Selamat datang kembali, LDR

Hari ini, gue nggak ngapa-ngapain.

Semenjak kepulangan Beby ke Medan, gue jadi bener-bener nggak ada kegiatan. Hal terdekat yang pasti bakal lakuin adalah remediasi di hari Selasa, Rabu, dan Kamis. Selebihnya, nimbun lemak.

Bener-bener nggak berguna.

Sempet ada rasa gimana gitu ya, mengingat selama Beby di Jogja, gue selalu nemenin dia kemanapun. 3 minggu, bareng-bareng. Seneng. Tapi Sabtu kemarin melepas kepergian Beby ke Medan. Duh yongalah. Sedih parah.

 

            Oh well, oh well. I still hope for the best.

            Say goodbye and send me off with a kiss farewell.

            And I promise I’ll be just as strong as I can be.

            Maybe you could get some sleep tonight.

Lewat lirik lagu Mayday parade – oh well oh well tersebut, gue teringat semua yang pernah kami lakuin bareng. Hampir setiap kali dalam perjalanan, gue selalu menyanyikan sebait lirik lagu tersebut. Entah, walaupun gue nggak tau artinya, gue tetep nyanyi. Memberi kenangan, hingga kelak, ketika gue mendengarkan lagu ini sendirian, terbayang bahwa selalu ada Beby di belakang gue.

LDR menyedihkan.

“Sayang kesini lagi kan besok?” Gue mencoba memecahkan keheningan dikala perpisahan itu akan segera terjadi.

“Iya sayang” Beby menjawab, tangan kanannya mengelus pipi kiri gue. “Tahun depan, kamu sama aku ke Medan ya”

“He’em. Kalau ada rezeki ya” Gue mengangguk, sembari menyandarkan diri pada sebuah tembok deket pintu masuk keberangkatan.

Pagi itu pukul 08.02, terik matahari masih sangat unyu untuk menyinari bumi. Nggak begitu panas, nggak begitu menyengat, tapi, keringat masih aja membasahi tubuh. Orang-orang lalu lalang dengan koper yang diangkutkan pada sebuah trolley, wajah murung sedih tak jarang terpampang dikala salah satu dari mereka ada yang berpisah, yang satu menunggu di luar, yang satunya lagi masuk ke dalam waiting room.

Gue diem. Beby pun diem. Keheningan yang terbuat menjelang perpisahan ini bener-bener bikin gue nggak bisa ngapa-ngapain.

“Kamu kok diem aja sih, sayang?” Kembali, gue berusaha memecah keheningan.

Beby nggak menjawab. Dia memainkan jarinya sambil menggelengkan kepala.

“Kamu kenapa? Bilang aja sama aku sih” Gue pun meraih jemarinya.

“AKU SEDIH SAYAAAAAAAANG” Beby memandang gue dalam. Gue pun terdiam.

Hening pun kembali terjadi untuk beberapa saat.

“Aku mau masuk ke waiting room ah!” Gue berucap, memandangi pintu masuk keberangkatan yang dijaga oleh 2 satpam.

“Nggak boleh sayang” Beby tersenyum.

“Ih, bandara kok pelit banget sih!”

“Ya itu kan peraturan, sayang” Beby menanggapi pernyataan bodoh gue sambil membelai lembut rambut gue.

Beberapa saat kemudian, waktu menunjukkan pukul 08.35. Beby bangkit dari duduknya, yang membuat gue cuma setinggi pinggulnya. Kemudian, gue pun berdiri, membuat Beby cuma setinggi ketek gue. Nggak bisa diapa-apain lagi, udah nyata kalau Beby emang seketek gue.

“Aku masuk ke waiting room sekarang ya sayang” Beby melihat ke arah gue. Matanya nanar, air matanya keluar beberapa detik setelah memandangi wajah gue.

“Ikut?” Gue berucap manja.

“Nggak bisa sayang. Nggak bisa” Jawabnya, yang sejurus kemudian memeluk gue kencang.

Gue terdiam. Melihat bandara. Banyak orang. Disana, Beby akan diantar pulang ke Medan.

“Bandara… Tempatnya pesawat take off sama landing” Dipelukan Beby, gue bergumam pelan “Kalau bisa, aku jadi landasan terakhir kamu ya, sayang?”

Beby melepas pelukannya, kemudian dengan air mata yang deras membasahi wajahnya, dia mengangguk mantap, sebelum akhirnya, dia berlalu masuk waiting room.

Gue kembali terdiam. Melihat punggung Beby menjauh. Jauh. Hingga sebuah tembok tebal bener-bener menghalang. Gue pun berlari, nggak tau kemana tujuannya. Mencari sebuah kaca, berharap dari situ gue bisa melihat Beby berjalan, menunggu di waiting room. Setidaknya, dengan adanya gue yang melihatnya, dia jadi nggak sendirian. Tapi, percuma, kaca itu nggak ada.

