Jadi, sekarang siapa ?

Siang itu cerah. Semilir angin masih sepoi-sepoi menyejukkan. Lalu lalang kendaraan di sekitaran Gejayan cukup lumayan. Gue sendirian, mengendarai sepeda motor mio yang bensinnya tinggal separuh. Sendirian. Iya, sendirian. Hmm, SENDIRIAN.

Sesampainya di rumah, gue melepas sepatu. Berjalan dengan langkah lunglai. Nggak ada semangat. Raut wajah datar. Persis leak yang ditinggal selingkuh kuntilanak.

Tas gue taruh di kursi yang ada di depan komputer. Gue berjalan ke ruang tamu. Di kursi tamu, gue duduk. Masih dengan tatapan kosong. Kecapekan. Nggak tau mau ngapain. Tiba-tiba, baru beberapa menit pantat gue merasakan nikmatnya kursi, nyokap keluar dari kamar. Beliau memandangi gue sebentar, kemudian bertanya pelan :

“Sekarang pacar kamu siapa Feb?”

Gue nyengir. Mau bilang kalau pacar gue Maudy Ayunda, percuma. Beliau nggak tau. Pasti cuma bakal dibales dengan pertanyaan “Oh, Anak TK mana, Feb?”

Beliau berlalu. Gue pun beranjak, berjalan ke meja makan buat ngambil segelas air putih. Baru menenggak seperempat air putih didalam gelas, tiba-tiba nyokap dari dapur berjalan disamping gue dan kembali bertanya :

“Kamu nggak nyari pacar, Feb?”

Gue lebih memilih buat melanjutkan menenggak air putih didalam gelas daripada harus menjawab pertanyaan yang gue aja nggak tau njawabnya harus dengan model kayak gimana.

Melihat anaknya nggak merespon, beliau pun mengutarakan persepsinya.

“Feb…” nada nyokap penuh penekanan. Beliau memberikan jeda agak lama “Kalau kayak gini jalannya, sebenernya ibu nggapapa loh dulu kamu sama mantanmu di zaman SMK itu” Nyokap menatap gue penuh iba, seakan beliau tau kalau anaknya udah nggak mungkin dilirik cewek lagi.

Ceprot.

Air putih yang tadi udah gue minum pun muncrat keluar kemana-mana.

Gue diem. Nggak tau harus ngerespon kayak gimana lagi. Dalam benak, gue langsung membatin :

“Kenapa harus mantan?”

Sebersit jawaban pun menyambut :

“Karena gue nggak punya gebetan”

Sebenernya gue bukan nggak punya gebetan. Punya. Tapi nggak ada orang yang tau aja.

Namanya Beby. Iya, Si manusia pejuang skripsi yang sekarang kuliahnya udah masuk caturwulan ke delapan yang sekarang masih revisi-revisi aja. Bener-bener seorang pejuang.

Gue diem-diem suka sama dia. Lucu memang. Kami berdua kenal cuma sebatas dari blog. Dari komentar-komentar bercanda yang nggak pernah jelas. Sampai akhirnya kami bergabung dalam komunitas ODOP. Kemudian gue ngewhatsapp dia. Kami berdua bertukar kabar lewat whatsapp. Nggak rutin. Sehari dua pesan. Kayak minum obat. Bakal kambuh kalau nggak diminum obatnya. Ini apasih.

Dari situ gue dapet pin BB-nya, kemudian saling tukar pesan via BBM. Benih-benih rasa suka mulai tumbuh. Gue suka sama dewasanya dia. Suka sama perhatian dia. Suka sama cara dia berpikir dengan logika. Tapi, sebelum tumbuh berkembang terlalu tinggi, gue jaga baik-baik perasaan itu. Karena disatu sisi, gue sadar diri. Dia gimana. Gue gimana. Selain itu, tiap kali kami bertukar pesan, dia selalu merespon dengan sebuah candaan. Semakin membuat gue merasa kalau gue nggak mungkin bisa dapetin dia.

Iya, gue lemah.

Hingga disuatu malem, ada moment dimana kami teleponan. Kami berdua ngobrolin apa aja. Bercanda bersama. Nggak peduli waktu menunjukkan pukul 00.00. Nggak peduli esok hari gue masuk kuliah pukul 07.00. Nggak peduli dia bakal kelar skripsi 2 tahun lagi.

Sampai akhirnya, sekitar pukul 00.32, pembahasan kami mulai serius. Gue iseng bertanya sama dia :

“Mmm… Aku mau curhat nih. Kalau aku tiba-tiba mikir mantan, gimana ya?”

JEGLENG.

Dia diem. Waktu itu, gue nggak tau. Gue nggak begitu peka. Sekaligus putus asa, karena yang gue tau, sejauh ini dia cuma bercanda ngerespon segala hal dari gue.

“Halooo” Gue memecah keheningan.

“Oh, kamu inget mantan. Yaudah, balikan aja” Jawabnya dengan nada yang nggak biasa.

Disitu, gue semakin merasa kalau pikiran gue bener. Dia nggak mungkin suka gue.

