Cinta adalah Alasan

‘Cinta adalah segalanya’       

Begitulah anggapan Joni, seorang lelaki yang berparas masih-layak-dibilang-ganteng sedari kelas 3 SMP. Bahkan hingga kini, ketika umurnya sudah menginjak 26 tahun dan sudah memiliki seorang istri, anggapan tersebut masih tetap dia pertahankan.

Menurutnya, cinta adalah alasan kenapa setiap orang bisa tetap hidup dan menghidupi orang lain. Orang yang hidup tanpa cinta, lambat laun akan mati oleh rasa sepi. Namun, orang yang hidup dengan cinta, walaupun dia tanpa harta, dia akan tetap hidup bersama dengan rasa bahagia.

Hal itu pernah Joni ucapkan ketika hendak melamar Asti, istrinya sekarang.

“Aku mau hidup denganmu, selamanya. Aku mencintaimu setengah mati” Ucap Joni di teras rumah Asti pada sesi malam minggu yang sakral.

Mendengar ucapan Joni, Asti tersipu malu. Sebelum Asti melayang akan ucapan Joni, dia pun mencoba realistis.

“Memang kamu punya apa untuk menghidupi aku dan anak-anak kita nanti?”

Joni tersenyum. Dia tau bahwa pertanyaan ini akan terlontar dari mulut Asti.

“Aku punya cinta untuk kamu dan anak-anak kita nanti” Jawab Joni dengan tenang.

Asti memandang wajah Joni. Wajah yang menunjukkan keseriusan ucapannya.

“Memang, cinta saja cukup untuk menghidupiku dan anak-anak kita?”

Sekali lagi, Joni hanya tersenyum. Dengan jeda yang agak lama, dia pun akhirnya menjawab pertanyaan Asti barusan.

“Ya, karena dengan cinta ini, aku akan berusaha agar bisa mencari dana untuk menikahimu. Mencari nafkah untuk menghidupimu. Mencari nafkah untuk menghidupi anak-anak kita.”

Asti terdiam. Ucapan Joni seakan membuat dia benar-benar melayang. Dia tidak menjawab. Dia hanya menunggu bukti, apakah dengan cintanya itu Joni benar-benar bisa menikahinya.

Setelah niatannnya malam itu, Joni yang setelah lulus kuliah menjadi pekerja kantoran pun semakin semangat untuk bisa menikahi Asti. Sepulang kerja, Joni pun mencoba berjualan Roti bakar di dekat rumahnya agar bisa menambah penghasilan. Sabtu dan minggunya pun Joni gunakan untuk menulis beberapa tulisan untuk dikirim ke berbagai surat kabar, berharap ada satu atau dua tulisannya yang layak terbit dan mendapat honor yang lumayan.

Rutinitas itu Joni lakukan dengan senang hati. Atas dasar cinta yang besar kepada Asti itulah akhirnya dua tahun kemudian, Joni berhasil mengumpulkan cukup uang untuk bisa menikahi Asti.

Setelah menikah, kehidupan rumah tangga Joni dan Asti bisa dikatakan sangat harmonis. Walaupun hidup sederhana, cinta mereka berdua mampu membuat kehidupan rumah tangganya sangat hidup. Hampir tidak ada pertengkaran yang berarti di rumah tangga mereka. Prinsip mereka menikah adalah untuk mengikuti ajaran rosulnya, bukan untuk mencari kepuasan yang berakhir dengan pertengkaran lalu bercerai.

Semua berjalan sebagaimana mestinya, sebelum akhirnya, cobaan menimpa rumah tangga mereka.

Asti terkena penyakit kanker rahim. Hal itu terjadi karena dia kurang begitu memperhatikan gejala-gejala kecil mengenai kanker rahim ini. Memang, kebanyakan penderita kanker rahim tidak sadar bahwa ia sedang terinfeksi virus tersebut.

Mengetahui istrinya terinfeksi kanker rahim, Joni tak bisa berbuat banyak. Dana yang dia punya sangat tidak cukup untuk dapat menanggung biaya pengobatan istrinya. Dia hanya bisa merenung melihat istrinya menahan rasa sakit yang berlebih itu.

“Aku nggak papa mas. Kamu jangan terlalu khawatir ya” Ucap Asti kepada Joni disuatu malam.

Joni hanya terdiam. Seakan dari diamnya itu dia menunjukkan rasa berdosa karena tidak bisa membiayai istrinya untuk berobat.

“Harusnya aku dulu nggak terlalu gegabah untuk menikahimu. Harusnya aku punya banyak tabungan lebih buat membiayai kamu sepenuhnya.” Kalimat penyesalan terlontar dari mulut Joni.

Asti hanya bisa tersenyum menanggapi penyesalan suaminya.

“Kita nggak bisa menyesali apa yang udah kita jalani, Mas. Lagipula, dulu kamu yang meyakinkan aku dengan rasa cintamu itu. Aku nggak  menyesal sama sekali mas udah milih kamu sebagai suami”

Joni tak bisa berkata banyak. Dia bersyukur sudah mendapat istri seperti Asti. Malam itu, suasana hening cukup panjang menyelimuti rumah tangga mereka. Suara desir angin yang syahdu terdengar nyaring. Bintang terlihat terang. Ada satu yang nyala redup. Diiringi suara jangkrik yang bersahutan, hari pun berganti.

