Nembak Kecepetan

            ‘Selalu ada proses dalam setiap pencapaian’

            Yohik. Gue setuju sama kalimat diatas. Mungkin nggak sih pencapaian yang gemerlang itu ada tanpa proses? Mungkin. Tapi nggak banyak. Selagi Tuhan berkehendak, bukannya nggak ada yang nggak mungkin kan ya?

            Hampir dalam setiap bidang apapun, segala pencapaian membutuhkan proses.

            Makan, butuh proses pengadaan suatu makanan agar kegiatan makan dapat dilakukan.

            Kayang, butuh proses pertumbuhan untuk bisa kayang. Percayalah, buat lo yang baru keluar dari rahim orang tua, kemungkinan untuk bisa kayang itu sedikit. Harus ada proses pertumbuhan.

            Tampan, butuh proses panjang untuk kalian bisa menyaingi ketampanan gue.

            Dan masih banyaaaak lagi proses-proses yang lainnya.

            Dalam hal ini, karena gue membahas masalah proses, gue bakal menitik beratkan materi ini kepada sebuah proses penembakan. Jelas, semua ini melalui beberapa pertimbangan dan didukung dengan masih banyaknya kaum-kaum tertentu yang masuk dalam clan Jomblo.

            Gue nggak setuju kalau ada yang bilang ‘proses biar bisa jadian itu ya nembak’. Sekali lagi, gue nggak setuju. Sekali lagi untuk kesekian kalinya, tolong ubah mindset kalian tentang ini. Yang benar adalah ‘proses biar bisa jadian itu ya pendekatan’.

            Kenapa bisa tau?

            Ya, karena gue dulu yang bilang kalau’proses biar bisa jadian itu ya nembak’ dan hasilnya, gagal-dengan-sangat-telak.

            Dulu banget, gue pernah duduk di sebuah kamar kost temen gue. Ada 3 orang disana. Gue, Joko, dan Slamet.

            “Lo nggak bosen Feb jomblo terus? 1 tahun udah masuk dalam kategori jomblo perunggu kalik Feb” Joko bersuara. Jari jemarinya menggrepe stick PS saat dia bertanding PES lawan Slamet.

            Gue tersenyum kecut. Mengabaikan. Pandangan gue menatap layar hape yang saat itu sedang asyik bertukar pesan dengan sang gebetan.

            Slamet memperhatikan gerak-gerik gue. Dia melihat seluruh wujud muka gue yang kadang tersenyum manis, kecewa kecut, dan terdiam bisu waktu menatap layar hape. Merasa ada yang aneh, dia membuka suara.

            “Udah punya gebetan Feb?”

            “Udah” Gue menjawab singkat.

            “Hahaha parah, si gembel udah punya gebetan” Teriak Slamet dengan penuh penghinaan.

            “GOOOOOOOOL !!! MODAR MODAR !!!” Joko berteriak keras saat Liverpoolnya berhasil menjebol gawang MU milik Slamet.

            “Hanjir, ngurusi jomblo kucrut emang bikin sial” Slamet bicara lemas.

            Gue diem aja. Nggak ada alasan yang logis buat gue ngurusi tapir satu ini.

            “Tembak langsung aja kali Feb” Joko memberi saran.

            Kecuali ini. Kalau ini, gue harus ngurusi.

            “Tembak langsung?” tanya gue bingung.

            Joko membalas dengan anggukan mantap. Dia kembali focus pada main PESnya. Sementara itu, gue langsung nembak gebetan via BBM.

            Terkadang, kemungkinan kegagalan dalam hidup kita itu disebabkan oleh teman sendiri. Dari sini gue membenarkan. Dan dari sini pula gue sadar, Jokolah penyebab kegagalan gue kali ini.

            Gue ditolak. Tepat 3 menit setelah Joko memberi perintah penembakan itu.

            “Kok bisa ditolak Feb” pertanyaan bodoh itu Joko utarakan ketika dia mendengar keluhan gue.

            “Gue terlalu tampan mungkin” cuap gue kesal dan melempar hape ke arah joko.

            Joko pun menekan tombol start di Joysticknya, berhenti bermain sejenak dan membuka history chat di hape gue.

            “ANJIR, KENAPA DI START??? UDAH MAU GOL ITU. AH TAIK BABI ABIS” Slamet mencak-mencak. Nggak ada yang ngurusi.

            Setelah melihat history chat gue sama si gebetan, Joko memberikan tatapan ‘ini kampret kapan matinya?’

            Berikut kira-kira history chat gue waktu itu :

            Gue : Hay…

            Gebetan : Hay juga…

            Gue : Selamat siaang ya…

            Gebetan : Iya, selamat siang juga ya…

            Gue : Apa kabar?

            Gebetan : Kabar baik nih. Kamu?

            Gue : Baik. Kamu mau nggak jadi pacarku?

