Masa itu…

Hay?

Itu sapaan buat mereka yang nggak pernah disapa sama gebetan.

Oh iya, waktu gue duduk didepan laptop, tiba-tiba otak gue flashback ke masa remaja dulu. Jadi, walaupun gue masih berada ditahap remaja-yang kalau putus sama pacar bisa galau bertahun-tahun-, gue bakal cerita tentang masa remaja gue dulu.

Kok membingungkan ya kalimat diatas?

Ah perasaan kalian aja ah.

Berkelompok. Gank. Tawuran. Pukul-pukulan. Lempar-lempar batu. Ngondek di perempatan jalan.

Kira-kira itulah yang identik dengan masa remaja. Jujur aja, dari awal gue kurang tertarik sama hal-hal begituan.

Gue mulai cerita ini dari masa Sekolah Dasar dulu ya? Nih :

Sewaktu SD, gue lebih memilih buat main tamiya dan petak umpet daripada berantem atau tawuran. Iya, SD gue dulu itu pernah tawuran. Semua itu terjadi waktu gue masih kelas 6 SD. Berawal dari main sepakbola sewaktu istirahat sekolah, kelas gue mengalami kekalahan melawan anak kelas 5 yang berujung diejek habis-habisan sama mereka. Beberapa oknum temen gue pun nggak terima. Jadilah hari itu, selepas sekolah, anak kelas 6 janjian sama anak kelas 5 buat tawuran di halaman belakang kantor dinas PU.

Sebenernya gue gak mau ikutan didalam tawuran tersebut. Males. Buang-buang waktu. Tapi, petinggi kelas gue waktu itu mengintruksikan gue buat ikutan.

“Feb, badanmu gede. Nanti pulang sekolah ikut tawuran lawan kelas 5. Kamu jadi tembok besar buat kelas kita. Kita harus menang. Strategi selanjutnya, kita pikirkan nanti”

APA COBA?!!! ANAK SD INGUSAN UDAH MIKIR STRATEGI BUAT TAWURAN!!!

Gue pun ikutan. Berdiri dibarisan paling depan buat tawuran. Jujur aja, waktu itu, kaki gue gemeteran. Itu pertama kalinya gue ada diposisi tawuran begini. Gue lihat disudut lawan, beberapa anak kelas 5 pun udah siap dengan gagahnya. Gue terlihat lemah.

Beberapa saat kemudian, setelah gue mencoba untuk bersiap menyerang, tiba-tiba petinggi kelas gue menyolek pundak kanan gue.

“Nih, Amunisinya. Dihemat ya” ucap sang petinggi kelas sambil memberikan beberapa batang kapur papan tulis.

IYA, KAPUR PAPAN TULIS WARNA-WARNI YANG KALAU DIKUNYAH RASANYA HAMBAR ITU !!!

Gue bener-bener nggak tau konsep apa yang dipikirkan anak-anak SD waktu itu. Mungkin dari sebatang kapur yang dipotong menjadi 3 biji itu, mereka berkonsep bisa ngelumpuhin kawanan gajah yang lagi kawin lari. Padahal, percaya sama gue, dilempar pake sebiji kapur itu cuma bikin geli. Eh, nggak juga ding kalau kapurnya dibungkus sama lapisan baja dan dilempar dengan kecepatan 800Km/detik.

Gue mengangguk paham dan menerima beberapa batang kapur dari sang petinggi kelas itu. Kemudian, satu batang kapur gue patahin jadi 4 bagian yang sama panjang.

“SERAAAAAAAAAAAANG!!!” petinggi kelas memberi komando.

Gue berlari di urutan paling depan. Beberapa temen gue mengikuti dari belakang. Gue melambatkan langkah kaki gue. Temen gue nyalip dari belakang. Sekarang posisi gue ada dibelakang temen-temen. Aman. Disudut lawan, mereka pun berlari menyerang kami. Jadilah ditengah halaman belakang kantor dinas PU, anak kelas 6 SD resmi tawuran melawan anak kelas 5 SD.

“Makan nih !” temen gue melemparkan potongan kapur pertamanya ke arah anak kelas 5 yang tepat mengenai jidatnya.

“Kampret. Sakit geblek” anak kelas 5 itu mengusap jidatnya. “Hyaaaaaaat” kemudian membalas melemparkan 3 potongan kapur sekaligus yang ketiga-tiganya nggak ada yang tepat sasaran.

Suasana di halaman belakang kantor dinas PU itu terkesan kacau dan nggak karuan. Masing-masing anak sibuk dengan kapur dan bidikan sasaran terhadap lawannya. Dari jalanan, orang-orang yang lalu lalang lebih melihat adegan ini sebagai ajang pemanasan anak-anak SD menyambut pekan olah raga kota Jogja. Padahal, buat kami-waktu itu-, ini adalah tawuran yang mempertaruhkan harkat dan martabat kelas.

Gue sembunyi di semak-semak. Amunisi kapur yang gue bawa masih utuh. Lantas, tanpa berpikir panjang, gue melemparkan satu persatu potongan batang kapur itu asal-asalan. Berharap lemparan gue itu menimbulkan suara :

“Syuuuuuuuuuuuuut. JEDYHAAAAAAAAR JEDYAAAAAAAAAAR. BUOOOOOOM”

Kayak yang ada di perang-perang tentara itu, waktu sang tentara melempar granat.

Tapi kenyataannya cuma menimbulkan suara:

“Tuing. pluk”

Kayak yang ada di perang-perang tentara itu, tapi waktu sang tentara lagi boker disungai.

Gue masih tetap sembunyi di semak-semak. Sampai beberapa saat kemudian, terdengar komando dari petinggi kelas.

