Sebuah Persiapan

Siang itu gue lagi jalan sendiri turun dari tangga sekolah, didepan ruang laboratorium Bahasa Inggris, gue lihat Elfie lagi duduk berdua sama temennya.

“Elf? Lagi ngapain?” sapa gue yang kalau di sinetron itu mirip Dimas Anggara versi cupu sama itemnya.

“Iya kak. Ini lagi ngobrol aja sama temen aku” Elfie merespon dengan manis.

“Hahahaa iya deh. Ciyeee yang besok ulang tahun. Mau dikasih apa ini?” Mulai, gue mulai goblok.

“Hahaha gak usah kak. Gak usah repot-repot” Jawab Elfie sembari menggerakkan telapak tangan kanannya ke kiri dan ke kanan. Putar badan. Asoy.

“Gapapa kok Elf, aku pasti ngasih” Gue berucap memberi harapan.

Tanpa diduga, tiba-tiba temen Elfie, Si Momo, yang ternyata setelah gue telusuri dialah makhluk yang memiliki suara cempreng abis itu, nyosor.

“Dasar! Mau ngasih kado aja bilang-bilang! Harusnya diem aja!”

Gue diem denger kata-kata Momo. Ada 2 pemikiran di otak kosong gue.

Pertama : Suara Momo emang cempreng.

Kedua : Momo itu kampret, tapi omongannya bener.

Gue lihat muka Elfie. Dia terlihat diam dengan wajah yang murung.

‘Bego! Apa yang barusan gue lakuin? Harusnya gue diem aja kampret! Semua justru akan menjadi biasa aja!’ Gumam gue kesel.

Perlahan gue menjauh dari mereka tanpa pamit dengan memasang muka linglung. Gue masih kepikiran dan menyesali apa yang terucap dari mulut gue tadi. Mencoba berpikir dewasa, akhirnya gue memilih buat melupakan kata-kata tadi dan lebih konsen buat menjalankan apa yang udah gue rencanakan buat ulang tahun Elfie besok.

Dirumah, gue pun nanya sama Ibu. Lagi-lagi dengan pertanyaan bodoh.

“Bu, beli kue ulang tahun itu dimana ya?”

“Oh kue? Di bengkel reparasi motor itu banyak Feb, buat siapa?” Jawaban yang aneh untuk pertanyaan aneh gue.

“Buat gebetanku, Elfie Bu. Besok dia ulang tahun” Jawab gue sekenanya.

“Loh? Kok dikasih kue? Kalau kue nanti dimakan habis dan akhirnya berwarna kuning juga. Mending dikasih boneka atau benda lainnya aja yang tahan lama dan lebih bermakna”

“Wow. Yaudah mending beli boneka aja ya bu?”

“Iya boneka aja, nanti malem beli bareng ibu aja gimana? Sekalian ibu mau belanja”

Gue meng-iya-kan ajakan nyokap sembari berpikir boneka apa yang layak gue kasih buat Elfie.

Gue sempet mikir gimana kalau beli bahan-bahan untuk membuat boneka, terus dirumah, gue membuat boneka yang model dan wajahnya itu mirip gue, kan keren. Jadi nanti Elfie selalu terbayang dan merasa deket terus sama gue.

Setelah pemikiran cerdas gue itu muncul, tiba-tiba datang sesosok iblis di pundak kiri gue dan berbisik :

“Tidak perlu susah-susahlah kau membuat boneka dengan model dan wajah yang menyerupai dirimu sendiri. Itu membuang-buang waktu. Cukup kau beli saja boneka kera. Itu sudah lebih dari cukup untuk mewakili wajahmu dan membuat dia selalu terbayang akan dirimu”

Tak lama iblis itu selesai berbisik. Muncul malaikat di pundak kanan gue.

“Jangan kau dengar perkataan iblis tersebut. Kau harus berusaha membuat boneka dengan motif wajahmu sendiri. Walaupun nanti akhirnya juga akan menjadi boneka yang menyerupai kera, paling tidak kau telah berusaha”

Setelah malaikat selesai ngomong, akhirnya iblis dan malaikat itu pergi meninggalkan gue sendiri begitu saja. Gue cuma bisa nyengir terus ngaca dan langsung mencari seutas tali.

EMANG GUE MIRIP MONYEEET???!!!

Dikit.

Malemnya, gue pergi nganter nyokap belanja sambil nyari boneka yang mau gue kasih buat Elfie. Gue lihat di dalam mall itu ada banyak banget boneka. Ada boneka babi, kuda, buaya, kambing, jerapah, monyet, ular dan lain lain. Mereka seakan bilang “Hey teman” ke gue.

Pertama milih boneka, mata gue tertuju pada boneka babi. Gue ambil dan gue terawang baik–baik. Kayaknya gue pernah liat tampang kayak gini deh, tapi dimana ya? Mungkin di benda yang sering disebut dengan nama “cermin”.

Masa iya sih gue ngasih Elfie boneka babi? Apa gue bakal terkenang dengan Elfie melihat boneka babi ini? Sebenernya gue ini babi atau monyet mpret. Gue pun berpaling dari boneka babi itu dan kembali memilih mana yang terbaik.

