Luka

Kemarin sore, gue main bola sama adik gue (Nova). Bukan pertama kalinya sih. Semenjak Nova sering diajak main bola sama temen-temennya di sekolah, dia jadi berambisi buat bisa main bola dengan skill hebat. Akhirnya, dengan muka memelas Nova pun meminta biar gue ngajarin skill bola yang gue punya ke dia. Salahnya, Nova minta tolong pada orang yang salah. Sewaktu SMP, prestasi terbaik gue adalah naliin sepatu bolanya kiper di tim gue dan akhirnya masuk kalender sekolah.

Luar biasa.

“Pokoknya sore ini main bola ya Mas Feb. Aku mau belajar dribble bola.” Ucap Nova sambil bolak-balik bingung nunggu pukul 16.00 tiba.

“Iya. Tenang aja. Nanti aku ajari” Ucap gue dengan songong tingkat dewa.

Pukul 16.00 pun tiba, Nova dengan kolor warna ijonya udah di samping rumah sambil nendangin bola ke tembok. Nggak mau kalah, beberapa menit kemudian gue pun keluar dengan kolor warna ijo lumut sambil pemanasan nggak jelas.

“Kamu kiper Nov” Pinta gue waktu merasa pemanasannya udah cukup.

“HAAH?” Nova kaget, merasa ada yang salah.

“Iya, kamu kiper Nov” Gue masih terus memberi interuksi.

“Tapi… tapi aku kan mau latihan dribble” Jawab Nova melas.

“Jadi kiper dulu, ngelatih mental” Ucap gue asal.

Akhirnya, selayaknya anak kecil yang polos, Nova pun menuruti perintah gue. Dia berdiri di depan gawang yang dia buat dengan 2 sandal miliknya. Sorot matanya memberikan kesan ‘tolong jangan kenceng-kenceng, kampret’. Sementara itu, gue yang bersiap-siap menendang menunjukkan sorot mata yang memberi kesan ‘mampus, gue kencengin ini tendangan.’

“Siap ya Nov” Gue mulai ancang-ancang untuk menendang.

“…………..” Nova diem, badannya sedikit merinding.

“Hyaaaaaaaaaaaaadeziiiiiig” Gue pun menendang, bola melesat tajam.

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak” Nova minggir dari gawang, menghindari tendangan gue yang melesat.

“Aku nggak mau jadi kiper” Protes Nova dari samping gawang, mukanya pucat “Ayo to, latihan dribbling aja”

Gue akhirnya mengiyakan. Bola pun diambil sama Nova, dia cengengesan.

“Aku bakal ngelewati Mas Febri” Ucapnya sambil mengotak-atik bola dengan asal.

Gue cuma diem. Nova pun mulai menggiring bola. Gue mencoba menghalang-halangi didepannya. Dengan pede dia menyentuh bola dengan kaki luar, dan yaaaaak, gue dilewati. Dia cengengesan bangga. Gue merasa harga diri gue berjatuhan.

Kembali, dia berbalik, seolah menantang gue biar bisa menghentikannya, dia kembali menggiring bola ke arah gue. Tepat ketika kaki gue mau menyapu bola, dia membelokkan bola ke kanan menggunakan kaki luarnya. Saat mau membelokkan kearah kiri menggunakan kaki dalam, dia malah menginjak bola. Hasilnya?

“GEDUUUUBRAAAAAAAAAAAAAK” Suara nyaring itu terdengar sesaat setelah Nova terjatuh.

“Adddduuuuuuuh kakiku. Cidera. Cidera.” Nova merintih kesakitan.

Gue cengengesan.

“Kamu itu ngapain Nov Nov” Tanya gue sambil membantunya bangkit dari jatuhnya. “Ayo main lagi”

“Nggak mau. Sakit ini loh. Lecet” Tolak nova.

“Hahaha yaudah, ayo diobati dulu” Ucap gue seraya menuntun Nova menuju kamar mandi buat membasuh lukanya.

Selesai dibasuh, Gue sama Nova pun masuk rumah. Nova masih terlihat merintih kesakitan. Dia pun berbaring diatas kursi, sementara itu, gue mencari obat-obatan untuk menyembuhkan luka lecet.

“Aku obatin sekarang ya” Gue duduk disamping Nova yang lagi berbaring. Mukanya memelas abis.

Gue pun meneteskan betadine pada luka lecet Nova, kemudian menutupnya dengan perban. Seraya dokter yang hebat, dengan berwibawa gue bilang ke Nova.

