Cerita Tentang Mirisnya Tanggal Tua

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.

mataharimall-kompetisi

 

Kenapa ya, hal yang berkaitan dengan kata ‘tua’ itu selalu terkesan menakutkan?

Kalau kita denger kata ‘rumah tua’ maka otomatis dibenak kita terbesit sebuah anggapan bahwa rumah tersebut tergolong angker dan menakutkan.

Kalau kita mendengar kata ‘motor tua’ maka otomatis dibenak kita terbesit sebuah anggapan bahwa motor tersebut tergolong motor lama yang menyimpan banyak kenangan akan mantan atau gebetan yang pernah duduk diboncengan.

Kalau kita mendengar kata ‘manusia tua’ maka sudah pasti yang terbesit dibenak kita semua pasti adalah muka gue.

Eng…

Dunia juga tau itu.

Nah, lantas, bagaimana kalau kita mendengar kata ‘tanggal tua’?

Hmm…

Mungkin, yang terbesit dibenak beberapa orang adalah :

‘Duh… waktunya penurunan gizi nih, gue’

Yap, menurut beberapa orang, selalu ada hal pahit dibalik tanggal tua. Entah ada yang menganggap bahwa tanggal tua adalah neraka. Ada pula yang menganggap bahwa tanggal tua lebih baik dihapuskan aja. Pasalnya, banyak orang yang seolah tersiksa ketika tanggal tua itu tiba.

Pada awalnya gue berpikir :

‘Apa iya tanggal tua semengerikan itu?’

Soalnya, dulu sewaktu masih duduk di bangku SMK gue selalu melihat temen-temen satu kelas yang selalu mengeluh setiap tanggal tua tiba. Keluhan terbesar muncul dari temen-temen gue yang ngekost. Mereka merasa kalau tanggal tua adalah tanggal yang menyiksa dan lebih baik dihapusin aja dari kalender nasional. Dari situ, gue yang seolah buta akan tanggal tua dan nggak ngerti dibagian mana ‘menakutkannya’ tanggal tua hanya bisa geleng-geleng kepala sembari membatin.

‘Emang ada apa sih dengan tanggal tua?’

Sampai pada akhirnya, Tuhan berbaik hati untuk memberi gue sebuah pengalaman berarti perihal momen di tanggal tua tersebut, yang kemudian membuat gue berteriak dengan nada yang cukup mengenaskan :

‘KAMPRET, TANGGAL TUA KOK BEGINI AMAT, YA?’

Kok bisa gitu?

Mari gue ceritakan.

Semua berawal pada pertengahan tahun 2012 silam. Kala itu, selepas lulus dari SMK, gue beruntung bisa langsung diterima kerja di salah satu perusahaan pertambangan di Kalimantan. Disitulah pengalaman pertama gue dalam hal merantau dimulai.

Pada saat itu, ketika awal-awal berada di Kalimantan, tepatnya pada tanggal 4 Juni 2012, gue merasa bahwa bekerja itu menyenangkan banget. Pasalnya, untuk seminggu awal disana, gue difasilitasi kamar hotel untuk menginap beserta jatah makan yang rutin 3 kali sehari.

Surga banget.

Saat merasakan kebahagiaan dan kenyamanan ini, gue pun langsung berucap syukur sembari membatin.

‘Ah, kalau begini terus mah hidup gue bakal lancar-lancar aja. Nggak ada istilah tanggal tua mengerikan di perantauan.’

Anggapan gue tersebut memang benar. Namun sayangnya, hal itu hanya berlaku selama satu minggu aja.

Pasalnya, setelah satu minggu berlalu, gue diminta oleh pihak perusahaan untuk mencari tempat penginapan sendiri (tentu dengan biaya sendiri) beserta mencari makanan sendiri. Disitulah gue merasa seolah terbuang. Dan disitu pula gue merasakan kesedihan yang amat sangat mendalam.

Semua bukan tanpa alasan. Soalnya, sewaktu hendak berangkat ke Kalimantan, gue hanya diberi pesangon oleh orang tua sebesar satu juta rupiah, dan pada waktu itu gue nggak minta lebih karena menurut gue uang satu juta rupiah adalah nominal uang yang sudah cukup banyak.

