Tentang cita-cita

            Cita-cita…

            Semua orang pasti pernah punya cita-cita.

            Kita semua nggak tau, kapan cita-cita itu bisa tercapai. Yang kita tau, kita cuma harus berusaha keras untuk bisa cepat-cepat mewujudkan cita-cita itu.

            Waktu masih SD, gue belum berani bercita-cita. Yang biasa gue lakuin waktu itu cuma berkhayal di dalam kamar. Beberapa khayalan yang paling gue inget waktu itu adalah :

  1. Gue jadi tsubasa, terus punya tendangan elang.
  2. Main kartu Yu-Gi-Oh, dari kartu itu keluar monster beneran.
  3. Main Crushgear, terus nglemparin itu Crushgear ke muka temen yang nikung gebetan gue.

            Nggak, yang nomer 3 tentu cuma khayalan yang terlalu berkhayal. Gue belum begitu tau tentang tikung-menikung waktu itu.

            Menjelang masuk di kelas 1 SMP, gue mulai berani menyusun cita-cita. Sepak bola. Ya, hal yang mendasari kenapa gue memilih sepak bola sebagai cita-cita pertama gue adalah : keren abis. Menurut pandangan awam gue waktu itu, main bola cuma sekedar dribble, tackling, passing, dan shooting doang, jadi, gak menjadi hal mustahil buat gue meraih cita-cita pertama itu.

            Gue mulai ikut ekstrakulikuler Sepak bola di sekolah. Dari situ, gue mulai tau kalau dunia sepak bola itu kampret abis. Yoik, latihannya doang yang enak. Waktu latihan, sang pelatih menyeleksi beberapa siswa buat tanding lawan sekolah lain. Gue lolos seleksi. Waktu hari pertandingan itu tiba, gilak, musuhnya ganas abis. Sekolah gue dibantai 5-0, dan gue dengan sukses cuma main selama 12 menit. Kampret.

            Keesokan harinya, gue diketawain beberapa orang, mulai dari temen satu angkatan sampai kakak angkatan. Usut punya usut, gue diketawain bukan cuma karena permainan gue kemarin kayak babi lepas, tapi, gue diketawain karena di mading sekolah ada foto gue lagi naliin tali sepatu kiper tim gue.

            Jadi ceritanya, waktu gue diganti sama pemain lain. Gue duduk di pinggir lapangan. Gak beberapa lama kemudian, si kipper manggil gue. Dengan enteng dia bilang :

            “Feb, sini bantu gue”

            Gue dengan jumawa nyamperin dia.

            “Bantu apa?”

            “Taliin sepatu gue, ini gue pake kaos tangan nggak bisa nali sepatu sendiri”

            PREKETEK.

            Jadi, setelah gue lihat foto di mading, gue langsung mikir “siapa nih oknum gak bertanggung jawab yang berani nurunin harga diri gue”. Entah bisa dibanggain atau enggak, di bawah foto itu ada tulisan :

            “INDAHNYA HIDUP SALING TOLONG-MENOLONG”

            INDAH PALA LO PEYANG -_-.

            Setelah kejadian itu, nggak tau kenapa, gue milih buat berhenti ikutan ekstrakulikuler sepak bola lagi.

            Masuk ke kelas 3 SMP, gue punya cita-cita baru. Jadi anak band. Jujur, waktu itu, gue yakin, gue punya suara emas.

            Untuk merealisasikan cita-cita itu, gue pun ngebentuk sebuah band. Namanya Freaqueenz. Ada beberapa personil didalamnya, dengan gue sebagai vokalisnya. Terhitung di masa SMP, gue manggung bersama Freaqueenz sebanyak 2x, setelah itu, gue lulus.

            Masuk di SMA, gue berencana mempertahankan Freaqueenz, namun sayang, karena semua personil tersebar ke sekolah yang berbeda, akhirnya, Freaqueenz pun bubar.

            Belajar dari pengalaman yang dulu pernah menyerah mencapai cita-cita sebagai pemain bola, kali ini gue pun nggak mau itu terulang kembali. Gue buat band lagi, namanya Pigwidgeon. Awalnya berjalan mulus. Bersama pigwidgeon, gue sempet mampir di sebuah radio Jogja buat main acoustic. Setelah itu, tanpa alasan yang jelas, Pigwidgeon memilih untuk bubar, seiring keluarnya beberapa personil. Akhirnya, hal yang terjadi waktu SMP terulang. Gue berhenti main band. Cita-cita kedua gue. Gagal.

            Lo semua yang mau liat gimana gue nyanyi, boleh banget buka ini, mungkin, gue gagal jadi anak band karena gue keseringan main sama temen gue si kampret di video itu.

            Sisa-sisa masa SMA, gue belum berani bercita-cita lagi. Sempet tersirat dalam benak untuk menjadi manusia selfie, namun apa daya, sekalinya gue selfie, gue pun prihatin sendiri. Nampaknya untuk tampang memang tak bisa tertolong.

