Kesalahpahaman

Kesalahpahaman walaupun itu suatu hal yang kecil, pasti akan berdampak besar dan panjang buat kedepannya.

Oh ya, itu bener-bener terjadi didalam kehidupan gue.

Semua bermula dari gathering sebelum kuliah dulu. Alasan kenapa diadakannya gathering adalah untuk mengakrabkan semua anak-anak calon mahasiswa jurusan Teknik Sipil di kampus gue. Jadi, jauh-jauh hari pun sekelompok penggerak gathering ini berinisiatif membuat grup BBM untuk mengkoordinir agar acara gathering terlaksana dengan baik.

Gue nggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Selain ikut gathering, gue pun meng-invite beberapa pin temen-temen yang ada di grup BBM tersebut. Jelas, gue mengutamakan nge-invite pin yang namanya cewek-able banget terlebih dulu. Kayak Suryani Wulandari, Suketi Mangan Sapi, ataupun Wakidi Sucahyani.

Dari penginvite-an massal itu, gue berhasil mendapatkan kenalan… cowok. Ya, ternyata lebih mudah mengajak kenalan cowok daripada mengajak kenalan cewek. Gue bener-bener lemah.

Hari H gathering pun tiba. Beberapa temen-temen calon mahasiswa sudah berkumpul di Waroeng Steak (Tempat makan yang sudah disepakati sebagai lokasi gathering) kenapa nggak milih kumpul di WC umum? Karena kita pengen gathering, bukan ngising.

Gue menjadi salah satu manusia yang udah kumpul di Waroeng Steak, menunggu temen-temen lainnya. Beberapa waktu berjalan, temen-temen calon mahasiswa pun berdatangan. Satu orang datang, ngajak salaman, kenalan, kemudian duduk. Begitu seterusnya. Sampai akhirnya, seorang cewek dengan balutan jilbab merah datang menghampiri. Lekuk senyum manis yang terpancar dari wajahnya terasa lengkap dengan behel yang memagari giginya. Gue memperhatikan dia untuk beberapa saat. Melihat dia menyalami orang-orang yang baru dia kenal. Melihat dia memberi senyum tanda sapaan. Pun melihat dia yang memilih untuk duduk di sebuah kursi kayu yang jaraknya jauh dari tempat gue duduk.

“Manisnya” aku gue dalam hati.

Acara belum dimulai. Aktifitas yang dilakukan kami semua adalah menunggu. Ada banyak cara yang dilakuin temen-temen untuk menunggu. Ada yang modusin kenalan cewek baru. Ada yang asal ngobrol basa-basi. Pun ada yang asyik main hape sendiri.

Gue termasuk dalam kategori orang yang menunggu sambil main hape sendiri. Bukan, gue bukan ngajak hape gue buat main boneka Barbie gitu. Bukan. Seriusan. Tapi, gue cuma melihat kontak BBM di hape gue. Mencari dan mencari, apakah cewek berjilbab merah tadi ada disalah satu kontak BBM yang gue invite massal kemarin.

“Yani” gue membatin.

Ya, cewek berjilbab merah itu ada. Lagi-lagi dengan senyum manisnya, Display Picture yang dipasang cewek itu bersanding dengan Display Name bertuliskan ‘Yani’ disisi Kanannya. Luar biasa.

“Ayok acara dimulai. Acara dimulai. Semua calon mahasiswa udah lengkap kayaknya” terdengar suara berat keluar dari mulut cewek gendut yang baru aja datang dan terengah menaiki tangga. Berat memang untuk orang gendut menaiki tangga.

Acara gathering pun dimulai. Tempat duduk cewek dan cowok terpaksa dipisah. Semua memilih untuk duduk dikursi yang menurutnya nyaman. Yani? Dia menghilang didalam kerumunan calon mahasiswa cewek lainnya. Mata gue nggak mampu ngikutin arahnya. Sampai acara berakhir, gue pun nggak nemuin wajah manisnya lagi.

