget :’ sediiih rasanya kalau inget-inget masa dulu wkwk tapi seneng juga sih karena dapet pengalaman 😀

      Aku waktu disana nggak nemu nasi yang sebungkus 7500 :’ nemunya yang sepuluh ribuan, itupun tanpa minum. Mie ayam disana aja sepuluhribuan mbak :’

      Nah itu dia, orang kalimantan kalau ke Jawa pasti langsung tajir banget wkwkwk 😀 bedaaa banget rasanya wkkwwk

      Aku dulu di Berau Kalimantan Timur, Mbak 🙂

  7. MODARO FEB!
    kudu ne duit 570.000 ke mak tukokno sarimi sak kerdus 70.000 e.
    terus mangano sarimi sakbubare.

    PENYAKITEN KOWE FEB!

    Untuk menghindari sekarat ditanggal tua, memang kita harus cerdas-cerdasnya si ngatur duit. menahan nafsu nongkrong-nongkrong ganteng bareng temen. Dan tergoda janda kembang.

    uweslah ngono ae.
    Sukses mas feb.

    1. Eng… 570000 buat beli sarimi 70000, sisanya buat biaya memakamkan diri sendiri ya :’
      sedih wkwkkw

      Nah, makane aku jarang nongkrong wkwk.
      karena….setiap hari adalah tanggal tua buatku -Febri Anak Yang Biasa Diginiin-

      Sukses buat kamu juga, Dibaaah~

    1. Iyaaa dong Ayuuuu 🙂

      Eng… kalau ke sana lagi… kayaknya belum berani wkwk nggak ada pendapatan wkkw

      Aku pernah ngerasain banget waktu disana. es teh 5000 -_- bikin mau kayang 😦

      makasiiih ya 🙂

  8. Biasanya memang yang ngerasain tanggal tua itu orang yang udah cari duit sendiri… dan para anak sekolah/kuliahan yang merantau ke kota lain 😀

    1. Wkwkwk nah bener banget mbak wkwk yang tergolong aman sih biasanya yang udah cari duit sendiri mbak.
      Tapi kalau yang anak sekolah/kuliahan merantau itu kadang tergoda untuk mengikuti gengsi perkembangan zaman yang kekinian

  9. Hahaha, tanggal tua emang tanggal yg cukup horor.

    Btw semoga bisa juara, tapi juara 2 aja ya, soalnya juara 1nya saya :p

  10. hahhahahahahaha.. sama lah feb, jaman kerja dulu aku juga ternasuk dalam kasta pegawai dengan gaji 9koma.. alias setelah tanggal 9 dompetku langsung koma..

    1. Hehehe semua kayaknya diemail deh ya buat ngeramein lombanya 😀 wkwkw

      Ayoook. Masih ada waktu 9 hari lagi 😀 dpikirin lagi idenya, telus ikutaaan yaak 😀

      makasiiih 🙂

  11. Di tepian? entah kenapa gue koneknya antara di samarinda atau tenggarong nih? :))
    hidup di kalimantan emang mahal sih. Katanya beda tipis sama kayak di jakarta. Jadi, kalo mau hidup di jakarta, sebaiknya gladi resik dulu di kalimantan.

    1. Wkwkwk Iya Tepiaaan 🙂 bukan Samarinda atau Tenggarong, Mas 😀 tapi Berau 😀 heheh sedikit pelosok sih 😀

      Bangeeet mahaaalnya wkwkwk

      Jadi mahalan mana? Jakarta atau Kalimantan? :’

      Gladiresik dulu di Kalimantan 😦 wkwkkw

  12. O_O ih sumpah beneran apa itu makan roti pake sabun cuci baju? Ya ampun sampe segitunya!! Wes toh, mendingan pada belajar investasi aja. Banyaak di luaran sana macam2 investasi jadi pas tanggal tua nggak serba kepepet ini-itu, bisa ambil dikit2 dari profit invest…

    1. Wkwkw enggaaaak beneran mbak -_- foto doang itu mbak wkwk dan ada sumbernya kok 😀

      Naaaaah bener banget kamu mbak 😀 seharusnya yang pada begini nih belajar berinvestasi ya 😀

  13. Yah bang masa kalah sama kursi bang
    Kursi itu bisa setahun loh engga makan
    Jadi klo mw hemat beljarlah dari kursi
    Dia bisa engga makan loh bang
    Tapi aneh loh bang kursi kan punya kaki y
    Tapi kenapa y dy g bisa jalan?
    Tw ga bang

  14. Bahahahaha. SUMPAH INI POSTINGAN BIKIN NGAKAK BANGET. Apalagi yang soal hitung-hitungan itu. Hahahahahahaahahaha. Modar!