“Lukanya udah diobati, jangan banyak gerak, nanti perbannya kebuka terus lukanya nggak kering. Istirahat aja Nov”

Mantap abis.

Setelah gue obati, Nova malah susah buat jalan. Beberapa kali dia mengeluh kesakitan. Akhirnya, dia beneran cuma bisa tiduran di kamar sambil mengeluh kesal.

“Apaan ini, setelah diobatin Mas Febri malah tambah sakit. Nanti minta diobatin bapak aja ah”

Harga diri gue kembali dijatuhkan oleh anak kecil kampret satu ini.

Nggak beberapa lama setelah Nova mengeluh gitu, Bokap gue pun pulang dari menjemput Simbah. Seketika, Nova langsung mengadu ke bokap perihal luka dan pengobatan gue.

Setelah menjitak gue, Bokap pun ngobatin Nova. Nova cengengesan bahagia. Baru beberapa menit ngobatin luka Nova, bokap gue pun pergi.

“Tuh kan, enak diobatin bapak. Nggak sakit, yek. Mas Febri payah” Adik gue nyerocos seenaknya.

Untuk ketiga kalinya, harga diri gue dijatuhkan bocah kucrut ini.

Beberapa lama kemudian, Bokap gue pulang membawa sekantong plastik. Di depan Nova, Bokap membuka kantong plastik yang berisi Alkohol 70%. Nova langsung mangap. Gue ngakak.

“Duh, yang lukanya bakal di alcohol. Perih tuh” Ledek gue sembari masuk kamar.

Dari kamar, gue dengan bahagianya mendengar Nova njerit-njerit. Merasa belum puas meledek Nova, gue pun keluar, mengamati mimic wajah nova yang matanya memerah pengen nangis. Sekali lagi, gue ngakak parah. Sebelum akhirnya, dari dapur nyokap gue masuk dan bilang.

“Halah Feb, dulu kamu juga diobati gitu njerit-njerit nggak karuan juga Feb. Udah SMK tuh padahal dulu itu”

Errrrrrrrrrrr…….

Kali ini, harga diri gue dijatuhin nyokap didepan anak kelas 5 SD.

“Buahahahahahahha…..Hahaahahahahaaaaaduuuuh pak sakit banget pak. ” Adek gue pun kembali tertawa penuh kemenangan sekaligus merintih kesakitan. Nggak matching abis.

Beberapa saat kemudian, sewaktu gue kelar mandi. Gue pun masuk kamar. Disana, gue liat Nova lagi tiduran sambil membaca novel Koala Kumal. Kece abis.

“Udah sembuh Nov?” Tanya gue sambil menyalakan TV.

“Udah lumayan. Tapi tadi ngobatinnya sakiiiiiiiiiiiit banget” Jawab Adik gue memegangi kakinya.

“Hahahaha semoga cepet sembuh Nov”

“Iya. Tapi, kenapa nyembuhin lukanya itu lebih sakit daripada luka awalnya ya?”

Gue memandang wajah Nova. Kemudian, gue pun menggelengkan kepala. Pertanyaannya barusan memberi gue sebuah pertanyaan :

‘Apa untuk menyembuhkan luka, terlebih dulu kita harus merasakan sakit yang luar biasa?’

Advertisements

43 comments

  1. Bijaksana banget Feb dirimu. Semoga sih gak pernah ngerasain lagi sakit yang luar biasa untuk menuju kesembuhan itu ya. Apapun artinya itu luka.

  2. Selesai baca kalimat terakhir saya langsung batuk. Abaikan. Memang saya lagi pilek *clears throat*.
    Dari kejadian-kejadian keseharian yang sederhana pun kita bisa dapat pertanyaan yang membuat diri ini berpikir agak dalam, ya. Tapi memang betul lho, saya setuju, ketika suatu luka mau sembuh itu sakitnya biasanya jadi nambah-nambah.
    Contohnya kalau sariawan. :hehe.

    Nice post, Bro.

    1. Uhuk uhuk :p

      Iya bang, bener banget. justru kita bisa belajar dari kejadian sehari-hari yang sepele gitu ya 🙂

      ihik, kalau sariawan itu, beuh, obatnya apa itu namanya yang perih banget, tapi bisa bikin cepet sembuh. ajaib :))

      Makasih banyak bang :))

      1. Albotil ya Feb yak?
        Jadi bener yang kamu bilang, makin perih sakitnya, makin cepet sembuhnya :hehe

      1. hahaha…bisa jadi-bisa jadi…ntar kalau berulang yang gitu lagi diobatin lagi, sebulan baru sembuh…jadinya ini sembuh apa gak toh? ahhaha….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s