Tukang dodol main iklan

            “Selalu ada orang yang terlalu sibuk memikirkan akhirat hingga tak pernah belajar hidup di dunia ini, lihatlah ke ujung jalan dan kau akan bisa melihat hasilnya”

            Tarno fokus membaca sebuah novel berjudul To Kill a Mockingbird, hasil karya penulis luar negeri bernama Harper Lee yang pernah menang dalam ajang Pulitzer Award, salah satu penghargaan tertinggi di Amerika Serikat pada tahun 1961. Memang, yang Tarno baca hanyalah novel terjemahan bahasa Indonesia dari penerbit lokal. Buku-buku terjemahan semacam inilah yang membantu meningkatkan tingkat minat baca orang Indonesia yang ingin bisa baca novel luar negeri tapi tak bisa Bahasa Inggris.

            Sembari tangan kiri asik menggenggam buku bacaannya, tangan kanan Tarno dengan lihai mengaduk-aduk bahan yang dia siapkan untuk membuat dodol garut, jajanan khas kotanya yang menjadi sumber penghasilan hidupnya.

            Kebiasaanlah yang membuat Tarno sangat lihai mengaduk-ngaduk bahan dasar dodol garut yang menyala di atas api dengan wadah wajan besar hanya  menggunakan satu tangan kanan. Untuk orang-orang awam, hal ini sangat sulit dilakukan.

            Perlu diketahui, selain membuat dodol, Tarno mempunyai kebiasaan lain yaitu selalu menyandarkan tangan ke tempat yang paling dekat dengan jangkauannya setiap selesai membaca buku. Sebuah hal konyol  pun terjadi.

            Akhirnya, ketika novel yang telah usai dia baca diletakkan di pinggir meja dekat tempatnya berdiri, dia meregangkan tangan kirinya. Suara lentikan tulang tanda pelemasan pun berbunyi. Kemudian, tanpa ada kepedulian yang berarti, tangan kirinya menjangkau wajan panas yang jaraknya memang paling dekat dengan dia.

            “AAaaaaaaaaWWWWwwwww”

            Suara kemalangan itu terdengar sekian detik. Gak usah khawatir, Tarno udah terbiasa dengan hal ini. Jika dihitung, ini sudah pengalaman kedelapannya. Kebiasaan kadang bikin orang tidak belajar dari pengalaman.

            Obsesi adalah keinginan orang untuk bisa menjadi apa yang dia lihat. Tampaknya, hal ini melekat erat pada diri seorang Tarno. Sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar, dia mencerna dengan baik apa yang dikatakan guru Agamanya :

            “Kalau kamu berteman dengan penjual parfum, niscaya kamu akan ikutan wangi seperti dia”

            Namanya juga anak SD. Selalu punya opini sendiri. Dodol adalah makanan favorit Tarno. Dia beranggapan bahwa dodol lebih hebat daripada parfum. Selain wangi, dodol enak dimakan dan legit rasanya. Maka tak aneh jika profesi sebagai penjual dodol ia lakoni dengan sepenuh hati. Bahkan di gerobak dagangnya, ada tulisan yang dia buat dari hasil mengadopsi kata-kata guru SDnya :

            “Kalau kamu beli dodol ini, niscaya kamu akan seperti penjualnya yang wangi, manis dan legit dihati”

            Hanya tinggal menunggu waktu gerobak itu dibakar massa saja sih kalau tulisan itu tersebar luas.

            Semakin besar harapannya bisa menyebarkan kewangian, kemanisan, dan kelegitan dalam dirinya, obsesi Tarno justru semakin menjadi-jadi.

            Disuatu siang, ketika sedang mendorong gerobaknya menyusuri gang-gang, tak sengaja dia melihat sebuah iklan menempel di sebuah tiang listrik. Iklan tersebut menawarkan sebuah audisi orang berotot untuk mengiklankan sebuah produk susu, lengkap dengan foto Ade Rai sebagai brand ambassador dengan otot bisepnya yang sedang menenggak produk susu tersebut. Agak kurang matching memang melihat iklan semacam ini di tiang listrik. Untung aja brand ambassadornya Ade Rai.Coba kalau Limbad, udah bengkok itu pasti tiang listrik dicemilin. Dengan penuh gairah, akhirnya Tarno pun mengambil iklan itu dan membawanya pulang untuk dipahami betul-betul bagaimana audisinya.

