Pertanyaan yang Mulai Menunjukkan Jawaban

Beberapa hari berjalan.

Gue perhatiin, semakin banyak perubahan dalam sifat Elfie. Dia jadi lebih cuek dari biasanya. Bahkan tak jarang, selalu menghindar tiap ketemu gue. Otak gue merespon, kayaknya bener kata Catur, harusnya gue nggak secinta ini sama Elfie.

Puncak dari perubahan Elfie terlihat ketika gue nyamperin dia dan seperti biasa, gue manggil nama “Elfie” berulang-ulang. Menunjukkan rasa suka yang berlebihan.

Mendengar panggilan gue, sembari berlalu, Elfie berucap dengan mimik wajah gusar.

”Apa sih kak? Nanti ya jangan ganggu aku dulu, aku capek !”

Gue cuma bisa diem.

Dalam posisi ini, gue bisa berhenti ngomong dan menoleh ke arah Elfie. Melihat punggungnya berlalu. Meninggalkan sedikit luka. Eh, enggak. Meninggalkan banyak luka.

Luka yang Elfie tinggalkan beberapa menit yang lalu nggak bisa ilang hanya dalam waktu sekejap. Seharian itu, gue masih terus kepikiran akan kata-kata Elfie yang menganggap gue pengganggu. Gue yang biasanya ribut, rame, dan cerewet di kelas, hari itu mendadak jadi pendiem kayak tikus keracunan.

Melihat sifat gue yang beda, Erwin pun nyamperin dan sok basa-basi.

“Kamu kenapa, Feb?” Erwin menepuk pundak gue, membuyarkan lamunan gue akan ucapan Elfie tadi. “Ngelamun jorok?” Lanjutnya, minta digampar.

Gue diem. Nggak langsung menjawab. Gue menggelengkan kepala, memberi kode bahwa gue nggakpapa.

“Aku ada bokep baru nih. Lokal. Skandal SMA gitu. Kualitas HD, loh” Erwin mencoba menghibur.

Mendengar tawaran tersebut, gue serba salah. Hati gue lagi nggak enak, tapi disatu sisi, gue penasaran sama bokep lokal skandal SMA. Kualitas HD pula. Jarang-jarang, kan?

Dalam situasi tersebut, gue yang seharusnya merespon dengan kalimat :

“KAMU NGGAK PEKA ! AKU LAGI SAKIT HATI MALAH DITAWARIN BOKEP ! SINI, MINTA”

Malah merespon dengan kalimat sederhana.

“Nggak ah. Makasih, Win”

Ketika gue mempublish tulisan ini di blog, gue agak nyesel, harusnya gue minta bokep itu. Sampai sekarang, gue penasaran.

“Gara-gara Elfie ya?” Erwin menebak-nebak sembari meninggalkan pembahasan tentang bokepnya, seakan dia tau banget akan problem gue.

“Hmm” Gue mengangguk pelan. Membenarkan apa yang Erwin tebak.

“Udah deh, Feb” Erwin membenarkan posisi duduknya “Sekarang hari Rabu. 5 hari lagi kita Ujian Nasional. Disaat semua anak SMP stress mikirin masa depan pendidikannya, kamu malah mikirin orang yang bahkan nggak pernah mikirin kamu?”

Sekali lagi, gue diem. Gue nggak tau gimana cara merespon ucapan Erwin barusan.

“Kamu pikir-pikir ulang deh, gimana cara mencintai orang yang benar” Erwin melanjutkan ucapannya sembari berdiri, menepuk pundak gue dua kali, kemudian pergi.

Gue tersenyum tipis.

Senyum yang membuat orang lain muntah-muntah. Gue mencoba buat ngelupain apa yang udah Elfie ucapin tadi. Gue mencoba realistis dengan lebih memikirkan gimana masa depan gue nanti. UN 5 hari lagi. Gue harus bangkit.

Tapi…

Pada siang hari, ketika gue menunggu jeda buat mengikuti pelajaran tambahan guna mempersiapkan materi Ujian Nasional yang udah didepan mata, dari kejauhan, gue melihat Elfie berjalan mendekati gue. Langkahnya pelan dan sedikit tertahan. Terlihat ada rasa keraguan dari wajah Elfie. Sampai di dekat gue, dia membuka suara.