            Masuklah gue ke masa Kuliah. Ini adalah awal mula gue mengenal dunia blog dan kepenulisan. Akhirnya, dengan pinangan bismilah, gue membuat cita-cita baru : PENULIS.

            Titik awal perjalanan gue untuk mencapai cita-cita sebagai penulis adalah dengan membuat Blog. Dalam blog ini, beberapa posting tulisan tentang pengalaman hidup gue pribadi pun tersebar. Hal sederhana yang membuat gue puas dan mendapat pengakuan adalah ketika mulai adanya pengunjung yang “tersesat” dan adanya pengunjung yang meninggalkan “jejak”. Buat seorang blogger, terkadang sebuah pengakuan, kritik dan saran tentang tulisannya adalah sebuah kebanggaan tersendiri, karena dari situ seorang blogger akan terus belajar dan berkembang.

            Sebagai orang yang bercita-cita sebagai seorang penulis, gue pun ada pikiran untuk menulis sebuah buku. Akhirnya, dengan tekad yang membara, gue membuat folder baru di laptop. Didalam folder tersebut, gue membuka file Microsoft word, disitu, gue menulis bagian Prolog.

            Tulisan-tulisan itu terus berkembang dan semakin beranak halamannya. Waktu yang gue habisin buat nulis waktu itu sekitar 8 bulan, dari awal Januari 2013 sampai Agustus 2013. Itu juga cuma sebatas naskah kotor.

            Setelah naskah kotor selesai, gue pun membaca ulang dan merevisi naskah kotor gue itu berulang kali. Sampai akhirnya, pada akhir bulan Oktober 2013, gue memberanikan mengirim naskah itu kepada sebuah penerbit.

            Naskah telah dikirim. Gue pun hanya tinggal menunggu, dan menunggu. Dalam beberapa tulisan di naskah terbitan penerbit yang gue kirimi naskah, maksimal pemberitahuan diterima atau tidaknya naskah itu maksimal 3 bulan.

            Gue masih menunggu… sampai masuk di bulan Februari, gue masih belum dapat kabar. Gue pun memberanikan diri buat bertanya kepada editor penerbit tersebut via twitter, ditanggapi, tapi kurang memuaskan. Gue pun menelepon pihak redaksi penerbit tersebut, katanya, naskah gue masih ditangan editor. Oke, gue menunggu.

            Masuk di bulan April, gue datang di acara meet and greet sebuah penulis jebolan penerbit tempat gue mengirim naskah. Entah kebetulan atau tidak, gue dipertemukan dengan seorang editor komedi penerbit tersebut. Dengan mencari-cari waktu buat ngobrol, akhirnya gue mendapat kesempatan buat ngobrol juga.

            Dalam obrolan itu, gue langsung menjurus ke topik perihal naskah gue yang entah bagaimana nasibnya. Setelah obrolan panjang, ternyata sang editor tau naskah gue. Dan akhirnya, nasib naskah gue itu terbongkar :

            “Naskah kamu itu temanya udah terlalu umum Feb. jadi, kami tolak ya naskah kamu”

            Begitu sang editor berucap. Seketika, muka gue memucat. Jelek abis muka gue waktu itu. Karena editor itu peka, kemudian sang editor menutup percakapan dengan berkata :

            “Tapi, kamu jangan berhenti buat nulis loh Feb”

            Gue tersenyum.

            Beberapa hari setelah itu, gue bingung. Cita-cita gue yang ketiga ini lagi-lagi gagal. Merenung, itu yang gue lakukan. Gue kembali melihat masa lalu. begitu mudahnya gue beralih dari cita-cita satu yang gagal ke cita-cita kedua yang akhirnya pun gagal juga. Kenapa gue nggak berusaha maksimal buat mencapai satu cita-cita terlebih dahulu? Bukannya, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda?

            Penerbit Indie. Itulah yang membuat gue menutup masa lalu tentang cita-cita gue yang suram. Gue masih ada kesempatan buat publish itu naskah ke penerbit indie yang tergolong sedikit lebih mudah daripada penerbit mayor.

            Gue pun mencari informasi tentang penerbit indie. Lalu, munculah nama Nulisbuku.com yang menarik perhatian gue. Tanpa pikir panjang, gue kembali merivisi ulang naskah gue, dan menguploadnya di situs Nulisbuku.com.

            Beberapa waktu setelah upload, naskah pun dikirim ke alamat rumah gue. Itulah pertama kalinya gue melihat hasil karya tulisan gue dalam bentuk buku, dan jujur, gue sangat terharu. Gue cium itu buku pertama gue. Segeralah gue coba pasarin itu buku ke temen-temen lama gue.

            Beberapa temen antusias dan memberi selamat atas lahirnya buku gue. Itu membuat gue semakin terharu.

            Di kampus, gue mencoba menunjukkan buku pertama gue itu ke salah seorang temen.

            “Coi, lo beli buku gue ya?”