            “Sep…Asep” Suara Tarno masih terengah ketika dia baru sampai rumah dan melihat sahabatnya duduk santai di gardu pos ronda “Aku mau minta pendapatmu”

            “Pendapat apa? Kau ini pulang-pulang tak langsung mandi malah langsung tiduran disampingku. Macam mana penjual dodol manis legit tapi bau badan kayak bangkai ikan paus” Asep yang keturunan batak tulen ini pun segan tak segan menanggapi Tarno.

            “Ah gak penting. Ini kamu lihat dulu apa yang aku dapetin. Aku cocok banget kan kayak gini?” racau Tarno sambil memberikan lembaran iklan yang barusan dia dapatkan.

            Asep melihat lembaran itu setengah bingung. Dalam benaknya terbesit dua pemikiran :

  1. Sahabatnya pengen ngiklanin dodolnya
  2. Sahabatnya pengen dijadiin kertas terus diiklanin di tiang listrik

           Merasa pemikiran logika yang kurang memasuki daya nalar manusia, akhirnya Asep lebih memilih bertanya langsung kepada Tarno.

           “Apalah maksud kau ini? Cocok macam mana?”

           “Iya maksudnya pasti keren kan kalau badanku kayak Ade Rai gini, terus ngiklanin produk susu dan masuk TV” Tarno dengan mantap menirukan gaya Ade Rai mengangkat gelas.

           “Macam kau bisa punya badan berotot mirip Ade Rai”

           “Halah. Aku ini ngaduk bahan dodol pake satu tangan aja kuat. Aku udah terbiasa sama hal-hal berat. Udah berotot ini badanku. Sisanya cuma tinggal ngumpulin duit buat latihan ke gym

           “Bah, kau ini bodoh betul !” Asep melemparkan lembaran iklan itu kearah Tarno “Daripada kau ngumpulin duit buat nge-gym dan besarin otot, mending kau ngumpulin duit buat benerin itu muka kau. Lebih berguna” Asep melanjutkan.

           “Kalau aku menang aku banting juga kamu Sep, Sep” tutup Tarno kemudian dia pergi ke rumahnya untuk segera mandi

           Setelah benar-benar yakin dengan minatnya untuk mengikuti audisi produk susu tersebut, rutinitasnya pun ia ubah. Putih telur, roti gandum, dan pisang ambon lah yang dia konsumsi setiap harinya, udah mirip orang susah.

           Cara yang digunakan untuk membesarkan ototnya tak lain adalah dengan memanfaatkan pekerjaan sebagai pembuat dodol. Dia bereksperimen dalam mengaduk-aduk bahan dodol tersebut. Mulai dari ngaduk sambil pushup, situp, sampai yang paling ekstrim dia ngaduk pake gigi. Namun baru beberapa hari berjalan, eksperimen itu dihapuskan karena bukannya bikin otot besar, tapi justru membuat dodol jadi gosong dan gak karuan. Lagi pula, gigi yang berotot sama sekali gak membantu jadi orang cool.

           Waktu 1 bulan yang menjadi batas akhir pendaftaran audisi itu pun tidak disia-siakan Tarno. Sehabis berjualan dodol, dia menyempatkan diri untuk menyewa tempat gym selama 1 jam rutin. Hasilnya, 1 bulan berlalu dan tiba di hari H audisi, badan Tarno berubah jadi berotot mirip Ade Rai. Ya gak mirip banget sih.

            Dengan jumawa, Tarno datang ke lokasi audisi menggunakan tanktop dan celana jeans biru dongker, lengkap dengan sobekan di bagian lutut. Seluruh peserta mengantre. Satu persatu dipanggil ke depan dewan juri untuk memperlihatkan otot bisepnya. Tibalah giliran Tarno masuk ruang audisi.   

            “Hallo, nama saya Tarno” ucap Tarno gugup.

            “Iya, langsung aja tunjukin otot-ototnya”

            Tanpa banyak omong lagi, Tarno pun melenggak-lenggokan otot lengannya. Kemudian memamerkan otot pinggul, dada, paru-paru, tenggorokan.

