Inovasi Membangun Negeri

Kita miskin kreativitas.

Ralat.

Kita miskin kreativitas untuk menciptakan suatu inovasi.

Secara umum, hanya ada sedikit orang yang mau berkreasi untuk membuat sebuah inovasi.

Walaupun ada, itu pasti setelah melalui tahapan ‘dihina’ dan ‘dicibir’.

Ya, kita hidup di masa yang mana hal baik akan selalu dicibir, sementara hal buruk didiamkan.

Miris.

Itulah yang menjadi alasan kenapa setiap orang merasa enggan untuk menciptakan suatu pembaharuan, lah, baru mau merencanakan aja udah dicibir?

Maka dari itu, mereka yang mampu melewati semua cibiran itulah yang nantinya akan bersinar, membungkam secara perlahan semua ejekan yang telah dia dapatkan.

Secara khusus, contohnya dalam ruang lingkup ketekniksipilan, inovasi pun masih sangat sulit dikembangkan karena minimnya para engineer untuk menggali suatu ide.

Saya pernah mendapatkan suatu pembelajaran dari seorang dosen yang mengampu mata kuliah Struktur Rangka Baja.

Hari itu Rabu siang. Di kelas Struktur Rangka Baja, entah karena waktunya di siang hari yang notabenenya sangat ngantuk-able atau materi kuliah yang memang sangat sulit untuk dipelajari, akhirnya banyak mahasiswa yang terlihat kurang semangat dan terkesan malas-malasan. Bahkan beberapa ada yang sudah terlelap dalam dunia mimpinya.

Saat itulah Pak Dosen mulai berbicara diluar topik perkuliahan.

“Teori Darwin yang menyebutkan bahwa monyet berevolusi menjadi manusia itu ternyata memang salah ya?”

Mendengar ucapan Pak Dosen yang keluar topik, semua mahasiswa yang ada di dalam kelas Struktur Rangka Baja pun membenarkan sikap duduknya. Beberapa yang lain terbangun dari mimpi indahnya dan memasang muka linglung, muka yang biasa ditunjukan oleh orang yang habis diputusin pacarnya dengan alasan ‘Mending aku nikah sama Pak Rektor aja daripada kelamaan nunggu kamu ngelamar aku”.

Pak Dosen pun melanjutkan kalimatnya.

“Dulu sekitaran tahun 1887 – 1889, ada seorang manusia bernama Gustave Eiffel yang mencoba membuat inovasi baru dari baja dalam bidang pembangunan. Dengan tekun dia mengarsiteki pembangunan tersebut, baik dari penggambaran sampai perhitungan. Siang dan malam. Sampai akhirnya, beberapa bulan kemudian terciptalah bangunan modern yang bahannya hampir 50% dari baja murni bernama menara Eifell”

Pak Dosen menatap tajam ke arah kami.

“Sekarang di tahun 2015, disaat zaman sudah sangat maju. Didalam kelas, mata kuliah struktur rangka baja, ketika ada dosen memberi materi, mahasiswanya justru terlihat kurang bersemangat”

Pak Dosen menghentikan kalimatnya sejenak, membiarkan mahasiswanya mencerna apa yang beliau katakan.

“Jadi teori Darwin yang benar adalah ‘Manusia yang berevolusi menjadi monyet, kan?’

Pak Dosen menutup kalimatnya dengan amat sangat menohok. Beberapa mahasiswa nampak mencoba mengelak.

Melihat respon mahasiswanya, pak Dosen pun menantang.

“Kalau ucapan saya ini salah, coba kalian saya kasih tugas buat redesign Menara Eiffel. Sanggup? 1 minggu kelar ya? Hitungannya saja.”

Semua mahasiswa dalam kelas itu saling memandang satu sama lain. Kemudian, dengan serentak mereka berucap.

“BENAR PAK, MANUSIA BEREVOLUSI MENJADI MONYET”

Daripada dapet tugas?

Kalau dicerna lebih dalam, sebenarnya apa yang Pak Dosen ucapkan itu ada benarnya juga. Kalau dilihat dari rekam jejak yang ada, kita seperti mengalami kemunduran, apalagi dalam bidang ketekniksipilan.

