Three Cheers For Five Years

“Semua orang pasti bisa berubah ya?”

Suatu malam, di sebuah café, gue duduk berhadapan dengan Fahri, temen SMA gue. Malam itu malam minggu. Seperti halnya kodrat pada malam itu, yang punya pacar, mereka pacaran. Yang jomlo, mereka ngais tanah. Yang LDR, mereka memilih untuk main sama temen sejenisnya.

“Mmm… Belum tentu juga, sih” Jawab gue santai sembari nyemil kentang goreng yang baru aja disajikan sang pelayan.

“Nggak. Pasti. Semua orang pasti berubah” Ucap Fahri membenarkan. Dia yang memberi pertanyaan, dia pula yang memberi jawaban. Manusia kampret.

“Kok lo bisa bilang gitu?” Tanya gue “Apa alasannya?”

“Lo masih inget Syifa?” Tanyanya kembali, seakan dia akan memulai cerita yang panjang.

“Iya. Pacar lo kan?” Jawab gue pelan, sembari memandang muka Fahri yang udah mulai serius.

“Hmm… Dulu waktu SMA gue kenal sama Syifa. Banyak hal yang udah gue korbanin supaya bisa kenal sama dia. Sederhana sebenarnya. Perlahan, gue jadi mengenal Syifa lebih dekat. Di waktu itu, niat gue yang awalnya pengen sekedar kenal meningkat menjadi ingin jadian. Akhirnya, gue pun PDKT sama Syifa.”

Gue diem. Nggak sopan memotong cerita orang lain.

“2 Bulan PDKT, gue pun menguatkan tekad buat nembak Syifa. Hasilnya? Ya, kami berdua jadian. 1 Januari 2010, malam hari, diiringi dengan lilin-lilin kecil berbentuk hati. Disitulah mimpi-mimpi mulai kita rajut bersama. Diawali dengan mimpi dari sebuah panggilan ‘Mama-Papa’ yang menurut orang lain itu najis, tapi menurut kami berdua itu adalah sebuah doa, tinggal bikin anaknya aja. Sampai mimpi-mimpi yang mungkin terlalu tinggi untuk dipikirkan oleh seorang anak SMA. Semua nggak penting mau ketinggian atau enggak. Yang terpenting, gue ngelakuin momen-momen itu bareng Syifa. Berdua.”

“Bulan demi bulan pun kami lalui bersama. Pergantian tahun yang mengiringi hari jadi kita selalu dihiasi dengan seikat bunga serta kue yang bertuliskan berapa umur tahun jadian kami. 1 tahun. 2 tahun. 3 tahun. 4 tahun. Kami membuka hubungan kami dengan kebahagiaan, maka kami harus mengulangi momen tahunan itu dengan kebahagiaan juga. Karena yang terpenting, pada momen itu, kami berdua selalu bersama.

“Syifa adalah orang yang mampu mengubah hidup gue. Dia mengubah daya pandang gue tentang hidup. Gue yang dulu selalu menghabiskan satu bungkus rokok dalam sehari, sejak jadian sama Syifa, hampir nggak pernah gue pegang lagi itu rokok. Syifa menyelamatkan gue dari kelamnya hidup yang gue alami. Dia adalah orang yang melengkapi hidup gue. Maka, gue nggak akan pernah salah kalau ngasih seluruh hati gue buat dia”

Panjang lebar bercerita, Fahri berhenti sejenak. Dia menghela nafas panjang. Pandangannya kosong. Sementara itu, gue tetap diam. Menunggu cerita apa yang akan Fahri lanjutkan.

“Bentar…” Ucap Fahri pelan. Tangannya merogoh saku celananya. Kemudian, dari saku itu dia mengeluarkan sebungkus rokok Marlboro. Dia mengambil satu batang dari bungkus itu, lalu memasukkannya ke mulut sembari menyulutnya dengan korek. Kepulan asap putih menggelora dari mulutnya seiring dengan hembusan nafasnya.

“Mmm… Bukannya tadi lo bilang kalau lo udah nggak nyentuh rokok lagi ya?” Tanya gue yang sibuk menyapukan tangan di udara, menghindari kepulan asap rokok yang tepat di muka gue.

