Kisah cinta seorang teman #3

“Semua berawal di libur semester 1 kemarin” Trisna menunjukkan layar hapenya “Cewek ini cantik nggak menurut lo?” lanjutnya.

Gue merebut hapenya dan melihat isi foto yang Trisna tunjukin.

“Gilak, cantik banget ini. Siapa? Mana buat gue sini” buat manusia tampan yang jomblo, ini biasa kan?

“Dia Luna. Liburan semester kemarin gue, Rama sama Ayu pengen liburan ke Solo. Awalnya kami mau berangkat bertiga, tapi karena terkesan ganjil, akhirnya Ayu ngajak Luna”

“H-1 sebelum berangkat ke Solo, kami berempat ketemuan buat makan bareng. Di tempat makan itu, gue sama Rama berkomitmen buat nggak jatuh hati sama Luna karena waktu itu, gue masih pendekatan sama Mini dan Rama masih pendekatan sama Indah. Layaknya maho yang menjalin hubungan, jari kelingking kami pun berkaitan”

“Kapan lo cerita kesolonya? Lama banget, malah mbahas kemahoan lo sama Rama” gue menyela.

“Sabar nyet, habis ini juga gue ceritain” jawabnya

“Esok harinya, kami melakukan perjalanan ke Solo. Setelah melakukan kertas gunting batu sama Rama, akhirnya gue mendapat kesempatan buat nebengin Luna dan Rama nebengin Ayu”

“Waktu kami sampai Solo dan mau menuju ke sebuah air terjun, Luna yang nebeng gue cerita kalau Rama itu ngejar-ngejar dia terus. Terkesan ada rasa sama Luna. Padahal, gebetan Rama sekarang, Indah, itu sahabatan sama Luna”

“Bentar” gue kembali menyela “Bukannya di H-1 lo sama Rama udah berkaitan jari kelingking buat berjanji nggak akan jatuh hati sama Luna ya?”

“Ya… tapi, cowok mana yang akan setia sama komitmennya kalau udah liat cewek bening, Feb. Hampir semua cowok itu bangsat, kecuali gue. Gue masih berkomitmen.”

“Oke. Oke. Lanjut” gue nurut.

“Dibawah Air terjun, waktu Rama sibuk nampungin air buat diminum, Luna berbisik ke gue : ‘gimana kalau gue pura-pura suka sama lo biar Rama ngejauh dari gue’  karena itu adalah kesempatan buat gue terlihat laku, akhirnya gue mengiyakan.

“TERLIHAT LAKU GIMANA???!!! ITU KAN CUMA PURA-PURA DOANG!!!” gue nggak terima Trisna mendeklarasikan dirinya kalau dia laku.

“Dalam hal ini sah-sah aja, coi. Lo belum pernah kan pura-pura di sukain sama cowok yang kata lo sendiri tadi cantik”

“Belum sih”

“Cemeeen abisssss”

“Oke, Fain”

Gue emang nggak pernah pura-pura disukain cewek. Apa yang bisa dibanggain coba dari suka yang pura-pura? Biarpun itu dari cewek secantik Aura Kasih, kalau suka yang dikasih cuma pura-pura, ya sama aja. Nggak nyata. Gue mah pernahnya dijadiin pelarian. Tau makna pelarian? Di jadiin pacar cuma biar si dia move on dari mantan, kalau udah move on, baru deh ditinggalin. Itu. Gue abis. Dan. Gue. Bangga. Asololeeeeh.

“Beberapa hari kemudian, sepulang dari solo, Rama ngajakin Luna buat jalan. Tapi, Luna selalu nolak dengan alasan ‘gue nggak mau jalan kalau nggak sama Trisna’ kece abis. Rama pun terus dipanas-panasin sama Luna, sampai akhirnya Rama nggak sabar dan nanyain ke Luna ‘lo suka sama Trisna kah?’ dan di jawab ‘iya’ sama Luna”

“Karena merasa gagal, Rama pun menjauh dari Luna dan kembali ngejar Indah. Naas, ternyata Luna cerita ke Indah tentang Rama yang ngejar dia. Akhirnya, gak beberapa lama, Indah menjauh dari Rama. Dia gagal dapet dua-duanya”

“Lah? Kok lo malah nyeritain kisah Rama? Ini yang lo maksud penggebetan unik?” gue bingung. Kalian juga? Yaudah sama, yuk jadian.

“Benang merahnya disini. Gara-gara Luna yang pura-pura suka sama gue, akhirnya, gue pun terbawa dan jatuh hati sama dia”

“Ternyata, lo juga cowok bangsat ya Na” Gue geleng-geleng kepala.

