Ya Apes

Setau gue dulu, hal yang identik sama lebaran adalah mudik.

Sekarang yang gue tau, hal yang identik sama lebaran adalah tetep mudik.

Lah? Terus?

Udah terlanjur dibaca kan? Abaikan.

Kalian tau nggak kalau Dimas Anggara itu lahirnya di Tegal? Enggak? Subhanallah. Kalau gitu, sekedar informasi aja, Dimas Anggara yang punya nama latin (Febri Dwi Cahya G ) itu lahir pada tanggal 9 Februari 1994 di Tegal. Kalau kembarannya, Febri Dwi Cahya G dengan nama Latin (Dimas Anggara ) itu baru lahir pada tanggal 10 September 1988 di Jakarta.

Oke? Kalian harus bisa membedakan ya?

Gue hidup di Tegal cuma sampai kelas 3 SD. Oke, sebelum masuk jauh ke masalah mudik, gue jelasin dulu silsilah keluarga gue :

Bapak gue lahir di Bantul, Yogyakarta dan punya orang tua di Sumatera Selatan. Ibu gue lahir di Tegal dan punya orang tua asli Tegal juga. Beliau berdua kuliah di Jogja, sampai akhirnya benih-benih cinta tumbuh disana. Begitu mudahnya untuk cinta menyatukan 2 orang yang lahir di tempat berbeda bukan? Ya, nggak heran kalau suatu saat nanti gue bisa ngawinin cewek sekelas Emma Watson… dalam kemasan berbentuk Afnita. Yaudaaaaah.

Setelah beliau menikah, beliau ngontrak di Jogja dan melahirkan seorang anak bernama Yudha di rumah sakit permata bunda, Yogyakarta. Yoik, dia kakak gue. Nggak beberapa lama, beliau pindah ke Tegal. Ibu gue jadi guru disana. 2 tahun setelah kelahiran kakak gue, lahirlah pria tampan yang dinamakan Febri Dwi Cahya Gumilar. 16 tahun gue hidup, sebenernya gue merasa bangga aja udah lahir di Tegal. Sebelum akhirnya pada ulang tahun gue yang ke 17, Ibu gue mengungkap misteri yang selama ini tersimpan rapat. Beliau dengan santai bilang di depan temennya yang baru saja melahirkan.

“Wah, dulu saya ngelahirin Febri itu gampang banget. Langsung mbrojol gitu aja. Nggak sakit”

Dengan penuh wibawa, gue berdehem bangga.

“Selain gampang ngelahirinnya, biaya melahirkan Febri dulu itu paling murah. Saya ngelahirin dia itu di dukun beranak deket stasiun Tegal, Cuma habis 25.000. Murah banget.”

Deheman bangga gue, diakhiri dengan tundukan pasrah penuh kenistaan.

Hay teman-teman, sumpah, nggak ada yang bisa dibanggakan dari orang yang dilahirkan di dukun beranak dengan biaya 25.000. Serius. Tapi, Bersyukur aja ya.

Tahun 2003, lahirlah adek gue bernama Nova di Rumah sakit permata bunda, Yogyakarta.

Inilah gue, pria tampan, anak kedua, yang lahir di Tegal, di dukun beranak dengan biaya 25.000. *pasang muka bangga.

Lebaran tahun ini, gue diberi mandat oleh orang tua buat mengunjungi nenek gue di Tegal. Beliau terpaksa nggak bisa ikut karena ada beberapa urusan. Akhirnya, jadilah gue melakukan perjalanan ke Tegal… ditemani kakak gue.

Kenapa nggak sendiri? Nah, jujur nih, gue jarang banget pergi keluar kota sendiri. Bukan karena takut, tapi karena gue nggak mau nyoba buat pergi sendiri. Alasannya?

Pertama, akhir-akhir ini berita penculikan lagi marak-maraknya, gue nggak mau dalam perjalanan nanti gue diculik, disandera dan dimintai tebusan. Tapi, ketakutan gue sama penculikan itu terbuang saat nyokap gue dengan santai sambil nonton berita bilang :

“Kamu kalau pergi sendiri itu nggak usah takut di culik, toh kalaupun kejadian, paling si penculik cuma minta tebusan selusin kolor. Gampang.”