Pandangan gue begini :

Harga satu nasi kucing : 1500. Duit gue : Satu Juta. Duit satu juta bisa buat beli : 667 nasi kucing. Maka, dengan uang satu juta itu, gue bisa hidup selama 200 hari penuh beserta menghidupi beberapa fakir miskin dan anak terlantar yang tidak diperdulikan oleh negara karena pejabatnya sibuk akan harta dan tahtanya.

Namun pada akhirnya, pandangan gue tersebut ternyata salah besar.

Ketika gue nyari kost-an di Kalimantan, gue sengaja nyari kost yang nggak bagus-bagus amat. Setelah dapet, ternyata biayanya lumayan juga. Ya, gue dapet kost-kostan yang biaya satu bulannya sebesar empat ratus ribu rupiah.

Belum apa-apa, duit gue habis separo cuma buat ngekost.

Huft.

Setelah dapet kost-an, gue pikir penderitaan gue akan berhenti sampai situ. Namun sayangnya… Enggak.

Setelah ngekost, gue baru menyadari bahwa perut gue butuh nasi. Butuh asupan gizi. Hati gue pun butuh diisi. Butuh seseorang yang mampu mengisi. Setelah menimang-nimang banyak hal dan beranggapan bahwa nasi nggak mungkin bisa turun dari langit, beserta hati yang nggak mungkin bisa diisi, akhirnya gue pun mencoba untuk mencari makan disekitaran kost.

Baru beberapa langkah jalan keluar kost, gue menemukan sebuah rumah makan lesehan ayam penyet yang cukup menggoda. Tanpa banyak berpikir, gue pun nggak ragu untuk mampir dan mesen satu porsi ayam penyet.

Pikiran gue kala itu masih menganggap bahwa biaya hidup di Kalimantan sama kayak di Jogja yang mana harga satu ayam penyet itu cuma berkisar Rp.9000 rupiah.

Gue memakan ayam penyet dengan lahap, tanpa ada beban pikiran apapun.

Sampai akhirnya, setelah selesai makan, gue pun bertanya perihal berapa yang harus gue bayar untuk satu porsi ayam penyet beserta  satu gelas es teh ke ibuk-ibuk sang penjual.

‘Tiga Puluh Ribu, Mas’

Gue masih inget banget gimana nyaringnya suara si Ibuk-ibuk itu yang dengan enteng mengucapkan kalimat ‘Tiga Puluh Ribu, Mas’.

Gue yang kala itu masih syok dan beranggapan kalau si ibuk-ibuk itu salah hitung pun mencoba meyakinkan.

‘Maaf, bu? Berapa? Nasi Ayam Penyet satu, es teh satu.’

Lagi-lagi ibu-ibu itu berucap dengan entengnya.

‘Tiga Puluh Ribu Rupiah, Mas’

Gue pengen nangis rasanya.

Sepulangnya dari Warung Lasehan Ayam Penyet bedebah itu, gue pun cuma bisa termenung di kost-an sambil menatap langit-langit kamar. Ternyata, biaya hidup di Kalimantan itu luar biasa edan ya? Baru satu hari hidup mandiri di perantauan, empat ratus tiga puluh ribu melayang. Edan aja.

Diatas kasur lusuh yang disediakan oleh pihak kost-an, gue pun mencoba mencari informasi di google, siapa tau ada angkringan nasi kucing murah di Kalimantan. Namun, ketika mencari, gue malah dikatain google begini :

sjaksladasdasdad

Kan, Kampret.

Akhirnya, setelah mencoba pasrah dengan keadaan, gue pun mengambil satu buah pensil dan kertas guna menghitung berapa biaya minimal yang bisa gue gunakan untuk hidup di Kalimantan.

Ketika duit gue hanya bersisa Rp.570.000, tanggal di kalender masih berada di angka 11 pada bulan Juni 2012 yang mana artinya sebisa mungkin gue harus bisa hidup selama 19 hari dengan uang sebesar Rp.570000.

Yang mana kesimpulannya adalah : MODARO, FEB.

Perhitungan pun dimulai :

Satu kali makan di Kalimantan berkisar antara Rp. 15.000 – Rp.30.000, gue pun mengambil angka aman pada Rp.20.000.

