Buta Mode

Semua orang mengikuti perkembangan mode.

Gue yakin, secupu-cupunya orang, pasti si cupu itu tetap mengikuti perkembangan mode. Bedanya, kalau kita udah berkembang di zaman 2000an, si cupu masih berkembang ke zaman 800an. Jauh.

Dilihat dari sudut pandang manapun, orang yang bener-bener mengikuti perkembangan mode secara berkala, dia akan terlihat berkelas daripada yang lainnya. Sedangkan buat orang-cupu yang menderita keterbelakangan dalam mengikuti perkembangan mode, dia tetap akan terlihat berkelas… daripada kaum primitive lainnya.

Di lingkungan kuliah, gue sering banget ngelihat ada beberapa orang yang memegang erat budaya mode-hooligan.

Ada cewek yang buntelan hijabnya njelimet abis, sampai-sampai butuh linggis sebagai pengganti peniti buat membantu mengencangkan buntelan hijab itu biar nggak lepas.

Ada cowok yang doyaan banget make celana pensil skinny honey bunny jeans. Unyu banget skinnynya, sampai-sampai gue susah mbedain itu skinny jeans atau legging.

Gimana dengan gue?

Yak, gue termasuk orang yang cupu abis. Gue nggak bisa mengikuti alur mode yang dinamis abis. Setiap kali gue berganti style sesuai mode di zaman itu, secara otomatis, beberapa hari kemudian mode itu berganti ke mode yang lebih baru lagi.

Dari SMP, gue termasuk orang yang taat tata tertib. Dikala temen-temen mengubah bentuk celananya dengan model beagie, street, pensil, hip-hop atau hopya hopya yang lainnya, celana gue kala itu congklang abis, mirip kayak celana ustad-ustad berjenggot.

Untuk ukuran anak SMP yang dulu pernah ngeband, gue sebagai manusia yang buta akan mode merasa kalau style gue dibawah ini adalah kece abis :

Frequeenz Band 5

Akhirnya, setelah gue mencermati jauh lebih dalam dan lebiiiiih dalam lagi, gue merasa kalau style gue dulu itu menjijaykan abissssss. Bahkan sampai sekarang batin gue berteriak-teriak lantang “ITU BUKAN GUE… ITU BUKAN GUEEE!!!!!!!!!!”

Masuk ke SMA. Bukan membaik tapi malah MEMBURUK. Kelas 2 SMA adalah zaman dimana Pee Wee Gaskins mulai masuk TV, dari situ, gue merasa kalau tampang gue itu mirip Dochi Sadega. Gue pun meniru stylenya, karena menurut gue, waktu itu style Dochi itu antimainstream :

IMG_2737

Subhanallah. Dulu banget, mungkin gue terlihat antimainstream dan keren (menurut gue sendiri) namun sekarang, Naudzubillah, gue nggak bisa mengomentari gimana tampang gue dulu. Hina. Sungguh hina.

Peraturan disekolah gue waktu SMA dulu adalah mewajibkan siswanya memakai Dasi setiap hari senin sampai kamis. Padahal, seragam osis gue dulu itu lengan pendek semua. Bisa ngebayangin seragam lengan pendek dipakein dasi? Bisa mbayangin juga, orang yang tampangnya kayak pispot pake seragam lengan pendek + berdasi? Oke, nggausah dibayangin. Diliatin aja nih :

IMG_3441

Oke. Cukup.

Masuk ke Zona perkuliahan, gue pun berniat untuk mengupdate pengetahuan tentang “Mode”. Di mesin pencari google, gue berulang kali mengetikkan keywoard tentang mode. Karena pengetahuan gue yang amat sangaaaat dangkal ini, gue awali pencarian dengan bertanya pada mbah google tentang apa itu mode?

Lumayan lama gue menunggu loading dari mesin pencari mbah google, akhirnya, hasil yang gue dapat adalah :

Screen_20140704_204831

Bahkan, untuk sebuah mesin pencari google, dia mengetahui betapa kampungannya gue. Gue pun mengalah. Mengangguk-ngangguk pasrah di depan layar laptop. Akhirnya, mbah Google memaklumi dan mencarikan gue solusi buat mengupdate perkembangan mode gue.

Ditemukanlah sebuah website kece tentang fashion “Zalora”. Disana, gue bener-bener melihat bagaimana seorang cowok yang hanya berbalutkan sebuah jaket, sweater dan kaos bisa  terlihat keren. Kali ini, gue mendapat hidayah, mungkin “Zalora” lah solusi buat gue meningkatkan kredibilitas akan dunia Fashion.

Dan semenjak itu, gue menabung dan menabung untuk bisa membeli salah satu catalog di album “Zalora” ini.

Sampai akhirnya…. Sampai sekarang, tabungan gue masih belum cukup buat beli salah satu catalog itu.

Gue cuma bisa pasrah, dan berdoa, semoga orang-orang lain yang cupu akan mode diluar sana pun bisa mendapat hidayah dari tulisan ini, lalu membuka website “Zalora” dan membeli beberapa catalog di album itu………… kemudian mengirimkannya ke alamat rumah gue.

Amin.

Advertisements

22 comments

    1. kece abis ._. menghina gitu mbak hasilnya wkwkwkw

      baru dalam proses pengumpulan dana nih 😀 . Mbak Nuria udah buka dan beli itu katalog terus berniat mengirimkannya ke alamat rumahku juga beluuum hayooo :p

    1. sama brati mbak.mode-mode itu berkembang terus, aku capek ngikutinnya, lelaaaaaah.

      wkwkwkw waiya, model hijab sekarang semakin ribet ._.. mbak aqied kayaknya itu jilbabannya simple aja ya :p

      1. Hahahaha. Iya. Aku males sih. Suka lupa pula naroh peniti jarum pentul. Jd jilbaban ya pake selembar aja plus jarumnya satu juga. 🙂

      2. HAh? seriusan? aku kemarin terakhir kali mangkal disana belum ada peraturan boleh hijab gitu mbak ._. sekarang, semakin maju ya dunia pengondekan

  1. Buta mode masih mending daripada korban mode. Jatohnya malah keliatan mengerikan, segala macem aksesoris dipake. Warna baju, celana, sepatu gak selaras. Ngebayanginnya aja gua udah nyerah..
    Btw, salam kenal bro. 🙂

  2. Ih. Perasaan gue udah komen di sini ya. Hahaha. Lagi rame nih ya soal zalora-zaloraan. :p
    Dan itu yang pee wee gaskins emang rame banget ya sampe ke mana-mana. Dari yang ngepens sampe yang anti. Hahha.

    1. kayaknya iya deh, berati bangkribo udah 2 kali komen disini, sekali lagi dapet gratisan rebonding mas.
      ekeke ho’oh, kayaknya zalora lagi naik daun 😀
      aku pernah jadi korban yang ngefans sama korbanyang di antiin 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s