Hati yang Seharusnya Sendiri

Banyak yang bilang kalau pacaran itu nyenengin.

Banyak yang bilang juga kalau pacaran itu cuma indah diawal aja.

Pun banyak yang bilang kalau marahan atau berantem di dalam suatu hubungan itu adalah sebuah ‘bumbu’ pelengkap atas berjalannya hubungan itu sendiri. Temen gue pernah bilang begini :

‘Pacaran itu kalau mulus-mulus aja malah nggak seru kalik’

Ya, gue membenarkan apa yang orang-orang anggap tersebut, mulai dari pacaran nyenengin, pacaran indah di awal dan marahan yang menjadi bumbu pelengkap. Namun kalau bicara masalah marahan atau berantem, gue menggaris bawahi satu hal, yaitu harus tetap dalam artian marahan atau berantem yang nggak keluar batas dong pastinya.

Ya, selama gue hidup, gue udah sering liat bagaimana orang berantem. Disuatu waktu, gue pernah liat adegan sepasang kekasih yang berantemnya unyu-unyu banget. Si cewek marah-marah kesel gitu, terus si cowok nenangin sambil menggenggam tangan si cewek. Sampai akhirnya, beberapa lama kemudian si cewek pun luluh dan mereka kembali romantis lagi.

Di suatu waktu yang lain, gue pernah liat sepasang kekasih yang lagi berantem hebat di jalan. Si cewek nangis-nangis saat dibonceng oleh cowoknya. Parahnya, si cowok malah melajukan motornya dengan kencang yang membuat si cewek jerit-jerit dan minta diturunin aja. Naas, si cowok malah beneran nurunin si cewek. Si cewek pun nggampar si cowok dan nangis di trotoar jalan. Sementara si cowok kampret itu pun memilih buat pergi, meninggalkan ceweknya sendiri.

Sedih.

Mengacu pada dua contoh tersebut, maka bener, marah atau berantem memang selalu ada batasnya.

Selaku manusia yang pernah merasakan bagaimana complicatednya menjalani pacaran, pun gue pernah marah dan berantem sama pacar gue dulu. Model marahannya pun bermacam-macam. Ada yang ngambek-ngambek unyu, ada yang marahan hingga berhari-hari, sampai ada yang marahan yang berakhir dengan putus.

Ada beberapa momen marahan yang masih gue inget sampai sekarang. Semua momen itu tentu membuat gue berpikir ulang perihal pacaran dan seolah-olah memotivasi diri buat membatin :

‘Yakin mau pacaran lagi?

Momen marahan terparah gue selama pacaran adalah yang terjadi pada awal tahun 2014 lalu.

Pada masa itu, gue punya pacar bernama Anti. Kami jadian disela-sela liburan semester ganjil dengan cara dijodohkan oleh seorang teman. Ya, di awal-awal pacaran, kami merasa kalau kami adalah pasangan yang pas dan cocok. Bercanda-bercanda bareng. Nyanyi-nyanyi dijalan bareng. Kami pun merasa kalau pacaran itu nyenengin banget. Semuanya kami jalani bersama-sama tanpa ada marahan atau berantem. Semua terasa sangat indah… di bulan pertama kami pacaran.

Sampai akhirnya, entah kenapa, di bulan kedua pacaran dan dimulainya rutinitas perkuliahan semester genap, hubungan kami pun merenggang. Ada banyak hal yang berbeda dari dia. Mulai dari dia yang udah males telponan, dia yang gampang marah, sampai dia yang susah dihubungin.

Puncak dari terpuruknya hubungan kami terjadi pada hari jadi kami yang ke 2 bulan lebih 15 hari. Kala itu, karena sebuah masalah salah paham yang sangat sepele di twitter, Anti pun seolah membesar-besarkan masalah tersebut dan nggak mau kontak-kontakan sama gue lagi. Disitupun dia minta untuk break dari gue sementara.

Merasa ada yang salah dan merasa kalau ini cuma masalah sepele yang bisa diselesaikan dengan mudah, gue pun berusaha buat minta maaf secara terus menerus. Sampai akhirnya, dia pun luluh dan mau memaafkan gue.

Mencoba merayakan atas kembali harmonisnya hubungan kami berdua, gue pun mengajak Anti buat nonton standupcomedy yang pada waktu itu diadakan oleh kampus UIN. Setelah lebih dari seminggu nggak ketemu, akhirnya pada hari itu pun gue kembali bertemu dengan Anti di rumahnya dan bersiap buat melaju cepat menuju UIN.

