Menunggu

Jalan hidup emang nggak terduga.

Ini salah satu jalan hidup yang nggak terduga.

Kenapa gue nulis kayak gini?

Entah. Kan nggak terduga.

Beberapa hari yang lalu banget, gue sama Imam mau ke rumah Pak Ibnu, Dosen mata kuliah Mekanika Tanah, buat revisi laporan yang beberapa bulan nggak kelar-kelar. Hari itu siang, sekitar pukul 11.12. Gue udah nyamperin rumah Imam buat berangkat bareng ke rumah Pak Ibnu.

Berdua doang?

Enggak, kami nggak seromantis itu.

Gue juga udah janjian sama seorang temen yang rumahnya dideket kampus. Karena dia orang luar Jogja dan masih kurang begitu tau jalanan kota Jogja, jadilah Gue sama Imam disuruh nunggu dia nyamperin di perempatan jalan yang mana perempatan itu pernah menjadi tempat praktikum Rekayasa Lalu Lintas. Iya, perempatan itulah yang menjadi patokan awal dia kalau nanyain suatu lokasi ke gue.

Seperti suatu kali waktu temen-temen ngumpul ngomongin kebun binatang Gembira Loka, temen gue nyerocos nanya nggak jelas :

“Gembira loka itu mananya perempatan tempat kita praktikum dulu?”

Gue takut aja kan ya, karena sifat temen gue yang kurang tau jalan, tiba-tiba dia lupa dan nanya gini :

“Eh, perempatan tempat kita praktikum Rekayasa Lalu Lintas dulu itu dimananya perempatan yang dulu kita pake buat praktikum Rekayasa Lalu Lintas ya?”

Bangke. Tulisan apaan ini.

Lanjut ke topik awal.

Gue sama Imam pun melaju ke arah perempatan itu. Siang itu panas, jadi arus jalan nggak begitu padat. Semilir angin pun nggak begitu sejuk. Kami pun berhenti di bahu jalan bagian Barat dekat lampu merah.

“Gue udah sampai di perempatan jalan. Buruan ye” pesan itu gue kirim ke temen gue.

“Okeeeeeeeeeee” Temen gue pun membalas.

Gue sama Imam pun menunggu. Berdua. Awalnya gue pengen ngebayangin kalau Imam itu Beby, jadi gue bisa bersemangat buat bercanda dan megang-megang pipinya. Tapi, waktu gue membuka mata lebar-lebar. Suram. Bener-bener mengerikan. Akhirnya kami berdua cuma ngobrol-ngobrol biasa.

Sebenernya nggak cuma gue sama Imam yang sedang menunggu di bahu jalan tersebut. Dibelakang gue, ada seorang Ibu-ibu yang lagi sibuk dengan hapenya, bersama Anaknya yang kira-kira berumur 7 tahun duduk di motor maticnya. Sesekali gue mengamati Ibu-Ibu itu, sesekali pula gue merasakan ada yang aneh sama perilaku sang Ibu itu.

Sampai akhirnya, nggak beberapa lama, Ibu-Ibu itu nyamperin gue.

“Mas, ada nomer XL nggak mas?”

Gue yang bingung hanya bisa mengangguk dan bertanya

“Ada Bu. Buat apa ya?”

“Suami saya dari semalem belum pulang mas. Saya telpon nggak diangkat-angkat ini. Bisa pinjem buat nelpon suami saya mas?” Wajah Ibu-ibu itu tampak cemas.

Gue merogoh saku kanan dan memberikan Hape gue ke Ibu-Ibu tersebut.

Si Ibu menerima Hape gue dengan senang hati, kemudian, dengan hati-hati beliau menekan beberapa digit nomer yang dia salin dari hapenya. Diletakkannya hape gue didekat telinganya, beberapa nada panggilan terdengar samar. Ibu-ibu itu masih cemas menunggu supaya telpon itu diangkat. Gue terdiam. Imam mengamati sambil ngangkang.

“Nggak diangkat juga mas” Si Ibu memasang wajah sedih “Ini mas, makasih banyak ya mas” Kemudian beliau mengembalikan hape gue.

