Di balik Ujian Struktur Rangka Baja

Gue nggak begitu suka sama ujian.

Menurut gue, ujian nggak selamanya bisa menjadi penentu pencapaian seseorang. Namun kenyataan yang ada, masih ada aja orang atau instansi yang menilai sesuatu dari hasil ujian. Seolah hasil ujian itu menggambarkan tentang bagaimana pribadi seseorang.

Dalam dunia perkuliahan pun demikian. Terkadang masih ada dosen yang hanya mengambil nilai sekedar dari hasil ujian tengah semester dan ujian akhir semester aja. Ya kalau soal ujian yang dikasih sama persis kayak apa yang udah pak dosen ajarin sih nggakpapa. Tapi kenyataannya, dosen ngasih contoh mudahnya cuma di perkuliahan. Giliran ujian, beuh, soalnya minta banget dibakar.

Kan kampret.

Persis kayak ujian struktur rangka baja yang udah gue lalui beberapa minggu yang lalu.

Kesan pertama gue waktu ngeliat soal ujian struktur rangka baja waktu itu adalah :

‘Mampus gue’

Kesan kedua gue adalah :

Mak, kawinin aku sekarang maaaak. Kawinin aku’

Yakalik, masa soalnya kayak gini :

IMG_20160127_0001

ENGGRES COI !

Gue sempet diem cukup lama ketika memandangi soal tersebut. Mau ngerjain soal nomer satu dulu, kok bingung. Ngerjain soal nomer dua dulu, kok ya gitu banget.

Akhirnya sebelum gue memutuskan untuk keluar kelas dan nggak ngerjain apa-apa, pak dosen pun tiba-tiba masuk ke dalam ruang ujian. Dengan gagah beliau berdiri di depan kelas sembari membawa sebuah soal.

‘Soal nomer satu itu cuma hitungan ya. Kalian kerjain aja. Saya yakin kalian bisa. Mudah aja itu’

MUDAH ENDASMU, PAK.

‘Untuk soal nomer dua, silahkan bikin cerita tentang kuliah struktur rangka baja. Boleh milih. Mau tentang kuliah lapangan, kuliah laboratorium, atau review tugas besar kemarin. Intinya cerita itu harus 4 lembar kertas folio ya.’

HMM, PAK! HMM.

Pak dosen berucap dengan wajah tanpa dosa. Beliau berharap penjelasannya itu mampu mencerahkan pikiran para mahasiswanya dan ujian pun berjalan dengan lancar.

Padahal…

NGGAK!

Di dalam ruang ujian, hampir semua mahasiswa masih sibuk menggoyang-goyangkan kertas soal, berharap dengan menggoyangkan kertas tersebut, si kertas soal tiba-tiba bisa berubah jadi ayam goreng.

Miris.

‘KENAPA HARUS ADA SOAL BEDEBAH INI, SIH?’ Jerit gue dalam hati.

Selang beberapa lama, ketika gue lagi dihantui oleh rasa pasrah, tiba-tiba ada sebuah hidayah yang turun dan membuka isi otak gue.  Gue pun membatin.

‘Kenapa nggak curhat aja?’

BRILIANT!

Beginilah potret mahasiswa teknik sipil yang gagal, wahai teman-teman. Jangan ditiru ya.

Seketika itulah akhirnya gue membuka tutup bolpen yang dari tadi masih terpasang bersama si bolpen, kemudian menuliskan beberapa kalimat-kalimat curhat.


Halooo…

Hari ini saya ujian struktur rangka baja. Ketika baca soalnya, ada satu soal yang menyuruh saya untuk menceritakan tentang apa yang saya lakukan ketika kuliah laboratorium. Maka, akan saya jabarkan disini. Silahkan disimak.

Seminggu yang lalu tepatnya, saya dan teman-teman melakukan kuliah laboratorium yang dilakukan oleh bapak dosen struktur rangka baja. Itung-itung refreshing katanya, mengingat satu jam sebelum kuliah laboratorium, kami dipaksa untuk mendengarkan materi-materi kuliah yang diberikan pak dosen serta presentasi tentang tugas kuliah oleh salah seorang teman.

Sesampainya di laboratorium bahan kontruksi teknik, kami digiring menuju tempat diletakkannya struktur rangka baja. Disitulah pak Dosen berceramah tentang apa-apa saja yang perlu diperhatikan jika berhadapan dengan struktur rangka baja.

Sejujurnya, dalam sesi ini saya tidak begitu memperhatikan pak dosen. Yap, saya sudah sedikit jengah dengan materi kuliah ini. Namun, kala itu pandangan saya terfokus pada seorang perempuan yang sangat manis.

Yuna.

Dari tempat saya berdiri, saya bisa melihat bagaimana Yuna memperhatikan Pak Dosen yang sedang menjelaskan materi tentang struktur rangka baja. Kadang dia ngangguk-ngangguk, kadang dia mengusap dahi, dan kadang dia menyemburkan api dari mulutnya.

Saya dulu pernah heran dan mengutuk para pecinta diam-diam. Kenapa sih banyak orang yang memilih untuk memperhatikan orang secara diam-diam? Menurut saya, memperhatikan seseorang dengan cara diam-diam itu kurang memuaskan. Apa bahagianya melihat seseorang dari sudut yang sempit, sementara masih banyak ruang untuk kita mendekatinya?

TERKUTUKLAH MEREKA PARA PECINTA DIAM-DIAM!!!

Sampai ketika saya menulis tulisan ini dilembar jawaban, saya pun tersadar, ternyata selama ini saya mencintai Yuna secara diam-diam.