Itulah kenapa inovasi-inovasi secara berkelanjutan dalam bidang teknik sipil itu sangat perlu dilakukan. Tantangan inovasi yang benar-benar harus dijawab adalah mengenai ketersediaan teknik kontruksi baru yang lebih kuat, awet, murah, serta cepat.

Hal itu tentu dalam lingkup kontruksi yang jelas, bukan asal cepat saja. Seperti realita yang saya lihat di jalanan. Kebanyakan, hal yang dilakukan untuk menanggulangi kerusakan-kerusakan jalan bukannya dengan cara perbaikan jalan, tapi malah dengan cara memasang papan peringatan ‘AWAS JALAN RUSAK’ disetiap tepi jalan yang rusak. Iyasih, memang cepat dan sangat murah. Tapikan, yah, bisa dilogika deh, ya?

Inovasi itu mengacu pada konteks perbaikan dan juga pengembangan. Terlepas dari sikap skeptis saya terhadap suatu inovasi yang ada sekarang, itu bukan berarti bahwa inovasi tidak benar-benar ada.

Di Indonesia, sudah cukup banyak engineer yang mau untuk mencoba inovasi-inovasi baru dalam bidang ketekniksipilan. Seperti contohnya para peneliti yang berhasil menciptakan semen pengeringan 5 jam, mahasiswa politeknik negeri malang yang berhasil menciptakan hasil daur ulang koran bekas menjadi plafon, dan tentu masih banyak lagi.

Yang disayangkan, jumlahnya masih minoritas sekali.

Mungkin sekaranglah waktunya kita sadar untuk segera menjawab tantangan-tantangan inovasi yang ada. Jika di luar negeri tantangannya adalah membuat gedung tinggi, mereka kini sudah berhasil menciptakan beberapa gedung-gedung tinggi seperti Burj Khalifa setinggi 828 meter, bahkan sekarang sedang dibangun Kingdom Tower di Jeddah, Arab yang tingginya sekitar 1.2 Km.

Di Indonesia, tantangan terbesar kita mengacu pada segi perluasan jalan, pembangunan pelabuhan dan tentu saja pembangunan sarana publik.

Bagaimana cara untuk memulai suatu inovasi?

Cara sederhananya adalah dengan mengadakan lomba-lomba inovasi ketekniksipilan. Dari situlah sedikit demi sedikit ide-ide pun bermunculan, pengembangan pun secara pelan di lakukan, bahkan eksperimen pun pasti berjalan.

Memang, tak ada lagi kebaharuan di dunia ini. Semua sudah diciptakan. Jadi, inovasi-inovasi berupa modifikasi dari sesuatu yang sudah diciptakan adalah hal yang paling realistis. Jika ada semen pengeringan 5 jam, kita bisa saja memodifikasinya dengan membuat semen pengeringan 3 jam. Jika sudah ada gedung setinggi 1.2 Km, kita bisa saja membangun gedung setinggi 1.5 Km. Seperti itulah caranya.

Buktikan bahwa kita adalah manusia, yang tak berevolusi menjadi seekor monyet.

Buktikan juga bahwa kita mengalami kemajuan, bukan kemunduran.

Terimakasih.

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam LOMBA FKMTSI 2015

20151120055053

Advertisements

64 comments

  1. bener juga. kalau mengalami kemunduran berasa seperti kembali yang dulu.
    dan bener juga. kadang ada saat dimana lebih memilih disamain kaya monyet daripada disuruh ngerjain tugas. hmmmm.

    1. Wkwkwk iya mbak :’ kita kayak mengalami kemunduran -_- terlalu dimanja sama kemajuan zaman sih -_-

      Wkwkwkw pilihan kami tepat kan ya? tugasnya suruh redesign menara eiffel -_- kan gila mbak -_- mending disamain kayak monyet aja wkwkw 😀

  2. Agak penasaran, kenapa pemikiran, kebanyakan mahasiswa sipil, tentang inovasi hanya sebatas pada rekayasa bahan. Padahal ada banyak loh inovasi selain rekayasa bahan, misalnya Jembatan Pertokoan Senen yang memenangkan Penghargaan Karya Konstruksi 2013. Walaupun sederhana, ternyata jembatan toko ini dibangun tanpa tiang penyangga di tengah jalan dan terdapat integrasi antaran struktur atas dengan fondasinya.