Lama gue mencari kesana kemari, tapi yang terlihat banyak hanyalah boneka hewan terutama monyet dan babi itu. Gue pun mulai lelah dan jenuh. Waktu gue udah nyerah dan mau milih boneka babi. Tiba-tiba mata gue terfokus pada sebuah boneka kelinci warna pink. Aaaaaa unyuuuuuu(k). Simple sih, tapi penuh makna karena kelinci itu lagi megang bantal bertuliskan kata “I LOVE U”. Gue pun berpikir kalau kelinci itu pasti kelinci jadi-jadian. Mana ada kelinci bawa bantal berkeliaran di dalam mall.

Akhirnya tanpa pikir panjang dan gak peduli itu kelinci jadi-jadian atau bukan, gue langsung bergegas lihat….. Label harga yang menempel di boneka itu. Syukurlah, karena harganya cukup cocok, gue pun langsung ke kasir dan membayar boneka tersebut.

“Mbak, beli ini ya?”

“Oh iya dek, dibungkus kado sekalian?”

Karena merasa gue gak bisa membungkus kado, gue iyakan tawaran dari Mbak Kasir. Gue dikasih kertas berukuran 7 x 7 cm buat kartu ucapan. Gue yang dapet kejutan secarik kertas kecil itu pun bingung “mau gue apain ini kertas?” Gue belum dapet ide. Karena kasihan sama mbak kasir yang udah nampak bosen liat tampang gue, akhirnya gue cuma nulis “Happy birthday Elf”.

Sederhana banget. Gue melihat bagaimana kertas kecil itu masuk kedalam kado dan terbungkus rapi. Gue pun pulang dengan sedikit senyuman seneng walaupun ada sedikit perasaan yang mengganjal.

Dikamar, gue masih mikir :

‘Apa ya yang kurang? Kenapa gue merasa ada yang mengganjal gini?’

Kayaknya emang bener ada yang kurang. Tanpa komando yang berarti, gue langsung ambil secarik kertas dan pena. Gue menulis.


Dear Elfie

25 February 2009

 

Elfie, Happy Birthday ya? Wish you all the best, semoga tambah patuh kepada orang tua, tambah pinter, tambah rajin, dan pokoknya tambah ke arah yang positif dan lebih baik deh. Oh iya yang jelas jadi tambah suka sama aku ya :p. Emang kamu suka aku? Eh, enggak? Baiklah.

Maaf nih Elf cuma bisa ngasih boneka sederhana ini aja. Semoga berarti ya, karena menurut aku boneka ini cukup mewakili perasaanku ke kamu, seperti yang tertulis di tengah-tengah boneka itu. Aku suka sama kamu Elf, ya meskipun kalau belum bisa, semoga kamu bisa mendapatkan yang terbaik, tapi kalau bisa ya Alhamdulillah. Eh, harus bisa ah.

Yasudah Elf , kayaknya gitu aja cukup deh ya? Selamat menikmati hari indahmu ya.

 

 

Febri Dwi Cahya G


Cukup rumit buat gue nulis kalimat sederhana kayak gitu. Nyatanya gue hampir 5 kali mengulang tulisan itu. Gila aja orang yang gak romantis dipaksa harus jadi romantis. Ibarat ketek, lo nyium bau ketek, bukan ketek lo, tapi ketek orang lain. Gimana rasanya? Aneh kan? Lo mau nyium bau ketek gue? Enggak kan? Istilah gue nyambung kagak? Enggak juga kan?

Tanpa pikir panjang, gue langsung membongkar kado yang udah terbungkus rapi itu. Gue ambil secarik kertas kecil yang hanya bertuliskan kata “Happy Birthday Elfie” terus gue ganti dengan secarik kertas lebih besar dengan tulisan yang cukup rumit tadi.

Setelah kertas itu udah terganti, gue memandangi kado itu.

Sebentar.

Gue masih memandangi kado itu.

Gue pengen mati aja.

Ternyata pikiran gue terlalu pendek. Gue lupa kalau gue gak bisa membungkus kado. Grrrrrr. Gimana ini? Apa gue harus balik ke toko tempat gue beli boneka tadi? Ini jam berapa woy. Nyokap gue udah tidur pula. Apa gue bakar aja ini kado? Eh, jangan.

Saat pikiran gue mulai buntu dan gue udah pasrah akan apa yang terjadi. Gue lihat di kertas kado itu ada bekas lipatan-lipatan rapi. Gue nyoba buat ngikutin ritme lipatan-lipatan itu dengan hati-hati.

Akhirnyaaaaaaaa…… Dua ditambah satu sama dengan tiga. Kadonya akhirnya terbungkus juga yeeaaaay. Famanous Famanous!

Kado udah terbungkus dengan rapi. Gue mulai tenang dan siap untuk esok hari !

Advertisements

17 comments

  1. Wah, ini lanjutannya, ya? Bagus ceritanya, lucu juga. Tinggal EYD aja yang kurang rapi. Overall, ini keren buat gue. 🙂
    Kenapa ini nggak dijadiin e-book gitu aja, Feb? Kayak si Adi. 😀
    Hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s