Awal Dari Sebuah Penolakan

Gue bergegas ke sekolah sambil membawa kado hasil kerja keras gue semalam. Tentu dengan pemikiran jangka panjang, gue gak akan menyimpan kado itu di dalam kelas. Yah, di kelas gue aja bolpen bisa ilang, apalagi kado.

Untung gue punya temen yang rumah saudaranya ada di deket sekolah. Di sanalah kado gue akan terjaga dengan aman. Jadi, gue pun langsung aja menitipkan itu kado di rumah saudara temen gue.

Rencana awal, gue mau ngasih kado ini ke Elfie pas jam istirahat. Kalau suasananya pas, gue juga mau nembak Elfie saat itu juga. Gue gak mau mendam lama-lama keinginan gue buat mendapatkan cinta Elfie. Nyesek ketika gue harus tersenyum mendengar dia cerita tentang orang lain. Menyedihkan ketika gue dipaksa tertawa terbahak mendengar dia cerita hari-hari lucunya bersama orang lain. Sekarang saatnya dia tau bahwa orang yang pantas untuknya sebenarnya sudah ada. Dia yang selalu menemaninya, menghiburnya, menyemangatinya dan dia itu adalah gue! *setel backsound padamu negeri.

Jam istirahat pun tiba. Gue langsung lari mengambil kado yang tadi pagi gue titipkan di rumah saudara temen gue. Ketika kado udah di tangan, gue segera beranjak ke kelas Elfie. Dengan langkah seribu, gue jejaki jalanan membawa bungkusan berbentuk kotak dan bermotif bunga unyu.

“Elfie mana?“ Tanya gue di depan pintu kelas Elfie sambil clingak-clinguk kayak orang ilang.

“Elfienya lagi makan di kantin kak. Kenapa ya?” Tanya salah seorang temen Elfie.

“Oh gapapa kok. Meja Elfie yang sebelah mana ya?” Gue lanjut bertanya, masih tetep celingukan.

“Itu kak di situ. Di tas warna biru itu” Tunjuk salah seorang temen Elfie yang lain.

“Oh yang di pojok depan itu ya” Gue berucap sambil perlahan masuk kelas Elfie membawa bungkusan berbentuk kotak.

Temen-temen Elfie yang ada di kelas itu pun melongo kebingungan melihat gerak-gerik gue yang nampak aneh. Apa sih yang mereka pikirkan. Apa mereka belum pernah lihat orang bawa kado? Idih.

“Nitip ya nanti ini buat Elfie? Aku mau ke mushola bentar” Tutup gue sok cool.

“Eciyeeeeeeeeeee” Sorak temen-temen Elfie serentak “Iya kak nanti kalau Elfie balik, aku bilangin ke Elfie”

Gue pun langsung beranjak pergi ke mushola.

10 menit berlalu, gue segera balik lagi ke kelas Elfie. Dari kejauhan gue lihat Elfie lagi di depan kelasnya sendirian kayak nunggu seseorang. Gue deg-degan dan berkhayal, seneng rasanya kalau seseorang yang Elfie tunggu itu adalah gue.

“Elf? Lagi ngapain?” Sapa gue sok asik. Jayus.

“Eh Kak Feb, lagi nunggu kakak nih” Jawabnya pelan, senyumnya menyeruak “Kata temenku Kak Feb lagi di mushola. Makasih ya kak kadonya”

Nyeeees. Hati gue bergetar.

Iyes, gue emang alay.

“Iya Elf, sama-sama. Selamat ulang tahun ya?” Gue memberi jeda sejenak sembari melihat keadan sekitar, sebelum akhirnya melanjutkan “Oh iya Elf, aku mau ngomong sesuatu nih, Boleh?”

“Boleh kak, mau ngomong apa?” Jawabnya dengan senyum.