            “Udah cukup” potong salah seorang dewan juri bergestur gahar . “Lanjut yang lainnya. Aku sih no

            “Aku juga no. Mas Tarno, lain kali baca persyaratan audisi ya. Sayang banget loh kalau badan bagus tapi gak sesuai kriteria yang dicari” dewan juri yang lain menimpali.

            Dengan raut muka kecewa dan bingung, Tarno pun akhirnya meninggalkan ruang audisi. Gerak langkah yang mirip kayak adegan Cinta Fitri season 3000 dimana waktu itu Farel ditolak Fitri, kemudian Farel melangkah pergi jauh dari Fitri menerjang guyuran hujan. Tarno menghayati dengan baik adegan itu.

            Sampailah dia di pintu keluar.Dia menoleh kearah papan pengumuman yang terpasang di samping pintu. Merasa penasaran dengan persyaratan audisi ini, Tarno pun membaca ulang persyaratan tersebut.

AUDISI OTOT BISEP MAKJLEB

            Persyaratan :

            WNI

            Laki-laki

            Mempunyai otot

            Berpenampilan menarik (buat masuk di tivi lokal. Sangat diperhitungkan).

Xxxxx

            “Gimana No? Audisinya lancar kah?” Tegur Asep yang baru pulang dari kerja serabutan sebagai buruh pabrik ketika melihat Tarno sendirian di gardu pos ronda depan rumah.

            “Lancar apanya. Gagal total nih audisinya. Parah. Persyaratannya ekstrim”  Tarno menjawab sambil menunjukkan tulisan persyaratan yang menurutnya ekstrim itu.

            “HUAHUAHAHA” Asep ketawa penuh kemenangan saat melihat tulisan ‘berpenampilan menarik’. “Kau ini udah aku bilangin, benerin dulu muka kau, baru besarin otot. Nanti kan akhirnya bakal masuk TV, produser tak maulah nanti orang-orang liat kau yang punya muka berantakan. Percuma kan akhirnya”

            Tarno terdiam, tak bisa menjawab ejekan dari sahabatnya itu. Pikirannya melayang jauh. Mencoba mencari keadilan untuk orang-orang berparas ‘kurang’ seperti dia. Seharusnya, kalau yang diaudisikan adalah otot, muka tidak perlu diperhitungkan. Tapi dalam pikirannya yang lain, dia menyadari bahwa yang mengaudisi adalah manusia. Ya adil tak adil, namanya juga manusia. Tak ada manusia yang bisa menjadi maha adil seperti Tuhannya. Dia tak mau mencari keadilan dari seorang manusia. Kemudian dia mencoba berpikir optimis. Walaupun gagal audisi, tapi setidaknya dia berhasil mendapatkan otot-otot bisep mirip seperti Ade Rai.

            “Menurutku masih ada peluang buat kau yang udah punya otot bisep mirip Ade Rai itu ” Asep kembali membuka percakapan.

            “Peluang apaan?”

            “Nah ini kan bulannya kampanye. Kau ajuin diri aja ke salah satu partai. Minta foto kau dipajang di balihonya”

            “Terus? Apa ngaruhnya?”

            “Ya nanti pasti kau banyak yang nerima lah. Partai-partai bakal bikin iklan di baliho tulisannya ‘Pilih partai kami. Kami membuat pria kurang gizi menjadi bertubuh seksi’ terus ada foto kau dibawahnya lagi senyum sambil bawa barbel. Mirip Ade Rai”

            “Gak sekalian aku nawarin diri jadi bintang streaptease di kampanye itu?” sindir Tarno.

            Asep ngakak dengan penuh kemenangan.

            Hari berikutnya, rutinitas Tarno sebagai pedagang dodol kembali seperti biasa. Tak ada lagi obsesi yang mengurangi jam terbang dagangnya. Kini, ia hadir dengan penampilan baru yang lebih macho dan menawan, tentu dengan otot bisep yang lebih besar.

            Di samping lampu merah dekat jalan besar, Tarno mendorong gerobak dagangnya dengan keringat yang bercucuran, ditambah lagi panas terik matahari yang menyinari.Sepoi angin yang menyejukkan pun entah dicari atau tidak karena hal ini akan mengakibatkan 2 hal yang bertolakbelakang :

  1. Membuat Tarno sejuk
  2. Menebarkan aroma keringat Tarno yang akan mengakibatkan hidung orang di sekitarnya mati suri.

