Terbebani

Cewek itu pinter akting.

Mereka punya cara untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Disaat mereka sedih, mereka pun menutupi kesedihannya lewat diam atau senyum palsunya. Gak kayak cowok. Cowok kalau diem itu mempunyai arti bahwa dia lagi menyembunyikan mencretnya yang udah keluar dan nempel di celana. Coba cek deh.

Itu yang gue pikirin sekarang. Mungkin Elfie sedang menyembunyikan sesuatu dari gue. Bukan, bukan menyembunyikan mencretnya. Tapi, entahlah. Semoga yang Elfie sembunyikan itu hal positif, misalnya kayak dia lagi bikin rencana buat nembak atau ngelamar gue gitu.

Rasa penasaran itu semakin menyebar di otak kiri. Gue langsung jedotin kepala ke tembok yang dilapisi bantal. Berharap rasa penasaran itu terjawab dengan mudah. Tapi yang ada gue malah puyeng sendiri. Gue pun terbaring lemah di atas kasur sambil memandangi apa yang ada di sekeliling kamar. Yaa… memandangi setiap sudut kamar yang tertempel beberapa kertas bertuliskan nama “Elfie”.

Ngomongin masalah kamar, gue mau cerita sedikit tentang kamar gue. Memang jarang ada temen gue yang masuk ke kamar ini. Terutama cewek. Gila aja. Mau disembelih Ibu gue apa? Soalnya, pernah gue dengan polos nanya ke Ibu.

“Bu, aku besok kalau punya pacar, pacarannya di kamar ya bu”

“Mau Ibu jadiin oseng-oseng mercon, Feb?”

“Nggak bakal ada yang mau makan, Bu”

Gue digampar.

Sampai sekarang gue pun masih bingung. Kenapa gue ngajuin pertanyaan bodoh kayak gitu ke nyokap? Harusnya kan diem-diem aja.

Kamar gue ini menjadi tempat privasi. Apalagi semenjak gue tau siapa itu Elfie. Kamar yang dahulu temboknya berisi tempelan upil yang gue bingung buang kemana, secara dramatis berhasil gue cat ulang dan gue tulisin bermacam-macam kalimat yang berkaitan dengan Elfie. Contohnya :

“Belajarlah demi Elfie”

Simple banget.

Tapi itu punya arti dan penyemangat sendiri buat gue. Bahkan karena tulisan itu, gue jadi rajin belajar. Begitu sukanya sama Elfie, Gue belajar aja sampai harus ditemenin sama fotonya Elfie yang gue dapet dari seorang juru foto di sekolah gue dengan membayar uang lima ribu rupiah.

Lebay banget.

Suatu hari, temennya kakak gue, Catur, dia masuk ke kamar gue. Gue emang bergaul dengan beberapa temen kakak gue karena untuk beberapa waktu, gue sama kakak gue bersekolah di sekolah yang sama.

Dikamar, Catur pun melihat banyaknya tulisan “Elfie” di sana. Catur mangap beberapa saat, memandang gue dengan tatapan jijay. Ada hening yang cukup lama untuk dia memikirkan kesehatan jiwa gue, sampai akhirnya dia berkomentar.

“Elfie itu siapa, Feb?” Catur berucap penuh tanya, tatapan jijaynya ke gue beralih lagi ke tulisan ‘Elfie’. “Adiknya Faris bukan?”

Faris adalah temennya Catur sekaligus temennya kakak gue juga. Otomatis, Faris adalah kakak kelas gue waktu SMP dulu. Gue cukup akrab sama dia. Lumayan kenal. Bahkan, sekarang, ketika tulisan ini gue tulis disini, Faris adalah kakak angkatan gue. Dia jurusan Arsitektur 2011, Gue jurusan Teknik Sipil 2013. Dia ganteng, gue kayak jamban.

“Iya mas. Adiknya Mas Faris” Gue menjawab sekenanya sembari mengangguk kikuk.

“Oh, Elfie mau sama kamu?” Respon Catur dengan bertanya, seakan kenyataan bahwa Elfie menerima gue adalah hal yang nggak mungkin banget.

“Enggak” Jawab gue “Kemarin aku nembak ditolak”

“Hmm” Catur berdehem, memaklumi kenyataan yang ada “Terus, kenapa tulisan ini masih dipertahanin kayak gini?”

Gue diem sebentar, memberi hati gue waktu untuk merobek-robek luka lama.

“Buat penyemangat aja” Gue pun menjawab seadanya “Lagian, alasan Elfie nolak gue itu karena dia belum siap pacaran. Gue bakal nunggu sampai dia siap”

Catur melihat gue. Melihat muka gue yang penuh rasa optimis. Atau, rasa sok tegar lebih tepatnya.

“Kamu ngelakuin ini semua…” Catur berucap sembari menunjuk tulisan-tulisan ‘Elfie’ di kamar gue “Emangnya Elfie tau? Dia peduli?”

Jleb.

Hati gue tertohok.

Gue pun diem, menunduk. Nggak bisa ngomong apa-apa lagi.

“Kalau suka sama orang itu pikir-pikir, Feb” Catur menutup percakapan dengan langkah pelan ke luar kamar.

Gue masih diem.

Sepeninggal Catur, pandangan gue kembali fokus pada tiap sudut kamar. Tulisan Elfie masih ada dimana-mana. Otak gue kembali mencerna apa yang Catur ucapkan. Ada benarnya juga. Hati gue berbisik pelan…

“Kalau udah suka sama orang, buat apa berpikir ulang?”

Sekali lagi, hati mematahkan logika.

Advertisements

21 comments

  1. Gue pun pernah begini, tapi kepada idola. Sampai akhirnya gue sadar, kalau memikirkan seseorang yg gak memikirkan kita adalah sesuatu yg percuma. Logika mematahkan hati.

  2. Semangat yak, saat-saat suka dengan seseorang memang bagusnya dinikmati banget Feb supaya nanti ada kesan dan pengalaman kalau sudah ketemu orang yang tepat :hehe. Kayaknya ini asal setting dan kebiasaan tokohnya dari kisah nyata, ya? Habisnya terkesan nyata banget, jadi penasaran saya kepengen main ke kosanmu, jangan-jangan di langit-langitnya ada beberapa nama tertempel? :haha.

  3. Ckcckckckc….
    Wanita seperti apa sih si Elfie ini…
    Sampai tetap menarik dijadikan bahasan selama beberapa bulan…
    Ditolak aja ceritanya menarik, gimana kalo diterima??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s