“Iya. Luna bening banget soalnya” Trisna ikutan geleng-geleng kepala “Gue nggak tau apa Luna ngerti kalau gue suka sama dia atau enggak, yang jelas, hari-hari itu, gue semakin sering jalan bareng Luna. Sampai akhirnya… gue tau, rasa suka yang gue beri ke Luna bertepuk sebelah tangan. Luna cerita kalau dia suka sama kakak angkatannya. Jelas, seketika itu, gue yang biasanya riang gembira kalau ketemu Luna, sekarang, jadi diem dan nggak bisa apa-apa”

“Seiring berjalannya waktu, Luna akhirnya tau perubahan yang gue alami. Di sebuah rumah makan, waktu dia cerita tentang gebetan barunya itu dan gue menanggapi dengan jutek, dia menggebrak meja. Raut wajahnya nanar, emosinya meluap, dan saat itu, gue tau, itulah akhir dari kepura-puraan dan kedekatan gue sama Luna. Yaudaaaaaaah, kami lost contact”

“Selesai?” gue bertanya.

“Belum. 2 hari setelah gue lostcontact sama Luna, di malam hari yang tenang, waktu gue pulang fitness, gue dapet pesan dari Indah, sahabatnya Luna. Dia bilang kalau akhir-akhir ini yang Luna sering ceritain ke gue tentang gebetannya itu cuma pura-pura biar gue menjauh dari Luna. Dari situ gue pun tau, bahwasanya cinta, emang nggak pantes buat pura-pura”  Trisna menutup dengan tampang sok tegar.

Gue cuma bisa geleng-geleng kepala lagi. Ada ya cewek yang setega itu bermain dengan kepura-puraan?

“Sekarang, selesai?” gue kambali bertanya.

“Ya. Selesai. Belum ada lagi sosok perempuan yang pantas gue jadiin gebetan.” Jawabnya singkat.

“Ya, belum ada lagi sosok hantu yang pantas disamain sama manusia, kecuali kamu”

Enggak, kalimat itu cuma ada di otak. Gue nggak pernah ada niatan buruk buat ngebully si Trisna kampret curut capicirit itu kok.

Selesai dengan curhatan Trisna, gue pun bersiap-siap buat pulang. Mengemaskan beberapa barang-barang yang berserakan, kemudian berdiri dan beranjak.

Baru di depan pintu, waktu gue memegang gagang pintu itu, tiba-tiba hape Trisna bunyi “Centung”, gue pun menoleh. Terjadi hening persekian detik, kemudian Trisna mengeluh ringan.

“Huh, Luna” dia menatap gue “Hay Trisna, Apa kabar? udah lama nih nggak tukar kabar. sombong ya. Hehehe” ucapnya membaca pesan yang barusan dia terima.

“Jadi, belum selesai?” gue mulai membuka pintu.

“Kayaknya, cerita ini bakal bersambung. Oh perempuan, derita apa lagi yang akan engkau berikaaaaan” keluhnya.

Gue keluar dari kamarnya, kemudian menutup pintu itu dari luar.

Ternyata, ada hal yang lebih menyakitkan dari sekedar Friendzone.

Ya,

Pura-purazone.

Advertisements

23 comments

  1. Jadi lo pernah dijadiin pelarian? gue hampir. Hampir. 😦
    Hmm emang gak ada yang pernah bener dari kepura-puraan. Kecuali pura-pura dalam perahu. Apasih gue. ._. Hahaha.

    1. pernah banget bang. dan itu pacaran pertama gue coba 😦 sakit banget. peluk bang, usep-usep mukaku pake rambut enggak keribomu bang 😦

      aaaa kura-kura dalam perahu kertas kalik bang wkwkw

  2. Lah lah lah fakyu , terlalu dibutakan oleh pandangan feb trus akhirnya menepis ingatan dan kenyataan kalau tu 2 orang cewek sahabatan . Lah kok ujung ujunge aku malah curcol e . Fak feb mending dihapus ini , menjatuhkan reputasiku wae ckck

      1. Hahaha lah kamu ngapain malah di tulis di blog , pada baca anak anak ketawa ngakak asem banget sih ya kwkwwkwkwk . Gpp ding sekarang kan udah tobat , udah setia feb doain aja aku bisa terus sama sama si PSN hahaha

  3. Curhatane trisna tp ada akunya juga keles wwkwwk wah wah tp gpp wes seenggaknya nama 2 ceweknya diganti semua 😀 ternyata yo yang jadi luna itu juga baca blogmu ndes rus tadi minta maaf trus kita maaf maafan dan temenan baik skarang haha . PSN seng tak omong lewat bbm , diem ae gk usah frontal lg -_-

      1. Hahaha seoerti itulah , terkadang ada kalanya kan mengikhlaskan orang yang kita sayang bahagia dengan caranya sendiri daripada kita memaksakan untuk bersama tapi ujung ujungnya terpisah juga , lebuh baik selalu ada disampingnya dan meluhatnya bahagia walau bukan dengan kita . Woh sangare kata kataku hahaha . Okeoke ntar tak sampaikan salammu kalo ktmu mereka lg .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s