Kisah cinta seorang teman

Terkadang, kita bisa dengan mudah membanggakan keseharian kita dengan seseorang yang hanya kita anggap sebagai teman.

Tau maksudnya?

Gini, gue sering banget ketemu temen-temen yang tiap kali nongkrong mereka selalu membanggakan sesuatu yang udah dijalani bareng temen.

“Semalem gue belajar bareng Tania, gilak, dia cantik banget”

“Lo tau nggak, kemarin gue ngementorin si Chika fitness, duh. Panas abis rasanya.”

Oke sih, nggak masalah, tapi yang gue takutin, dalam pandangan gue menerawang kalau mungkin di suduuuuut yang lain, Tania sama Chika pun lagi curhat sama temennya :

“Njiiir, kemarin gue belajar sama Wisnu, nothing banget. Nggak ada ilmu yang gue dapet”

“Aih kapok. Dimentorin Fitness sama Dika itu lebih kayak di mentorin semesta buat tabah menahan bau ketek yang Naudzubillah”

Toh, itu juga temen, nggak perlu terlalu dibanggain banget-banget ke temen-temen yang lain. Akan sangat membahayakan kalau tiba-tiba temen yang denger cerita lo itu bakal balik tanya :

“Oh, sama temen. Terus, kisahmu sama gebetanmu, seindah itukah?”

SKAKMAT !

Pertanyaan yang sama persis pernah gue sodorin ke temen gue, Trisna.

Di sore hari yang damai, gue membuang-buang waktu buat nunggu buka puasa. Hasilnya, gue mampir ke kost Trisna. Disana, gue lihat dia lagi sibuk dengan beberapa kertas lembar soal. Gue bisa membuat pengakuan kalau temen gue satu ini emang tekun, dia selalu ada usaha untuk mencapai apa yang dia mau. Waktu dia pengen dapet nilai A, dia belajaaar siang dan malam. Waktu dia pengen punya tubuh yang sispek, dia membuat jadwal fitness, makan dan tidur. Keren pokoknya perjuangannya. Tapi, gue menunggu, kapan dia ada waktu buat sadar kalau mukanya berantakan, lalu ada keinginan buat merapikannya? Ya, gue menunggu.

“Kemarin gue ngajarin Nela belajar komgraf loh, terus gue ketiduran disampingnya. Aaaaaa”

Nela adalah temen kelas Trisna, dia terkenal sebagai cewek tercantik di angkatannya. Gue nggak bisa ngebayangin, cewek cantik bisa sedeket itu sama tempat sampah.

“Oh? Oke oke” gue menjawab seadanya.

“Haha ternyata, bahagia sesederhana itu ya?” Trisna menjawab pelan, sambil merebahkan badannya di kasur.

Gue menoleh ke arahnya. Tanpa ada komando yang berarti, mulut gue bersuara :

“Sesederhana itukah, kisahmu sama gebetanmu?”

Mata Trisna terbelalak, kemudian dia bangkit dari rebahannya dan memandangi gue dalam. Gue muntah.

“Kenapa pembahasannya ke gebetan ._. yah”

“Soalnya, tiap kali gue kesini, lo selalu cerita masalah temen lo, temen lo dan temen lo. Sekali-kali, gue pengen tau, gimana perjalanan lo ngejar gebetan. Seindah lo sama temen lo itukah?”

Trisna diem beberapa saat. Tangan kanannya menopang dagu. Tampangnya memelas. Gue bodo amat. Dia pun mengambil laptop dan diletakkannya di pangkuan. Bunyi “cetak cetik” dari mousenya seakan memberi bayangan kalau dia lagi menggeledah folder di laptopnya, sampai akhirnya dia menunjukkan file foto ke gue, sambil bilang pelan :

“Ini gebetan pertama gue”

Gue mengamati foto cewek itu, kemudian berpaling mengamati tampang Trisna, mengamati foto cewek itu lagi, terakhir gue berpaling mengamati tampang Trisna sambil bertanya :

“Jadian?”

“Enggak” jawabnya. Syukurlah, cewek itu sudah berjalan di jalan yang benar. Gue pun sujud syukur.

“Gimana cerita lo sama dia?” pancing gue.

“Jadi gini, dulu waktu masih kelas 3 SD, gue suka sama tetangga gue, Vita. Layaknya suka-sukaan di masa SD, gue sama dia main bareng. Nyenengin. Nggak ada aturan-aturan yang berarti. Main ya main. Sampai akhirnya… naik kelas 4, dia pindah ke luar kota. Waktu itu, untuk pertama kalinya gue tau rasanya kehilangan”

Trisna meletakkan laptopnya di meja, kemudian dia kembali merebahkan badan.

“Udah? Gitu doang?” tanya gue penasaran.