Sesampainya di UIN, kami pun langsung masuk ke ruangan yang menjadi tempat diadakannya show standupcomedy. Didalam, kami mencari tempat duduk yang kelihatannya enak buat jadi tempat nonton. Sampai ketika kami nemu kursi yang pas, gue pun langsung mendaratkan pantat gue disana. Sementara itu, masih dengan posisi berdiri di depan kursi, Anti terlihat fokus menatap layar hape yang menyala. Gue mengalihkan pandangan sembari berpikir positif : ‘Ah, mungkin dia lagi sibuk dengan urusan hapenya’

Ketika gue lagi membenarkan posisi duduk, tiba-tiba gue denger suara.

‘Bruk’

Gue menoleh ke arah suara dan melihat Anti jatuh di lantai dengan posisi hampir tiduran. Kemudian, dengan secepat kilat dia mencoba segera bangkit dan memberi kesan bahwa barusan nggak terjadi apa-apa.

Gue pun mencoba memegangi Anti sembari bertanya.

‘Kamu kok jatuh kenapaa?’

Anti menggelengkan kepalanya, kemudian melepaskan pegangan gue.

Ternyata, setelah gue telusuri, Anti jatuh karena dia nggak tau kalau kursi yang ada di auditorium UIN itu nggak ada penyangganya, begini :

Dari situlah mood Anti tiba-tiba berubah. Dia nggak bisa ketawa mendengar joke-joke yang dilempar oleh para Komika. Ketika gue mau menenangkan, dia malah terkesan acuh. Ketika gue pegang tangannya, dia malah melepas. Disitu gue pun bingung.

‘Jatuh karena salah sendiri, kok marahnya ke gue?’

‘Habis baikan kok berantem lagi?’

Setelah pertunjukkan standupcomedy usai, gue pun langsung nganterin Anti pulang kerumahnya. Setelah sampai rumah, Anti pun turun dari boncengan dan langsung berjalan menuju pintu rumahnya. Tanpa menoleh dan berucap apapun, dia masuk ke rumah dan menutup pintu rapat-rapat.

Setelah kejadian tersebut, mau berapa kalipun gue ngechat dan mau berapa kalipun gue menekan panggilan, Anti tetep nggak mau ngrespon. Hampir selama tiga hari gue digituin. Sampai akhirnya, karena merasa nggak kuat, pada suatu malam, gue nyamperin Anti di rumahnya guna menyelesaikan permasalahan yang nggak jelas ini.

Sesampainya di rumah Anti, gue langsung mengetok pintu rumahnya. Beberapa saat kemudian, Anti membuka membuka pintu secara perlahan sembari memberi senyum manis kepada seorang tamu. Namun, ketika melihat bahwa yang mengetok pintu rumahnya itu adalah gue, raut wajah Anti langsung berubah.

‘Kamu ngapain sih kesini?’ Ucapnya dengan nada judes parah.

‘Mau nyelesaiin masalah. Yuk jalan sebentar?’ Gue mencoba memasang muka kalem, melakukan penawaran.

‘Apaan sih?!!!’ Bentak Anti.

‘Ya selesain masalah. Masa kita marahan mulu?’ Sekali lagi, gue mencoba datang dengan baik-baik.

‘Ah tau ah! Pergi sana! Kamu pulang aja!’ Ucap Anti sembari menutup pintunya rapat.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, gue diusir sama pacar sendiri.

Setelah nggak berhasil membujuk Anti, gue pun pulang beneran. Beberapa kilometer dari rumah Anti, tepat di pemberhentian lampu merah, hape gue berbunyi. Nama Anti menghias dengan indah disana.

‘Makasih udah datang kerumah. Makasih buat semuanya. Kita putus.

Membaca pesan itu, gue cuma bisa diem dan nggak ngelak. Atau lebih tepatnya, nggak mau ngelak. Karena gue tau, dari apa yang udah Anti tunjukan, dia udah nggak minat lagi buat pacaran sama gue. Sementara gue, males buat berusaha sendirian.

Diawali dengan suara klakson dari orang-orang di belakang gue dan beberapa umpatan dari setiap orang yang menyalip saat lampu hijau menyala, gue pun melajukan motor dengan pelan. Pandangan gue kosong menerawang. Menyesali hati yang pergi. Menyesali hati yang sendiri lagi.

Hingga akhirnya…

Ketika gue berpikir kalau perpisahan antara gue dan Anti itu bisa gue terima dengan baik, tepat satu minggu setelah kami putus, ada seorang temen yang nanyain perihal hubungan gue dan Anti.