Ada yang berniat bikin film dengan judul “Ratapan anak yang dilahirkan di dukun beranak dengan biaya 25.000 rupiah?”

Kedua, Kecelakaan. Jujur juga, setiap gue pergi-pergi,gue selalu takut kalau terjadi kecelakaan lalu mati. Yah, tapi, siapa sih yang bisa menghindari kematian?

Gue duduk di mobil travel. Hari itu, H+2 Lebaran, pukul 22.00, gue sama kakak gue dapet di kursi belakang dan bersama penumpang lainnya meluncur indah menuju Tegal.

Waktu yang harus ditempuh dari Jogja ke Tegal itu kira-kira sekitar 6-8 jam. Semua tergantung dari kelancaran jalan, supir dan… takdir.

Mengantisipasi kebosanan yang melanda, gue pun segera nyolokin headset ke handphone smartphone Andromax I2… milik kakak gue. Kenapa gue nggak pake hape sendiri? Hari itu, selain isi lagu gue cuma dangdut koplo, hape gue juga lagi sering error dan lemot banget gitu. Kenapa nggak ikutan beli Andromax I2? Jujur, gue mahasiswa di universitas neraka yang biaya kuliah semester 1 – 2 kemarin aja sebenernya kalau gue gelapin bisa buat beli 2 motor matic bermerk mio, dan masih dapet sisa buat beli hape sekelas Andromax Z 2 biji. Tapi apadaya, gue nggak berani nggelapin dana kuliah. Gue bukan koruptor yang nggak punya pikiran jangka panjang itu. Ya, gue nggak mampu beli hape baru lagi.

Spesifikasi Quad Core dengan Ram sebesar 1Gb ini ternyata memanjakan gue selama di perjalanan. Gilak, suara music yang alus banget disertai kelancaran browsing sekaligus blogwalking yang gue dapet dari hape kakak gue ini bener-bener bikin gue menikmati perjalanan. Battery tipe 2000 mAh yang dimiliki Andromax I2 ini pun semakin membuat gue tenang. Nggak mungkin banget kalau hape ini cepet lowbat. Kalaupun lowbat, tenang, kakak gue bawa powerbank.

Terlalu dimanjakan dan menikmati fitur yang ditawarkan oleh Andromax I2 milik kakak gue ini, nggak terasa waktu udah menunjukkan pukul 03.23. Gue bersama beberapa penumpang travel lainnya udah masuk di jalur pantura. Gue lihat kursi tengah, 3 orang dewasa sudah terlelap. Gue lihat samping, kakak gue udah ngiler sambil ngorok. Gue lihat kursi paling depan, 1 remaja yang duduk di sebelah supir pun terlihat pulas dalam mimpinya.

Gue memalingkan pandangan ke luar. Hitam pekat. Lampu-lampu jalanan beserta lampu kendaraan lain menyorot tajam dan menyinari jalan. Beberapa saat kemudian, gue merasakan alur jalan travel kami berjalan zig-zag tak stabil. Aneh, gue melihat sang supir. Pandangan pertama, gue melihat dia focus. Pandangan kedua, gue melihat dia terkantuk-kantuk. Pandangan ketiga, sesekali dia seperti ketiduran. Pandangan keempat…

“KEJEBLAAAAAAAAK”

Ya, travel gue nabrak pembatas jalan. Santai aja. Siluet nenek-nenek moyang gue saat itu juga melambai ke arah gue. Lagu yang terputar di hape kakak gue : Eric Clapton – Tears in heaven. Santai aja.

SANTAI MATAMU !!!

Seketika, para penumpang langsung terbangun dari tidurnya. Mereka kaget dan panik sendiri… kecuali kakak gue. Dia dengan datar nanya :

“Udah sampe?”

Otomatis, karena pertanyaannya yang datar itu, gue ikutan menjawab datar :

“Belum. Travel kita habis nabrak pembatas jalan.”