“Itu, mmm… Elf kamu…..” Gue menghela nafas panjang…

“Eciyeeeeee. So sweet bangeeet”

Baru mau nembak Elfie dengan kata-kata maut, Eh tiba-tiba semua temen-temen Elfie nyamperin kami rame-rame. Padahal gue gak ngundang mereka. Suwer. Ada yang tepuk tangan, ada yang sorak-sorak, bahkan ada yang bawa gayung sama air sambil goyang poco-poco. Apaan juga maksudnya.

Kalau keadaannya kayak gini, kapan gue nembak Elfienya? Padahal tadi gue sama Elfie berada pada situasi dan kondisi yang pas. Tapi semua berubah saat Negara api menyerang lalu jadilah choco crunch.

Akhirnya gue nggak jadi ngomong dan cuma bisa beranjak perlahan ninggalin Elfie sambil nyanyi lagu selamat ulang tahun bareng-bareng sama temen-temennya yang dengan jahanam menyita kesempatan gue. Terlihat wajah memerah dan malu dari Elfie saat itu.

Kala itu, entah kenapa gue pengen banget nembak Elfie di hari ulang tahunnya. Padahal kalau dipikir-pikir, misal di hari ulang tahunnya itu gue beneran nembak Elfie, nanti yang ada itu akan menjadi ulang tahun terburuk dalam sejarah kehidupannya.

Gak tau mimpi apa gue semalem. Kayaknya semesta bener-bener mendukung gue buat nembak Elfie pada hari itu juga. Pas jam pulang, gue lihat Elfie lewat di depan kantin sekolah. Karena refleks, gue langsung nyapa.

“Elf? Udah mau pulang?”

“Udah Kak, kakak juga?” Elfie menjawab sembari menghentikan langkahnya.

“Iya Elf… Eh Elf, aku mau nerusin omongan kita tadi siang yang sempet kepotong” Ucap gue sambil kembali melihat suasana sekitar yang cukup aman.

“Oh iya Kak. Mau ngomong apa?” Elfie memasang wajah penasaran.

Gue menghela nafas panjang…

“Gini Elf. Kita kan udah kenal cukup lama ya? Dan kamu mungkin juga udah cukup mengenal aku. Aku merasa nyaman sama kamu. Semoga ini tidak terlalu cepat atau tidak terlalu lama. Kamu mau gak Elf jadi pacarku?”

Terlihat mimik wajah yang panik dari seorang Elfie. Gue siap nangkap Elfie kalau aja dia mendadak pingsan. Bahkan gue juga udah siapin kantong plastik buat jaga-jaga siapa tau terjadi hal yang tidak diinginkan waktu Elfie mendengar kata kejujuran dari gue barusan.

“Aduh kak. Maaf banget ya? Aku belum bisa. Selama aku masih SMP, aku belum siap buat pacaran. Maaf kak”

Jeleger.

Detak jantung gue berhenti sekian detik. Pandangan gue sekejap buyar. Gue lihat malaikat maut melambaikan tangannya ke arah gue.

“Hmm. Gitu ya?” Gue memasang muka melas. “Yaudah gapapa Elf”

“Iya kak. Makasih udah mau ngerti, aku pulang dulu Kak”

Elfie membalas sembari melangkahkan kaki untuk pergi. Gue bengong, mencoba menghempaskan rasa sakit yang terasa barusan.

‘Apa gue akan menyerah?’

Otak gue bertanya.

‘Belum. Liat usaha gue nanti, Elf.’

Hati gue menjawab.

Seiring dengan itu semua, gue pun melangkah pulang.

Advertisements

11 comments

  1. Ini ceritanya beneran atau fiksi bang? Saya jadi penasaran kelanjutannya. Ntar kabarin bang kalo udah update soalnya saya follow banyak orang jadi setiap hari musti milih2 buat blogwalking. Takut ketinggalan cerita. Lagi seru nih kwa ha ha

  2. Jadi ini cerita sebenarnya antara Bang Haji dan Elfie? Yang dulu cintanya ditolak sama Elfie Sukaesih? Karena itulah kalian akhirnya bermusuhan sebagai raja dan ratu di kancah blantika musik dangdut Indonesia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s