“Mundur ! Amunisi kita habis”

Setelah itu, gue pun keluar dari persembunyian. Tanpa melihat ke arah musuh, dengan mata sedikit terpejam, gue melempar sisa amunisi kapur gue itu secara membabi buta. Beberapa waktu kemudian, gue membuka mata sambil berlari ke markas tempat berkumpul diawal sebelum perang tadi sembari menengok ke arah lawan. Ternyata pihak lawan udah berkumpul di markasnya sedari tadi. Lemparan kapur secara membabi buta dari gue? Percuma.

“Kamu ngelempar apa tadi, Feb?” tanya seorang teman sewaktu gue udah sampai dimarkas.

“Ng…Nganu, tadi cuma nakut-nakutin pihak lawan doang kok” gue mencoba membela diri yang akhirnya cuma dibalas oleh teman dengan tatapan ‘oh’-nya orang yang gak sengaja nyobek 5 lembar uang seratus ribuannya sendiri.

Tim kelas 6 SD pun kembali berdiskusi tentang strategi selanjutnya. Sesekali, gue melihat pihak lawan yang juga sedang berdiskusi serius. Sampai beberapa saat, ketika tim kami sudah siap kembali untuk tawuran dan sudah berbaris rapi, tiba-tiba anak kelas 5 lari ke arah tim kami sambil memungut kerikil-kerikil kecil yang berserakan di halaman belakang kantor dinas PU tersebut.

Sontak, gue dan temen-temen langsung panik. Petinggi kelas gue pun langsung berteriak lantang :

“Woy, Jangan pake batu woy !”

Anak kelas 5 tetep berlari mantap ke arah kami. Ucapan petinggi kelas 6 SD nggak digubris sama anak kelas 5 SD. Hina. Sungguh hina.

Gue dan temen-temen pun mundur, lompat dari dinding pembatas kantor, kemudian lari ke arah sekolah.

“Kita bilangin bu guru kok !” Dengan nada terbata karena nafas terengah, petinggi kelas gue mengancam.

“Iya ah, biar dihukum !” temen-temen gue ikut-ikutan ngancem.

“Hoooo. Ah bubar ah bubar. Nggak ikutan aku ah” dengan nada layaknya anak SD unyu yang sedang ngambek, gue mengikuti temen-temen dari belakang.

Setelah itu, sebelum anak kelas 6 SD beneran melaporkan semuanya kepada bu guru, akhirnya anak kelas 5 pun memilih buat menyerah dan membuang kerikilnya. Perdamaian antara kelas 6 dan kelas 5 di SD gue pun terjalin.

Emang ya, ketika ada perselisihan, harus ada satu pihak yang mengalah.

Dalam hal pecintaan, juga demikian bukan?

Loh, kok jadi cinta-cintaan lagi?

Biar deh.

Oh iya, maaf ya jadi jarang ngeblog :’ udah mulai masuk kuliah nih. Tapi diusahain tiap minggu diupdate kok. Semoga aja bisa konsisten.

Postingan besok lanjut yang masa SMP ya 🙂

Advertisements

63 comments

  1. Wah, sip banget 🙂
    nice memory…. kalau aku waktu SD dulu, namanya juga anak kampung, mainnya perang2 an juga… tapi makai “tulup”… bambu kecil, panjang, diisi buletan tanah kecil2…. caranya ditiup tuh bambu biar pelurunya (buletan tanahnya) meluncur mengenai musuh.. asyik bingit….

      1. Iss.. Kamu sotoy deh! -_-

        Emang sih dalam hal makanan atau main game aku ngga mau kalah. Tapi kalok masalah perasaan, aku selalu ngalah. Ngga asik yah. 😦

      2. Ngga tau. Kan belom pernah ketemu. Weeeek! 😛

        Soalnya. Aku. Ngga. Mau. Orang. Yang. Ku. Sayang. Ngga. Bahagia. Cuma. Karena. Keegoisan. Aku. 😦

  2. Lucunya tawuran antar kelas bukan sekolah-_- Dan kenapa kapur? emang bisa bikin muka jadi bonyok? Hahaha namanya juga anak SD.
    Tapi kalo anak SD sekarang udah pada sadis semua, gak kayak dulu ckck

    1. antar angkatan Riz ._. begitulah hidup zaman SD wkwkw

      kayaknya dulu kapur bikin sakit ._. mau nglemar pake barbel, belum kuat. pake tiang listrik, apalagi.

      masa anak zaman sekarang sadis sih ._.

  3. sd ku ributnya dulu sama sd lain. hihihu.
    tapi sebagai anak baik dan anak teladan aku sih gak ikut2an ya. paling sirik sirik an pas ada lomba lomba sama sD lain.

      1. aku SD di papua. hihihi
        biasaa kalo lomba gak peserta gak supporter sama sama sok eksis eksis an n berujung sirik sirik an. hahahahah
        gak penting banget

  4. Iya nih, gue juga jarang ngeblog karena udah masuk kuliah. (padahal gue gak masuk)
    untungnya gue dulu waktu SD anak baik, anak soleh, kalo malam ikut wirid sama ibu – ibu. Lagian gue juga gak berani tawuran, bukan takut kelahi sama orang atau sd lain wong SD dikampung gue dulu cuman 1, cuma takut dihukum sama bapak sendiri. Soalnya bapak kepala sekolah SD gue dulu.

    Sakitnya tuh disini *nunjuk hidung* *lagi flu*

    1. lo udah mulai masuk kuliah :p

      ikut wirid sama arisan sama ibu-ibu kan? dulu gue pernah liat lo, pake baju kuning corak item.

      harusnya dicoba aja dulu yu, bapak lo bakal bangga pasti.

      GWS yu 😦 wwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s