Pertemuan Pertama

“Sayang, aku barusan check in ya. Ini bentar lagi naik pesawat”

Suara yang terhubung dari Medan menyapa, sekitar pukul 05.54 Beby memberi kabar bahagia buat gue yang udah lama nunggu kapan hari itu kejadian.

“Iya sayang, aku tunggu ya”

Suara ambyar yang terhubung dari Jogja membalas, sekitar pukul 05.57 gue memberi kesan nggak jelas buat Beby yang udah duduk di pesawat.

Seiring dengan itu semua, gue pun lanjut tidur dan membiarkan Beby terkotang-katung di Bandara.

Kalau semua itu bener gue lakuin, kemungkinan besar gue nggak bisa ngetik tulisan ini karena gue udah lebih dulu koma karena di lempar koper sama Beby.

Pukul 07.24, gue udah siap untuk bergegas menyusur jalanan Jogja, sebuah hal langka yang nggak pernah gue lakuin dikala libur kuliah, kecuali buat ngurus laporan. Hari itu, gue kembali melakukan hal langka itu, bukan buat ngurus laporan, tapi buat nyamperin Beby di Bandara. Jadi, Beby setara sama laporan. Berharga dan perlu diperjuangkan untuk masa depan.

Ciyeilah.

Jalanan masih cukup sepi. Lumayan dingin. Gue dengan muka ngantuk secara sukarela menerima hempasan udara pagi yang bertubi-tubi.

Sekitar pukul 08.06, gue udah sampai di toko bunga deket Stadion Kridosono. Hari itulah pertama kalinya gue ke toko bunga sendirian dan beli beberapa bunga disana. Sebenernya gue adalah orang yang menganggap kalau ngasih bunga buat pacar itu merupakan salah satu perbuatan norak. Eh, sekarang, gue jadi ikutan norak.

“Mau beli bunga apa mas?” sapa sang penjual bunga.

“Itu mas. Anu, mawar merah sama mawar putih masing-masing 2 ya mas”

“Oh iya mas” Sang penjual bunga pun dengan sigap mengikat 4 bunga yang gue pesan barusan dengan rapi kemudian menghiasnya dengan hati-hati.

“Toko bunga ini buka jam berapa sih mas?” Gue mulai kepo, sok asik.

“Dari kemarin mas” Jawab sang penjual bunga seadanya, dia masih sibuk menghias bunga.

“Loh, nggak tutup? Kok nggak tutup mas?”

“Iya mas. Yah, namanya juga buat ngasih makan anak orang sama anak sendiri” Sang penjual bunga kembali menjawab, kemudian menyodorkan 4 ikat bunga yang udah berhasil dia hias.

“Ooooh… berapa mas ini bunganya?”

“Dua puluh ribu aja mas”

Gue pun menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan, sembari memberi senyum ramah.

“Makasih mas” Sang penjual Bunga menerima uang yang gue berikan dengan sigap, kemudian melanjutkan “Pagi-pagi begini udah beli bunga, emang buat siapa mas?”

“Buat anak orang yang besok bakal saya nafkahi mas”

Selepas itu, gue pun berlalu, melaju cepat menuju bandara.

Xxxxx

Pukul 08.34, gue udah sampai bandara. Padahal, sebelumnya Beby ngabarin kalau kemungkinan dia bakal sampai Jogja pukul 09.00. Kesimpulan, ya gue nungguin dia selama kurang lebih 24 menit.

Gue masuk ke tempat kedatangan penumpang. Sendirian, kayak orang ilang. Menunggu dan menunggu. Tepat pukul 09.00, Gue liat disebuah layar LCD, disana menunjukkan bahwa pesawat yang datang dari Medan belum landing.

Barulah pada pukul 09.21, Layar LCD itu menunjukkan bahwa pesawat dari Medan udah landed. Beby langsung nelpon gue, memberi kabar kalau dia udah sampai bandara. Gue mengiyakan, memberi tanda kalau gue udah 47 menit yang lalu nggembel di Bandara.

Gue melihat orang-orang sekitar yang ada didekat tempat gue berdiri. Mereka ada yang membawa papan nama bertuliskan nama penumpang, ada juga yang membawa beberapa kotak bakpia. Gue melihat tangan kanan, nggak bawa apa-apa. Melihat tangan kiri, nggak bawa apa-apa juga. Melihat dibalik kolor, masih dikandang dengan baik. Jadi….

KAMPRET, BUNGA GUE KETINGGALAN DI PARKIRAN !!!

Gue pun segera berbalik dan berjalan kembali menuju parkiran. Baru beberapa langkah jalan, hape gue bunyi, dilayar menunjukkan kalau yang nelpon itu adalah Mamanya Beby. Gue langsung berhenti, menerima panggilan dan menjawab semua pertanyaan Mamanya Beby dengan hati-hati.

Sekitar 5 menit kemudian, panggilan dimatiin. Gue kembali bergegas berjalan menuju parkiran. Kembali, baru beberapa langkah jalan. Hape gue bunyi, di layar itu menunjukkan kalau yang nelpon itu Beby. Gue langsung balik kanan dan lari ke tempat kedatangan penumpang.

HUAAAAAAAAAAAH !!!

“Hay” Gue menyapa seorang perempuan berbaju item yang sedang sibuk mendorong trolley sendirian. Kasihan.

“Hallo” Dia merespon sapaan gue dengan senyum lebar.

Sesegera mungkin gue membantu dia menurunkan koper, tas, dan kardus berisi bolu meranti yang ada diatas trolley.

Kami pun berjalan berdua. Beriringan. Bahu kiri gue menggendong tas, tangan kiri gue mendorong koper, tangan kanan Beby membawa kardus bolu meranti, tangan kanan gue menggenggam erat tangan kiri Beby.

Dan saat itulah gue sadar bahwa…

Beby cuma seketek gue.

Advertisements

37 comments

  1. Kampreeeeet! Hahah.. 😀
    Badan ku emang kecil sih, Yaaaank. Tapi Bolu Merantinya kan besar. 😛

    Kamu so sweet deh..
    Sini.. Tiyom aku dulu siniiii.. :*

  2. “Buat anak orang yang besok bakal saya nafkahi mas” GILAK. ROMANTIS ABIS. Gimana respon si penjual bunga tuh. Ah elu masfeb, Beb, bikin envy aja. Hahahah. :’))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s