Ketemu sesepuh

“Feb, nanti aku tunggu di J.Co ya. Anakku lagi pengen makan donat soalnya”

Pesan itu gue dapet dari Mbak DIlla, S.Psi, salah satu blogger emak-emak yang gue kenal. Hari itu, sekitar pukul 15.47, kami berdua janjian buat kopdaran di Jogja City Mall (JCM), salah satu Mall yang baru lahir di Jogja.

“Oke mbak, nanti aku samperin” Balas gue singkat, sembari memasang helm di kepala lalu berangkat.

Perkenalan antara gue sama Mbak Dilla sebenernya cukup simple. Jadi ceritanya gini, Suatu hari, gue mampir dan komentar di blognya Mbak Dilla. Sesuai dengan hukum relativitas yang berlaku, maka beberapa hari kemudian Mbak Dilla gantian mampir dan komentar di blog gue.

Dari komentar-komentar singkat di Blog itulah akhirnya gue tau bahwa Mbak Dilla ternyata adalah sesepuh gue di kampus. Eng… Gue nggak nyangka sebenernya, ternyata dunia ini sempit juga ya. Selisih angkatan gue sama Mbak Dilla lumayan jauh. Mbak Dilla angkatan 2002, sementara gue 2013. Jadi intinya, disaat Mbak DIlla udah ngurus skripsi pada tahun 2007, gue lagi iseng ejek-ejekan nama bokap sama temen-temen SMP gue.

Beda generasi banget.

“Mbak, Aku udah di J.Co nih. Mbak Dilla dimana?” 40 menit dalam perjalanan, akhirnya gue pun sampai di JCM dan mengirimkan pesan tersebut ke Mbak Dilla.

Untuk beberapa waktu setelah pesan terkirim, gue berdiri kayak orang ilang didepan J.Co. Mata gue ngelirak-ngelirik kanan kiri, berharap Mbak Dilla yang lagi nongkrong di J.Co sadar akan keberadaan gue lalu dengan penuh kemanusiaan mencoba mendekat dan kemudian menyeret gue ke tempat sampah.

Masih, gue masih berdiri di depan J.Co sendirian. Sesekali gue melihat layar hape guna menunggu balasan Mbak Dilla, sesekali pula gue berjalan-jalan ringan biar keliatan nggak kayak orang ilang.

“Aku nggak jadi di J.Co Feb. Penuh banget. Sekarang aku di Pavillon. Samping Wendys” Pesan itu terpampang di layar hape ketika beberapa langkah gue mondar-mandir di J.Co.

Membaca pesan balasan dari Mbak Dilla, gue cuma bisa melongo kagok. Pavillon? Wendys? Itu tu ada di planet mana, sih?

Karena memang kurang pergaulan dan nggak tau harus melangkah kemana, akhirnya gue pun memilih buat nelpon Mbak Dilla dan minta biar disamperin. Gue memang nggak sopan sama orang tua.

“Haaai Febriiii”

Beberapa menit setelah gue telpon, Mbak DIlla langsung menyapa gue dari kejauhan sambil melangkah mendekat. Tangan kanannya melambai di udara. Kalau Mbak DIlla ini cowok yang berdandan ala perempuan, mungkin gue tanpa segan akan ikut mendekat, melambaikan tangan kanan di udara, kemudian sambil kedua telapak tangan digoyangkan didepan dada, gue bilang :

“HAAAAAI, CYIIIIN. IH, BEGINDANG. RAMAI BADAI. UH, AKIKA KEPANASAN, CYIIIINT. UUUUH”

Tapi sekali lagi, Mbak Dilla itu cewek. Hampir kadaluarsa. Tahun ini berkepala tiga. Tinggal di Jakarta. Sama suami dan anaknya. Gila, A A A A semua akhirannya.

Gue pun menyapa balik. Tanpa banyak diam didepan J.Co, akhirnya Mbak Dilla pun menuntun gue menuju Pavillon. Sembari jalan pelan di belakang Mbak Dilla, gue pun nyeletuk iseng.

“Gilak, Emak-emak”

“Wahahah, masa kayak emak-emak Feb?” Jawab Mbak Dilla sambil ketawa.

“Iya, Emak-emak gaul mbak” Gue menjawab apa adanya. Takut digampar.