TERKUTUKLAH SAYA!!!

Dan ketika ujian struktur rangka baja ini berlangsung, saya tidak benar-benar bisa fokus pada soal ujian. Pasalnya, Yuna duduk disamping saya. Hmm…Oke,  4 kursi disamping saya. Sesekali saya melihat dia sibuk menulis jawaban, tak jarang dia menoleh ke kiri, seolah mencari pencerahan. Beberapa menit sebelum tulisan ini ditulis, mata kami saling bertemu. Saya tertangkap basah telah memandanginya. Yuna hanya memandangi saya sebentar, sebelum akhirnya dia lanjut mengerjakan soal. Mungkin dia mendapat pencerahan setelah melihat muka saya. Atau kemungkinan yang lain, dia ingin merobek-robek lembar jawabannya karena muka saya tadi telah mengosongkan pikirannya?

Entahlah.

Yang jelas, saya cuma tau satu hal…

YUNA ADALAH ALASAN KENAPA SAYA MASIH TERUS MASUK KULIAH STRUKTUR RANGKA BAJA INI.

Terimakasih.


Selesai bercurhat ria di soal nomer dua, gue melihat soal nomer satu. Gue langsung menepok jidat.

‘Anjir. Soal nomer satu mah nggak bisa dicurhatin’

Namun, tanpa hilang akal, gue pun mencoba membuka buku SNI. Gue mencari-cari contoh hitungan beserta penyelesaiannya, kemudian menyalinnya ke lembar jawaban.

Bodo amat.

Selesai, gue pun ngumpulin lembar jawaban itu ke pak pengawas yang kebetulan sudah cukup akrab sama gue. Beliau menerimanya sembari melihat jawaban-jawaban gue. Ketika gue lagi sibuk ngeberesin tas, tiba-tiba pak pengawas nanyain.

‘Ini kamu kok malah curhat, sih Feb? Tentang cinta-cintaan lagi’

Gue senyum-senyum sendiri, sebelum akhirnya gue membuka suara.

‘Karena segala tentang cinta itu nggak akan pernah salah kan, pak?’

Seusai berjabat tangan dengan pak pengawas, gue pun keluar ruangan dengan jumawa. Tanpa ada beban. Tanpa ada rasa khawatir.

Seminggu kemudian, nilai ujian itu keluar. Huruf D dilengkapi dengan tanda + pun terhias disamping nama gue.

Gue sih nggak kaget dengan nilai segitu. Lah emang gue nggak bisa ngerjain. Namun disatu sisi, gue pun mendapat satu pencerahan.

Ternyata, cinta nggak selamanya benar kan?

Eh, enggak.

Cinta memang selamanya benar.

Hanya kitanya aja yang terkadang salah menempatkan kepada siapa cinta itu dilabuhkan.

Huft.

Ini apaan sih malah curhat lagi.

Terimakasih.

 

 

Advertisements

182 comments

      1. masa sih ga jelas? haha.. aku gak kebayang gimana rasanya, gimana situasi dan kondisinya kalau kayak gitu 😀

  1. wahhh, itu kasihan juga ya. dosennya sadis, susah dibilang gampang. pake bahasa inggris pula. kejam lah bro hitung-hitungan macam itu. ujian mungkin memang tidak selamanya bis ajadi penentu, tapi.. jadi tolak ukur mungkin 🙂

  2. Ini entah kenapa gue ngerasa post ini malah curhat semua. 😀 Gak dapet nilai bagus, malah bahas cinta.. 😀

    Ya, meskipun daper D+, yang penting CInta tak pernah salah. “Kan jadi ikut-ikutan.” 😀

    1. Wkwkwk emang curcol ini mas 😀 wkwkwkw -_- habis gimana lagi ya, bener-bener nggak bisa sih wkwkwk 😀
      D+ itu lumayaaan banget wkwkw 😀 bener, cintaaa nggaaak akan pernaaaah salaaah :p

  3. Waaaa aku ngeliat soalnya, pengen nyuruh lu buru-buru nikah aja bang. Tapi nggak mungkin, lu jomblo sih. Hmm.

    Itu beneran curhat sepanjang itu? Astaga. Gue takjub bang. Hahahaaa
    Cinta memang selamanya benar. Curhat lu itu yg nggak benar baaaaanngg, curhat di lembar jawaban ujian.
    Saoloh

    1. .__________. gimana-gimana? jadi, aku harus nikah nggak nih 😦

      Lebih Lan, di ujian kemarin curhatku sampai 4 lembar folio bolak-balik -_- ini cuma garis besaranya aja wkwkwk

      Wkwkwkw jadi, cintaku ke Yuna gimana 😦

  4. Anjir gue ngakak bacanya feb. Ini apa apan. eh itu beneran ada di jawaban kertas lo ? nggak kan plis jawab engga. Gue patah hati nih lo suka sama yuna. Eh salah. Maksudnya gue maluu liat blogger songong kyak lu Hahaha.
    Tp asiklaah quotesnya yang di bawah itu

    Cinta memang selamanya benar.

    Hanya kitanya aja yang terkadang salah menempatkan kepada siapa cinta itu dilabuhkan.

    Ciamikk

    1. Hehhee makasiiih Lel 😀 ini seriusan aku tulis curhatannya di lembar jawaban saking pasrahnya aku Lel wkwkw 😀 ya gimana ya -_- wkwkwk susah sih wkwkwk

      Jadi, yang bener yang mana? yang patah hati atau yang malu -_- wkwk aku songong apaan coba :p wkwk

      Jadi, mau kemana cintamu dilabuhkan? sini sini :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s