‘Kamu putus sama Anti?’

‘Iya.’ Jawab gue, datar.

‘Bagus deh’ Ucap temen gue, tanpa dosa.

Gue melirik tajam.

‘Ya. Soalnya, kalau boleh jujur, sebenernya selama liburan kemarin itu kamu cuma dijadiin pelarian sama Anti. Dia nggak bisa hidup sendiri. Dia suka sama orang lain, tapi belum kesampaian. Nah, saat itu, kamu dateng, jadi dia ngelampiasin semuanya ke kamu.’

Gue masih diem. Mencoba menerka-menerka apa yang sebenernya terjadi.

‘Dan dua minggu kemarin, tepatnya waktu perkuliahan dimulai, orang yang disukai Anti mulai merespon keberadaan Anti. Jadi, kamu yang hanya dijadiin pelarian akhirnya ya ditingga..’

Sebelum temen gue menyelesaikan kalimatnya, gue pun berlalu. Tau apa yang udah terjadi sebenarnya, gue pun berjalan dengan langkah pasti. Pandangan gue tenang tanpa penyesalan. Membiarkan hati yang seharusnya pergi. Membiarkan hati yang memang seharusnya sendiri.

Huft.

 

 

Advertisements

133 comments

  1. Feel gue udah mendayu-dayu gitu bang pas baca tulisan ini, sambil ngangguk-ngangguk. Soalnya yg lu tulis bener banget, sampai akhirnya SI ANTI JATOH HAHAHAHAHAAA

    Ngakak yawlaaaa :’D Sabar bang walaupun cuma dijadiin pelampiasan. Seenggaknya waktu itu hp lu nggak sunyi sunyi amat.

    Gue kalo marahan sama pacar, mentok-mentok cuma berantem di hp doang. Hahhaaahaa
    Duh jadi kangen pura pura ngambek dan marah sama pacar.

    Pacar orang. 😦

    1. Hahahah mendayu-dayu loh, Lan :p wkwkwk makasiiih banyaaak ya :p wkwkw aku setengah nahan tawa juga sih waktu liat dia jatuh wkwkwk -_-

      Eng… tapi kan sedih dijadiin pelarian :’ wkwkwkw

      Yaaa kamuuuu kaaan jauhan :p wkwkwk sediiih -_- pacar orang -_-

      1. Harusnya si Antimo itu sadar, punya pacar anak teknik sipil itu kece.
        Mau bangun jembatan aja pake perhitungan yang mantap, apalagi mau bangun masa depan bersamanya. Ck ck ck.
        Tantrum itu kayak anak kecil kalo lagi ngamuk. Haha

      2. Harusnya ya Mbak :’ huuuft, tapi buat dia mungkin aku pengecualiannya :’ wkwkwk

        Wohooooo sesepuuuuuh anak teknik paling kece sejagaad 😀

        Walaaaah, baru tau istilah tantrum ._.

  2. Jadi inget lagu linkin’ park…’I try so hard and got so far but in the end it doesn’t even matter…’
    Ya wis lah…nggak usah diinget lagi. Mending kuliahnya selesaiin dulu, kerja yang bener, ntar kalau nemu lagi yang cucok langsung ke KUA. Pacarannya habis nikah aja…dijamin aman tentram dan damai…

    1. Itu lagu LinkinPark yang judulnya In The End bukan ya mbak? Akuuuu sukaaak lagu itu :3 hihihi

      Naaah bener. aku nggak inget-inget kok 😀 cuma kemarin kepikiran, kayaknya bagus kalau dijadiin cerita diblog hihihi :))

      Uwuwuwu nikaaaaah 😀 mauuuuuu 😀 tapi belum nemu sama siapanya :’ wkwkw

      1. OK OK… Tunggu saja cerpen galau pertamaku yang based on true storymu
        Soalnya kebanyakan tulisan fiksiku hasil ngayal lebay wkwkwk…

  3. setuju dengan komen atas saya Feb, kayaknya pacaran setelah resmi ucapan ijab kabul aja deh, etapi kalo marahannya serem, jadi ribet juga urusannya, malah jd sering nyanyi jaman behaula dianya “pulangkan saja aku ke rumah orangtuaku” 😆

    1. Wkwkw seberat kisahku beneran ya mbak :’ huuuuft wkwkw

      Nah, itu dia -_- cinta kan buta mbak, kadang nyakitin kadang nyenengin. apesnya, aku malah disakitin pake cintanya yang ke orang lain itu -_- huuuft. sediih wkwk