Beberapa langkah kami berjalan, akhirnya kami pun sampai di meja yang sebelumnya sudah ditempati Mbak Dilla. Ditempat duduk itu pula gue lihat ada seorang anak kecil baru dimanja-manja sama Mbak-Mbak berjilbab merah muda.

“Kenalin Feb, ini Tania, sepupu aku” Ucap Mbak Dilla memperkenalkan sepupunya “Nah, yang kecil itu anak aku, Arda” Lanjutnya.

Gue pun menyalami keduanya, kemudian duduk di kursi kecil yang empuk. Jujur aja, gue kan bukan anak café atau anak yang doyan nongkrong di tempat mewah gitu. Alhasil, gue pun duduk diem membatu. Sama sekali nggak tau apa yang harus gue lakuin disana. Sampai akhirnya, Mbak Dilla membuka suara.

“Ayo Feb, dipesen menunya”

Nah, ini, gue tau apa yang harus gue lakuin.

“Aku Milkshake Chocolate ya, Mbak” Ucap gue sembari menunjuk menu. Mbak Dilla memesan Teh. Tania memesan kopi. Arda memesan pelukan hangat dari sang ibunda.

Setelah membiarkan si waiter pergi sambil membawa menu, kami pun mulai bercakap-cakap ringan.

“Gimana Feb, aku kayak emak-emak ya Feb?” Tanya Mbak Dilla kembali sambil menatap gue, kemudian mengalihkannya ke Tania “Tan, masa aku dibilang kayak emak-emak sih”

“Iyalah mbak, Dosen-dosenku mah ada yang seumuran kayak mbak kalik” Jawab gue sambil meringis.

Mbak Dilla ketawa. Tania pun membenarkan.

IMG-20150405-WA0003

Setelah itu menu yang kami pesan pun tiba, kami berlanjut ngobrolin banyak hal sembari menyeruput minum masing-masing. Obrolannya mulai dari perkuliahan, tentang dosen killer, tentang kampus kami yang udah berevolusi, sampai tentang curhat gue mengenai kebijakan learning outcome yang cuma diberlakukan di jurusan gue. Setelah membahas perkuliahan, kami pun ngobrol masalah blogging. Ternyata, Mbak Dilla ini udah ngeblog dari tahun 2009. Namun, karena kurang PD, Mbak DIlla agak tertutup sama blognya. Nah, baru di Bulan April 2015 lah akhirnya Mbak Dilla berani terbuka tentang blognya dan mulai blogwalking sana-sini. Bukan cuma ngomongin tentang blog pribadi, kami pun ngomongin blogger yang menjadi panutan dan yang menurut kami keren banget. Ya kayak Mbak Noni, Beby, Bang Dani, Bang Adi, Mbak Nisa, dan beberapa blogger sesepuh lainnya.

Selain 2 obrolan diatas, kami pun ngobrolin tentang hubungan. Ya, secara karena beda umur yang lumayan jauh, gue pun mempunyai kesimpulan bahwa Mbak Dilla udah menelan habis asam garam kehidupan, terutama tentang berhubungan.

Ternyata benar, sebagaimana layaknya sesepuh yang sudah bergeliat lebih dulu sama yang namanya hubungan, Mbak Dilla pun pernah menjalani hubungan LDR.

“Aku dulu pernah LDR juga loh, Feb” Ucap Mbak Dilla sembari nyemilin kentang goreng “Satu tahun kayaknya”

“Wah, Hebat ya Mbak?” Ucap gue antusias “Susah nggak mbak?”

“Hahaha Enggak susah kok. Nyatanya, sekarang aku sama suamiku bisa sampai nikah” Jawabnya bangga karena udah mampu melewati masa-masa LDR.

“Wah, bagi tipsnya dong mbak biar bisa tahan LDR” Tanya gue semakin  antusias.

“Ya caranya cuma satu, Saling percaya” Jawabnya penuh keyakinan, sebelum akhirnya Mbak Dilla menenggak Tehnya dan nyuapin Arda.

Gue menelan habis saran dari Mbak Dilla. Di otak gue saat itu menyimpulkan, ‘Saling percaya, maka gue sama Beby bisa nikah pada akhirnya’

Semoga.

Xxxxx

Mbak Dilla itu lulusan Psikologi.