    1. Iya juga ya mbak ._. mungkin pemikiran mahasiswa itu masih terpacu pada bahan buat pembuatannya sih ya ._.

      Jembatan pertokoan Senen? aku baru tau itu mbak 😀 waaa makasiiih bangeeeet mbak informasinya :)) keren juga ya mbak 😀

  3. Dosennya pake cara yang keren gitu buat menarik perhatian dari para mahasiswanya ya. Buat bikin mereka yang udah pada selonjoran di meja buat mimpi indah jadi duduk manis. Dosennya bukannya ngegebrak meja atau apa kek gitu. Keren~

    Tulisannya serius gini, ternyata buat lomba toh. Hahahaha. Semoga menang ya, Feb! 🙂

  4. Iya, yang bikin teori kan Mbah Darwin, bukan Om Darwis… kalau Om Darwis kan teorinya fotografi ya Feb :hehe. Dosenmu jos, sindirannya makjleb banget!
    Tapi jujur ya, di Indonesia memang inovator itu memang sangat kurang. Selain budaya literasi yang masih rendah, lingkungan juga tidak begitu mendukung, kita bisa lihat pemerintah sibuk dengan masalah-masalah lain yang sebetulnya tidak penting ketimbang menstimulus peneliti-peneliti supaya menghasilkan inovasi bagi bangsa dalam bidang keilmuan mereka.
    Nevertheless, saya masih kepengin jadi peneliti arkeologi sih :haha. Tapi dengan keadaan sekarang… itu mungkin cuma sebatas hobi kali ya Feb.

    1. Aampuuuun mas 😀 wkwkw udah dikoreksi banyak orang nih 😀 wkwkw udah aku revisi itu mas wkwkw hihihi 😀

      Iya mas -_- sindirannya kan ngejleb banget kalau begitu ._. wkwk

      Nah, bener kan? miris juga sih kadang 😦 kalau pemerintah mah bisanya bikin masalah yang kadang mengalihkan isu-isu publik -_- nggak ngerti aku mah mas kalau mbhas pemerintah :’

      Waaaaa 😀 suwer loh mas, kamu cocok jadi peneliti arkeolog 😀 semua temen-temen blogger udah mengakui kalau gaya tulisanmu pas bahas sejarah-sejarah gitu kan kece 🙂 semoga bener-bener bisa mas. dari hobi, jadi peneliti :)) keereeen 😀

    1. Wkwkwk MAKASIIIIH WULANKADEK 😀 wkwkwk
      Bener kan ya? daripada dapet tugas? Redesign menara eiffel itu tugas gila banget loh ya -_- mending jadi monyet dulu deh sementara 😀 wkwkwk

      Iya Lan, Lomba :)) semoga ya :)) Aamiin 😀 makasiiiih :))

    1. Nah itu dia, bikin mahasiswanya tertohok abis-abisan :’
      pas banget mas kayaknya beliau jadi dosen teknik yang anak-anaknya cenderung-ya-begitulah 😀

      Aamiin :)) makasiiih banyak, mas :))

  5. Yang bener itu Kita hidup di masa yang mana hal baik akan selalu dicibir, sementara hal buruk didewakan. Hahahaha

    Btw, ada kotaku disebut. Hahaha
    Semoga menang, kakber 😇

  6. Kita hidup di jaman dimana sesuatu yang gak sesuai sama jalan pikiran kita akan dibully dengan riang, padahal kitanya belum tentu bener. Kita hidup di jaman stasiun televisi memiliki kepentingan masing2 dan kita mau gak mau harus siap menerima segala bentuk propagandanya~

    btw, temen2 lo sekelas emang cerdas banget, manusia udah berevolusi jadi monyet memang tepat, alasannya juga logis, daripada dapet tugas 😀

    Lo juga harus ikutan berinovasi Feb .. cmungudhlah~

    1. Kita bener-bener hidup di zaman yang menyedihkan deh sekarang ya mas -_- televisi yang jadi penunjang informasi malah dijadiin kayak alat politik -_- kan tay abis -_-