Gue pun berhenti berlari. Berbalik badan dan melangkah dengan gontai menuju parkiran.

            It’s not the first time but this one really carved it in.

            Tell your new friends that they don’t know you like I do.

            It’s over. I wanna see you again. I wanna feel it again

 

Mengulang-ulang lirik tersebut, mengingat-ingat 3 minggu bareng Beby, merasa kayak ada Beby di belakang gue, selama perjalanan pulang, gue pun nangis.

Cemen.

Gue emang cemen.

Sampai rumah, Nyokap menyambut dengan pertanyaan manis.

“Beby udah terbang, Feb?”

Yang gue jawab dengan anggukan.

“Yaelah, nangis. Kayak nggak bakal ketemu lagi aja sih. Besok pasti ketemu lagi kan”

Tanpa menjawab, gue langsung masuk kamar dan melukin bantal.

Dering hape gue berbunyi. Sebuah pesan BBM masuk. Nama Beby menghias layar hape gue.

“Sayang, aku terbang dulu yaaaaa”

Gue pun keluar rumah, mengamati awan. Berharap, dari rumah gue bisa ngeliat pesawat yang Beby tumpangi terbang.

Ya, percuma.

            I’ll keep you warm safe in my arms. ‘Till heaven calls, keep holding on.

 

Masih tetap memandangi awan yang cerah, gue mengirim balasan.

“Iya sayang, hati-hati di udara ya. I love you”

Selamat datang kembali, LDR

Advertisements

72 comments

    1. Duh iya nih Mbak :’ sedih gimana gitu :’ . Kayaknya Beby yang pindah ke Jogja deh, kalau aku yang ke Medan, kelamaaaaaaaan ._. lagian, nanti kalau di Medan nanti Beby nggak ada temennya, katanya Mbak Noni mau pindah ngikut Bang Matt kan 😛

      hehehe makasiiiih mbak 😀

  1. Bandara pelit? Bandara jahat kaleee! Gara-gara dijahatin sama bandara dirimu jadi termewek-mewek, hehehe.

    Tapi aku paham kok rasanya sedih kayak gitu. Puk Puk Puk. Yang sabar ya Bro. Ayo nabung supaya bisa jalan-jalan ke Medan. Naik bus bisa kok, ga harus pesawat. Eh berarti Beby rutenya Jogja – Jakarta – Medan ya?

  2. Yang ini “Entah, walaupun gue nggak tau artinya, gue tetep nyanyi.” Beneran? :O
    Yaah, akhirnya berlanjut ldr. Selamat menanti bertemu kembali. 😀

  3. Nanti pasti bertemu kembali 🙂
    Yang penting sejauh atau sedekat apa pun jarak memisahkan, cinta dan sayang itu akan tetap ada dalam kobaran yang secara relatif sama :haha :abaikan
    Semangat, Bro!

  4. Lu masih mending LDR beda kota doang Feb, lah beda negara kya gue capek ngitung kurs mata uangnya -.- tp untungnya udah ada tiket promo kan skrg, sering2 liat website maskapai lah kau dek hohoho 😛

      1. Dapetnya yang jauh, yg deket2 gada yang mao sama gua, Feb. Gimana donk? 😆 Anyway dikuat2in aja lah toh tiap ketemu jadi waktu berharga kan (kangennya numpuk soalnya), drpd ketemu terus tp malah berantem.
        Hahaha gelo duduk di pesawat 😛

      2. Ah, Mbak Ge mah merendah gitu. bagus atuh dapet yang jauh. iya kan ya?

        Iya Mbak, harus kuat ini :)) setuju banget. besok kalau ketemu, bakal kangen-kangenan full quality time :3 hhihi

  5. Gak suka baca ini 😦 soalnya sedih pernah ngerasain LDR.
    Eh tapi, semoga kamu dapet rezeki untuk ketemu Beby di Medan ya, kali-kali lah samperin sekalian lamaran juga bisa hahaha

  6. Alay feb . Aku gak peduli ldr po gak seng pentinh pj ne durung tekan . Ultah + jadian pajak dobel .
    Wes gausan nangis kan masih ada cewekmu seng si jogja #BikinPanas

      1. Lah emang ono omonganku seng salah po ckck
        Inget isi bbm ku + percakapan pas neng parkiran fpsb . Gimana kalau ……….. banyak males ngetik hahaha .
        “Pacar itu adalah mantan yang tertunda . Dan pacar orang adalah pacar kita juga karena kita adalah orang ” , inget quote iki wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s