Gue memang agak mengagumi orang-orang psikologi. Pikiran mereka beda daripada yang lainnya. Cerdas. Bisa dikatakan gitu. Seperti contoh : Mbak Fasya Aulia, S.Psi, Gue suka sama pandangan dia mengenai kuliah. Dia pernah beberapa kali komentar di blog gue sembari mengutarakan pendapatnya akan apa yang gue resahkan. Dan menurut gue, apa yang dia utarakan emang bener dan gue setuju, secara, dia juga lulusan psikologi.

Nggak lupa, Beby. Yah, Beby pernah bilang kalau dia sempet mempelajari ilmu psikologi. Sewaktu awal pacaran dulu, dia selalu memancing gue buat cerita meskipun gue diem aja. Dia tau, ketika gue diem, berarti ada 2 kemungkinan. Pertama, gue ada masalah. Kedua, gue nahan boker.

Kekaguman akan Beby yang mempelajari ilmu psikolog pun memuncak saat gue tanya kenapa dia mau pacaran sama gue, dia menjawab.

“Kan Aku sayaaaaaaang banget sama kamu. Walaupun kamu gembul, jelek, ngeselin, suka bikin emosi. Childish. Tapi tetep, aku sayang kamu”

Orang yang mempelajari Psikolog memang beda daripada yang lainnya.

Balik ke Mbak Dilla, gue suka sama cara pandangnya dalam mendidik anak. Bagi Mbak Dilla, membujuk Arda supaya berhenti menangis dengan cara membujuk untuk diberi sesuatu atau apapun bukanlah cara yang terbaik dalam mendidik. Katanya, kalau terus-terusan gitu, nanti Arda bakal ngejadiin tangisannya sebagai senjata untuk mendapatkan sesuatu. Dan itu bukan karakter yang bagus. Mbak Dilla lebih suka membiarkan Arda nangis ya nangis aja, sembari memberikan pelajaran buat dia, toh, nanti juga kelar sendiri nangisnya.

Sewaktu kopdar kemarin, gue pun melihat secara langsung gimana Mbak Dilla mendidik Arda. Jadi, ceritanya waktu itu gue lagi ngobrol sama Mbak Dilla. Tiba-tiba, Arda yang duduk di kursi khusus anak kecil itu menaikkan kakinya di meja terus mendorong-dorongnya. Mbak Dilla pun reflect, dia memegang kursi Arda, kemudian bilang :

“Arda nggak boleh mainan meja pake kaki gitu” Ucapnya dengan tenang “Kalau Arda mainan meja gini, Arda memang seneng, tapi nanti gimana kalau jatuh? Mama jatuhin aja ya?” Lanjut Mbak Dilla sembari mendorong kursi Arda kebelakang sampai mau jatuh.

Arda diem.

Gue cuma bisa melongo, pandangan gue kala itu memberi kesan ‘Gilak ,ini emak-emak ekstrim banget’ Pengen banget kala itu gue mencegah Mbak Dilla sembari bilang :

“JANGAN JATUHKAN ARDA, DIA HANYA ANAK KECIL. JATUHKAN SAYA SAJA, MBAK. JATUHKAN SAYA”

Tapi, gue pun mengurungkan niat tersebut dan memilih untuk melihat apa reaksi Arda setelah itu.

Arda masih diem. Sampai ketika Gue sama Mbak DIlla lanjut ngobrol, Arda udah nggak mainan meja lagi. Cara mendidik anak yang keren banget menurut gue.

Waktu menunjukkan pukul 18.28 WIB. Kami memilih untuk udahan karena malamnya kami sama-sama ada urusan. Mbak DIlla mau ketemu temennya, sementara gue mau nugas.

Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Mbak Dilla sama Tania berjalan didepan sembari ngobrol. Sementara gue dibelakang berjalanan menggandeng Arda.

Aaaaaaaah, Arda unyunyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa :3

Aaah, Arda unyunyaa :3

Sampai di lantai bawah, kami pun berpisah. Gue lanjut jalan sendiri nyari motor yang diparkir, sementara Mbak Dilla, Tania sama Arda masuk Hypermart.

Dan buat kalimat penutup, gue mau berucap :

Terimakasih Mbak Dilla, udah menyempatkan waktunya di Jogja buat nemuin Blogger kucrut kayak aku ini. Sampai jumpa lain waktu, yuhuuuuu.”

