Malam yang panjang

Malam itu gelap.

Hening.

Sepi.

Kalau sendiri…

Sekarang, gue nggak masuk ke sebuah malam yang demikian.

Masuk ke intinya? Oke, malam gue jadi semakin terang, berisik dan rame setelah gue bareng Afnita.

*JLEB

Gue tau, itu suara hati para jomblo hina yang tertusuk rasa penasaran akan bagaimana menikmati malam bareng pacar.

Tenang, gue nggak tega bilang UHUK lagi kok.

UHUK UHUK

Itu batuk beneran.

Seminggu dikali 2 kurangi 7 ditambah 2 hari setelah gue jadian sama Afnita, gue melakukan ritual pacaran di malam hari pertama bareng dia.

Bingung? Jadi, gue jadian sama Afnita tanggal 16 Juli, ditambah seminggu dikali 2 (14 hari) = 30 Juli. Dikurangi 7 = 23 Juli. Ditambah 2 = 25 Juli. Nah, gue jalan sama Afnita tanggal 25 Juli.

Lanjut.

Kami janjian pukul 19.00. Belajar dari insiden ngaret dulu, gue pun bisa sampai di rumah Afnita pukul 18.56.

Disana, gue bertatap muka sama orang tua Afnita untuk pertama kalinya. Dengan sopan sekaligus ngarep biar bisa dapet restu, gue salami beliau. Beberapa detik kemudian, Afnita, cewek yang ngaku-ngaku mirip Emma Watson sekaligus cewek yang berstatus pacar gue itu *UHUK* suwer, ini batuk beneran. Dia keluar dari pintu rumahnya. Berbalutkan kemeja kotak-kotak yang berwarna orange kemerahan, dikombinasikan skinny jeans biru dongker, gue melihat dia bakal kontras banget kalau boncengan sama gue yang pake jaket hitam dengan sobekan dibagian ketek kanan serta celana jeans hitam yang lusuhnya nggak karuan.

“Yang, aku enggak ngaret lagi kan?” gue membuka percakapan.

“Iya yang, hebat hehehe” jawabnya sambil memberikan pelukan dari belakang.

“Yakalik mau ngaret, pacaran pertama ini. Besok-besok juga ngaret lagi”

“Hissssssssh” Dia mengeratkan pelukannya.

Gue sesak nafas.

Sebenernya, gue nggak tau harus kemana tujuan perjalanan ini di arahkan. Untuk beberapa menit pertama, kami cuma muterin jalanan Jogja. Menikmati riuh jalanan kota Jogja. Beberapa menit setelahnya, perut gue bersinergi minta makan. Pipi gue haus akan kecupan. Ya kalik kecupan. Minta di gampar?

Kami memutar haluan. Tujuan kami adalah makan bakso di sebuah warung dengan tulisan “Bakso Granaaatz” lengkap dengan gambar cabe dan orang kepedesan, sesuatu hal yang meyakinkan gue kalau ini warung bakso recommended, gue pun memilih makan di tempat itu.

Gue sama Afnita duduk di meja nomer 3. Baru 2 menit gue duduk, sang pelayan nyamperin.

“Selamat datang di bakso granat, kami disini menyediakan beberapa menu yang sensasional. Bakso yang paling recommended disini adalah bakso rudal dan bakso ranjau” ucap sang pelayan sambil menunjukkan menunya, jari telunjuknya menunjuk menu bakso rudal dengan harga Rp.14.000.

“ANJROT, BAKSO APAAN 14.000”

Tenang, gue tau etika. Karena ada pelayan dan posisi gue di depan pacar, gue ngomong gitu di dalam hati. Selanjutnya, gue cuma manggut-manggut sok elegan.

“Mau tanya apa perbedaan bakso rudal dan bakso ranjau?” sang pelayan kembali berucap.

“Ah iya mas, apa ya perbedaannya?” gue ikuti aja alurnya.

“Jadi, bakso rudal itu bakso yang didesain besar bulat dan ekstra pedas. Benar-benar sensasional. Kalau bakso ranjau, baksonya tidak sebesar bakso rudal. Tapi tetap, pedasnya menggelegar”

“Saya bakso ranjau ya mas. Minumnya es teh aja” Afnita mulai memesan duluan.

“Saya bakso rudal aja deh, minumnya sama aja, es teh” Gue ikutan mesen.

Setelah itu, sang pelayan pun pergi ninggalin meja kami. Hus hus.

Sembari menunggu pesanan datang, kami berdua saling tukar cerita. Bicara apa aja. Bertukar senyuman. Mengumbar kerinduan.