  4. Malang sekali ceritamu mas 😦
    Enak bener bilang putusnya lewat pesan. Emang situ nggak pernah mikir gimana dulu usaha buat pdkt? Gimana dulu situ ngasih kata-kata so sweet? Gimana dulu situ nembaknya indah banget seolah-olah dunia milik berdua? Gimana dulu situ kalau smsnya dibales lama nyariinnya setengah mampus? Gimana dulu senengnya kalau diajak kencan duet bareng temen? Gimana dulu situ ngejanjiin buat pergi ke tempat indah? Terus dengan pede dan perasaan tanpa dosa ngirim pesan singkat “Putus aja gimana?”
    sorry mas kelepasan, pengalaman juga soalnya. udah gitu sama tetangga sendiri pula -_-

    1. Banget :’ tapi untungnya udah berlalu kok :’)

      Huft :’ iya, seenak jidat setelah ngusir aku terus mutusin :’ untungnya aku rela-rela aja karena udah capek. :’

      Padahal aku nembaknya didepan temen-temennya. Padahal aku udah ngerasa cocok sama dia. Padahal aku udah ngerasa romantis sama dia. padahal. padahal. padahal.

      Yah, cuma bisa bilang padahal doang :’

      Huuuuuft. senasib ya :’ tapi,,, miris tuh sama tetangga sendiri :’

      1. udah mas udah, jangan baper mulu. sekarang waktunya kita bikin mantan bilang, “ngapain aku dulu mutusin dia?” 😀

      2. Sama aja. Putusnya udah lama, sendirinya udah lama. Bikin mantan nyesel belum wkwkwkwk. Gimana ya?

      3. Sama mas. Lagi merencanakan visi misi buat wujudin “mantan nyesel” wkwkwkw. Masa putus udah lama, sendiri udah lama tapi mantan keliatannya baik2 aja belum ada nyesel2nya. Sebernya paling utama nggak itu juga sih, tapi lebih ke memperbaiki diri aja biar jodohnya juga baik terus ujungnya mantan nyesel wkwkwkw. Halah ngawur-ngawur.

      4. Wkwkwk visi misi seorang cewek gitu ya -_- pengen buat mantan nyeseeel wkwk kamuu jahaat :p wkwkwk

        Waaaaaaahahaha nah, sekarang, cari jodoh yang baik yuk 🙂

  5. (((Jatuh karena sendiri, kok marahnya ke gue?)))

    Cewe emang suka gitu sik. Saenake dewe. *nunjuk diri sendiri yang abis berantem karena urusan ga penting*

    😀 😀

  6. Wah itu mah di kerjain kamu. Dulu jaman masih SMA pacaran boleh lah banyak berantem, kadang dicari cari. Cuma pas udah kerja, udah males. Justru kalo cowonya kebanyakan drama malah kutinggal sekalian. Pikirku, kalo pacaran ya mesti fun lah. Pusing nya nanti aja kalo pas udah nikah 😛

    1. Dikerjain beneran mbak ._. aku merasa gitu sih dulu mbak setelah putus -_-

      Eng… kok marahan sama berantem malah dicari-cari sih ya -_-
      Yaah, seiring bertambahnya usia dan kedewasaan ya mbak 😀

      Harusnya gitu -_- tapi sekarang mah pacaran kayak udah nikah aja -_- ribeet wkwk 😀

  7. Tumben Feb endingnya ga dbikin konyol, baper gini :p

    Anyway, sometimes a goodbye is gift too – Kharisma P. Lanang.

    Jika murni crtanya kyk bgtu (tnpa ada edit efek patah hati) kputusan pisahnya uda bener kok. Berantem mmg bumbu hubungan tp idup kudu dijalanin sama kekasih yg bisa seloow.. :3

    1. Wkkwkw kebawa suasana seriusan Mbak -_- habis nyata banget dan ini dulu yang bikin rasanyaa sakiiit buat pacaran wkwkwk

      Hihihihihi sukaa quotenya 🙂

      Bener kok mbak 🙂 dan aku ngerasa malah emang seharusnya pisah dong ya :))
      Yaaaaap, tetep jangan kebangeten marahnya 😀 kamu tuh mbak, jangan marahan terus sama pacar 😀

  8. Waaa kenapa gaya tulisan kamu di post ini melow abis bang Feb. Apa yang terjadi ??
    Mendadak ingat sama Anti yah ??
    Btw itu nama lengkapnya Anti Aging apa Anti Pemerintahan ??
    Mmm maaf2 bang Feb. Orang lagi galo dibecandain. Maap ya *sungkem*

    Bener sih pacaran kalo nggak ada inovasinya itu nggak seru. Sebenernya Anti jatuh dari kursi saat nonton stand up itu inovasi lo. Mungkin Anti nya lagi sensi. harusnya bang Feb bisa jadiin buat bahan ledek2an romantis.
    Kalimat terakhir yang dibold hitam juga dalem. membiarkan hati yang seharusnya sendiri ??