            Gebetan : HAH??!!!

            Gue : HAH itu artinya ‘Hiya Aku Hencintaimu’ atau ‘Hanjir Aku Hogah’?

            Gebetan : ‘Hanjir Aku Hogah’.

            Gue : Oke. Mulai hari ini, kita nggak jadian.

            Gebetan : Sip.

            Joko meletakkan hape gue. Dia menggelengkan kepala pasrah, kemudian menekan tombol start pada joysticknya dan kembali bermain PES. Sesaat kemudian, Slamet berteriak histeris

            “GOOOOOOOL !!! YEAH MAMPUS. YEAAAAAH !!!”

            “Bener ya kalau ngurusin jomblo perunggu itu bikin sial” Joko geleng-geleng kepala. Melas.

            Gue terdiam bersalah. Kalau begini terus, besar kemungkinan gue nggak akan punya temen dan pacar. Hidup gue berantakan.

            Ternyata kemungkinan itu nggak besar, gue udah punya Afnita kok. Temen? Banyaaaaak. Hidup? Kayaknya masih berantakan :’

            Dari kisah hidup itulah gue pun menyadari bahwasanya dalam hal pacaran, banyak sekali prosesnya. Sebelum pacaran, ada proses penembakan. Sebelum penembakan, ada proses pendekatan. Sebelum pendekatan, ada proses perkenalan. Sebelum perkenalan, ada proses pertemuan. Sebelum pertemuan, ada proses kelahiran. Sebelum kelahiran, ada proses pembuatan. Sebelum pembuatan, ada proses pernikahan. Sebelum pernikahan, ada proses pacaran. Sebelum pacaran, ada proses penembakan. Sebelum penembakan, ada proses pendekatan. Sebelum pendekatan, ada pros*sebagian teks hilang*

            Jadi, nembak itu nggak boleh kecepetan. Nikmati alurnya. Lalui dramanya. Tembak pada waktunya.

             Kalau ditolak?

            Jalani aja nasibnya.

            Berproseslah. Karena proses itu akan mengantarkanmu kepada sebuah pencapaian.

Advertisements

101 comments

  1. ya memang.. tapi jarang banget ditemuin pencapaian gemilang tanpa proses. paling bisa dihitung, atau paling karena ada sesuatunya.
    Harus dinikmati proses itu, hehe, karena gak ada yang instan. 😀

      1. Harus berani lah ya menghadapi apapun, mie instant aja berani dikeluarin meskipun kalau dikonsumsi banyak-banyak berbahaya, tapi setidaknya dia sudah melalui proses panjang yang bla bla bla, bahkan sudah diberi label informasi gizinya tapi kok ya masih saja dikenai berita yang ya begitu lah.
        haha 😀

      2. haha, yaa selera orang sih beda-beda. Tapi memang indomie enak sih, tapi sayangnya berbahaya dan mengonsumsinya harus memperhatikan waktu karena tidak boleh dikonsumsi setiap saat.
        eh iya iya, kok meleceng jadi mie instant, hahaha 😀

    1. ._____. yeaaah, aku menang -_- . aku sebenernya bisa nyaingin kecantikanmu, tapi, aku masih mau terlihat tampan aja ah 😀

      hihihi ide bagus. itu dulu. dan itu gara-gara saran temen. sesat. temenku sesat -_-

  2. Ah, lu pande aja buat gue terharu, buat gue mengingat masa lalu yang seharusnya hilang. Kampret, Afnita harus tanggung jawab.

    Kalo mau ngajak jadian, timingnya harus tepat. Karena kecepatan juga gak baik, kelaman juga gak baik, takutnya cuma di PHPin.

    gue terharu.. peluk gue dong

    1. Lu… ._. lu kenapa? ._. masa lalu lu yang hilang bagian mana? ,_, gue salah apa? Afnita salah apa? jadi, ini salah siapa? wkwkw

      lo dulu nembak melly tepat juga? pas melly nggak sadar, *joke standupnya Jui wkwkwk

      sini sini gue peluk :’

      1. baik. aku akan DIAM. aku tidak akan berkata tentang mukamu yang abstrak. aku lebih baik DIAM. menyembunyikan fakta bahwasanya kamu mirip tukang siomay. baik. aku akan DIAM. wlwlw

  3. Kebanyakan orang mengatakan proes itu penting, namun yang lebih penting adalah perencanaannya atau katakanlah konnsep dari proes itu sendiri. Namun konsep disini belum ada artinya tanpa adanya kometmen, yakni kometmen untuk berproses. Ups.. Maaf, sok tau kali gue yak? 😀 hee

      1. Gini deh..

        Juli kemaren aku ditembak 2 cowok..
        Agustus kemaren aku ditembak 2 cowok jugak..

        JADI AKU MESTI TERIMA SEMUANYA GITUUUUH?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s