“Fyuuuuuh….” Kembali, dia menghelas nafas panjang “Setiap malam, kami berdua bersama. Bahkan di setiap mimpi yang kami harapkan, kami berdua bersama. Sebelum akhirnya, malam itu memecah semuanya…”

Gue menopang dagu dan menunggu…

“Syifa datang ke rumah. Hanya untaian kata ‘maaf’ yang Syifa ucapkan kala itu. Bukan kalimat selamat karena kami telah 5 tahun bersama. Gue membelai rambutnya sembari berucap :

‘Kamu itu kenapa? Hih, kita malam ini udah 5 tahun loh. Senyum dong. Masa minta maaf mulu gitu’

Syifa masih mengucap kata maaf. Air mata deras membasahi wajahnya. Dia terisak, nggak berhenti. Jujur, gue nggak tau harus gimana lagi selain menghapus air matanya. Namun satu hal yang gue tau, di tahun ke 5 itu, semuanya berbeda. Syifa minta putus. Di hari ulang tahun hubungan kami yang ke 5. Merusak kenangan 5 tahun lalu yang telah kami berdua buat. Syifa tau itu nyakitin gue, tapi tetap, itu nggak akan merubah apapun. Bahkan walaupun gue memilih untuk mati, semua nggak akan berubah. Kami pun berpisah”

“Malam itu dan seterusnya, gue selalu sendiri. Nggak ada yang nemenin gue bernyanyi dibalik telepon kala gue ingin terlelap. Nggak ada yang jadi pendengar setia lagi saat gue berkeluh kesah. Nggak ada lagi orang yang berbagi mimpi. Semuanya berubah. Semua berbeda. Tapi yang jelas, gue selalu mengingat Syifa sebagai sosok yang merubah gue. Dia yang merubah gue untuk berhenti merokok, dia pula yang merubah gue untuk kembali merokok. Daya pandang gue tentang hidup kembali berubah. Membosankan”

Gue menyeka air mata yang hampir keluar.

“Terus, Syifa sekarang gimana?”

“Nggak tau. Mungkin dia jomlo. Sendirian. Nggak punya pacar. Kalaupun punya pacar, mungkin cowoknya nggak seromantis gue dulu. Nggak sesayang gue sama dia dulu. Pokoknya si cowok nggak lebih baik dari gue dan Syifa nggak bahagia sama dia” Jawabnya menyimpulkan sendiri.

“Kalau lo, sekarang gimana?” Pancing gue.

“Hmm… Kalau gue, jujur, gue masih nggak bisa move on. 5 tahun bareng-bareng rasanya masih membekas banget. Belum ada pengganti bahkan nggak ada pengganti Syifa di hati gue. Setiap gue ngeliat cewek, siluet wajah Syifa lah yang justru gue liat. Gue nggak akan bisa lupa sama Syi…”

Fahri diam. Dia nggak melanjutkan kalimatnya. Pandangannya tertuju pada pintu masuk café.

Penasaran, gue pun menoleh ke belakang. Disana, sepasang kekasih baru aja membuka pintu café dan masuk ke dalam. Si cewek tertawa manja sembali memeluk pinggang si cowok. Si cowok pun tersenyum sambil membelai lembut rambut si cewek. Dari kejauhan pun gue tau, mereka adalah pasangan yang berbahagia.

Gue pun kembali memandang Fahri. Dia masih terdiam melihat sepasang kekasih itu. Gue tersenyum.

“Syifa udah beda ya” Tanya gue ke Fahri yang masih terdiam “Dia udah bahagia sama cowok barunya, tuh. Lo masih gitu-gitu aja? Payah !”

Fahri memalingkan pandangannya, dengan gerakan seperti biasa dia pun menyulut sebatang rokok dan menghisapnya dalam. Kepulan asap yang menggumpal melayang di udara. Seakan dari kepulan asap itulah dia mencoba untuk membuang kenangan masa lalunya.

Aaaaah, ngarang cerita lagi. Inspirasinya dari lagu Three Cheers For Five Years-nya Mayday Parade ya. Ini lagunya. Dengerin ya. Makasiiih.

Advertisements

82 comments

  1. belum bisa move on FEB ceritanya ini huhu qoutenya *Maka, gue nggak akan pernah salah kalau ngasih seluruh hati gue buat dia ~~so swettt ”hahaha *peaceFeb*

    1. Iya mbak li, kalau dicerita mah nggak bisa move on :p wkwkwk wahahaha dalem juga ya quotenya, tapi setelah dia pergi, hati yang dikasih nggak dibalikin, nggak bisa move on deh :p wkwkw

    1. Hihihi Fahri menggambarkan banyaknya orang yang bener-bener nggak bisa move on 😀
      Syifa minta putus tanpa alasan, nangis aja gitu, jadi ya FAhri nggak bisa move on deh :p wkwkw

  2. awalnya ku pikir cerita beneran, ceritanya baguuus, kasian Fahri ya, tapi kenapa tiba2 syifa minta putus tanpa alasan yg jelas? kepikiran mungkin syifa di jodohin sama ortunya kali atau apa kek gitu 😀

    1. Hihi iya mbak 😀 makasiiiih banyak Mbak Adhya :))
      Iya kasihan tuh, Fahri nggak bisa move on :’ sengaja dibikin putus tanpa alasan sih, karena itu kan yang bikin sakit dan nggak bisa move on karena kepikiran terus :’

  3. ceritanya keren Feb! Kebawa gitu sampai lihat tulisan terakhirnya, ternyata cerpen 😆
    jadi kenapa Syifa minta putus?

