Balada Pencarian Proyek

Dalam hidup, kita nggak akan pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan. Satu jam yang akan datang. Dua jam yang akan datang. Bahkan sepuluh menit yang akan datang, kita tetap nggak akan tau apa yang akan terjadi nantinya. Semesta seolah telah memiliki detail skenarionya sendiri, seperti apa yang telah terjadi pada gue di hari Rabu kemarin.

Kala itu pukul 17.10 WIB, tepat dimana gue, Dian, Farkhan dan Martin baru selesai menjalani sesi perkuliahan. Sebelumnya, kami berempat udah janjian untuk mencari proyek buat kerja praktek bersama-sama. Maka, tepat pada pukul 17.15 WIB itulah kami berempat pergi mencari proyek dengan menaiki motor sendiri-sendiri.

Tujuan pertama kami jatuh pada sebuah proyek Masjid Besar yang ada di Jalan Gito Gati, Sleman, Yogyakarta. Ketika berhenti di depan proyek tersebut, kami melihat bagaimana struktur masjid yang masih belum selesai ditahap pengecoran serta beberapa scaffolding yang masih terpasang disana. Penasaran, kami berempat pun masuk ke proyek tersebut dan berencana untuk bertanya-tanya kepada pimpinan proyek disana.

Apes, disana kami nggak ketemu sama sang pimpinan proyek karena kebetulan kala itu jam kerja udah selesai. Kami pun diminta untuk kembali esok hari, itupun belum ada kepastian apakah kami bisa praktek kerja disana atau enggak. Alhasil, kami pun pergi dari proyek tersebut dan melanjutkan pencarian selanjutnya.

Tujuan kedua kami pun jatuh pada sebuah proyek wisma yang ada di Jalan Kabupaten, Yogyakarta. Sama seperti proyek Masjid Besar yang tadi kami temui, disana kami pun melihat struktur bangunan yang belum selesai. Tak perlu berlama-lama lagi, akhirnya kami pun memilih untuk masuk ke dalam proyek dan mencoba untuk bertanya-tanya kepada sang pimpinan proyek.

Beruntung, kami bisa menemui pimpinan proyek secara langsung. Disana kami pun masuk ke dalam ruang kerja dan disambut dengan senyum manis sang pimpinan proyek.

‘Maaf pak, maksud saya datang kemari adalah ingin menanyakan mengenai kerja praktek di proyek sini pak, apakah masih kosong?’ Tanya Dian kepada sang pimpinan proyek. Gue, Farkhan dan Martin duduk dengan manis disampingnya.

‘Oh iya. Kalian darimana ya memang?’ Sang Pimpinan Proyek bertanya dengan sangat ramah.

‘Kami dari Sipil UII, Pak’ Jawab Martin dengan senyum lebar, seolah membanggakan nama kampus yang sekarang menjadi tempatnya menimba ilmu.

Sang Pimpinan Proyek menerawang langit-langit sebentar, sebelum akhirnya dengan wajah penuh tanya, beliau berucap.

‘UII itu apa ya?’

ANTI KLIMAKS.

Martin menepok jidat. Gue mengelus dada. Farkhan menarik nafas panjang. Dian geleng-geleng kepala. Kampus kebanggaan kami… kurang begitu terkenal.

Akhirnya obrolan awal kami pun malah membahas mengenai Kampus kami tercinta yang kurang terkenal itu. Martin menjelaskan secara detail dan menggebu-gebu. Sampai akhirnya, sang pimpinan proyek mengangguk paham sembari berucap.

‘Oooooh… Disini udah ada anak Kerja Praktek dari kampus lain mas. Lagipula proyek ini sebentar lagi juga mau finishing kok’

Eng…

Ada hening beberapa lama dan saling pandang antara gue, Farkhan, Dian dan Martin. Gue yakin, ketika saling memandang, kami semua sama-sama menjerit didalam hati :

‘KAMPRET ! KENAPA NGGAK BILANG DARI TADI SIH KALAU UDAH ADA ANAK DARI KAMPUS LAIN YANG PRAKTEK KERJA? BUANG-BUANG WAKTU AJA !

