Want to be writer

            Siang tadi, gue habis main ke acara #kulonuwun.

            Buat yang belum tau apa itu #kulonuwun, baiklah, gue bakal menjelaskan secara ringkas, padat sepadat badan gue tentang apa itu #kulonuwun.

            Jadi, #kulonuwun adalah sebuah acara dari grup penerbit gagas yang diadakan di Jogja. Jadi konsepnya semacam peresmian kantor baru grup gagas yang mau buka di Jogja. Yeeeeeeaaaah.

            Isi acaranya seru, terbukti dari dimulainya acara itu pukul 10.00 dan selesai pukul 18.00. pembicaranya juga kece-kece abis, mulai dari editor-editor beken grup gagas, sampai penulis-penulis yang bukunya udah terbit di grup gagas.

            Yak, penjelasan selesai, lanjut ke cerita gue.

            Gue datang pukul 12.30. maka dapat disimpulkan bahwa gue bisa dikatakan TERLAMBAT. Tujuan awal gue main disana adalah buat denger editor-editor kece dari grup gagas membeberkan gimana cara jitu menembus penerbitan, kepenulisan, dan lain sebagainya.

            Harapan gue ternyata belum kesampaian. Setelah gue memarkirkan motor, gue pun masuk ke tempat dilaksanakannya acara tersebut. waktu kaki kanan gue menapakkan kakinya tepat di lokasi, pandangan gue otomatis terfokus pada sebuah panggung kecil. Di atas panggung itu duduklah 4 orang editor kece, antara lain windyariestanty, syafial, resitare, sama widyawati oktavia.

            Oke, gue tau mereka, tapi kali ini gue yakinkan dengan seyakin-yakinnya bahwa pasti, mereka belum tau gue. gue adalah sosok yang misterius. Hahaha. Tai.

            Sewaktu pandangan gue terfokus pada 4 orang editor kece itu, mbak windyariestanty lagi ngomongin masalah penerbit major sama penerbit indie. Gue langsung bergumam dalam hati.

            “YEEEEES GUE TEPAT WAKTU”

            Merasa ini adalah pembahasan penting dari seorang editor sekelas windyariestanty, gue pun mencari tempat duduk. Kebetulan gue dapet tempat duduk paling belakang, baru beberapa detik menempelkan bokong di kursi, tiba-tiba sang MC dengan nada tak berdosa berbicara :

            “YAAAK ITULAH JAWABAN DARI MBAK WINDYARIESTANTY TENTANG PERBEDAAN PENERBIT MAJOR SAMA PENERBIT INDIE. TERIMAKASIH YA UNTUK SESI YANG PERTAMA INI UDAH SELESAI, SEKARANG LANJUT COFFEE BREAK. SILAHKAN AMBIL MAKANANNYA DI SANA”

            Gue mematung. Hatiku hancur.

            “GUE KAN BARU DATENG MPREEEEEEEET!!!!!!!!!!”

            Tapi mau gimana lagi, yah guenya yang telat, akhirnya gue hanya bisa menerima kenyataan.

            Gak beberapa lama, sesi kedua pun dimulai. Kali ini pembicaranya adalah seorang penulis, antara lain mereka adalah Bernard Batubara, Mbah Derma, Arini Putri, sama Karlina Kuning. Gue pun mencoba mencuri pengalaman dari mereka.

            Pertanyaan pertama pun mulai diajukan :

            “Gimana sih ceritanya waktu pertama kali naskah kalian diterbitin sama grup gagas?”

            Dari jawaban para penulis yang menjadi pembicara, hanya ada 1 orang yang menerbitkan naskahnya dengan cara mengirim naskah via pos, itu aja baru dikabari 1 tahun kemudian, yang lainnya? Mereka menjawab diajak oleh editornya sendiri karena konten mereka di blog sama twitter bagus. Beruntung banget.

            Mendengar jawaban para penulis yang rata-rata diajak menulis oleh editornya langsung, gue pun terdiam sejenak, pikiran gue melayang kembali ke hari yang gue alami seminggu yang lalu……..