Dalam posisi duduk berhadapan, gue pegang tangan Afnita yang dari tadi dia letakkan di atas meja. Gue elus-elus manja.

“Aku sayang bangeeeeet sama ka……………………………………………..”

“Permisi, pesanan bakso rudal, bakso ranjau dan 2 gelas es teh untuk meja nomer 3. Selamat menikmati. Maaf mengganggu.” Ucap sang pelayan yang emang suka ngomong itu sambil meletakkan pesanan kami di meja.

“Okeee mas. Makasih”

Sungguh, dibalik kata “Makasih” dari gue itu, di lubuk hati yang paling dalam tersirat makna “ANJRIT LO KAMPRET, NGGANGGU AJA”

Sekarang, gue mengamati bakso rudal yang harganya 14.000 itu. Bentuknya biasa. Bakso. Dari daging sapi. Bulet. Kayak bola golf. Bedanya dari bakso biasa : 14.000 men.

Tanpa banyak bacot, gue menambahi sambel, saos, dan kecap di bakso gue itu. Pada tuangan sambel ke-4 dengan ukuran sendok teh, Afnita mengamati gue dan berkata pelan :

“Yang, bakso ini nggak dikasih sambel aja udah pedes banget loh. Lihat deh, baksonya aja udah ada cabenya”

Gue menelan ludah. Gue aduk-aduk itu bakso itu hingga saos, kecap dan sambalnya merata. Warna kuah bakso gue malam itu merah kehitaman. Sadis. Segera gue cicipi satu suapan kuah bakso itu dan…

“UHUUUUUUUUK” “JEGEEEEEER”

Gue keselek. Suwer, keselek cabe itu rasanya bikin tenggorokan serasa njebur neraka. Pedes panas abis. Kesiksa. Melihat gue yang keselek, terbatuk-batuk dan keringetan, Afnita nyengir. Kampret.

Karena harga bakso ini yang mahal, dengan beringas gue habisin bakso tersebut. Keringat bercucuran deras di muka gue. Kata orang, hormon keringat itu dapat membuat cowok terlihat seksi dan atraktif. Ya, saat itu gue merasa seksi banget. Dan saat itu juga, Afnita mengambil tissue dan mengelap keringat gue. Seakan dari ayunan tangan Afnita yang ngelap keringet gue itu memberikan kesan : ‘udah deh yang, tampang kayak anoa pedofil, badan kayak kuda nil itu nggak usah diseksi-seksiin. Percuma.’

Ya, gue sadar kok.

Selesai makan, terjadi keheningan untuk beberapa menit. Gue memandangi Afnita dengan kode :

“Yang, berdiri gih, terus bayar ini semua”

Afnita diam, dia senyum-senyum manis. Kode gue, gagal.

Kembali gue senyum ke Afnita, dari senyuman gue itu memberikan kode :

“Yang, kita berdiri, terus bayar bakso ini sendiri-sendiri”

Afnita masih diam. Kode gue, gagal.

Setelah beberapa saat, Afnita memegang tangan gue, sambil ngelus-elus tangan dengan lembutnya, dia berkata pelan :

“Yang, pulang yuk, udah malem”

Ya, cewek memang mengerikan. Akhirnya, gue pun yang bayar.

 

Xxxxx

 

Malam itu pukul 20.43, kami selesai makan bakso dan kembali menyusuri sebuah perjalanan untuk pulang.

Lalu lalang kendaraan lengkap dengan lampu-lampu yang menyilaukan itu kami lihat, gue mengendarai motor dengan pelan, seakan memberi kesan mengulur waktu supaya gue bisa lebih lama bersama Afnita.

“Yang, kok kamu mau jadian sama aku? Padahal kemarin aku udah ngecewain kamu dengan insiden ngaret itu” gue mengajukan pertanyaan.

“Iya sih ngaretmu nyebelin” jawabnya sambil mencubit pelan pinggang gue “Tapi, aku mikir juga yang. Pas baca tulisanmu di blog dan kamu bilang ‘penyelesalanku, dimulai hari ini’ waktu itu aku juga merenung sejenak ‘gimana kalau aku nyesel juga nantinya?’ akhirnya, aku berani buat milih kamu. Aku yakin kamu nggak akan ngulang itu lagi ya sayang?” lanjutnya.

Gue tersenyum. Tangan kiri gue menggapai tangan Afnita yang sedari tadi melingkar indah di perut gue. Seketika, pikiran gue melayang jauh, memikirkan beberapa bulan yang akan datang :

‘Apa Afnita besok bakal nyesel udah milih gue?’