Sebelum akhirnya, kami berempat pun meminta ijin untuk keluar dari ruang kerja dan melanjutkan pencarian proyek.

Tujuan ketiga kami adalah sebuah proyek hotel di daerah Ngabean, Yogyakarta.

Dan… Disinilah petaka buat gue terjadi.

Di sebuah pemberhentian lampu merah yang jaraknya sekitar satu kilometer dari Proyek Ngabean, gue ditinggal sama tiga orang temen gue yang udah lebih dulu melaju di depan. Ketika lampu hijau menyala, gue pun melajukan motor dengan cepat di jalan yang sedikit menanjak guna mengejar tiga orang temen gue tersebut.

Saat jalanan mulai menurun dan gue udah deket sama tiga orang temen gue, entah kenapa, tiba-tiba motor nggak mau jalan dan cuma bunyi : ‘BRRRRRRRRRRRRRRRRMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMM’ sewaktu gue mencoba untuk memutar gas.

Panik, gue pun menekan-nekan klakson guna memberi kode kepada tiga orang temen yang udah ada di depan supaya mereka menyadari kalau di belakang gue baru ada masalah.

Namun, seperti sudah ditebak. Gue dicuekin. Mereka nggak denger suara klakson gue dan tetap melaju menjauh dari gue.

FEBRI BIASA DIGINIIN !

Merasa nggak ngerti apa yang terjadi dengan motor mio gue, akhirnya gue dengan sangat sotoy sok-sokan memencet-mencet bagian belakang motor, berharap dengan pencetan-pencetan yang lembut dari gue itu si motor mio tersebut bisa segera waras dan kembali mampu untuk melaju.

Dan seperti sudah bisa ditebak. Itu cuma harapan gue semata. Yang ada, ketika gue sibuk mencetin bagian belakang motor, jari gue malah nyentuh knalpot yang kala itu lagi panas-panasnya.

Jackpot abis.

Jackpot ndasmu.

Merasa udah pasrah dengan apa yang terjadi, gue pun memilih untuk mendorong motor itu sendirian sembari berharap ada bengkel yang masih buka di sepanjang jalan yang akan gue lalui.

Saat beberapa meter mendorong, harapan itu seolah terbuka ketika gue melihat ada bengkel kecil yang masih buka. Tanpa berlama-lama, gue pun langsung memarkirkan motor di depan bengkel tersebut sembari bilang ke bapak bengkel.

‘Pak, motor saya bisa dibenerin nggak?’

Bapak Bengkel melihat motor gue sebentar, kemudian beliau bertanya.

‘Emang kenapa motornya, Mas?’

Karena nggak tau kenapa, gue pun menyalakan motor dan memutar gas perlahan.

‘Ini Pak. Motornya nggak mau jalan, padahal udah di gas loh’

‘Ooooooooooh’ Bapak Bengkelnya mengangguk paham ‘Itu V-Belt-Nya putus mas’ Sambungnya.

‘Ooooooooh’ Gue sok-sokan paham ‘ Bisa ngebenerin nggak Pak?’

‘Ooooooooh’ Bapak Bengkelnya geleng-geleng kepala ‘Nggak bisa mas. Ini harus ke Bengkel gede’

Disaat seperti itu, gue pengen bilang ke bapak bengkelnya :

‘Oooooooooh. Kimochi-Kimochi-Kampret ya kamu pak, Ah Oh Ah Oh doang, ternyata nggak bisa ngebenerin’

Niat itu pun gue urungkan, dan gue lebih memilih untuk lanjut mendorong motor sendirian sembari menghubungi tiga orang temen gue supaya bisa ngebantuin dorong motor dan nyariin bengkel.