Setelah acara gathering, ada jeda beberapa hari sebelum perkuliahan dimulai. Di tiap harinya, gue selalu melihat-lihat contact Yani, entah cuma melihat Display Picturenya ataupun cuma mengeja namanya. Iya, tanpa berani memulai buat ngajak kenalan. Sekali lagi, gue lemah.

Aktifitas stalker gue pun berhenti saat disuatu malam, jemari yang biasa mengetikkan nama ‘Yani’ di keypad hape nggak berhasil menemukan contactnya disana. Awalnya gue positif thinking aja, mungkin Yani mengganti namanya jadi ‘Yhanieeeeeeee Thaaaks Phernah Shalaaah’. Namun, setelah gue mencari dan mencari, akhirnya gue sadar. Gue di delcont. Yaudah. Nggakpapa.

Masa kuliah udah dimulai. Di hari-hari awal, gue nggak berhasil nemuin Yani. Ruang gerak gue di awal kuliah dulu emang sempit banget. Namun semakin hari, semakin akrabnya gue sama temen-temen kelas, semesta pun mempertemukan kembali antara gue sama Yani.

Ceritanya di hari selasa pagi, tepat di samping Hall kampus waktu gue dan beberapa temen mau ke perpustakaan buat pinjem kamus, di arah berlawanan dari gue jalan, ada segerombolan cewek lagi jalan sambil ngegosip. Yani ada disalah satu dari mereka.

“Yaniiiiii”

Temen gue, Tatang, menyapa Yani dengan entengnya. Dilihat dari rileksnya, kayaknya mereka udah saling kenal.

Segerombolan cewek-cewek itu pun berlalu. Gue dan beberapa temen pun ikut berlalu.

“Lo kenal sama Yani?” tanya gue ke Tatang waktu kami masih berjalan ke arah perpustakaan.

“Kenal dong. Kenapa emang, Feb?”

“Nggak papa sih. Manis ya orangnya” Gue menyodorkan argument tentang Yani kepada Tatang.

“Iya. Kamu suka Feb? Aku kenalin, mau?” Tatang memberikan tawaran menggiurkan.

“Eh, enggak. Gue udah didelcont sama dia” Gue mengutarakan kejujuran yang bakal menuai petaka.

“HAH?!!!” Tatang meninggikan nadanya. Memasang muka kaget yang bikin orang-orang pengen ngegampar. Dari nada Tatang yang tinggi itu, temen-temen gue yang udah berjalan duluan pun menoleh ke belakang dan penasaran.

“Kenapa, Tang?” Tanya Dian dan Hadi.

“Itu. Masa. Masa Febri di delcont sama Yani. HAHAHAHAHAHAHAHA”

“Hah? Kamu didelcont Yani, Feb? HAHAHAHAHAHAHAHAHA”

Tawa pun pecah sepanjang perjalanan kami ke perpustakaan. Gue cuma bisa diem. Mengelak. Tapi nggak bisa apa-apa lagi. Jadilah, sepanjang semester awal dulu, tiap kali ada Yani lewat, gue selalu diejek dengan untaian pertanyaan ‘Feb, rasanya didelcont itu, enak Feb?’ walaupun gue udah nyoba mengklarifikasi kalau gue belum pernah ngeBBM Yani sekalipun, tetep aja ejekan itu mengembang.

Perkuliahan pun terus berjalan. Dari semester satu masuk semester dua kemudian berpindah ke semester tiga. Ejekan ‘delcont’ itu pun kayaknya juga udah berpindah dan hilang tertiup angin.

Tapi cuma kayaknya.

Karena pada kenyataannya, ejekan itu masih ada.

Terjadi di hari Selasa, 21 Oktober 2014. Pagi itu sekitar pukul 10.00, Gue dan beberapa temen lagi duduk di kursi sofa perpustakaan buat ngerjain tugas Persamaan Diferensial. Tepat pukul 10.30, Temen gue, Trisna, nyamperin buat ikutan gabung ngerjain tugas. Kebetulan di mata kuliah PerDif, gue sama Trisna sekelas. Beberapa detik kemudian, Yani muncul mengekor di belakang Trisna. Ya, kebetulan juga, gue sama Yani sekelas di mata kuliah PerDif. Jadilah Trisna duduk disamping gue, sementara Yani duduk didepan gue. Posisi yang akan terlihat lebih baik jika sebaliknya. Yani ada disamping gue, dan Trisna dibakar massa.