Advertisements

114 comments

  1. feebb atu jangan ditonjolin laah jarak umurnyaah wakakaka…
    Huu giliran disuruh pesen minuman aja langsung nyamber, wakwaw

    emang bener banyak kenalanku yang belajar psikologi jadi keliatan lebih dewasa..
    seru juga ya sharing ama mb dillanya

    Satu kalimat lucu lagi, kalo diem ada 2 kemungkinan, kalok ga bermasalah ya nahan boker….ini dapet bangettt lawakannya, :XD

    1. Hihihi iya mbak 😀 maaf yoho 😀

      Iya kan emang gitu, masa disuruh mesen minuman diem aja :p wkwkwkw

      Nah kan, anak psikolog emang dewasanya lebih banget. sukak aku mbak 😀

      Seru banget dong mbak 😀 ngobrolnya, konsultasinya, ya kayak aku ngobrol sama guru gitu deh 😀

      Hihihi makasiiiih Mbak 😀

  2. huwaa.. baru buka wp pagi ini. Liat foto. Loh kok kayaknya kenal.. kok ada Dilla.. Loh ini mas Febri toh yang kopdaran sama dilla di ygy… hihihi lucu sekalii

    Iya Dilla emang ceerdas banget. pintar. Isilahnya dia direktori apapun. mau konsultasi kesehatan anak masakan keuangan olsop make up sama curcol emak2.. sahabatku ini oraag yang paling tepat dicari

    Postingan ini bagus sekali. naratif sekali reportasenya (bener apa ngga,? maklum dah lupa)

    btw. salam kenaaal (lah baru kenalan).. kalo ketemu dila sudah sesepuh berarti ama gw sudah fosil hahahaha…

    1. Halloooo Mbak Restu 😀 makasiiih udah mampir hihihi

      Iya, aku Febri yang kopdar sama Mbak Dilla 😀 Lutcjuuu banget ya :3

      Nah, sepemikiran mbak. Menurutku Mbak Dilla memang cerdas. pinter. dia itu pernah kerja di starbuck, terus jadi bagian apa gitu. pokoknya dari gaya bicaranya, berkelas banget deh mbak dilla. Makanya, aku nggak segan bilang kalau aku kagum sama mbak dilla ini 😀 kayak multitalent banget 😀

      Hihi sahabatnya mbak dilla ya 😀

      Aaaaaah, enggak mbaaak. aku pun sering disebut sesepuh kok sama temen sekelas. padahal aku cuma tua setahun —

    2. Mbak, uwis2.. mbakkk uwissssss… eternit rumah Ibukku jebol saking mumbulnya diriku :””)))). Feb, ini kalo mbak Dewi ini sesepuhku.. tp penampilannya lebih gahol dr emak manapun bhihihhihiihi

      1. Asiiiik dong dil.. Tersanjung mumbul menembus genteng.. Halaaah laaah..

        Sesepuh beneeeeer ya dilll.. Alias gak nyebut ama umur bhuaaaaaaa :((((

      2. Hahaha nggak bisa ngebayangin gimana jadinya kalau mumbul beneran menembus genteng wkwkwkw

        Aaaaaaaaaakh, sesepuh tapi gahoool mah tetep keren kan mbak 😀

      3. Hahaha Mbak Dilla emang gahul banget ya 😀 *biar semakin mumbul :p

        waaaaaaaaah, Mbak Dewi ini sesepuhnya Mbak dilla? wkwkwk mau doooong kopdaran sama Mbak Dewi juga 😀

    1. Hihihi ya maaf atuh mbak :p kan bercandaaa 😀 hihi aku aja kalau di kampus sering dipanggil sesepuh, orang tua sama kadaluarsa kok. padahal dikelas aku cuma lebih tua setahun -_-

      1. Dil, Febri ini jangan2 antara mo kodusin kamu atau mo konsultasi psikologi.
        Coba besok kalo ketemuan lagi bawain form psikotes atau tes IQ aja Dil😝😝😝

      2. Hihihi konsultasi psikologi sih lebih tepatnya, kan keren kalau gaya berpikirku kayak Mbak Dilla gitu. hihih

        Wahahahaha bawain form psikotes + tes IQ mumet mbak wkwk

  3. Asik nih, dapat ilmu baru tentang LDR dan cara mendidik anak.

    Kalo gue diajak kopdar tapi cuma sendiri pasti juga diam terpaku. Sampe ada yang ngajakin ngomong baru gue jawab. Keknya seru juga ngeliatin psikolog ngedidik anaknya sejak kecil. Dari yang lo tulis, keliatan beda banget marahnya seorang psikolog sama ibu pada umumnya.

