Kuliah ketiga

Yah, lanjut ngomongin masalah kuliah lagi lah ya, biar yang udah lulus teringat kembali perjuangan sewaktu kuliah dulu, biar yang baru mau masuk kuliah bersiap-siap, dan biar yang nggak bisa move on semakin ingat sama mantan.

Selasa, 17 Maret 2015.

Mata kuliah yang gue jalani adalah Bahan Perkerasan Jalan pada pukul 08.40. Berbeda dengan tragedy hari Senin kemarin, kali ini gue bangun lebih awal, sekitar pukul 05.00, setelah itu, gue tidur lagi. Barulah sekitar pukul 06.30, gue bener-bener melek.

Pagi itu masih terlalu pagi buat berangkat kuliah. Akhirnya, dengan kuota internet seadanya, gue pun blogwalking sebentar.

Nggak ada yang salah sebelumnya. Sampai akhirnya, karena terlalu asyik blogwalking, gue pun lupa sama waktu. Segala sesuatu yang berlebihan memang nggak bagus. Gue melihat jam yang ada di pojok kanan layar laptop. Angka 07:55 AM terpampang jelas disana. Seketika itu, gue mengendus-ngendus ketek kanan, bau batang. Ketek kiri, racun tikus. Kalau digabungin, neraka.

Gue terdiam sebentar. Memikirkan sesuatu untuk merengkuh masa depan :

‘Kalau mandi sekarang, gue kelar pukul 08.07. Pakai baju sama celana, kelar pukul 08.12. Masukin bahan kuliah, laptop sama charger, kelar pukul 08.18. Pakai sepatu sama manasin motor, kelar pukul 08.23. Perjalanan ke kampus kalau ngebut, kondisi jalan lancar dan lampu merah mendukung, kira-kira 30 menit. Kalau ke kampus ngebut, kondisi jalan lancar tapi lampu merah nggak mendukung, kira-kira 40 menit. Kalau ke kampus jalan kaki, kira-kira sehari.’

5 menit mikirin semua itu, gue pun sadar, semua cuma membuang-buang waktu. Akhirnya, tanpa pikir panjang, gue pun ngelakuin apa yang harusnya gue lakuin.

Pukul 08.45 gue sampai kampus. Dengan langkah kilat, gue berjalan menuju kelas. Sesampainya disana, beberapa mahasiswa nampak duduk-duduk menunggu di depan kelas. Ternyata, dosennya telat. Akhirnya, gue pun ikutan menunggu dan ngobrol sama beberapa mahasiswa yang gue kenal itu.

Kira-kira 10 menit ketika gue ikutan ngobrol, Pak Dosen pun tiba. Beliau dengan menggendong ransel merah tua tampak berjalan dengan gagah menuju kelas. Tubuhnya yang besar dan raut wajahnya yang kebulean pun seakan mampu menggiring kami masuk ke dalam kelas.

“Assalamualaikum Wr Wb. Selamat pagi semuanya”

Bapak Dosen memulai perkuliahan dengan salam, tepat ketika sekitar 20 mahasiswa telah duduk di kursi masing-masing. Kami pun menjawab salam dari bapak dosen. Berbeda dengan dosen-dosen sebelumnya yang memulai perkuliahan perdana dengan menjelaskan mengenai Satuan Acara Perkuliahan, Bapak Dosen yang mengampu mata kuliah bahan perkerasan jalan ini justru memulai dengan menceritakan tentang sejarah kampus kami.

“Universitas kita ini didirikan oleh tokoh-tokoh yang telah memperjuangkan Indonesia” Ucap Pak Dosen sambil melangkah maju mendekat ke kursi gue “Muhammad Hatta dan Muhammad Natsir salah duanya. Beliau-beliau ini mendirikan Universitas ini dengan harapan membentuk pribadi manusia dengan akhlak yang mulia” Lanjutnya, sambil melangkah ke kursi mahasiswa lainnya.

Kami pun hanya bisa mendengarkan sejarah yang Bapak Dosen ceritakan dengan nada menggebu. Beliau memang sudah lama mengabdi di Kampus kami. Sudah sekitar 40 tahunan lebih beliau menjadi dosen. Lantas, bener aja jika beliau merasa bahwa kampus yang menjadi tempat beliau mengabdi itu adalah benar-benar kampus yang menciptakan lulusan yang berkompetensi, bukan hanya dibidang akademik, tapi juga moral.

