Dua buah pertanyaan

            “Kak, kamu bikin novel? Di Gramedia ada nggak?”

            Pesan itu gue dapet setelah beberapa hari update postingan tentang ‘Tentang cita-cita’. Iya, kejadian ini udah lama banget kok terjadinya. Gue lihat contact BBMnya. Friska. Nama itu terpampang di bagian Display Name, bersanding dengan sebuah foto perempuan menggunakan baju terusan abu-abu. Putih, berbehel, rambut hitam terurai dan senyumnya yang terpampang membuat gue segera mengirimkan balasan.

            “Hai… iya, kok kamu tau? Di gramedia nggak ada. Mau pinjem aja?” sekedar tips buat cowok, baik-baikin kenalan barumu.

            “Aku baca blogmu kak. Wah boleh tuh. Pinjem ya kak” dia menjawab.

            “Waa makasih ya udah mampir di blogku. Iya sip, aku pinjemin. Alamatmu mana? Biar aku samperin ke rumahmu” tips kedua, modusin kenalan barumu. Minta alamat, temui orang tuanya, minta restunya terus nikahin dia.

            Kalau sukses, gue traktir makan cireng.

            Friska memberikan alamatnya setelah dengan panjang lebar gue menjelaskan kepadanya kalau gue adalah makhluk yang kayak dia : Manusia. Kami berdua pun janjian buat ketemu di rumahnya. Rencana hari Senin, pukul 14.00 sepulang dia sekolah.

            Tepat di hari H, pukul 10.00 gue udah standby dirumah temen gue yang lokasi koordinat rumahnya jauh lebih deket sama rumah Friska. Iya bro, gue yang antusias pengen ketemu Friska. Sementara Friska kayaknya lebih tertarik buat antusias sama novel gue. Yaudaaah.

            Pukul 13.45, Friska mengirim pesan berisi kabar bahwa dia sudah pulang dan menanyakan keberadaan gue.

            “Aku udah di rumah temenku. Deket kok sama alamat rumahmu” gue membalas.

            “Jadi kesini kan? Aku bentar lagi boci loh kak”

            “JADI. AKU OTEWE SEKARANG !” tegas gue.

            Segera gue paket jaket, manasin motor, dan nyeret temen buat nemenin gue. Hmm. Oke, gue gak cukup nyali buat ketemuan sama cewek cantik sendirian. Sorry, takut mengganggu pemandangannya.

            Gue nyetir motor dan mengikuti petunjuk jalan yang Friska kasih lewat pesan. 20 menit kemudian, gue udah sampai di depan rumahnya. Nggak lama, Friska keluar. Rambutnya terurai, behelnya jelas terlihat-biru muda kalau nggak salah-, dan senyum manisnya mengudara.

            Kesimpulan : Dia bukan photogenic. Perbandingan foto dan kenyataan sama. Sama-sama cantik, uyeah.

            “Friska ya? Ini novelnya” ucap gue grogi.

            “Iya. Pinjem bentar ya kak. Makasih” sambutnya.

            Setelah itu dia masuk ke dalam rumah, meninggalkan gue yang masih tercengang akan kecantikannya. Gue menyenggol temen di belakang gue.

            “Cantik nggak coi?”

            “Gilak. Dia bidadari, jatuh dari surga, dihadapanku. E.yaaak” temen gue pun ikut terkesima.

            Setelah hari itu, gue membiarkan rasa kagum akan kecantikannya menguap hilang. Gue sadar diri. Nggak akan ada kemungkinan yang menyatakan bahwa disisi yang lain dia terkagum sama diri gue. Nggak. Nggak ada. Nggak aka nada.

Xxxxx

            “Kak, aku udah selesai baca novelnya nih. Kapan kamu ambil? Ke rumahku ya, sekalian aku mau tanya-tanya”

            Malam sabtu, pukul 20.12, pesan dari Friska mendarat indah di ponsel gue.

            “Besok, sepulang kamu sekolah. Bisa?” tanpa pikir panjang, gue langsung to the point.

            “Bisa. Besok, jam 1 siang ya” balasnya singkat.

            Setelah mendapat pesan itu, pikiran gue langsung melayang. Mencari kembali uap-uap kekaguman tentangnya yang kemarin gue biarkan menghilang.

Xxxxx

            “Aku udah didepan rumahmu, Ka” pesan itu gue kirim tepat pukul 13.05. iya, ngaret 5 menit. Kebiasaan.

            “Oke kak” Friska memberi balasan singkat.