    Jadi, sekarang lo udah makin tegar kan menghadapi LDR sama kak Beby?

    1. Asik banget Yu 😀 ayo kapan kita bisa kopdar? biar bisalah lo ngasih tau tips tentang bagaimana bisa langgeng selama lebih dari 5 tahun 😀

      Nah, gue sebenernya gitu. Tapi kalau sendiri kayaknya agak bisa ngobrol, karena emang dipaksain buat ngobrol, daripada ngekrik? beda kalau gue nganterin orang kopdar, bisa-bisa gue jadi batu yang diem ndengerin orang ngobrolin sesuatu yang nggak gue tau 😀

      Tegar banget 😀

      1. Haduh, tunggu banyak biaya untuk bisa ke jawa. Hahaha, kalo itu tanya ke Melly aja, gue mah apa atuh.

        Haha iya juga, kalo sendiri mau gak mau harus bisa ngomong. Gue belum pernah kopdaran sih 😀

      2. Iya ya, mahal banget kayaknya kalau lo ke Jogja Yu :’wkwkwk
        Yah, kalian kan yang saling mempertahankan :p wkwkwk

        Aaaaakh, nyoba dong Yu 😀 seru pasti 😀

    1. Aaaaaah, Mbak Santi :3 maaf yaaa maaf deh 😀 hihihi kalian ini emak blogger yang unyunya tiada tara kok, awet muda banget 😀 keren, gahul, blogger :3 kalian panutanku 😀

  4. Wah, enaknya yang kopdar :hihi. Apalagi banyak dapat ilmu dan cerita dari kumpul9 bareng blogger, top bangetlah pokoknya! Psikolog memang cerdas banget dalam mengelola emosi ya, Feb. Mereka lebih mature dan lebih kenal cara menenangkan diri menghadapi masalah :)).
    Feb, kamu becanda kan kepingin dijatuhin sama mbaknya? :haha.
    Tapi gokil abis dah, baru ketemu sudah langsung keceplos bilang emak-emak :haha.

    1. Hihihi iya Bang Gar. Kapan nih bang kita bisa kopdaran juga 😀 kayaknya aku harus menimba ilmu darimu tentang kehidupan atau perkuliahan dari sudut pandangmu bang 😀 ayolah 😀

      beneeeeeer, psikolog memang hebat gitu. memang diajari sewaktu perkuliahan ya, jadi tingkat dewasanya lebih banget 😀
      keren deh pokoknya 😀

      Hihii bercanda semua atuh Bang, semua yang agak nyeleneh disini itu bagian dari joke aja sih 😀

      Hihi iya bang, agak gak enakan juga sih. tapi terlanjur juga :’ yah, tapi emak-emak gaul banget dan masih muda loh 😀

      1. Iya Feb, aku juga kepingin bisa kopdar bareng dirimu dan blogger Yogya lainnya :haha, doakan ya supaya dalam waktu dekat bisa main-main ke sana, nanti kita ketemu deh :hehe.
        Siip, joke-mu itu segar banget sih Feb, sampai ngakak aku bacanya :haha.

      2. Hihihi nah, bang. sini dong bang 😀 ditunggu ya 😀 Amin ya Allah :3 pasti bisa kan bang kesini, nanti aku juga kalau bisa sempetin kesitu 😀

        Hehehe masih tahap belajar sih bang 😀 makasiiiiih banyaaaak :))

  5. Kamu minta sama mba Dilla dijatuhin ke mana e Feb? ke hatinya mbak Dilla? 😀
    Jadi sekarang gimana Pak Febri? Setelah menimba ilmu psikologi anak ke mbak Dilla jadiny kapan mau bikin anak sama Beby? (kabuur)

  6. Huahahahaha dasar junior kurangajar ngatain emak-emak kadaluarsa. 😀
    Hoiii kopdar bareng aku sama adi kapan feb?
    Itu si mbaknya patut dijadiin panutan ya soal ngedidik anak. Keren ampe mau dijatohin gitu cuma buat bikin kapok .____.

