Hati-Hati yang Nyasar

Gue jomlo.

Pengakuan yang seharusnya nggak perlu diakui ya kayaknya.

Ya, baiklah. Gue siluman ikan pesut.

Dan seperti yang dilakuin oleh para jomlo-yang-juga-siluman-ikan-pesut pada umumnya, gue pun senantiasa melakukan pencarian untuk pasangan hidup yang gue idamkan.

Pilihan itu pernah jatuh pada seorang cewek bernama Lita.

Dia temen sekampus yang beda jurusan sama gue. Dia anak teknik lingkungan, sementara gue anak teknik sipil-yang-menjadi-limbah-lingkungan.

Sebenernya gue tau Lita udah cukup lama. Kira-kira sejak semester 2, awal tahun 2014. Tapi sayangnya, gue cuma tau dia secara diam-diam. Yak, gue tau dulu dia punya pacar, dulu dia bahagia, dulu dia aktivis kampus. Semua gue ketahui dengan diam-diam.

Sampai akhirnya 2 semester berselang, kami pun berkenalan. Kala itu kebetulan gue dapet kesempatan karena pada akhirnya Lita putus sama pacarnya. Bagaimana gue tau? Dari perubahan Status BBMnya yang awalnya ‘pacar unyu’ berubah menjadi ‘busy’.

Disitulah kesempatan gue buat ngechat pun terbuka lebar. Gue inget pesan pertama gue ke dia.

“Mmm… Nama pacarmu sekarang Busy ya?”

Yak, pesan idiot dari gue itulah yang akhirnya membuat gue kenalan dan akrab sama Lita.

Setelah kenal cukup akrab di media sosial, gue dan Lita pun akhirnya janjian buat ketemuan di kampus.

Sore itu pukul 16.00, gue duduk di kursi deket parkiran kampus setelah beberapa menit yang lalu mengabari Lita. Cukup lama menunggu, dari kejauhan gue pun melihat sosok Lita lagi jalan dengan pelan mengarah ke tempat gue duduk. Wajah imutnya terlihat polos ketika dia kebingungan mencari-cari keberadaan gue. Ketika gue mau manggil dan melambaikan tangan sambil nyengir, tiba-tiba Lita menghentikan langkahnya, berbalik,  kemudian mengambil hape di saku kanannya.

Gue membenamkan muka. Seolah udah hafal dengan apa yang akan terjadi :

Dia kabur setelah dari jauh ngeliat muka gue. Gue melongo. Kami nggak jadi ketemuan. Satu hari kemudian, kontak gue di delcont.

Gue udah cukup berpengalaman dalam bidang blinddate yang gagal.

“Kamu dimana?”

Pesan itu masuk ketika gue lagi membenamkan muka. Nama Lita menghias layar hape gue. Akhirnya, dengan penuh rasa tabah dan pasrah gue pun membalas pesan tersebut.

“Ini di kursi deket parkiran. Kemeja ijo kotak-kotak. Sendirian. Ngadep laptop. Kamu pake baju pink kan? Tadi aku liat kamu dan ngelambaiin tangan”

Setelah pesan terkirim, nggak lama kemudian, Lita menoleh ke arah gue dan berjalan pelan menuju tempat gue duduk.

Selepas kemudian, Lita udah ada didepan gue. Dengan senyum manisnya dia menyapa. Dari pertemuan pertama itulah akhirnya kami ngobrol bareng. Dan dari situlah akhirnya gue tau bahwa tadi Lita sempet ragu mau ketemu  gue ketika dia secara tiba-tiba ngeliat gue melambaikan tangan.

Hmm… Ya, gue tau diri kok.

Setelah pertemuan itu, gue pun jadi sering menyapa Lita setiap kali kami berpapasan di kampus. Kegiatan chattingan gue sama dia pun semakin intens. Sampai pada waktunya, kami pun janjian buat pergi ke pantai bareng.

Sebelum pergi, gue udah bilang ke Lita kalau gue nggak begitu hafal jalan ke Pantai. Kala itu Lita memaklumi dan dengan enteng bilang :

“Ah, selo Feb. Kan ada GPS. Tenang aja. Yuk berangkat.”

Rabu, sekitar pukul 13.00 gue dan Lita pun akhirnya berangkat menuju Pantai.

Dalam awal perjalanan, gue dan Lita masih seru-seruan ngobrol masalah apa aja. Seolah obrolan diantara kami itu nggak ada habisnya.

Sampai satu setengah jam kemudian…

“Feb, GPSnya mati eh. Duh, kita harus kemana ya di pertigaan ini?”

Lita bersuara dengan nada yang cukup panik. Gue dan Lita baru sampai di daerah Semanu, Gunung Kidul, sementara pantai yang akan menjadi tujuan kita adalah Pantai Ngelambor. Masalahnya, gue bener-bener nggak tau jalannya. Akhirnya, sambil memasang muka kalem, gue mencoba menenangkan Lita.