             #DUOKRIBO

            Minggu lalu gue main ke acara itu. Sebagai seorang yang pengen jadi penulis, mencuri ilmu dari penulis lain yang udah jadi adalah salah satu cara untuk bisa memotivasi diri dan mencapai cita itu sendiri. Bahasanya berat banget.

            Dalam acara tersebut, si duo kribo yang antara lain adalah Benazio sama Indra Widjaya juga menceritakan gimana awalnya mereka bisa menerbitkan buku.

            Prosesnya gak jauh beda sama 3 penulis yang di acara #kulonuwun diatas diajak nulis langsung oleh editor karena konten blog sama twitter mereka bagus.

            Dimulai dari Benazio, dia cerita bahwa menulis adalah hobinya dari kecil, sampai akhirnya dia punya blog, awalnya blog dia sepi dari pengunjung, tiap hari palingan Cuma 2-4 orang yang mampir, itu aja dia sendiri yang bolak-balik refresh ulang di halaman blognya.

            Sampai akhirnya, dunia mempertemukan Benazio dengan blogger yang konten blognya udah kayak mall, banyak banget pengunjungnya. Disitulah Bena belajar mengelola blog. Beberapa tahun kemudian, blog Bena mulai rame pengunjung. Nah, dari konten blog Bena yang rame itulah yang membuat penerbit melirik Bena buat membukukkan isi blognya.

            Bena nolak. Sumpah, pertama kali gue denger jawaban awal dari si Bena ini, gue bergumam dalam hati :

            “Parah, kesempatan emas yang disia-siakan”

            Tapi setelah mendengar alasan Bena menolak karena pengen menghadirkan sesuatu yang baru, karena menurutnya, membukukan blog itu udah punyanya Radityadika. Maka jadilah BENABOOK. Gue mengganti gumaman dalam hati gue tadi menjadi :

            “Parah, emang kreatif dan pengen punya sesuatu yang baru banget nih anak”

            Ya, manusia kan cuma bisa mengomentari sisi buruknya, padahal mereka belum tau apa tujuan yang sebenarnya. Hueh.

            Sekarang ke Indra Widjaya, dia juga suka nulis dari kecil. Sampai akhirnya dia punya blog dan blog itu di intip sama Alit Susanto si penulis skripshit yang skripsinya gak kelar-kelar. Ternyata Alit mempunyai niat baik dan menawari Indra buat nulis buku, dia bantu, dan dia ngenalin editornya ke Indra. Akhirnya, jadilah buku Idol gagal. Amazing.

            Gue mengikuti runtutan acara #DUOKRIBO sampai selesai. Gak lupa juga memanfaatkan sesi minta tanda tangan + foto bareng.

            Nih foto gue sama si duokribo :

Image

            Selesai foto bareng, gue liat di barusan kursi penonton yang mulai kosong, ada seorang cewek lagi mainan TAB.

            “Kayaknya gue perna liat ini orang” gumam gue dalam hati.

            Perlahan gue menghampiri orang itu.

            “Mbak Elly ya? Mbak, kalau nanya soal naskah bisa kan?”

            FYI, mbak Elly ini adalah editor komedi + horror dari penerbit bukune. Jelas aja gue tau dia, yaaaah, gue kan followersnya. Mengenai naskah yang gue tanyain, jadi gini, gue pernah ngirim naskah gitu ke bukune. Yaudah, simak aja cerita ini sampai tamat, oke? mmuuuaaaah

            “Iyaaaaa. Nanya apa ya?”

            “Jadi gini mbak, saya dulu pernah ngirim naskah, nah di tulisan mengenai naskah gitu, maksimal pemberitahuan kalau naskahnya terbit atau enggak kan 3bulan, tapi kok sampai hampir 6 bulan naskahku belum dapet kabar ya mbak?”

            “Ooooooh kamu to? Iya-iya yang dulu pernah sms saya kan kamu?”