            “Buku apaan? Porno?”

            “Ndasmu. Buku tentang kehidupan gue sebagai jomblongenes coi”

            “Ah, ogah ah. Gue pinjem aja. Sama temen sendiri masa perhitungan gitu”

            OOOOOH. Gue khawatir sama nasib buku pertama gue ini selanjutnya.

           

            Buat temen-temen blogger yang “khilaf” pengen beli buku pertamaku, boleh buka disini, disitu ada 10 halaman awal isi buku gue. Kalau tertarik, segera add to chart aja. Kalau terhalang adanya dana, gue tunggu, kumpulin aja dulu, ai lov yu. Kalau emang kalian belum ada yang berminat beli, ya minimal appresiasi bantu promoin :p . kalau dua-duanya emang belum bisa, yaudah, semoga kalian sukses semua. Amin. Makasih, ai lov yu 😀

Advertisements

60 comments

  1. Bantuin promo, gratis satu yaah ? 😀
    itung itung amal shodaqoh, biar makin laris dan barokah tuh bukunya 🙂

      1. Eehh, siapa bilang? Aku kan bilangnya nunggu gratisan darimu 😀

        Aaamiin. Aamiin.
        Semangat jadi orang sukses !

      2. Kagak pehape kok, cuman nge-gantung aje 😀

        Okeh, masuk list deh bukumu, insyaAllah. Sekarang lagi jalanin program #RecehUntukBuku nih 🙂 sabar yooo..

      3. mbak vinda ngegantung abis -_-

        Aaaaaa makasiiiiiiih lagi mbak Vinda, semoga ini enggak pehape atau gantungan atau bookzone. okee aku sabar menunggu 😀

    1. njir, ni juga pernah absurd juga 😀

      aku ngirim naskah tentang jomblo gitu, aku juga udah tau diri sih resiko terbesar ditolak bakal karena masalah tema, tapi, karena udah dibuat, kenapa nggak dicoba, eh akhirnya kejadian juga ditolaknya -_-

      1. Pasti pernah dong, kan kita anak tahun 90-an. Emang bocah jaman sekarang pengen jadi angry bird.

        Hmm..
        Gua ganti tema untuk ikutan #KAMFRET ah, jangan jomlo lagi. keknya memang udah umum banget.

      2. hahahaseeeeem cita-cita jadi angrybird -_- prihatin abis sama anak kecil zaman sekarang wkwkw

        Aaaaah gilak. dapet saingan di #KAMFRET -.-. iya, tapi kalau fiksi komedi kayaknya masih boleh loh. soalnya kan konflik di buat sendiri, jadi, buat aja cerita jomlo yang ganteng maksimal kayak gue, tapi selalu gagal nyari cewek, akhirnya jadi homo *beuh dramatis abis :p.
        semangat buat #KAMFRETNYA mas 😀

      1. Susaaaaaan. susaaaaaaan. kalau gede, umurnya berapa *apasih

        Uwoooooh. wartawan kece, professional yang memberikan berita apa adanya pastinya ya 😀 semoga tercapai do gado 😀

  2. Jangan berhenti menulis, dan jangan salahkan editor kak. Mereka juga tahu pasar loh. Buku apa yang lagi gampang banget dijual, but jika emang kakak yakin penulisan kakak bakal laku. Jual indie adalah jalannya.

    Nice keep bercita2 bro 😀

    1. Bener mas/mbak pictalogi :D, aku nggak nyalahin editor kok, sekarang, semua editor itu idolaku, mereka kece abis 😀 kereeeeen 🙂
      yaaak ini masih berjuang di label indie, semoga, suatu saat nanti bisa tembus mayor 🙂

      makasih Pictalogi 😀

    1. hhehe bingung brati masih dalam pencarian jadi apa yang tepat kedepannya. suatu nanti, pasti tau kok mau jadi apa 🙂 dan semoga, kamu sukse 😀

      Amin 🙂 makasih ya 🙂

  3. GUE PASTI BELI! PASTI! Gue yakin sih nggak mengecewakan. Postingan selanjutnya harus bikin tutorial beli bukunya dongs. Takut banyak yg bingung beli online Feb. \:D/

    1. Bang Kriboooo heavymetal abisssss. koneksi internet akhirnya menghampirimu juga ya bang :D.

      MAKASIH BANGET BANG APRESIASINYA :’) semoga beneran nggak mengecewakan. aah bener, ide bagus 😀 besok dicoba aku tulis tutorialnya bang :D. sekali lagi, terimakasih bang kribo 😀

      1. wkwkw Amin mas. semoga dari buku itu nantinya bisa menyadarkan mas adi kalau… cowok tampan aja bisa ditolak berkali-kali. apalagi cowok kribo gak karuan kayak mas Adi. Uwooooooh :p

  4. waktu gue TK, gue punya cita-cita pengen jadi ranking 10, karena waktu itu menurut gue 10 itu angka yang besar, jadi hebat bisa rank 10 -___-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s