“Tapi nggak mungkin deh kayaknya. Dia udah beda. Aku juga udah beda. Aku kan jadi tambah gendut gini. Tambah jelek juga. Sedangkan dia, ya tambah gitu. Kalaupun aku ngarep, dia pasti nggak bakal peduli. Buat apa dia balik ke yang jelek, kalau dia udah dapet yang lebih baik” Gue ngomong asal. Meracau tanpa aturan.

Pembahasan kami berdua pun berubah jadi nggak seasyik di awal. Ngomongin mantan. Sampai akhirnya, pukul 01.21, dia memotong cerita gue.

“Kok kamu gitu sih Feb? Kamu kira hubungan kita ini apa?” Kali ini, nadanya terisak.

“Hah? Aku kira, kamu nganggep hubungan kita ini bercanda mbak”

“YAUDAH ! KALAU GITU, BALIKAN AJA SAMA MANTANMU !!!” Dia membentak.

Telponnya dimatiin.

Gue diem. Nggak tau harus ngapain. Sampai akhirnya, hati pun memberi impuls ke otak, dan otak memberi perintah biar gue nelpon dia balik.

“Halooo. Hay. Hola Hola. Huy Hay” Gue menyapa. Sok asik.

Untuk beberapa detik awal, yang terdengar cuma suara tangis yang terisak. Dalem. Bener-bener dalem.

“Kamu kenapa sih mbak?”

“Aku nyerah Feb. Nyerah. Sana kamu balikan sama mantan” Jawabnya, masih dengan nada terisak.

“Hah? Gimana sih? Dibilangin nggak mungkin juga”

“Belum dicoba. Sana, perjuangin dia”

“Nggak mungkin mbak”

“SANA BALIKAN SAMA MANTAN”

“Aku suka kamu, mbak”

SKAK.

Ada hening untuk beberapa saat. Sampai akhirnya, gue memilih untuk menghentikan obrolan tengah malam itu. Pukul 02.12, gue menutup panggilan, membiarkan dia terdiam.

xxxxx

Hari ke hari pun berganti. Gue mencoba memberi kesan seperti biasa ke dia. Tanpa canggung. Seakan kejadian tempo hari nggak pernah terjadi. Sampai akhirnya, suatu hari, di sebuah warung nasi rames sepulang ngampus, gue cerita hal ini ke temen. Kalimat yang paling gue inget sewaktu temen menyimpulkan cerita gue adalah :

“Feb, ketika kamu kepikiran seseorang. Kamu mungkin bakal fokus mikirin dia. Tapi, satu hal, kamu pasti nggak merhatiin orang yang ada disekitarmu yang sebenernya persis kayak berada diposisimu, yaitu ngarepin kamu.”

Sehabis temen bilang gitu, gue langsung bayar nasi rames yang barusan gue makan, kemudian gue nyalain mesin motor dan melaju cepat. Pikiran gue waktu itu cuma : Gimana caranya gue bisa ke Medan, nembak dia, terus balik. Sampai akhirnya, dilampu merah, gue ngecek isi dompet. Gue merasa iba. Isinya cuma bisa buat biaya parkir di bandara. Gue pun memilih balik ke rumah. Masuk kamar. Kemudian nelpon dia.

Nada sambung terdengar.

Sampai beberapa nada ‘Tuuuut… tuuuutt’ terulang 3 kali, panggilan pun diangkat.

“Hallo?” Suara dari ujung sana menyapa.

“Kamu mau nggak jadi pacarku?” Tanpa banyak intro basa-basi yang membuang waktu, gue langsung nembak dia.

“Mmmm…” Responnya untuk 1 menit pertama.

“…………” Gue menunggu. Was-was. Takut ditolak.

“Mmmm…” Responnya untuk 2 menit selanjutnya.

“…………” Gue masih menunggu, dengan memasang muka pasrah.

“Mmmm…” Responnya gitu terus sampai dia mau kelar skripsi.

“………..” Gue masih setia menunggu. Apapun jawabannya.

“Mau” Jawabnya, ketika skripsinya revisi.

“Waaaaa makasih banyak sayang” Gue girang. Nada yang keluar dari mulut gue ceria. Gue jingkrak-jingkrak sambil kayang.

“Sama-sama sayang. Hihihi” Jawabnya, dengan memberi jeda beberapa detik, dia pun melanjutkan “Eh, Tumben yang kamu nelpon ke nomer simpatiku”

“HAAAAAH??!!!! Sim… Simpati?” Gue menjerit, memandangi layar hape. 3 menit 34 detik. Mampus.

“Tuuut… Tuttttt… Tuuuttt”

Bener aja, panggilan terputus. Pulsa gue abis.

Setelah itu, Di mulai dari tanggal 26 November 2014, kami berdua saling berkomitmen buat menjalani hubungan jarak jauh. Dia di Medan. Gue di Jogja. Salah satu hubungan yang paling dihindari, tapi kami berdua jalani. Gue berani menjalani karena gue tau, disetiap rindu yang melanda dari jauhnya jarak, sedikitnya bisa terobati ketika setiap gue pulang ngampus, selalu ada orang diseberang sana yang menyambut dengan hangat… Walau hanya sebatas suara. Sementara Beby, dia berani menjalani karena untuk waktu dekat ini, dia akan terbang ke Jogja

Luar biasa

xxxxx

Hari sabtu yang cerah, 29 November 2014, gue lagi duduk santai didepan komputer. Beberapa saat kemudian, Nyokap keluar dari kamar. Melihat gue yang asyik grepe-grepe keypad hape, nyokap pun membuka suara.