      Wkwkwkw Tugasnya redesign eiffel mas -_- gila aja ya wkwk mending jadi monyet dulu deh wkwkwk

      Siaaaap :)) makasiiih mas 😀

  7. “Secara umum, hanya ada sedikit orang yang mau berkreasi untuk membuat sebuah inovasi.Walaupun ada, itu pasti setelah melalui tahapan ‘dihina’ dan ‘dicibir’.” Seperti yang kita tau, sebuah inovasi itu adalah sebuah hasil karya yang juga menggunakan kecerdasan(lihat gambar ini http://goo.gl/K1WZqo). Apakah anda tau Einstein,Darwin dan para ilmuwan lainya? Mereka juga dicibir atas karya mereka, tetapi setelah diteliti barulah banyak orang percaya dan menggunakannya. Saat ini kita lebih didik untuk ‘menggunakan’ sesuatu tanpa harus mengetahui ‘bagaimana cara berkerjanya. Kita memang menggunakan sepeda motor, tapi apakah banyak orang yang tau mengenai cara kerjanya?. Jadi hal yang kita bisa pelajari dari ini adalah besok kalo memiliki anak cobalah gali rasa penasarannya sehingga anak tidak hanya ‘mengetahuinya’ saja, tetapi juga paham seluk-beluknya.

    “Secara khusus, contohnya dalam ruang lingkup ketekniksipilan, inovasi pun masih sangat sulit dikembangkan karena minimnya para engineer untuk menggali suatu ide.”, karena banyak mahasiswa yang masuk teknik sipil bukan karena kesadaran, banyak faktor seperti karena ikut-ikut teman, “terlihat keren”, dll.

    1. Sumpah, ini komentar yang berbobot banget :)) terimakasih Mas Zaki :))
      Memang miris sih ya, harusnya emang rasa penasaran kita bisa ditambahin, masa hidup cuma make doang :’

      Bener banget nih yang kedua -_- orang masuk sipil pertama karena orang tua yang emang konsultan, kedua karena keren, ketiga karena ikut2an temen -_-

  8. keras juga dosen lo. langkah yang tepat untuk nyari aman, daripada harus berurusan sama menara effiel… mungkin manusia nggak berevolusi menjadi monyet, tapi berevolusi menjadi budak-budak teknologi.

  9. Dosen kayak gini nih yg harusnya ada banyak di kampus, semakin banyak semakin bagus,, bukan dosen yang bikin ngantuk dan jarang dateng, giliran dateng eh langsung ngasih tugas,,,

  10. Hahaha, ada-ada aja cara supaya gak dikasi TUgas. Milih dibilang Monyet ketimbang mendesain ulang Menara Effiel. Apa mungkin Bagian atasnya dikasi Abon Cabe atau apa gitu. 😀

    Tumben bahasnya rasa bener. Emang, kita sedang butuh banyak inovasi. Hanya saja, inovasi banyak pendukung 0%. Jadi, apa yang mau dikembangkan?

    1. Soalnya redesign menara eiffel itu ngeri -_- daripada bagian atasnya dikasih boncabe, mending aku rubuhin terus bajanya aku jual ke tukang loak :’ wkwkwk

      Yah, begitulah :’ agak miris ya :’

  11. untung dulu aku jurusan bisnis, ga gitu2 puyeng baca istilah perkuiahannya :D.. tp sbenernya, aku tuh slaluuu penasaran liat pembangunan2 gedung tinggi, menara tinggi, yg bisa simetris dan kokoh gitu Feb.. di sktr sudirman , jakarta kan lg bnyk tuh pembangunan gedung2 baru.. kalo ngeliat dari jendela kantor, mesin2 crane dan nth apa lagi yg sdg membangun, kliatannya lambat kerjanya, tp setahun kemudian udh berdiri aja bangunannya :D.. sayang suamiku jg org ekonomi, jd ga bs ditanya2 soal bangunan ;p

    1. WKwkwk kalau di jurusan bisnis itu mempelajari apa ya mbak? ._.

      Wkwkwk penasaran ya mbak? Aku sebagai anak sipil juga masih kurang paham kok wkkwk 😀

      Anak Sipil kan dewa mbak, jadi tau-tau udah kelar aja itu proyek :p wkwk 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s