Gue melirik ke kanan dan kekiri. Menimbang-nimbang, apakah ejekan itu masih ada atau udah ilang. Wajah beberapa temen yang biasa ngejek gue dulu terlihat polos. Aman. Gue pun lanjut ngerjain tugas.

Baru nulis dikit, tiba-tiba Dian mencondongkan badannya ke arah gue dan membuka suara agak keras.

“Feb, Didelcont itu rasanya gimana sih?”

MAMPUS !

“Hah?” Gue berusaha mengelak dan sok nggak paham sama apa yang Dian tanyain.

“Ohalah. Iya, Dulu kamu pernah di Delcont sama Yani kan, Feb?” Tiba-tiba Trisna yang duduk disamping gue nyerocos.

MAMPUS KUADRAT !

Disitu gue bener-bener mati gaya. Mau ngomong takut salah. Mau diem takut tambah dihina-hina. Cuma ada satu cara : pura-pura amnesia

“Hah? Yani itu siapa sih? Yani itu siapa?” Cara amnesia bener-bener gue lakuin. Anggapan gue saat itu, gue bakalan aman dari tragedy ‘delcont’ itu.

Ternyata… SALAH !

Mendengar pertanyaan gue barusan, Trisna yang ada disamping gue pun memegangi kepala gue kemudian memutarkannya 20derajat. Berhenti. Melepas pegangannya. Kemudian ngomong dengan entengnya.

“Itu Feb, Yani, yang ngedelcont kamu dulu.”

MAMPUS AKAR TIGA PANGKAT LIMA !!!

BAKAR TRISNA SEKARANG, WAHAI MASYARAKAT !

Gue cuma bisa geleng-geleng kepala. Pasrah. Setelah itu terdengar samar-samar suara Yani ngomong pelan.

“Ya maaf, aku kan nggak tau”

Mukanya bener-bener ditekuk kedalam tanda dia nggak enakan.

“Iya udah, nggakpapa. Invite aku lagi ya” Gue ngomong sendiri dalam hati.

Pukul 12.45, kami pun berlalu. Saling meninggalkan satu sama lain. Berjalan sendiri-sendiri menuju kelas PerDif. Yani menuju perkiran naik motornya sendiri. Gue dan temen-temen jalan bersama beriringan. Trisna ngesot diseret mobil pick up.

Sesampainya di kelas, gue duduk di kursi nomer 2 dari depan. Pak dosen udah menjelaskan materi persamaan homogin non homogin suatu diferensial yang kalau dipelajari terus-terusan bisa bikin otak kebakar. Lagi konsen memperhatikan, tiba-tiba disamping kanan gue, Dian berbisik.

“Feb, kayaknya lo harus minta maaf deh”

“HAH? Gue salah apa?”

“Biasanya Yani duduk didepan. Gara-gara tadi, dia sekarang duduk dibelakang. Lo ada didepan sih.”

“Yani? Siapa sih Yani tuh?” Cara Amnesia jilid 2, gue lancarkan.

“Itu, cewek yang ngedelcont lo dulu” Dian menjawab dengan entengnya.

Yaelah. Dampaknya, panjang juga ya. Dasar, kesalahpahaman.

Advertisements

47 comments

      1. Waaaa iya tuh si Tirs bang Adi ._. jahat abis sama gue wkwkw nasib buruk gue juga sih 😀

        tirs, lo udah minta makan-makan sama bang Adi? bisa kalik delivery pajak jadian dikirim ke rumah kita-kita 😀

    1. Waaaa makasih banyak Tirs 😀 bukannya postingan lo juga udah kocak-kocak semua ya. gue yang harusnya belajar sama lo Tirs 😀

      BUKAAAAAAAAAAN -_- nggak ada hubungannya sama si mantan :’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s