Entah.

“Yang, kamu punya mimpi buat hubungan kita ini?” kembali gue mengajukan pertanyaan.

“Mimpi?” tanyanya kembali “Mungkin, aku pengen hubungan kita ini langgeng, tanpa berantem. Hehehe” lanjut jawabnya diikuti sandaran kepalanya yang mendarat di bahu gue. “Pundakmu enak buat tidur yang hihi” tutupnya.

“Hhahah dasar ya” jawab gue keenakan.

Gue nggak di tanya balik tentang mimpi sama Afnita. Tapi, mungkin kalau waktu itu gue ditanya dengan pertanyaan yang sama ‘apa mimpi buat hubungan kami ini?’ gue bakal menjawab ‘kecupan hangat dari Afnita di pipi gue’

Kenapa?

Bentar, kami udah sampai di depan rumah Afnita. Tepat setelah mesin motor gue matikan, Afnita turun dari motor. Gue melepas helm, tersenyum manis ke arah Afnita, dan berkata pelan :

“Makasih banyak ya sayang buat malam ini. Oh iya, Ayah ibumu mana? Aku mau pamit pulang”

“Hihi sama-sama ya sayang. Aku juga makasih banget buat malem ini” Jawabnya sambil tersenyum malu “Ayah sama Ibu udah tidur mungkin, udah jam setengah sepuluh juga. Langsungan aja nggakpapa sayang”

Gue mengangguk pelan. Tangan kanan gue yang memegang helm siap untuk memasangkannya kembali di kepala. Sebelum helm itu terpasang di kepala, Afnita yang berdiri di samping gue pun menunduk cepat, tanpa komando yang berarti, dia mengecup pipi kiri gue diikuti kalimat :

“Makasih banyak sayang”

Kemudian melangkah mendekati pintu rumah.

Jantung gue deg-deg ser. Terjadi hening untuk beberapa saat, sebelum akhirnya gue pun memakai helm kembali dan meluncur pulang dengan senyum mengudara.

Ya, itu alasan kenapa gue punya mimpi pengen dapet kecupan dari Afnita. Karena setelah itu, gue bakal merajut mimpi yang baru : ‘mempertahankan hubungan ini, membuat Afnita nggak nyesel udah milih gue, dan mewujudkan mimpi Afnita yaitu hubungan yang langgeng tanpa berantem’

Sulit? Memang. Tapi, gue bakal coba menjalani kisah ini berdua… bersama Afnita.

Doakan.

Advertisements

45 comments

    1. bro, tabah bro, semua akan baik2 aja.. coba direnungin lagi, kejombloan lo itu nasib apa takdir? kalau masih nasib, lo masih bisa ngubah jadi lebih baik men,,berjuang #motivasi

  1. asek ni yang baru jadian… ayo kita party-party dulu bro.. yaaa mabok-mabok esteh gak masalah lah.. sebut aja burjo mana,,hahaha

    duh, kabarnya ya bro, pertengkaran dalam hubungan itu bumbu pemanis lho. kadangan abis brantem malah makin mesra. Kecil-kecilan aja. klo gede-gedean sih perang dunia ketiga namanya :p

    1. hahaha woyooo mas Dwindown 😀 bisa, ya kalik anaknya teteh burjo, mainnya di aa burjo :p

      hahaha jadi aku harus meningkatkan kadar berantemku sama cewekku itu dong ya :p wkwkw perang ketiga ._. cuma gara-gara berantem sama cewek. gilaaaak wkkw 😀

    1. halaiya, ya namanya blog personal, nyeritainnya tergantung perasaan. kalau lagi seneng, bikin yang seneng. besok kalau sedih, berantem, hampir putus, ya bikin cerita yang gitu. nggak ada unsur SOK disini hahaha.

      kalau batuk, ah biarin. nanti juga sembuh sendiri.

      HUACIM hahaha

  2. Sial, postingan yang bikin jomblo meringis. Kemudian berdoa, Ya Tuhan berilah kami pacar.

    Gua suka tuh endingnya, “alasan kenapa gue punya mimpi pengen dapet kecupan dari Afnita”. Keren!

  3. Ngomentarin postingan lama si anoa pedofil, sapatau dapat ide untuk nulis :D.

    Selamat ya mimpinya udah kecapai, dapat kecupan dari Afnita. Itu ngecupnya pake bibir apa pake setrikaan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s