    Kalimantan? Tepian? Kamu di Kalimantan mana, Feb? Kalimantan Timur? Samarinda? Waaah itu tahun 2012 ya. Untung kita belum saling kenal. Kalau saling kenal kayaknya kamu bakal sering ke rumah aku buat minta makan. Minta nasi kucing. Kan nggak adaaaaaaaa :p *lalu digampar Febri*

    1. Wkwkwkw ada sedihnya nggak tapi, Chak? wkwkw ini ceritanya cerita sedih loh wkwkw 😀

      Modar banget ._. wkkkw

      Tepiaaan 😀 di Berau, Chak wkwkw 😀

      Seharusnya kita kenal sedjak doeloe 😦

  15. Feb kirain beneran foto kamu makan roti pake sabun colek. Ayo dong cobain! :)) tapi bener sih temen2 ku yang ngekost pasti ngalamin tanggal tua. Aku sih…. kayanya tiap hari ngerasa tanggal tua wkwk

    Eh aku tadinya mau ikutan ini juga nggg tapi… gegara gak punya fesbuk gak jadi ikutan deh hahaha. Moga menang ya! Jangan lupa foya2 kita *astagfirullah*

    1. Kamu tega mbak aku makan roti pake sabun colek :’
      Wkwkw mereka sering sedih nggak mbak kalau tanggal tua? wkwkwk

      aku juga kok mbak :’ tiap hari rasanya tanggal tua banget wkkw 😀

      Eng… emang harus punya fesbuk ._. eh iya, yang wajib itu ngisi fesbuk ya ._.

      Aamiin. Semoga aku juga menangin hatimu ya~ jangan lupa menikah

  16. Oalah lo pernah tinggal di Kalimantan Feb? Di mananya?
    Hahaha. Emang lah gue juga heran. Di kota gue banjarmasin, lalapan doang tiga puluh ribu. beda ama di malang. Sedi :’)

    1. Pernah kerja di Kalimantan Us wkwkw 😀 di Berau, Kalimantan Timur 😀

      Mahal banget kan ya :’ duuuuh. Tapi disana penghasilannya juga gede ya, jadi sebanding mungkin.

      Wkwkw Malang mah murah semua wkkw 😀

  17. sungguh bikin trenyuh bacanya …

    nasi = es teh 30 ribu …
    buatku yang pernah jadi anak kost harga segitu mahaaalll bro.
    apalagi di tanggal tua.

    cobain masak sendiri nasinya kan gampang tuh pake rice cooker, tinggal beli lauknya .. kerupuk n sambel terasa nikmeeett ..kkkk

    yg sabar ya bro, bentar lagi juga tanggal muda menjemput …
    uhuuyy kiriman datang …!

    wish u luck GA-nya …

    1. Wkwkwk mahal banget itu harga segitu :’ sedih rasanya dulu itu wkwkw tapi untung tertolong sama gajian sih 😀 heheh

      Hahha iya juga 😀 harus belajar berhemat ya biar bagaimanapun 🙂

      Makasiiih ya 🙂

  18. Hahaha…. waktu jaman ngekos, cara ngakalin tanggal tua adalah dgn beli tempe, & tahu, sayur ke tukang sayur biar murah, beras minta pas pulang ke bandung, masak tempe & tahu tiap hari nebeng dapur bu kos XD itu tempe & tahu bisa digoreng buat 4x makan, sayuran rebus doang, rada aman lah sampe gajian haha

    1. Waaa 😀 bener 😀 tempe adalah makanan sejuta umat 😀 nggak tanggal tua atau tanggal tua, tempe mah enak aja dimakan wkwkw 😀 apalagi sama sambel uwuwuw 😀

      Hihihihi beneeer banget nih kamu mbak 😀

  19. bahahaha kampret banget ayam penyet doang 30 ribu. -__-

    waktu merantau itu lu ngak kefikiran ngejual beton feb ?? kali aja bermanfaat gitu bisa nambah duit makan lu. Hahahah

  20. Bener juga ya feb, mengenai yang ‘tua’, iya ya baru kepikiran, suka terkesan menakutkan, termasuk tanggal tua.. Saya juga pernah merasakan akan takutnya tanggal tua, soalnya tanggal makin tua jamaknya duit makin surut… hehehehehehe 😀

    1. Wwkwkw bener kan ya 😀 gimana kalau mantan tua? wkwkwkw

      Naaah itu yang ditakutkan dari tanggal tua :’ tanggal muda foya-foya, tanggal tua yaudahlahya wkwkw 😀

  21. Tanggal tua memang gak bisa dihindari. harus tetap dijalani dan terima apa adanya.haha
    salut sm tulisanmu, feb 🙂
    gile enak bgt bacanya, ketawa dari atas smpe bawah.
    ini mah jdikan novel singkat ajaaaa 😀
    Suksess ya buat lombanya.

    1. Wkwkwk sedih banget ya itu yang makan roti :’ wkkwkw

      Wkwkw iya :’ soalnya biasanya kalau di Jogja itu nasi angkringan ibarat penyelamat wkwkw 😀 eh, di Kalimantan malah nggak ada :’

  22. Sebelum baca artikelnya ngakak liat gambar roti dengan sabunnya hahaha.
    ihihi asal jgn gak makan aja, yg penting ada nasi dan sambel, kalau saya bisa :))
    Btw dulu kerja di Kalimantannya di Kota mana? Krn kan ada kota yang biaya hidupnya tinggi ada yang standar aja? hehe #kepoh
    Sukses ya GA-nya 😀

    1. Wkwkwkw itu sedih banget ya gambarnya wkwkw 😀

      Sama sih mbak 😀 aku nasi sambel tempe mah sebenerrnya juga udah cukup wkkww 😀

      Aku dulu di Berau, Kalimantan Timur, Mbak 😀
      Menurutku saat itu, berau biaya hidupnya lumayan tinggi mengingat itu pertama kalinya aku merantau 😀

      Hihihi makasiiih Mbak 😀

Leave a Reply to Ersi Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s