    1. Hihihi ya keceplosan juga sih Dev wkwkw mulut ini masih nakal *tampol mulut *pake bibirnya Beby

      Hoooooy, sini lah kamu sama Bang Adi bikin resepsi nikah di Jogja, nanti kita kopdaran 😀 serius ini 😀

      Patuuuuut banget itu Mbak Dilla, aku aja kaget liat dia dengan tega mau bikin jatuh anaknya. Anaknya itu yang cuma bisa diem sambil nyengir nggak enak gitu. kapok banget pastinya 😀

      1. BUSET FEB NAMPOL PAKE BIBIR BEBY!! Bisa-bisanya yee..

        Duh Aamiin allahumma aamiin. Kamu juga sama Beby buruan nikah. \:p/

        Tapi aku takut jadi anaknya, baper. :’)) hahaha

  7. wah bahaya kalo mbak dila baca ini pasti nyesek karena dikata-katain gitu… haha apalagi ditulis perbandingan umurnya. biasanya kan cewek gak suka kalo bicara masalah umur..
    salam kenal

  8. kadaluarsa??? kadaluarsa Feb? Wkwkwkwkw…ga sopn bilangin org tua udh kadaluarsa ;p

    Btw, cara aku ngajarin anakku jg gitu.. ga mau tuh aku nurutin apa yg dia mau..manja ntr…Tegasin aja… mau dia guling2 teriak, bodo amatlah..mumpung masih kecil, hrs ditegasin kalo tangisan mrk itu ga berarti kita bkl menuhin semua maunya 😀

    1. Hihihi iya Mbak, agak merasa bersalah gitu. mau diedit, kok agak gimana gitu ya :’ duh, maaf deeeeh :’

      Wohooo Mbak Fan pun keren juga ternyata 😀 syukak syukak 😀
      wkwkw iya kalau terlalu dimanja juga nggak baik banget mbak ya :’

  9. Ini kayak kopdar dan reuni beda generasi gitu, ya.. Hehe
    Sama kayak Arman Zegaisme di atas. Setelah tau tentang anak psikologi kayak gitu, jadi pengen punya istri anak psikologi juga. Haha

  10. Mb Dilla uda kedaluarsa?
    nakal kamu Feb,
    gimana aku yang anakku aja udah sepantaran kamu Feb..nggak jadi deh kopdaran di perpustakaan kampusmu he..he..,

    1. Hihihi bercanda doang atuh mbak :p ihihih kalian itu emak-emak gaul yang bikin aku terinspirasi buat ngeblog atuh 😀

      Aaaaah, sini dong mbak ke kampusku. ih, kita harus kopdaran mbak :’

  11. Aahhhh senang banget yaa bisa kopdar gitu . Duuhh Dila moso kamu panggil emak2 si Feb kan masih kece muda belia gitu. Apalagi kalau km ketemu aku Feb dipanggil Oma2 kali yaaa ;p semoga deh kalau aku mudik oneday kita bisa ketemuan juga ya Feb bareng si beby. Aku kangen Jogjaaaaa !! Gudeg yujum !!!! Btw itu namaku bukan ya yang disebut2 “mba bisa” ahahaha apa nisa yang lain yaaa *ngarepp

    1. Seneeeeeng banget mbak bisa kopdaran, aku yang biasanya nggak dikenal atau jarang ada yang ngajak ketemu, eh diajak kopdar. Suatu kebanggaan tersendiri :3

      Hihihi iya mbak, aku akuin juga sih Mbak Dila itu masih kece muda gitu. beliau bilang juga kalau beliau itu tomboy loh 😀 wwkwkw

      Aaaaah, mbak Nisa itu keren kalik. Bukan oma-oma ah 😀

      Aaaaa mau bisa kopdar sama Mbak Nisa. yah, kapan-kapan gitu disempetin. Kalau bisa kopdar akbar gitu :p wkwkwkw

      Hihihihi kopdar Jogja itu memang amazing kok, terkenal banget ya 😀

      Nah, itu, Aku sama mbak dila ngomongin Mbak Nisa yang tulisannya masuk majalah itu :p ya mbak Nisa kamu dong 😀 kamu keren mbak 😀

  12. BAHHHHH! Haahaahahahahhahaa… sumpah ini gak ngeh kalo udah posting gara2 lagi liburan gak apdet blog. Eh koreksi, tania itu adek iparku cyiiiinnn… adeknya partner LDR sukses akoh. Trus ini anak minta dipites emang pas komen “kaya emak2″ lol.. padahal kan kaya mbah2 :”)). Aduh feb, ini gpp lah.. walau aku dihina dina, tp sebenernya banyak selipan kekaguman didalamnya #dilaanaknyamintadipujibanget.