Beruntungnya, waktu itu gue pergi sama tiga orang temen yang luar biasa baik. Setelah beberapa kali ngechat buat minta dijemput, akhirnya tiga orang temen gue yang udah terlebih dahulu nyamperin Proyek Ngabean itu pun beneran nyamperin gue dan ngebantu gue buat ndorong motor dan nyariin bengkel.

Sekitar satu kilometer mendorong, akhirnya gue dan tiga orang temen gue pun berhasil nemuin sebuah bengkel di Jalan Wates. Tanpa berpikir panjang, gue pun langsung minta kepada mas-mas bengkel buat ganti V-Belt. Mas-Mas bengkel melihat jam dinding, kala itu waktu sudah menunjukkan pukul 08.15 WIB. Mas-Masnya hendak menggelengkan kepala, namun langsung menyanggupi untuk mengganti V-Belt ketika gue memasang muka memelas yang terkesan lebih mirip kayak gembel kurang belaian. Antara iba, kasihan, miris dan jijik.

Di depan Bengkel, tiga orang temen gue cerita kalau tadi mereka ke Proyek Ngabean dan nanya-nanya sama pimpinan proyek sana, ternyata mereka nggak menerima anak kerja praktek karena pihak proyek nggak ada orang yang bisa membimbing anak kerja praktek.

Gue menghela nafas panjang mendengar kabar tersebut.

Dari tiga proyek yang kami datangi, dua proyek sudah jelas-jelas tidak menerima kami. Satu proyek masih belum jelas. Akhirnya, di depan bengkel itu pun kami semua kebingungan, mau nyari kemana lagi nih proyeknya?

Kebingungan itu pun seketika terpecah saat Mas-Mas Bengkel mencolek bahu gue dan memberi tau kalau motor gue selesai diservice. Tanpa berlama-lama, gue langsung nyamperin ke kasir guna membayar biaya service motor.

Dan… gue langsung syok waktu liat nota pembayaran bertuliskan :


Ganti V-Belt = 72.000

Roller = 43.000

Jasa Montir = 30.000

Total = 145.000


Gue liat dompet, isinya nggak ada setengahnya dari biaya service motor gue. Gue liat motor, dijagain sama Mas-Mas bengkel, nggak bisa kabur. Gue ngaca, muka gue nggak cukup tampan buat dapet diskonan. Akhirnya gue berbalik sebentar dan berjalan ke arah tiga temen gue tersebut guna minta pinjeman duit. Beruntung, Martin pas bawa duit lebih. Gue pun minjem duit Martin buat bayar itu service motor.

Masalah pun, selesai.

Ketika gue dan ketiga temen gue berpisah untuk balik ke rumah masing-masing, di perjalanan pulang gue pun mikir :

Ini kayak keberuntungan di dalam sebuah keapesan. Apesnya, gue belum dapet proyek, V-Belt motor gue putus, dan duit berkurang. Beruntungnya, ketika mengalami hal buruk itu, gue ada temen yang senantiasa mau sama-sama nyari proyek, mau bantu ndorong motor dan mau minjemin duit. Seandainya gue mengalami semua itu sendirian, gue nggak tau bakal kayak gimana gue malam itu…

Pada dasarnya, kita memang nggak tau apa yang akan terjadi di masa depan. Kita nggak bisa menerka-nerka apa yang akan terjadi nantinya, karena memang semesta udah punya skenario tersendiri buat kita. Namun yang harus kita percayai, semesta pasti telah menyiapkan skenario yang pasti akan bisa kita jalani dan hadapi. Seperti yang kita ketahui bersama :

‘Allah tidak akan memberikan suatu cobaan diluar batas kemampuan manusia, kan?’

Advertisements

118 comments

  1. momen paling berkesan .. kalau udah bangga2-in .. ternyata … zonkkk … anti klimaks .. hehehe …. harusnya sih di videoin muka2nya … kebayang bagaimana tampang2nya … wkwkwkw
    ending-nya .. itulah gunanya teman ya … teman itu berkesan kalau kita sedang susah …. teman yang baik adalah teman yang selalu siap ngasih pinjeman duit 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s