Anologi Cimol

Siang itu cerah. Walaupun di depan rumah jalanan penuh dengan kendaraan lalu lalang, namun di ruang tamu, saya sendirian, tersiksa sepi yang tak berkesudahan. Hanya ada satu plastik berisi beberapa butir cimol dengan varians rasa pedas yang menemani saya siang itu.

Minat?

PING!!!

Satu persatu butir cimol saya makan. Semua tak sama, ada yang keras karena terlalu lama dalam penggorengan, ada pula yang lunak karena mungkin hanya setengah matang dalam penggorengan. Namun, semua cimol itu berhasil saya telan semuanya.

Sembari menikmati tiap butir cimol, dalam kesendirian, memory otak saya memutar ulang beberapa kejadian di masa lampau. Ketika masih bekerja di Kalimantan dan mendapatkan gaji lumayan, kemudian menghambur-hamburkannya selayaknya orang kaya baru, padahal, itu bukan apa-apa.

Ketika di bulan kelima saya bekerja, sebuah nada dering panggilan berbunyi, dari seberang sana orang tua saya mengabarkan bahwa Simbah di Sumatra baru saja di rampok, beberapa barang di Tokonya diambil oleh orang-orang yang tidak punya rasa kemanusiaan.

Ketika di bulan ke enam bekerja, saya memilih untuk resign dan menemui Simbah yang dipindahkan ke Jogja.

Ketika setelah berhenti bekerja, suasana rumah berubah. Ibu yang berhenti menjadi guru demi membantu Simbah berjualan. Kakak yang meninggalkan Jogja demi pekerjaan di Palembang.

Ketika penyesalan dan rasa tak berguna membuat IP kuliah saya turun dari 3.51 di semester 1 menjadi 2.34 di semester 2.

Ketika waktu terus berputar dan saya tak bisa berbuat apa-apa. Tapi…

“Feb?” Ibu yang menyapa ketika beliau baru pulang dari mengantar Simbah ke Pasar membuyarkan lamunan saya.

“Iya, Bu”

“Ibu besok mau kerja lagi. Jadi ojeknya temen ibu, lumayan sebulan ada penghasilannya. Kamu semangat ya kuliahnya, biar cepet dapet kerja”

Hati saya tersentak. Untuk beberapa menit, saya terdiam. Menahan air mata yang menggedor-gedor ingin keluar.

“Iya Bu. Doakan ya” Saya pun mengangguk dan tersenyum tipis.

Ketika hidup seperti sebutir cimol yang entah itu keras ataupun lunak, saat kita hanya mempunyai itu untuk dimakan, mau tak mau, suka tak suka, kita harus menelannya, menikmati butir demi butir sampai akhirnya kenyang dan kepuasanlah yang didapat.

Semoga, semester tiga kuliah ini saya berhasil menelan dalam-dalam halangan yang keras ataupun lunak tersebut. Yang jelas, semoga saya mampu membanggakan orang tua.

Semoga.

Terimakasih.

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam sayembara #MenjagaApi

Advertisements

36 comments

  1. Everything will be alright, Yank.. Anggap semua itu ujian demi tahap naik ke kelas kehidupan. Jadi lebih dewasa dan menghargai semua yang dipunya. :*

      1. Iya dooongs.. Kan aku cekin blog kamu tiap 10 menit sekali.. Niat banget biar jadi pertamax. Bahahah! 😀

        Peluknya nantik pas Februari aja yaaaah.. :*

        Sama-samaaa..
        Iya ditemenin terus, kecuali pas lagi boker, Yank. Wkwkwk.. 😛

      2. Cieeee.. Terharu nih yeeeee.. 😛

        Ngga lama kok. Sebulan lebih dikit kan? Unyunyunyu :3

        Ya kamu minta ditemenin terus.. Gimana sih :’

  2. Envy nih sama komen-komenannya berdua. Hehehe. Tetep semangat kuliahnya ya mas feb, inget tujuan akhir lho. Mudah-mudahan cepet sarjana dan nikahin beby yak! \:D/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s