Joni berangkat kerja masih dengan diselimuti rasa gelisah. Dia masih tidak tau apa yang bisa dia lakukan untuk dapat menyembuhkan penyakit istrinya. Hingga tiba di kantor, dia menyalakan komputer dan membaca berita-berita terkini.

Headline berita yang heboh kala itu adalah :

‘Seorang anak muda rela menjual ginjal demi pengobatan orang tuanya’

Tanpa membaca seluruh isi berita tersebut, Joni mempunyai kesimpulan sendiri.

‘Apa aku harus menjual satu ginjalku untuk Asti?’

Pertanyaan itu terus mengganggu pikiran Joni. Disatu sisi, dia tau, jual-beli ginjal adalah salah satu tindakan yang ilegal. Disatu sisi yang lain, dia pun tau, istrinya butuh biaya untuk pengobatan penyakitnya.

Hari berlalu cukup lama untuk Joni. Dia dilanda dilema. Hingga akhirnya setelah menimbang-nimbang banyak hal, dia pun membulatkan tekad untuk memasang iklan penjualan ginjalnya itu di media sosial. Butuh waktu cukup lama untuk membiarkan iklan itu menyebar luas.

Sampai akhirnya, ada seseorang yang berminat membeli ginjal Joni. Setelah bertransaksi alot dengan sang pembeli, Joni pun sepakat dengan harga yang ditawarkan. Rentetan proses pengangkatan satu ginjal Joni dilakukan. Sakit. Itulah kata yang dapat menggambarkan bagaimana perasaan Joni saat satu ginjalnya diambil.

Pengambilan satu ginjal Joni berjalan dengan lancar. Kini, Joni hidup hanya dengan satu ginjal.

Sepulang dari menjualkan ginjalnya, Joni pun langsung membawa Asti ke rumah sakit dan meminta pihak rumah sakit untuk segera menyembuhkan kanker rahim yang diderita Asti. Joni sudah menyanggupi perihal biaya pengobatan yang selangit itu.

Hingga deretan pengobatan dilalui oleh Asti, Dia jadi lebih baik. Virus kankernya berhasil diangkat.

Joni mengelus dada dan berucap syukur berulang kali.

“Darimana Mas dapat uang untuk pengobatanku ini?” Tanya Asti setelah operasi selesai.

Joni hanya tersenyum. Dia tidak benar-benar menjawab pertanyaannya.

“Darimana, Mas?” Asti masih bertanya. Rasa penasaran menyelimuti pikirannya.

“Ada seorang dermawan yang menyedekahkan uangnya untuk membantu pengobatanmu” Jawabnya berbohong.

“Siapa?” Sorot Asti.

“Hamba Allah. Dia tidak mau disebutkan namanya” Joni menjawab, masih dengan berbohong. “Tidak usah dipikirkan. Yang penting sekarang kamu sudah mendingan”

Asti tidak lagi bertanya. Kini dia hanya mampu berucap syukur karena ada seorang dermawan yang sudah mau membantu pengobatannya.

Padahal, dia tidak tau.

Dengan rasa cinta yang teramat dalam, Joni rela menjual satu ginjalnya demi uang yang akhirnya bisa dia gunakan untuk pengobatan Asti.

Padahal, dia juga tidak tau.

Kini, suami yang mencintainya dengan sangat tulus hanya hidup dengan satu ginjal. Menepati perkataannya bahwa dia mencintai Asti setengah mati. Meski hidupnya kini setengah mati dengan satu ginjal, Joni masih tetap setia mencintai Asti dengan tulus. Sama seperti biasanya.

Karena pada dasarnya, uang tidak akan bisa membeli cinta yang tulus. Namun, cinta bisa menjadi alasan untuk kita berjuang mendapatkan segalanya, termasuk uang yang jumlahnya tak ternilai.

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com.

 

 

 

Advertisements

59 comments

  1. Hm… menarik ceritanya. Deskripsinya pas, dialog juga oke. Dan banyak kalimat yang ngena di hati pembaca. Gudlak, Feb. Semoga menang.

    Kalau belum menang dan butuh uang, bisa coba jual ginjal. Hehhe :p

    1. Makasiiih banyak Yog 😀 hihih baru belajar-belajar juga bikin beginian 😀 soalnya liat banyak blogger yang udah jago bikin cerpen begini :)) makasiiih :))

      kampret -_- ngga segitunya juga sih wkwkw

  2. Huaaaaa! Om Joni so sweet ya. Rela berkorban buat cintanya, si Asti.
    Keren nih ceritanya, mencintai setengah mati dengan setengah ginjal (maksudnya cuma punya satu ginjal bukannya dua). Semoga menang yaaa! 🙂

  3. Cinta itu sederhana walaupun memerlukan banyak pengorbanan. Cerita yang sangat menyentuh Mas.

    Saya baru sadar sudah lama follow blognya Mas, tapi baru comment sekarang. Maafin ya Mas. *efek mimpi pulang dari bulan*

    Salam kenal^^

  4. Aduhhh, Joni baik sekali…….. dan hatinya sungguh berjiwa besar. Pasti asti bangga banget punya suami seperti joni, Jadi pengen kenal sama joni. “Enggaklah… becanda.”

    Semoga menang lombanya bro.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s