            “Naaaaah iya mbak, sampeyan tau kan. Saya udah tanya via twitter sama mbak windyariestanty, terus di cc-in ke mas syafial sampai aku telpon langsung redaksinya loh. Jadi gimana naskahku mbak?”

            “Hahaha iya iya tau. Gak nyangka ya akhirnya ketemu juga. Eh ngomong-ngomong judul naskahmu apa ya?”

            GEDUBRAAAAAK

            “#JONES mbak, atas nama Febri Dwi Cahya Gumilar”

            “Oooooh iya-iya. Jadi gini Feb, naskah kamu yang temanya jones itu udah banyak yang make, cobalah kamu bikin cerita komedi fiksi yang tokoh utamanya cowok ganteng, kece, tajir tapi dia gak bisa dapetin cewek gitu”

            Mungkin mbak Elly belum tau kalau di naskah #JONES gue itu, tokoh utama yang namanya Febri juga seorang cowok ganteng, kece dan kayak tapir.

            “Oooh, Oke deh mbak, awalnya udah nebak juga sih kalau tema jomblo gitu udah banyak yang make. Makasih ya mbak”

            “Oke oke…. Eh tapi Feb, jangan berhenti nulis ya?”

            Gue mengangguk pelan, lalu pergi keluar ruangaaan.

Xxxxx

            “Buat penulis disini, mungkin ada kata motivasi nih buat mereka yang bercita-cita jadi penulis?”

            Kata-kata si MC itu memecahkan lamunan gue.

            Satu persatu dari penulis di depan sana mulai menjawab, tapi ada satu jawaban yang membuat gue terbangun untuk terus menulis :

            “Jadi penulis itu gak mudah, butuh perjuangan, harus ekstra bersabar, saya yakin buat kalian yang pengen jadi penulis, pasti pengen melihat buku kalian terpajang di rak buku gramedia atau took buku lainnya, makanya mulai dari sekarang, mantapkan niat hati kalian, dan bayangkan, suatu saat, buku kalian bakal terpajang di rak took buku, bersanding bersama buku penulis beken lainnya.”

            Dari situ gue kembali mengingat kata-kata si Bena : Do what you love, love what you do.

            Beberapa kalimat di blog milik windyariestanty kembali terbayang, disana bertuliskan bahwa mbak windy pernah bercita-cita jadi orang yang mampu mewujudkan mimpi seseorang, yaitu dengan menjadi editor, dengan begitu, dia bisa mewujudkan orang yang bercita-cita jadi penulis, benar-benar menjadi penulis, dan mbak Windy berhasil mewujudkan mimpi itu.

            Menurut gue, iya, editor emang bisa menjadi penyalur mimpi seorang yang bercita-cita menjadi penulis untuk benar-benar menjadi penulis, tapi, editor juga bisa menjatuhkan mimpi seorang yang bercita-cita menjadi penulis, dengan penolakan naskah.

            Tapi, penulis yang baik, adalah dia yang akan terus tetap manulis dan berusaha berbenah menjadi yang lebih baik ketika naskah pertamanya di tolak.

            Yuhu. Do what you love, love what you do. And… I love you, love you too

Advertisements

6 comments

    1. hahha iya dong bang, walaupun telat dikiiiiit.
      yaaak gak nyangka aja bisa selama itu, padahal rata-rata tulisan di buku itu 3-4 bulan.
      yooooi, bara, indra, bena, derita mahasiswa semua pada ditawarin nulis, bahkan si kevin anggara itu juga ditawarin buat buku kan karena konten log bagus. tinggal nunggu bang kriss nih blognya disamperin sama editor, terus ditawarin nulis ddeeeeh 😀

    1. haaaaaaaaaay… makasih udah mampir + baca ceritanya ya? salam kenal 😀 aku juga mau mampir blogmu ah, ada fotonya indra sama bena, layak dibaca 😀
      acara bukune itu emang selalu kece ya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s