“Selo aja. ikuti jalan ini aja nanti juga nyampe kok”

Lita diem. Rasa paniknya mulai ilang. Dia mau mengerti.

Beberapa menit kemudian, ketika jalan yang gue ikuti nggak ada ujungnya, Lita kembali panik.

“FEB, INI DIMANA FEB? KOK NGGAK NYAMPE-NYAMPE SIH? AH, BETE AH”

Gue masih mencoba tenang. Sampai ketika gue melihat ada sebuah warung, gue pun berhenti dan nanya ke salah seorang ibu-ibu disana.

“Bu, pantai disini masih jauh ya?”

“Iya, Mas. Lumayan” Jawab sang ibu dengan lembut.

“Mmm. Kira-kira pantainya di daerah mana ya, Bu?” Gue kembali bertanya, mencoba meyakinkan.

“Pacitan, Mas.Pantai Klayar namanya”

“HAH?!!!”

Gue mangap.

Lita membenamkan muka.

Yak. Kami resmi nyasar.

Setelah berucap terimakasih sama sang ibu penjaga warung, gue dan Lita pun langsung mutar balik haluan, mencari arah yang benar.

Cukup lama gue dan Lita muter-muter jalan dan nggak nemu tujuan yang benar, sampai pada akhirnya, setelah gue mengikuti petunjuk jalan yang ada serta nanya ke warga-warga sekitar, gue sama Lita pun akhirnya sampai di Pantai Nglambor.

Gue bernafas lega.

Lita tersenyum senang.

Di pantai, terlihat jelas bahwa matahari sudah bersiap untuk sembunyi. Yak, tepat sekali. Gue baru sampai pantai pada pukul 16.30. Perjalanan yang elegan.

Di sana, ditemani semilir angin pantai yang menyejukan, gue dan Lita mainan air dan ngobrol bareng diatas batu karang sambil menatap matahari yang sudah hendak sembunyi.

Syahdu.

Kami berdua tersenyum bersama. Senyum yang seolah menggiring kami pada sebuah pertanyaan klasik :

‘Mau dikemanakan senyum dan hubungan ini?’

Tepat pukul 17.48, kami berdua pun akhirnya memilih untuk meninggalkan pantai dan pulang ke rumah. Seperti biasa, dalam perjalanan pulang, kami masih ngobrol panjang lebar.

Nggak kerasa waktu udah menunjukkan pukul 21.00. Gue udah sampai di depan kostnya Lita. Dia pun turun dari motor gue, tersenyum, kemudian dengan manis berucap.

“Hati-hati dijalan ya, Feb”

Gue tersenyum, kemudian melajukan motor dengan pelan. Meninggalkan Lita yang melambaikan tangan.

 

Xxxxx

 

Selepas hari itu, gue berharap hubungan antara gue dan Lita bisa berlanjut ke tahap-tahap yang lebih jauh lagi, atau minimal bertahan dengan ayem-ayem aja.

Namun sayangnya, satu hari setelah kami pergi ke Pantai, Lita justru berubah. Ya, dia jadi ‘sedikit’ berbeda. Intensitas chattingan antara gue dan Lita pun semakin berkurang dan menjurus ke garing. Hubungan gue sama Lita seolah merenggang.

Gue masih nggak tau kenapa. Apa karena tragedi nyasar kemarin? Atau mungkin karena gue yang nggak asik?

Atau kemungkinan lain… Lita udah menemukan jalan menuju tambatan hati yang sesungguhnya, setelah kemarin udah cukup lama nyasar di hidup gue.

Mungkin.

Mungkin banget.

Cuma tinggal gue yang masih nyasar bersama kesendirian, mencari tujuan yang benar untuk mencapai kebahagiaan, atau berhenti dan tetap merasa kesepian?

Kampret. Kok ngenes banget ya perasaan?

Terimakasih.

Advertisements

159 comments

  1. Wah ini jadi inget jaman kuliah di Yogya, puwas banget naik motor maen di pantai dan alam, salah satu alasanku loh gak mau kuliah di Jakarta dulu hehe..wadehh Lita type cewe PeHape dan gajes yak..maaph nih mending ke laut aja klo nemu yang model begitu…hahaha..jaman kuliah klo maen ke pantai lebih seru bareng2 ah

    1. Waaaaa 😀 pernah ke Jogja juga nih mbak 😀 cihuuuuy deh kamu mbak 😀

      Eng… Kadang cewek bisa kayak Lita gitu ya :’)

      Iyaaa beneeer banget mbak 😀 itu pertama kalinya aku ke Pantai sama cewek berdua doang sih ._. lebiiih asik kalau rame-rame mbak 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s