“Kelas 1 SMP kami ketemu lagi, di sekolah yang sama. Tanpa scenario yang berarti, kami pun menjadi semakin akrab. Bahkan, kami seperti tergabung dalam sebuah gank berkelompokkan 4 orang : Gue, Vita, Manda, sama Rio. Kemanapun setiap disekolah, kami selalu bersama. Awalnya, gue mengira dengan adanya gank ini, rencana pendekatan gue akan terbantu. Nyatanya, ENGGAK !”

Gue cuma bisa manggut-manggut.

“Rio suka sama Vita. Gue suka sama Vita. Manda suka sama gue”

“Bentar” gue kembali menyela “Kalimat yang terakhir ngga enak didenger. Manda suka sama lo?”

“Iya. Seriusan. Manda suka sama gue. Tapi dia tau kalau gue suka sama Vita”

Percaya sama gue, kalau kalian tau gimana tampang Trisna, 98% dari kalian bakal menyela dan kaget persis sama apa yang gue lakuin tiap kali denger Trisna ngomong kalau disukai duluan sama cewek. Serius. Percaya. Oke? Percaya aja. Nggak mungkin banget.

“Hal yang sama sekali nggak gue pengen pun akhirnya kejadian” Dia melanjutkan “Rio nembak Vita, dan ditrima. Gue kedahuluan. Waktu itu, hal pertama yang terbesit di benak gue adalah ternyata dalam hal cinta, sahabat satu gank sekalipun bisa menjadi pesaing terberat. Gue pun mundur dari perkumpulan gank tersebut, menjaga mata, demi kesejahteraan hati. Manda, dia orang yang pertama kali menyadari kemunduran gue dari gank, juga dia pula yang menyadari bahwa ada rasa yang gue beri ke Vita. Dia pun marah. Cuma karena cinta semacam itu, persahabatan buyar? Memalukan, gitu katanya. Akhirnya, gue nggak jadi mundur dari gank, dan menahan semua rasa yang ada untuk bisa move on”

“Selama SMP, lo nggak punya pacar?” gue bertanya lagi.

“Punya”

“Siapa? Manda?”

“Bukan. Orang lain. Lo nggak kenal”

Gue manggut-manggut tampan.

“Lulus SMP, gue sama Vita masuk ke sekolah yang berbeda. Walaupun berbeda sekolah, dia tetep ngasih kabar ke gue. Bahkan, dia curhat masalah hubungannya ke gue kalau dia barusan putus. Waktu itu, gue merasa seneng karena itu pertanda gue bisa ngejar dia lagi. Tapi, dilain sisi, gue sedih, gue masih menjalani hubungan sama cewek lain”

Gue menunggu Trisna melanjutkan kalimatnya dengan kata : “Gue juga miris kalau ngaca, kenapa tampang gue begini” tapi sayang, kalimat itu nggak keluar dari mulutnya.

“Akhirnya, waktu gue berada pada posisi bimbang, temen smp gue, Dafa, dia datang buat curhat kalau selama SMP, dia suka sama Vita” Trisna bangkit kembali dari rebahannya, kemudia duduk bersila di depan gue.

“Terus?” gue menopang dagu.

“Ya, gue nyomblangin mereka. Sampai akhirnya, mereka jadian… sampai sekarang”

KEREEEEEEN!!!

Banyak orang tidak percaya dengan istilah mencintai tanpa memiliki. Gue mengutip sebuah quote dari film You’re the apple of my eye :

“Ternyata, ketika kamu sangat menyukai seorang wanita, ketika ada seseorang yang mengasihinya, mencintainya, maka kamu akan benar-benar dari hati yang paling dalam mendoakan dia bahagia selamanya”

Dari situ, dari curhatan Trisna pula, gue mulai percaya kalau terkadang, ketika kita mencintai seorang wanita dan kita gagal untuk mendapatkannya atau bahkan terhalang untuk berjuang mengejarnya, lalu ada orang lain yang berniat membahagiakannya, kita bisa dengan senang hati membantu orang lain tersebut, dengan alasan, dia orang yang kita suka bahagia.

Ya. Sederhana.

Gue memegang alih laptop Trisna. Memandangi foto mantan gebetan Trisna untuk beberapa saat kembali, kemudian dengan cursor mouse, gue menekan tulisan “next” ada foto cewek yang berbeda.

“Ini siapa Na?”

“Itu, gebetan gue, setelah Vita”

Hmm… kayaknya, postingan ini akan berlanjut ke part 2 hahaha

Advertisements

9 comments

  1. You are the apple pf my eyeeesss. Keren tuh film, tapi miris pas udah di akhir. Hehehe. Ditunggu part 2 kisahnya si trisna yak mas feb. Kasian tuh jangan diledekin mulu anak orang. \:D/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s