    1. Mbak Iraaaaaaaaa Uuwuwuwuwuwuw :3

      Makasiiih banyak ya mbak :)) hihihi ketipu deh mbak ira 😀

      Syifa minta putus ya tanpa alasan mbak :p makanya si fahri menerka-nerka sendiri, sampai di akhir, dia tau kalau syifa udah bahagia sama yang baru :’

    1. hehehe Makaasiiiih banyak ya mbak 😀 wkwkw kan banyak mbak orang yang ngga move in :p ini 5 tahun pacaran, putus tanpa alasan pula, sakit dan nggak bisa move on lah 😀

      Aaaa mbak joey curcol :p

  4. Ketebak kalo ini fiksi. 😀
    Belajar dari membaca fiksi lu yang sebelumnya, Feb. Hehehe.

    Soal sulit move on kayaknya nggak harus karena mereka sudah pacaran lama. Hidup itu terus berlanjut, kan. Seandainya Fahri nyata, dia bodoh. Udah berhasil nggak merokok, putus malah merokok lagi. Seharusnya berubah karena emang pengin menjadi lebih baik, bukan karena wanita. 🙂

    Gue nikmatin setiap alur dan dialognya. Kereeennn ini Mas Feb!

    1. Nahahahaha udah ketebak nih sama si Yoga 😀 wkwkw

      Sulit move on bisa karena rasa sayang yang berlebih juga sih, nggak perlu karena kelamaan pacaran :’
      Gue juga mikir gitu, tapi emang banyak yang bodoh sih, pas pacaran udah baik-baik, pas putus nyiletin tangan -_-

      Yaaah, harusnya gitu.

      Makasiiiih banyak Yog 😀 lo juga keren abis 😀

      1. Hehehe, awalnya nggak begitu nebak kalo fiksi. Karena emang ngalir aja kayak kisah nyata. Eh, gue langsung mikir dari judulnya kayak tulisan waktu itu. Dari lagu juga. Bener kan fiksi. Hoho.

        Kalo yang nyilet tangan itu gue nggak pernah. Sumpah itu bego deh.

        Tapi kalo kesel dan naik motor langsung ngebut-ngebut dan hampir tabrakan gara-gara pas mergokin dia selingkuh, gue banget. Begoan gue, ya? Duh, zaman SMK. 😦

      2. Wohoooo lo memperhatikan banget ya brati yog dari judulnya 😀 tengkyu banget buat apresiasinya yog 😀

        Wahahaha jangan nyilet-nyilet tangan deh. itu perbuatan konyol abis 😀

        Tapi… kenapa lo ngebut-ngebut gitu -_- langsung ada rasa gimana ya kalau mergokin dia selingkuh :’ kayak ilang sadar gitu :’

      1. SUSAAAAHHH!

        Tapi gampang kalo sering-sering nulis dan konsisten. Terus emang dikasih deadline gitu.

        Masalahnya, gue nggak pernah ngasih deadline. Ketunda mulu. 😦

        Nulis blog bisa, naskah sama sekali belum. Gue payah.

      2. Nah tuh, sepakat. masih tergolong susah.
        yah, sementara bikin tulisan blog dulu lah :d beda tipis kok wkwkw
        Kapan gitu yuk Yog kita bikin deadline nulis naskah yoh 😀

  5. Huaaaa keren bangeet. Dari awal aku kira itu semua real, cerita nya bener-bener keren deh. Gak perlu panjang, yg penting ngena..

    kereen dah 😀

  6. dari awal baca udah kebawa alur, eh di akhir baru tau itu cerita fiktif hhahaha kirain beneran. Kasian si fahri, btw si syifa minta putus kenapa ya *masih aja kepo padahal cerita hanya fiktif belaka 😀

    1. Hihihi makasiiih ya 😀 wahahaha ini si syifa minta putus tanpa alasan, kan sakit tuh, si fahri pun masih menerka-nerka sendiri, jadi susah banget buat move on gitu 😀

  7. Makanya kalo berubah membaik itu jangan karena seseorang.
    Kalo orangnya pergi kan ya gitu akhirnya. Balik lagi ke asalnya. Hihi

  8. Karangan lo selalu real feb. Keren. Nggak dibuat-buat gitu. Gue udah mikir dramatis aja pas Syifa dateng ke rumah Fahri abis bilang maaf, dia ngomong, “Kita putus. Aku baru sadar kalau aku adalah pria.”

    1. Waaaaaa makasiiih banyak Bang Adi 😀 hihihi Duh, kampret ya bang adi 😀 aku nggak kepikiran mau bikin dialog yang gitu 😀 wkwk itu bang adi tuh yang biasa begitu 😀 komedi bang adi kan kece 😀 ajariiiin 😀

  9. Pingback: Stay | #FDCG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s