            Setelah gue membaca pesan dari Friska dan memalingkan pandangan dari ponsel, gue melihat ke arah pintu rumah Friska. Beberapa detik setelahnya, dia keluar. Rambut terikat, behel masih terpasang, senyum yang merona terus mengudara, dan suara lembutnya berbicara :

            “Hai kak. Sini duduk dulu sini” dia menyambut gue dengan senang hati.

            INI TULISAN GUE. TERSERAH GUE MAU NGGAMBARIN HATI DIA GIMANA.

            “Makasih Friska. Gimana novelnya? Suka?” gue bertanya, sekaligus mencari kritik dan saran atas novel gue.

            “Bagus kok kak. Seru. Tapi…” Friska menjawab, dia sengaja memberi jeda agak panjang, kemudian melanjutkan “Isinya kepanjangan sama terlalu mepet antara paragraph satu dengan lainnya. Jadi aku yang baca sedikit bingung dan bosen gitu” Friska memberi senyuman, kemudian menutup dengan manis “itu kritik yang membangun loh kak”

            Gue ikutan tersenyum. Dalam hal ini, gue tau, nerbitin novel perdana dengan pengetahuan tentang tulis-menulis yang masih cetek abis ini terus nerbitin indie itu adalah hal yang salah buat gue. Gue pun tau, itulah fungsi editor buat seorang penulis, buat mengoreksi dan melengkapi apa yang menjadi kekurangan si penulis. Gue, belum dapet editor itu.

            “Kak, aku mau tanya nih. Dipehape itu sakit banget ya?” Friska mengajukan pertanyaan retoris, sambil membuka-buka bab novel gue tentang pehape.

            “I…iya begitulah” suwer, ngomong didepan cewek cantik itu bikin grogi.

            “Dulu, kelas 2 SMA, aku pernah di pehape sama seseorang…..” Friska mulai bercerita.

            Panjang lebar. Kenangan. Kesakithatian. Kekaguman. Segalanya dia utarakan. Dari situ, gue pun tau bahwa ternyata pehape bukan hanya berlaku buat cowok curut kayak gue. Tapi bisa juga berlaku buat cewek sekelas Friska. Tergantung dari gaya sepik dan cara dia membuat tertarik.

            “Aku dulu pernah di pehape 9 bulan. Setiap aku tanya tentang kejelasan, dia selalu menghindar, dia selalu bilang ‘kalau aku nggak serius, ngapain aku kenal sama orang tuamu?’ bodohnya, aku percaya gitu aja dan masih nungguin dia” Friska menghela nafas panjang. Kemudian melanjutkan “seiring berjalannya waktu, segala rahasia pasti terbongkar. Dia deket sama cewek lain. Dia berdalih kalau ceweknya itu sekedar temennya doang. Tapi, aku selalu liat dia mention-mentionan dan jalan bareng. Padahal, aku kalau sama dia itu cuma dirumah, duduk di teras rumah gini doang. Setelah kejadian itu, akhirnya aku pun sadar ‘kenapa aku harus nunggu?’ aku pun berhenti berharap”

            Gue memandangi dia dalam. Ada secuil rasa kecewa didalamnya. Mencoba mencairkan suasana, gue asal bertanya.

            “Cowoknya cakep ya?”

            Friska membuka ponselnya, beberapa menit kemudian dia memberikan ponselnya yang didalam layar sudah terpampang sebuah foto ke gue.

            “Dia yang sebelah kiri, pake kacamata item. Jelek kan? Temen-temenku pada bilang kayak gitu kok” Friska berucap.

            Gue menatap layar ponsel dalam-dalam. Dalam pandangan pertama gue berpikir : ‘ini manusia?’ namun, dalam pandangan kedua, setelah ponsel itu mati sesaat dan memantulkan tampang gue disana, gue langsung berpikir : ‘nggak ada yang lebih parah dari lu, bro’

            “Aku nggak bisa menilai kegantengan seorang cowok, Ka. Yang aku bisa nilai, dia hebat, bisa bikin kamu tertarik sama dia. Itu yang penting hehe”

            Friska hanya membalas senyum, sebelum akhirnya dia menanyakan pertanyaan kedua.

            “LDR? Enak nggak sih kak?”

            “Ya… gitu deh, bikin kangen, tapi kita nggak bisa apa-apa. Kenapa emang?” jawab gue sekaligus ada penyisipan pertanyaan.

            “Oh gitu… hmm, aku bakal LDR sama pacarku sekarang, kak” Friska menjawab, tampak ada pancaran kesedihan disana.

            “Oh…” gue menyebut kata oh itu dengan ekspresi kayak orang yang barusan nggak sengaja nendang kamera DSLRnya sendiri. Pengen banget gue jawab ‘tenang ka, aku bakal nemenin hari-hari kamu selama pacarmu jauh. Tenang, aku bakal ada disampingmu. Santai, aku akan ada untukmu’ tapi, gue harus tau diri. Jangan sampai ada batu bata yang melayang.