“I…Iya Bu. Sama-sama” Gue menerima hape sambil terdiam. Sang Ibu kembali mendekati anaknya, kemudian duduk di jok motornya sambil mencoba menghubungi suaminya. Imam? Dia kan cuma figuran.

Gue masih mengamati Ibu-ibu itu. Merasa kasihan, tapi nggak bisa apa-apa. Sesekali gue liat beliau menangis karena panggilannya nggak diangkat oleh suaminya.

Menyedihkan sebenernya kalau sedikit ngomongin Ibu-Ibu tersebut. Dia menunggu suaminya yang pergi dan belum pulang selama semalaman tanpa ngasih kabar. Padahal, apa susahnya untuk seorang suami memberi seuntai kabar kepada istrinya?

Sang Ibu menyalakan mesin motor maticnya. Anak kecil yang sedari tadi mainan diatas motor hanya menatapi Ibunya dengan senyum. Dengan perlahan, Sang Ibu mulai melajukan motor, memboncengkan anaknya yang duduk didepan. Kemudian, dengan pamit ke gue dan Imam, beliau pun pulang.

Terakhir, ketika apa yang diharapkan kabarnya nggak kunjung tiba… Sang Ibu hanya bisa memilih untuk tetap menunggu, hingga sang suami pulang.

Lagi pula, apa susahnya menunggu?

“Feb, Gue nggak bisa ke Pak Ibnu sekarang deh. Lo sama Imam aja deh yang kesana?”

Pesan itu menghias layar hape ketika 46 menit gue sama Imam terdiam di bahu jalan deket tempat praktikum rekayasa lalu lintas demi menunggu temen gue.

BANGKE.

Yang susah itu menunggu, tapi yang ditunggu nggak kunjung tiba.

Advertisements

51 comments

    1. Nah jelas gitu dong mbak, Mbak Tiwi aja LDR 4 hari nggak kuat, apalagi ibu itu yang semaleman nggak dapet kabar :’ nangis-nangis ditepi jalan deket lampu merah loh beliau :’

      1. Setelah gue itung dan amati selama di jogja, lampu merahnya cuma 60 detik, paling lama 120 detik di perempatan kuburan pahlawan kusumanegara.

        Nah lumayan tuh feb, semenit kalau 5 ribu udah berapa tuh. Lumayan buat beli indomi terus diremukin…. Haha

  1. Haduh, kasihan si ibu. Semoga yang ia tunggu cepat kembali. Buatmu yang menunggu 46 menit tanpa kepastian, cabal ya kakaq… :hihi. Yah, pasti ada hikmah di dalam setiap kegiatan. Dengan menunggu pun bisa dapat hikmah berupa ilham blogging kan? :haha.

    1. Iya Bang. Kasihan banget dulu liatnya, sampai nangis-nangis kesel di pinggir jalan :’

      Wkwkwkw iya dong, hikmahnya sih, dapet acc dosen, terus bisa dibikin tulisan diblog 😀 segala sesuatu pasti ada hikmahnya deh 😀

  2. Hal paling menyebalkan: menunggu. Semoga si Ibu gak mendapatkan hasil buruk dari apa yang telah ia tunggu.
    Dan sekarang, gua lagi membiarkan temen gua nunggu di halte bis, sedangkan gua lagi sibuk blogwalking. Bhahah..

  3. Menunggu itu emang nggak enak, Feb. Apalagi nunggunya sendiran sambil melihat jam gitu. Parah banget.
    Oiya, segitunya membayangkan itu Beby. Semoga nggak khilaf, yaaa. Temen cowok nanti dipeluk. Wkakakak. *kabur* 😀

    1. Iya nggak enak banget Yog 😀

      Errr… kalau sendirian mah ya nggak enak Yog 😀 kasihan, menunggu sendirian, kayak nunggu kepastian 😀

      derita LDR mah begini :’ cuma bisa membayangkan :’

      1. Sorry kene dudu cah tipis,paling ora nunggu ng bn lah ra ketang tuku es teh ro gorengan tok 😃

      2. bagiroud,smping omahmu wae BN bos ra jeleh o?

        suk tak pakani ng tmpat sek luih elit bernama cafe 3 ceret 😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s