Dari situ gue mempunyai beberapa opsi :

  1. Jika satu hari gue makan 3 kali, maka biaya yang gue butuhkan untuk makan selama 19 hari adalah : Rp. 1.140.000

MAMPUS !

CORET !

  1. Jika satu hari gue makan 2 kali, maka biaya yang gue butuhkan untuk makan selama 19 hari adalah : Rp. 760.000

MASIH MAMPUS !

CORET!

  1. Jika satu hari gue makan 1 kali, maka biaya yang gue butuhkan untuk makan selama 19 hari adalah sebesar : Rp. 380.000

YEAH ! SISA RP. 190.000

AMAN !

  1. Jika satu hari gue nggak makan, maka biaya yang gue butuhkan untuk makan selama 19 hari adalah : Rp. 0

HORE ! HEMAT BANGET INI MAH.

TAPI LANGSUNG MODAR.

Akhirnya, merujuk pada  empat opsi diatas, gue pun memilih opsi ketiga untuk menghindari hal-hal buruk ditanggal tua.

Namun, pada kenyataannya, rencana memang tidak sesuai dengan kenyataan wahai teman-temanku yang budiman.

Setelah beberapa hari mematuhi opsi ketiga dan berhemat ria, godaan selalu datang darimana saja. Hal itu terjadi karena pada suatu waktu, seorang rekan kerja ada yang mengajak nongkrong di Tepian (Tempat hits nongkrong yang ada di Kalimantan) untuk sekedar makan-makan bersama. Otomatis, dana yang sudah gue rencanakan untuk hidup pas-pasan selama 19 hari pun jadi berantakan.

Sampai ketika tanggal tua mulai tiba, duit gue hanya tinggal Rp.50.000. Gue pun bingung harus berbuat apa kala itu. Akhirnya, untuk menyiasati hal tersebut, di tanggal tua itulah akhirnya gue mencoba untuk makan sebanyak-banyaknya ketika dapat jatah makan siang di kantor. Dan ketika waktu pulang kerja tiba, gue sebisa mungkin mengambil beberapa cemilan kantor yang tersisa untuk dibawa pulang.

Hidup itu butuh perjuangan wahai saudaraku yang baik hatinya.

Sampai akhirnya, di tanggal tua yang amat kronis yaitu tanggal 29 Juni 2012, secercah harapan untuk hidup kembali muncul ketika untuk pertama kalinya dalam hidup, gue mendapat gaji pertama sebagai pekerja.

Gue langsung sujud syukur saking girangnya.

Sembari melihat nominal yang tertera di layar hape perihal gaji pertama gue yang ternotifikasi dari sms banking, gue senyum-senyum sendiri dan bertekad untuk belajar dari masa-masa kelam gue ditanggal tua sebelumnya yang memaksa gue untuk hidup dengan dengan uang seadanya.

Pada akhirnya, gue pun berkesimpulan bahwa tanggal tua itu sebenernya nggak semengerikan apa yang dibayangkan kalau kita telah mempersiapkan banyak hal sebelumnya, seperti nggak berboros ria untuk sesuatu yang nggak berguna adanya.

Di tanggal tua pun terkadang selalu ada pahlawan-pahlawan yang datang secara tak terduga, seperti gue yang nggak terduga ternyata gajian di penghujung di tanggal tua. Atau pun seperti Budi, yang nggak terduga mendapat bantuan dari ‘Matahari Mall’ untuk mengatasi masalahnya di tanggal tua.

Tanggal tua memang tidak seharusnya diratapi dengan ketakutan. Namun, tanggal tua seharusnya kita hadapi dengan senyum lebar penuh ketegaran dan persiapan yang matang… beserta harapan untuk kedatangan sang ‘Pahlawan’

Jika memang sudah begini adanya, nggak ada alasan lagi untuk takut pada tanggal tua bukan?

 

 

Advertisements

118 comments

  1. kalimantan emang terkenal mahal wkwk
    ngalah-ngalahin biaya hidup di jakarta.

    kebayang kalo ibukota negri ini jadi dipindah ke balikpapan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s