“Oh” jawabnya “kalau udah sampe, bangunin ya” lanjutnya sambil kembali ke posisi bersandarnya.

OH MATAMU WOY!!! KITA NABRAK PEMBATAS JALAN DAN HAMPIR NGGULING DIKATAIN “OH” DOANG?!!! UDAH GILA KALIK.

“Oke” gue mentransformasi bentakan diatas dengan kalimat itu doang. Percuma juga sih.

Setelah kejadian itu, para penumpang pun enggan tidur. Mereka memilih menikmati pemandangan diluar yang gelap gulita dengan hanya di hias lampu-lampu jalanan, seakan dari dalam benak mereka berkata : ‘besok di alam kubur gelap gini juga kalik ya’

Remaja yang duduk disamping supir lebih memilih untuk bercakap-cakap dengan sang supir, hal itu dilakukan untuk meminimalisir rasa kantuk yang mendera si supir.

Kakak gue? Udahlah.

Pukul 05.45, gue sudah sampai di sebuah lampu merah. Gue sama kakak memilih turun di dekat lampu merah itu, soalnya 2 om gue sudah siap dengan 2 motor bebeknya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah nenek di Tegal, suasana masih sepi, hanya ada beberapa orang hilir berganti menyalip gue dari belakang. Di kiri jalan, ada sebuah warung nasi kuning yang buka. Suatu hal langka memang pagi-pagi pukul 06.00 di H+2 lebaran masih ada warung nasi yang buka, padahal teorinya, pasti akan minim pembeli mengingat sebagian orang pasti mudik ke kota orang. Karena laper, akhirnya gue, kakak sama 2 om gue mampir di warung nasi kuning itu.

Nasi kuning pun telah sukses masuk ke dalam perut, obrolan-obrolan yang membahas tentang kabar dan keadaan pun sudah saling kami tanyakan. Pukul 06.25, gue menuju kasir, berniat membayar 4 nasi kuning beserta 4 teh hangat.

“Hapene apik nemen, angger pengen tuku hape sing kaya kuwe sih maring endi?” (Hapenya bagus banget, kalau mau beli hape yang seperti itu kemana ya?)

Melihat gue yang berdiri di depan kasir sambil memegang handphone Andromax I2nya kakak gue, sang Ibu-ibu muda yang rambutnya pendek sebahu membuka percakapan dengan bahasa khas Tegalnya terlebih dulu. Karena bahasa Tegal gue masih amatir, gue hanya mampu membalas :

“Di Konter hape bu” jawab gue diikuti senyum “Ini total berapa ya bu, nasi kuning 4, teh anget 4.” Gue melanjutkan.

“Oh ning konter toh” ibu-ibu itu manggut-manggut “Nasi kuning satu porsi 7000, teh anget 2000. Dadine, total 36000” lanjutnya.

Gue tercengang beberapa detik. YAIYALAH, Nasi kuning biasa itu harganya 4000-5000an. Apalagi ini di Tegal, tempat yang gue dilahirkan dengan biaya 25.000 doang. Gilak, 4 nasi kuning ngalahin biaya kelahiran gue. Nasi kuning itu lebih mahal dari gue : (

Akhirnya gue membayar itu nasi kuning. Kami berempat pun keluar dari warung dan bersiap menuju rumah. Diluar, waktu gue mau ngebonceng om, gue lihat dengan jelas tulisan di sebelah pintu masuk warung :

“NASI KUNING RP.3500, TEH HANGAT RP.1000”

Gue geleng-geleng kepala. Akhirnya gue pun tau alasan warung nasi kuning itu buka di H+2 lebaran. Mereka punya teori sendiri bahwasanya setelah lebaran, orang-orang pasti dapet THR, dari situ mereka nggak segan buat naikin harga sebanyak 2 kali lipat, toh, pembeli udah dapet THR juga.

Tapi, dari situ, gue pun tau, gue salah masuk warung yang menjalankan teori itu. Gue udah nggak dapet THR, tapi gue masih aja dapet kenaikan harga sebanyak 2 kali lipat.

