Prolog

Disuatu siang dalam kamar, gue memandang langit-langit. Di atas sana, ada 2 ekor cicak lagi kejar-kejaran kayak orang pacaran. Pikiran gue langsung melayang kemana-mana. Membayangkan gue jadi seekor cicak jantan yang lagi mengejar cicak betina. Ngejar si cewek capek-capek, eh si cewek malah sembunyi di balik pohon cemara sambil cengengesan. Giliran ketemu, si cewek lari lagi. Yaudah, lari terus aja mbak !

Setelah beberapa lama berkhayal, gue pun tersadar. Tanpa berpikir lama, gue segera beranjak dari tempat tidur. Berat sih buat ninggalin tempat tidur unyu gue, tapi mau gak mau gue harus pergi. Tenang, nanti malem gue kembali padamu lagi kok kasurkuh tercintah. Mwah.

Gue berpindah dari kasur ke tempat duduk yang biasa digunakan buat belajar.

Gue lihat sekeliling kamar. Hmm… Cukup berantakan untuk ukuran kamar seorang lelaki tampan yang barusan dilindes ambulan. Beberapa tempelan poster tersebar dimana-mana. Gue emang sengaja memasang poster-poster di kamar. Salah satunya adalah poster segerombolan cewek berbaris dengan gaya khasnya yang biasa disebut dengan julukan JKT48 yang tertempel disudut kamar. Setidaknya, gue udah setting itu semua, kalau ada temen gue yang masuk ke kamar dan tanya itu foto cewek siapa, gue bisa menjawab dengan santai.

“Itu foto mantan-mantan gue, sudahlah, itu masa lalu”

Sadis.

Sadis matamu.

Kembali, gue beranjak dari meja belajar kemudian berjalan mendekat ke arah satu foto seorang cewek dengan senyum kalemnya yang tertempel di bagian kiri lemari. Sedikit kusam, dengan noda corak coklat disudut kiri atasnya. Tertulis nama “ Elfie”  di bawah foto tersebut, berjejer dengan beberapa foto gebetan gue lainnya. Seakan dari foto-foto itu menggambarkan kegelisahan, meronta-ronta meminta untuk segera dibuang.

Pikiran gue terbayang ke masa lampau.

Gue tersenyum.

Febri, nama yang sering orang-orang sebut ketika memanggil gue ataupun melihat butiran tai kotok yang ngambang di sungai. Sebutir manusia-kayak upil- biasa yang dilahirkan begitu saja. Si pengkhayal dengan beberapa kekurangan, si pecinta yang sekarang masih menjomblo ria, si pengharap yang bukan menjadi pilihan, si kampret yang penuh kurap. Pengen ndapetin cinta dari seorang cewek aja susah, apa lagi membahagiakannya? Hufteh.

Menjadi seorang jomblo-ers ngenes-ers tentu adalah sebuah beban tersendiri bagi sebagian orang. Apalagi dulu, sering ada kata-kata yang mengintimidasi :

Pacaran : Jalan bareng pacar, LDR : Telpon-Telponan, Jomblo : Berdua sama jamban.

Sebuah Intimidasi yang sangat telak untuk kami para jomblo teladan.

Entah karena faktor apa gue bisa menjabat sebagai jomblo ngenes sehina ini. Yang jelas, kalau bicara masalah tampang, gue bisa masuk dalam kategori cowok manis. Masalah fisik, bisa juga dikatakan ideal. Jadi, bisa didapat kesimpulan bahwa gue adalah cowok manis dan ideal yang menjomblo.

Jomblo hina yang lagi ngejar cewek itu termasuk dalam contoh orang-orang yang sangat bersabar. Tak jarang kita dipaksa untuk tersenyum saat sang gebetan cerita tentang masa lalu romantisnya bersama mantan, dipaksa ikut bersedih saat sang gebetan cerita tentang kejahatan mantannya yang ninggalin dia, dan kita pun hanya bisa menjadi pendengar yang baik sambil berharap cerita itu cepet selesai.

Meskipun sering mendapatkan fakta yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, seorang jomblo tak akan pernah menyerah untuk mencoba hal yang sama. Yaa walaupun faktanya juga akan sama mengenaskannya. Tapi inilah sifat baik dari seorang jomblo hina kayak gue dan beberapa orang lainnya yang kurang beruntung dalam hal asmara.

Keseharian gue sebagai seorang jomblo ada hikmah positif dan negatifnya. Waktu dirasa sang gebetan merespon perhatian dari gue, rasanya itu kayak kejatuhan durian runtuh. Hmm enaaaaak. Tapi waktu tau ternyata sang gebetan udah beranak tiga, rasanya sama sih kayak  kejatuhan durian runtuh, tapi durian itu jatuh tepat di ubun-ubun kepala. Hmm nikmaaaaaat.

Created by @Rianjati13

Created by @Rianjati13

Kadang gue merasa serba salah kalau lagi naksir cewek. Harus dengan cara apa ngungkapinnya.

Opsi pertama yaitu dengan cara blak-blakan bilang kalau gue suka. Tapi yang ada, cara itu cuma bisa bikin si cewek ilfil, muntah-muntah, kejang-kejang dan lebih milih balikan sama mantannya.

Opsi kedua yaitu dengan cara cinta diam-diam. Terlihat keren. Tapi, mau sampai kapan dia nggak tau sama perasaan yang gue pendam? Terlalu lama menyimpan perasaan itu menyakitkan. Ya kalau akhirnya si cewek suka juga sama gue sih mending, laaah kalau misal si cewek buruan di embat orang? Ya modar aja.

Jomblo itu kayak sebuah misteri. Ada tempatnya kita merasa bahwa jomblo itu anugerah yang diberikan agar kita merasa kebebasan, tapi ada juga tempatnya kita merasa bahwa jomblo itu sebuah bencana di setiap malam minggu yang membuat kita hanya bisa meratapi kesendirian dengan nonton raden kian santang.

Hina.

Namun satu hal, sewaktu gue lagi menjelajah beranda Facebook, gue nemu status seseorang yang membahas tentang kejombloan, dan gue pun setuju bahwasanya….

“Jomblo adalah keadaan dimana seseorang sedang menyiapkan dirinya agar tidak ada alasan untuk ditolak”.

Advertisements

32 comments

  1. Uhuk. Pembahasannya berat nih..

    Kadang jadi jomblo itu enak karena jadi punya banyak waktu buat diri sendiri. Tapi ngga enaknya, karena kadang kita butuh seseorang buat berbagi 🙂 *lagi sok dewasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s