“Kita langsung aja masuk di materi ya? Santai aja. Nggak perlu tegang. Menurut saya, pembelajaran yang ideal itu ya yang nyantai. Saya juga suka memberikan materi dengan disisipi motivasi dan ajaran keislaman” Tak beberapa lama setelah menceritakan sejarah kampus, Pak Dosen pun berkata demikian, sembari mengambil spidol dan mendekat ke arah whiteboard.

Tanpa buku pegangan, beliau menuliskan beberapa materi tentang bahan perkerasan jalan. Ilmu beliau sudah diluar kepala semua. Keren. Dengan sistematis dan gambaran-gambaran singkat, beliau mulai menjelaskan.

“Ada yang tau apa itu aspal?” Tanya beliau memulai materi.

Semua mahasiswa di dalam kelas yang terdiri dari 20 orang ini hanya diam. Bapak Dosen masih menunggu jawaban.

Gue memandang Bapak Dosen itu dalam. Waktu itu, pengen banget menjawab dengan lantang.

“TIDAK PAK!!!” Sambil menggelengkan kepala “Yang saya tau hanyalah cinta bapak kepada kami itu tidak lekang oleh waktu yang terus berotasi tanpa mau berhenti”

Namun setelah dipikir-pikir, kok kayak nggak pas gitu.

Akhirnya, semua mahasiswa pun tetap diam.

“Aspal itu salah satu dari sekian banyaknya bahan pengikat. Aspal ini bersifat lentur, maka, lebih bagus untuk pembuatan jalan. Kita tentu nggak bisa seenaknya memakai bahan pengikat untuk mengikat sesuatu. Nggak mungkin kan hanya untuk merekatkan kertas kita memakai aspal? Nggak mungkin kan kita bikin lapisan jalan dengan lem? Nggak mungkin juga kan kita merekatkan perasaan yang tak saling menyukai dengan menenggak semen?” Terang Bapak Dosen dengan gahul.

“WHUUUUUUUSSSSSSSSHHHHHHH” Kami para mahasiswa terkagum dengan penjelasan Bapak Dosen.

Materi demi materi terus Bapak Dosen terangkan dengan santai. Sesekali diselingi dengan jeda supaya tidak jenuh, dan juga dengan motivasi supaya semangat belajar meningkat.

“Lapisan dari aspal terdiri dari : Lapis permukaan, Pondasi atas (terdiri dari batu pecah), pondasi bawah (campuran batu pecah + pasir + tanah) dan tanah dasar. Di bagian lapis permukaan, batuan diikat dengan aspal. Hal ini penting, aspal bersifat lentur. Dengan begini, sebagaimana mengikuti sifat tanah yang ‘padat’ dan ‘memiliki daya dukung’ membuat jalan yang kita lewati sekarang mampu menahan beban dan stabil” Terang bapak dosen dengan menggambarkan konsep jalanan yang dilalui oleh kendaraan.

“Tapi sebagaimana dalam kehidupan, tidak ada keabadian disini. Nggak selamanya yang mampu menahan tetap akan menahan pada akhirnya. Nggak selamanya yang mampu stabil akan stabil pada akhirnya. Makanya, perlu adanya… Perawataaaaaaaaaan” Lanjut Bapak Dosen diakhiri dengan lambaian  tangan mempertegas kata ‘perawatan’

“WHUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUSSSSSSS” Mahasiswa mah cuma bisa was wus was wus doang.

Hingga pukul 11.00 WIB, seluruh bagian dari whiteboard sudah penuh dengan tulisan spidol. Sama kayak seluruh bagian hati gue yang penuh dengan nama Beby. Sesuai perjanjian awal, jikala whiteboard sudah penuh dengan tulisan, maka mata kuliah selesai. Seperti perjanjian awal pula, jikala hati gue udah penuh sama nama Beby, maka nggak akan ada nama orang lain lagi.

Ihiy.

Advertisements

52 comments

  1. Dosenmu sudah mengetahui seluk beluk dunia ikat mengikat, Feb… lebih dari sekadar ikatan kovalen dan ikatan ionik… tapi lebih pada ikatan pada jalan yang lurus guna mencapai bahagia yang hakiki :hihi. So sweet banget dah dosenmu! Kuliah itu memang penuh warna: semua dosen punya ceritanya sendiri! Dan syukurlah kamu menuliskannya, jadi di masa depan nanti pasti ada kenangan yang bisa kamu bagi dengan anak cucu :)).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s