YA APES !

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam kuis “Pengalaman mudik seru kamu dengan smartfren” yang diadakan oleh @Smarfrenworld

Advertisements

55 comments

  1. Aku juga februari loh. *ups
    Hahaha. Namanya juga lebaran. Harga naik lah.. Makanya, cari tahu dlu sebelumnya biar gak mahal kyk gitu.. 😀

  2. Eh tapi lahiran dari dukun beranak dengan biaya 25.000 rupiah ternyata mampu mencetak penulis keren gini yo? 😀
    Kudu banyak bersyukur tenan.

      1. Sama-sama. Ngapunten ingkang kathah nggeh 😀
        Maaf jika banyak komen yang kurang berkenan 🙂

  3. tenang bri, berarti di hari biasa harga nasi kuning itu ga kalah sama harga kelahiran kamu 😀
    tapi bagus loh km dari lahirannya aja udah ga nyusahin ortu, apalagi gedenya 😀
    btw, mantep as always ceritanya~ :9

    1. hahah iya ya ._. tapi kan tetep aja beda tipis sama harga 4 nasi kuning itu ._.

      hihih iya dong, terus berusaha buat nggak nyusahin orang tua ini :3

      makasih banyaaaaaaaaak ya Ica :3

  4. salam kenal juga. tumben kunjungan ke sini
    minta ijin sama tuan rumahnya dulu, mas febri saya boleh mampir kan? he he he
    dari jamban bloger akhirnya sampai di sini.

  5. Kocak ni, saya sampe ketawa ketiwi sendiri mbacanya.. :D. .bukan apes lagi tuh, double apes… pertama hampir celaka karna sopir travel, kedua dapet kenaikan harga 2x lipat.. selamat atas double apesnya masbro… 😀

  6. Hai kamu, anak yang dilahirkan di dukun beranak dengan biaya 25.000 rupiah. Maaf lahir batin ya, biar afdol jadi itu ngejek dulu hehehe. Eh iya, semoga tulisan nya menang ya! Kecipratan traktiran bolehlaaaah..

    1. hey you, kamu yang mengejekku dengan menyebut aku lahir di dukun beranak dengan biaya 25.000 rupiah, mohon maaf lahir batin juga ya. ini Afdol juga ya ._. wkwk. Amin ya Allah. bisyaak. aku traktir kuliner di Bandung, tapi mbak Fasya yang nanggung PP aku ke Bandung :p

  7. KENAPAH LAHIRNYA BISA SAMAAN GITU TANGGAL 9 FEBRUARI!!!
    kenapa pula harus lahir bareng sama anak yang dilahirkan di dukun beranak dengan biaya 25.000 rupiah, atau jangan jangan kita anak yang tertukar? *jengjeng
    Untung beda satu tahun deh, jadi masih imut sinian muehehe

    1. KENAPA LO IKUT-IKUTAN GUE LAHIRNYA? SIAPA IBUK KAMU? SIAPAAAAA PACARKU???
      ya kalik putra yang tertukar… gue udah mampir blog lo eh, dan gilak. tampilan lo keren abis. ajari dong 😀

      waini, NGGAK. IMUTAN GUE !!! wkwkwkw :p

      1. ELO YANG NGIKUTIN GUE HIH! TERUS-TERUSIN AJA DEH, IYA AKU TERUS YANG SALAH! *kemudian drama
        muehehe cuma ditonjolin bagian desain aja kok, modal corel draw + dreamweaver aja 😀

        IMUT GUE, ELO MARMUT! TITIK. #aposeh

      2. TIDAK. EH, IYA. KAMU YANG SALAH. KAMU NGGAK PERNAH MAU NGALAH. AKU BINGUNG LAGI HARUS GIMANA :(*yoo lanjut yooo

        gilak, apaan itu dreamwaver. tapi desain blognya tetep di otak-atik kan ya? keren loh jadinya 😀 bikin pengunjung betah 😀

        OKE, GUE MARMUT YANG IMUT *ini apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s