    Thank u yaaak feb, tulisanmu mendalam.. tulisanku kmrn seadanya banget, gak fokeusss ems lagi liburan *liburan jd kambing mulu

    Semangat LDR nya sama Beby yaaakkk, kalian pasti bisaaaakkk ♡♡♡

    1. Wahaaaaa Mbak Dilla, S.psi. Akhirnya nongol juga wkwkkw 😀

      hihihi liburan terus sih, dipuas-puasin dong ya mbak 😀 wkwkw

      Aaaah, iya kan. Ada yang salah. Adik ipar ternyata kan 😀 hihi nanti diganti mbak 😀
      Suksesor LDR banget ini mbak Dilla 😀 kami harus belajar darimu 😀

      wkwkwkw ampuuuun mbak 😀 tapi tetep kece dong Mbak Dil 😀 dari bahasa dan pembahasannya udah keren banget kok 😀

      Emang aku terkagum sama Mbak DIlla kok 😀 Nggak akan lupa sama beberapa tips parenting yang Mbak Dill bagi ke aku 😀 nanti kalau udah nikah pasti dipraktekin 😀

      Sama-samaaa mbak 😀 maaf kalau ada salah-salah kata ya mbak 😀

      hihihi kereeeen juga atuh mbak tulisanmu kemarin 😀

      Aamiin mbak 😀 makasiiiih banyaaak lagi 😀 selamaaat liburaaaaaan 😀

  13. Wih ditulisan sepanjang ini ada nama aku, jadi terharu 😦 dan tulisan kopdar begini kirain bakalan gak asik buat dibaca, ternyata kamu mengemas jadi seru dan bikin yang baca ketawa 😀

    Oh iya, mbak Dilla gak kaya emak-emak ah, kece gituuu, cocoknya disebut mahmud, mamah muda hahaha

    1. Iya dong, segelar-gelarnya yang dengan susah santa mbak Fasya dapetin 😀
      Nggak bisa bohong juga sih, car berpikir Mbak Fasya itu keren, kagum aku 😀

      HIhihi makasiiiih banyaaak Mbak Fasyaaa :3 Eh iya, Btw, Kaos sama Makaromblonya udah sampai. udah dimakaaaaaan :3 enaaak pedesnya sendirian :p kwkwkw

      Hihihi iya mbak, Kece kok sebenernya Mbak Dila itu. kece banget 😀 gahul gitu 😀

  14. Baca yang bagian ini:

    “Jadi intinya, disaat Mbak DIlla udah ngurus skripsi pada tahun 2007, gue lagi iseng ejek-ejekan nama bokap sama temen-temen SMP gue.”

    Saya langsung berasa tua banget…krn angkatan saya lebih tua lagi 😆

  15. wahh seru banget Feb kopdarnya, dapet ilmu juga lagi kan…
    ini sama statusnya sama si Ardi yah, sesepuh kamu dikampus juga, bedanya kalo ketemu Mba Dilla kamu dapet ilmu nah kl ketemunya Ardi kamu nambah nyungsepp gilanyaa hahahaha

    1. Seruuuu Mbak 😀 Pokoknya bersyukur banget deh pernah dapet pengalaman kopdar, bareng mbak keke, mbak aqid, mas ardi, Mbak Dilla,, Mbak Tika, Mas Iman, Beby dan beberapa orang lainnya 😀 seneng dan berkesan 😀

      Hahaha iya Mbak, Mas Ardi juga sesepuh, tapi bedanya ya gitu, ya gitu 😀 kalau sama Mas Ardi bikin ngakak banget 😀 koplak dia 😀 gimana kabar mas Ardi mbak? wkwkw

    1. Nah itu dia, aku aja ragu nanti sewaktu aku nyamperin mbak dilla, eh dia malah kabur -_- wkwkwk

      Sini lah bang, Jogja rame kok 😀 dulu Bang Adi pernah ke Jogja kan? nggak ngabarin nih, jahat _-

  16. woooooo mbak dilla dibilang kayak emak emak kadaluarsa? mbaak dill… cemplungin febri ke sumur mbaakk bakaarr… tak bantuin sini. hahahaha.
    salam kenal. aq manggilnya febri ya?

    1. Waaaaa, anak buahnya Mbak Dilla nih :p wkwkw ampuuun Mbak-Mbak Kece 😀 wkwkwk

      Iya Mbak Handoko, salam kenal juga ya. Panggil Febri aja mbak 🙂 ._. aku manggil mbak siapa nih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s