    Tapi sampe kapan harus sendiri ?? 😦

    1. Wkwkwk kebawa suasana aja 😀 inget dikit dan bikin sakit aja wkkww makanya ditulis wkwkwk

      Anti ketombe :’

      Hahahah emang, tapi kalau inovasinya berlebihan kan ngeri juga wkkwwk
      Yakalik jatuh dari kursi inovasi -_- wkwkwk

      Pertanyaan terakhir… jleb :))

  9. hahaha.. ooops, maap..

    ketawa baca posting dan baca komen2nya.. ^^

    sy mah dulu rajin berantem dari pacaran sampe hbs nikah, kayanya krn seumuran dan emang beda karakter, krn ngerasa kalau pas berantem (baca: argueing) itu keluar semua-semuanya dengan jujur, lama kelamaan kita fokus sama jujurnya dan udah males berantemnya…

    ntar kerasa sendiri kok Feb, don’t feel it yourself – just say it, berlaku untuk dirimu dan future wife..

    1. Hihihi makasiiiih banyak mbak 😀

      Waaaaaa? rajin berantem mbak? tapi nggak sampai ngamuk-ngamuk gitu kan mbak 😀 wkwkk

      iya sih, berantem kadang bisa mengeluarkan semua unek-unek yang ada, jadi setelah berantem, ya tenang aja 😀

      Hhihihihihi kereeen Mbak :)) bakal di praktekin besok kalau udah dapet pasangan dan udah nikah 😀

      1. iya bener… kadang malah berakhir dengan ngakak bareng… hehehe… temen kerja ada yg kalau berantem bawaannya diem2an sama pasangannya, kebawa di kantor, mundung sepanjang hari, bikin yg lain jadi bete juga kan… alasannya terlalu pribadi kalau diutarakan (dalam hati laaaah itu temen sepanjang hidup lo… masa iya mau nyimpen sesuatu seumur hidup) jadi… kejujuran dan keterbukaan lebih baik, imho…

      2. Eng… itu kayaknya salah kan ya mbak kalau berantem di rumah, eh efeknya kebawa di kantor -_- harusnya bisa dipisahin antara dirumah dan dikantor ya?

        Eng… kejujuran dan keterbukaan emang hal penting yang harus dimiliki setiap orang deh ya mbak harusnya :))

  10. beneran ini, tulisan2nya jadi kayak cerita2nya shakespeare…parodi pun berakhir tragedi… 😀

    Nulis tiap hari aja Mas,,tombo stres..ehehehe…

    Dan ternyata, cerita2 di sinetron tipi itu ada juga di dunia nyata ya..baru tahu 😀

    1. Hihihihi makasiiiih banyaak ya Mbak :))

      Hidup kan tragedi mbak :p wkwkwk

      Aaaaakh, siaap deh mbak 😀 pasti nulis terus buat ngilangn stress wkwkw

      Iya eh -_- aku ngerasa kok bisa-bisanya terjadi di dunia nyata. parahnya, kok aku yang ngalamin 😦

  11. Ahahah Anjaay.
    Anti pasti tengsin banget itu jatoh dari kursi.
    seandainya pas anti jatoh dan mas feb malah ketawa dan berseru “Mampuss!! petakilan si kowe, bangku anteng-anteng kok tibo dewe, ngisin-ngisinke umat.” bukannya menanyakan “Kamu kok jatuh kenapa?”

    Pasti deh pasti.
    putus di tempat.

    Ngahaha 😀 sabar mas feb, sudah menikahlah bilamana sudah siap, jangan terus menerus menekuri kejombloanmu.

    1. Wkwkwk itu tengsing setengsin-tengsinnya Bah wkwkw mukanya aja jadi nggak enak gitu -_- wkwkwk aku maunya bilang gitu, tapi, apadaya, dulu masih pacar wkwkwk 😀

      Menikah ya? tapi sama siapa?