            “Jalani aja dulu. Jangan sedih, itu bagian dari cobaan dalam hubungan kan? Kalau kalian bisa bersama menghadapinya, aku yakin bakal baik-baik aja kok. Kunci pertama dari LDR itu saling percaya Ka” gue melanjutkan.

            Friska diam.

            Dia tampak mendalami kalimat gue diatas.

            Gue berkemas, memasukan novel gue kedalam tas, kemudian berdiri, mencoba memberikan kesan bagus gue menutup :

            “Udah, semua baik-baik aja. Hal yang paling cowok-cowok bakal sesalin nantinya adalah yang tega udah berani nyia-nyiain cewek secantik kamu”

            Gue balik badan, berjalan menuju gerbang rumahnya, dan memanaskan motor.

            Sebelum motor gue jalankan, gue melihat Friska berdiri, rambut yang dia ikat memberi kesan cerah pada wajahnya. Sayup-sayup terdengar suara :

            “Makasih banyak, kak”

            Gue pun pulang, meninggalkan perempuan dengan wajah cerah yang rambutnya diikat, sendirian, memikirkan kelangsungan hubungannya dengan sang pacar selanjutnya.

 

            *Oh iya? ada yang mau berbagi cerita pahit, bahagia, sedih atau apa saja? sini bagi ke gue. Kadang gue suka bingung mau bikin materi apa buat diposting. siapa tau cerita kalian bisa membantu? mention ke @Efebeeri atau kirim email ke Febridwicahya@gmail.com aja ya ceritanya. kalau mau. kalau enggak, ya nggapapa 😀 . Thanks.

 

Advertisements

42 comments

    1. ya emang itu cerita cuma rekayasa kok. aku cuma ambil dari curhatnnya temenku. mau aku bikin cerita tentang smsan gitu doang, eh, nggak menarik. putar otak dikit, jadilah cerita ini. hehhe nggak masuk akal ya :3

    1. itu ceritanya banyak yang direkayasa bang, aku cuma ambil curhatan temenku doang yang lewat BM. kalau aku bikin cerita tentang aku sama temenku BBMan, kok garing banget -_- putar otak dikit, jadi deh tulisan ini. hehehe

      tapi suwer bang, ceweknya itu cantik bener. bening berkilau behelan putih. suwer, senyumannya aduhai :3

      Armita gimana? wkwkw

  1. Nerbitin indie itu ya harus rajin promo kan?

    Eh Ngomong – ngomong deskripsi Friska itu beneran gak? Afnita yang di bio twitter gak marah ni lu nulis begini 😀

    1. Nah, bener. harus rajin promo. selain itu harus nyiapin stock sendiri. borong bukunya sendiri terus jualin. ini strategi biar dibeli sama orang-orang yang males beli online. gitu 😀

      beneran. suwer. gue ketemu sama Friska sama temen gue @Rianjati13. tanya dia aja kalau nggak percaya :p wkwkwk dia aja kepincut.

      Afnita? ah, enggak marah. dia udah jinak. lagian cerita itu terjadi sebelum gue sama dia jadian :p

      1. Iye, lagian mahal kan 59 rebu harga buku lu :D. Gue suka sama design covernya.

        Gak butuh temen lu, akun twitter Friska aja 😀

        Gue kalo nulis kek gini di blog, langsung ditanya tanya sama pacar.

      2. Iya kampret abis. gue aja nggak nyangka. sebenernya cuma mau gue hargain 25000 tuh, tapi ternyata di penerbit indie, harga tergantung sama halaman. ya, segitulah harganya -_-

        nah, desain covernya yang bikin si @rianjati13, sepik aja dia buat ngebikini cover buku lo :p

        Hahaha yakalik, gue nggak tau twitter friska, taunya pinBBnya, lebih intim broh :p wkwkw

        aaaaa langsung emosi tuh si teh meli :p wkwk

      3. Iye.. mana mau penerbit indie rugi -_-. kapan – kapan deh, kalau udah selesai itu naskah.

        Ah, gue males main bbm, ntar ada yang marah. 😀

      4. hahaha iya, buruan diselesain yu 😀 . di medpress bagus kalik 😀

        nggak bakal ada yang marah. orang ditinggal LDR, kecuali kalau Melly tau, nah, perang dunia ke 3 deh

      5. Hmm…

        Bisa bisa itu, keknya bakal gue kembangin lagi dengan pandangan aneh orang kekita yang seperti melihat putri gandengan sama tukang gorengan. sip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s