“Kak, boleh minta waktunya sebentar?”

Gue menatapnya sebentar. Memberi senyuman, berharap senyum gue nggak mengganggunya.

“Ngapain, Elf?” Jawab gue, bingung.

“Ikut aja, Kak” Lanjut Elfie sembari melangkahkan kakinya, membuat gue membuntutinya dari belakang.

Langkah Elfie berhenti di tangga cewek. Disana, Elfie duduk di ujung tangga. Gue pun memilih duduk di kursi yang ada dideket tangga tersebut. Ada jeda agak lama ketika Elfie ribut dengan temennya yang dia minta buat ngomong ke gue, sampai akhirnya gue meredakan keributan itu dengan berucap :

“Yang mau ngomong sama aku itu kamu kan, Elf”

Elfie memandang gue, akhirnya dia menyuruh temannya untuk pergi. Firasat gue nggak enak.

“Jadi gini, Kak” Elfie menghela nafas panjang “Tapi kakak janji jangan marah yaa?”

Gue mengangguk pelan.

“Mmm” Elfie mencoba mengulur waktu, sebelum dia melepas apa yang mau dia katakan beberapa hari terakhir ini “Aku suka sama cowok. Cowok itu juga suka sama Aku. Hari ini, dia nembak aku. Aku boleh nerima dia nggak, kak? Aku minta ijin ke kakak”

Gue terdiam lama. Mencoba mencerna apa yang barusan dia ucapkan. Hal pertama yang gue cerna dan membuat gue melihat malaikat maut lagi nyengir sambil ngasah golok adalah kalimat ‘aku suka sama cowok, dan cowok itu suka sama aku. Hari ini, dia nembak aku’. Tapi. Hal kedua yang gagal gue cerna adalah kenapa dia minta ijin ke gue?

“Kok ijin ke aku?” Gue mencoba basa-basi.

“Karena… Aku nggak enak sama kakak” Jawabnya pelan, pandangannya nggak fokus ke gue.

Gue bingung. Dalam hal ini, gue nggak berhak ngelarang dua orang yang saling mencintai. Siapa gue juga? Cuma butiran gula pasir.

Gue pun menghela nafas, sampai akhirnya merelakan.

“Iya nggapapa sih, Elf” Gue senyum ke dia. Tipis. “Langgeng ya nanti kalau udah jadian” Gue berdoa seperti apa yang orang-gagal-mendapatkan-cintanya lakukan.

“Mmm” Elfie mengangguk “Tapi kakak jangan marah ya?” Elfie mencoba meyakinkan bahwa gue nggak akan marah.

Gue tersenyum dan mengangguk. Pada saat itu, gue nggak bisa berucap apa-apa. Gue nggak berhak buat marah. Gue udah janji. Sampai akhirnya, senyum tegar gue nggak bisa membendung semuanya. Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, di tangga cewek, siang hari, 5 hari sebelum Ujian Nasional, gue nangis di depan Elfie. Gue nangis di depan orang yang gagal gue dapatkan. Gue nangis di depan yang sebentar lagi jadian… sama orang lain.

“Tuh kan kakak nangis, kak jangan na…..” Elfie melihat gue yang dengan cemen nangis di depannya, mencoba menenangkan.

Semua nggak berguna.

Malaikat maut segera mengayunkan goloknya ke ulu hati gue.

Gue gak denger lagi apa yang Elfie omongin. Gue melangkah pergi menjauhi Elfie. Pergi menjauhi perasaan yang sudah satu tahun gue tanam dan rawat. Pergi meninggalkan perasaan yang tumbuh dengan banyak harapan. Pergi meninggalkan perasaan yang segera layu oleh kenyataan.

Advertisements

23 comments

  1. Wwwkkww yang sabar ya bro… Sumpah ceritanya bikin penasaran. Kirain endingnya bakal jadian eh malah kejadiannya sebaliknya.

    Udah lulus sekolah apa masih hubungan sama elfie? Ceritanya seru. Saya nyesel dulu kenapa waktu smp ga’ punya cerita cinta. Pasti seru buat kenang-kenangan ha ha ha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s