  12. “jatuh karena salah sendiri, kok marahnya ke gue?” hahaha,,, ayi pernah kayak gitu.

    Cieeee… pandangannya tenang tanpa penyesalan. Yang bener tuh,,, Gak percaya ayi, pasti dalam hati febi menangis,, hehehe

    1. Wkwkwkw kenapasih kemarahannya harus dilimpahin ke cowok? Kenapaaaaaa? wkwkwk 😀

      Beneraaan -_- setelah tau kalau aku cuma dibikin pelarian, aku nggak ada nyesel-nyeselnya pas putus -_- bersyukur malah 😀

  13. Itu pasti sakit banget tuh jatuhnya, kalau nggak ada penyangganya dia jatuh kebelakang dong? Ya pokoknya sakit lah tuh jatuhnya, apalagi ditambah malu.

    Tapi lebih sakit kalau tau ternyata cuma dijadiin pelarian semata, bentar itu jangan ngomong si Anti jadi suka arah gitu gara-gara jatuh terus otaknya cidera?

    Ya sudahlah yang sabar bang, orang baik jodohnya juga orang baik kok 🙂

    1. Iyaa jatuhnya kebelakang dan makgedubrak gitu -_- wkwkwk mukanya langsung nggak enak, eh marahnya ke aku -_-

      Iyaa, sakitnya kerasa banget loh jadi korban pelarian -_-
      wkwkw mungkin otak sama hatinya cidera ya setelah jatuh 😦 wkwk

      Aamiin 🙂

  14. Yaampun Feb. Sakit banget ituuu 😦
    Sabar ya Feb sabar.. *pukpuk*
    Tenang aja, nanti kalau udah ketemu jodohnya pasti gak akan kemana-mana

  15. Sebentar-sebentar… Nama panjang Anti ini siapa? Anti-virus atau Anti-mainstream?
    Oke. Becanda. Maksud gue, Anti ini mirip banget sifatnya kayak mantan gue, yang namanya Anti juga. Tapi itu nama panggilan gitu sih.
    Apa jangan-jangan… seluruh nama Anti di dunia ini sifatnya ngambekan begitu?

  16. serius, gue pernah ngalemin, dari dijadiin pelarian sampe di lampu merahnya pula. tapi bedanya diabalikan sama mantan hahaha kan eeq!

    tapi bener feb, lebih baik teu se-segera mungkin daripada lu masih hubungan sama dia tapi dia juga hubungan sama orang lain. Mending tinggalin dan lu cepet kawin hahaha.

    1. Eng… itu sama ngenesnya nggak sih Di? bedanya cuma dia balikan sama mantan :’

      Huuuuft…

      Iyaa, setelah tau itu rasanya malah plong banget loh 😀 nggak ada beban dan nggak ada sedih-sedihnya 😀

      Eng… kawin ya -_-

  17. Pengalaman saya soal ginian cetek parah.

    well, persoalan cinta cuma sebagian kecil dari hidup. Makanya kita harus makan yang sehat. Dan entahlah gue ini ngomentarinnya gimana.

  18. Aku pernah ngalamin berantem sama mantan sampe diturunin dijalan, tapi udah sampai rumah dia balik lagi dan minta maaf.
    Kesel banget kalau inget kejadian itu.
    Ah baca tulisan ini bikin inget masa lalu -.-

  19. Sebenernya aku lgs ngakak pas bagian si anti itu jatoh ;D.. tapi, kalo dipikir2, aku juga pernah sih Feb, pacaran atas dasar pelarian doang, dan kemudian aku putusin.. ngerasa nyesel sih kalo diinget2 -__-.. kasian cowonya.. tapi ya sudahlah…berharap sih, si anti itu nyesel juga ntr , toh karma exists loh ;D.. kamunya mah, besyukur aja lepas dari ce begitu ;p.. ga ada untungnya, malah bikin sakit ati doang :).. ngapain pacaran kalo tiap hari nyesek dan ga damai ya ;p

    1. Aku waktu itu juga mau ngakak mbak 😀 tapi berhubung waktu itu jabatan anti masih jadi pacarku, jadi aku tahan wkwk 😀

      Eng… kamu pernah jahat juga ya Mbak :p wkwkwk 😀

      Iya ya mbak, aku sih nggak nyesel dan malah bersyukur kok 😀

      bener banget 😀 bukannya yang dicari dari pacaran adalah kebahagiaan ? tapi kenapa seringnya berantem? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s