            “Mas, beli dodolnya” seorang ibu muda membuka kaca mobil sedannya sambil memberikan selembar uang sepuluh ribuan. Penampilannya benar-benar rapi seperti orang kantoran, lengkap dengan kacamata hitam.

            “Iya bu” dengan sigap Tarno menerima uang tersebut dan membungkus dodolnya kedalam kantong plastik. “Ini bu dodolnya”

            “Makasih mas” Ibu itu menerima dodolnya “Badannya bagus mas. Kok cuma jualan dodol?”

            “Hehe iya bu, ya rezekinya mungkin jadi penjual dodol aja bu”

            “Loh, sayang banget. Kebetulan saya lagi butuh bintang iklan yang berotot gitu buat produk pompa air, kayaknya masnya cocok. Ini saya kasih kartu nama saya, kalau masnya minat, hubungi nomer telepon disini ya. Makasih.” Tutup Ibu-ibu itu sambil memberikan kartu namanya, kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan Tarno yang masih terlihat setengah bingung.

            Sesampainya di rumah, Tarno memandangi kartu nama yang barusan dia dapat. Masih ada keraguan dalam dirinya jika nanti wajah menjadi perhitungan untuk bisa jadi bintang iklan pompa air. Namun Tarno mencoba mengambil kesempatan yang Tuhan berikan untuknya.Dia mengambil ponsel dan menekan tombol sesuai nomer yang tertera pada kartu nama itu dan  melakukan percakapan dengan pemilik nomer tersebut.

            Malam minggu, tepatnya 14 hari setelah Tarno menelepon nomer yang tertera pada kartu nama itu, dia bersama dengan Asep, Tatang, dan beberapa teman kampungnya sedang dapat jatah jaga malam. Televisi yang disediakan di pos ronda itu menjadi daya tarik tersendiri untuk menghilangkan penat selain dengan bermain kartu.

            Ketika televisi itu menyala menyajikan iklan-iklan malam,salah satu iklan pompa air pun tayang.

            “Pooom…pooom…pooompaaa air Sikisu. Mancurnya kuat. Dorongannya kuat. Tampilannya waaah anti karaaat” adegannya menggambarkan seorang cewek yang kesemprot air dari pompa itu, dan dengan basah-basahandia malah kegirangan, lalu muncul seorang cowok berotot membawa pompa air sambil bilang dengan mantap “Pakai sikisu dari sekarang. Bikiiin puas”

             Semua orang yang ronda seketika tercengang melihat iklan itu. Mencari tau apa yang aneh dari iklan tersebut, Asep pun membuka suara.

             “Kayaknya aku pernah liat itu orang berotot yang bawa pompa air”

             “Iya ya, kayaknya gak asing sama cowok berotot itu” Tatang menimpali.

             Semua orang melihat ke arah Tarno. Merasa menjadi fokus pandang teman-temannya, Tarno bersuara santai.

             “Keren kan?”

             Teman-teman Tarno bangga melihat keberhasilannya menjadi bintang iklan. Tanpa maksud menyombongkan diri, Tarno tersenyum. Dalam lubuk hatinya, dia sangat bersyukur dengan apa yang telah dia dapatkan. Terkadang, dia merasa geli mengenang masa laluyang dulunya dia anggap tak ada lagi keadilan di dunia. Namun dengan keberhasilannya membintangi sebuah iklan, kini dia pun sadar. Keadilan tak perlu dicari dari seorang manusia. Buat apa mencari keadilan kepada manusia yang derajatnya sama dengan kita jika ada yang lebih maha adil dari sekedar manusia? Keadilan tak akan pernah hilang.

              “Eh No, tadi di iklan kok kau putihan ya?” Asep yang masih penasaran pun membuka pertanyaan.

              “Ya make up dong Sep”

              “Oh… pake cat air ya make upnya? Susah pasti ya memutihkan kulit kau yang itemnya udah kayak aspal?”

              Tarno yang sedari tadi menggenggam remote TV pun hanya tersenyum dan membidikkan remote TV itu ke arah Asep.

              “Mau benjol?” tutupnya singkat.

Advertisements

2 comments

    1. hahaha iya nih bang kres :D, ayo, kamu juga ikutan kan bang?

      jangaaaan ngegym bang, nanti kemiripan sama si andika kangen band berkurang. bang kris gitu aja ya. please wkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s