“Pacarmu sekarang siapa Feb?”

“Beby. Anak Medan, bu” Jawab gue seadanya.

“Hah? Jauh banget. Kuliah dimana emang? UII?”

“Kuliahnya di USU. Udah skripsi dianya”

“Loh? Udah skripsi? Berarti dulu waktu kamu SMK, dia semester….” Beliau menerawang keatas, menghitung-hitung sesuatu.

“Waktu aku SMK, Dia udah skripsi” Gue memotong.

“Loh? Katanya skripsinya dia sekarang?” Nyokap gue kebingungan.

“Sekarang dia revisi. Revisinya 2 tahun. Skripsi itu kejam, Bu”

“Ohhhhh” Nyokap gue mengangguk “Berarti selisih umur kamu sama dia….” Kembali, Beliau menerawang keatas, menghitung-hitung sesuatu.

“3 Tahun, bu” Gue memotong kembali.

“Ooooh” Nyokap kembali mengangguk. Sebelum akhirnya beranjak pergi ke dapur, beliau pun ngasih petuah yang bakal gue inget buat mertahanin hubungan ini.

“Yaudah, berarti sekarang kamu kuliahnya yang bener. Cepet lulus. Cepet dapet kerja. Terus besok nikah di Medan. Ngunduh mantennya di Jogja”

Jadi, pikir ulang kalau mau nyia-nyiain aku ya, Beb?

Advertisements

61 comments

  1. Iniii yang aku tungguin, Feeeeb
    Yaampun siapa sangka yaa…
    Dulu Beby udah beli tiket ke Jogja dr bulan oktober pas AA promo buka rute baru direct flight Jogja Medan, dan aku kabarin dia.
    Ealah ternyata oh ternyata

  2. Kok kesannya aku tua banget ya, Yank.. Tapi emang uda tua sih. -_-
    Trus itu kenapa banyak banget kata ‘skripsi’nya..

    Gitu kamu bilangin aku yang ngga peka. Padahal kan sebenarnya kamu.
    Hih. Nyebelin.

    1. wkwkwwk..Bebbiiiiii, ya ampun, aku malah baca kisah awal kalian dr blognya Febri :D… moga2 langgeng yaaa…cepet siapkan skripsimu..

      dan skr aku ngertiiii, knpa kamu pgn bgt ke Jogja tiap abis baca blogku hahahahaha ;p..trnyata ada si yayang toh 😀

  3. oalah Febri kampreett! ahaha..
    bikin gue ngakak pas bahas skripsi mulu..
    btw selamat ya yang jadian, semoga langgeng. perjuangkan Beby Feb.. dan semoga saling berjuang..
    ah Beb dan Feb, nama panggilan yang agak mirip.. lucu ya kadang, dari sekedar blog, timbul cinta.
    cinta memang sedahsyat itu.

    1. Hahaha kayaknya mas Yoga skripsinya dulu lama juga nih? :p

      Amin mas. makasih banyaaaak banget doanya. bakal aku perjuangin kok. dia juga merjuangin aku :’

      Cinta bener-bener luar biasa 😀

      1. kayaknya udah tua deh tampangmu mas :p serius semester 4? hahaha mantaaaaap 😀 temenmu yang ada dipostingan Taman Wisata Alam Mangrove itu digebet aja kalik mas 😀

  4. Yah, memang begitulah kisah cinta. Njelimet rumit tapi tetap nikmat. 😀
    Saya pikir dirimu masih mengejar gadis berkacamata tempo hari itu, hahaha.

    Yang ada saat ini dijalani sebaik mungkin dan sesabar mungkin ya Bro, hehehe. Good luck!

  5. Ya Ampyuunnn congrats yahh ade2 anggota ODOP gueee…
    semoga LDR nya langgeng, pliss posting lanjutannya saat2 merried yah.. jgn pas kalian patah hati huhuhuuu… kalian fenomenal bgt iihhh hahahaa..

    1. hahaha mbak keke baru tau nih ye :p

      Makasih mbak tetua ODOP yang udah bikin aku sama Bebay semakin deket :p
      Amin ya Allah 😀 doakan selalu ya mbak :p

      kamu sama mas Ardhi gimana mbak :p

  6. Jangankan LDR, yang pacarannya dekat aja harus peka loh Feb. LDR harus punya kesabaran dan kepercayaan tinggi.

    Jangan sampe ada postingan kak Beby jadi mantan. Oke.

  7. Mas febri akhirnya punya pacar jugaaa. LDRan pula. Berarti gue sama Adi ada temennya. Asek asek joss! Hahaha. Do’a yang terbaik buat kalian berdua, semoga jadi pasangan terakhir sampai tutup usia ya mas feb, mbak beb. \:D/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s