Jangan simpan, buruan nyatakan

 

            Masa lalu adalah sebuah kenangan. Setuju?

            Masa lalu juga sebuah wadah untuk kita introspeksi diri. Setuju?

            Dan yang paling harus di setujui, masa lalu adalah masa yang udah berlalu. Setuju ya?

Oke, kali ini gue bakal mengupas tuntas tentang masa lalu-masa lalu yang dulu pernah gue lalui dan berjalan sesuai dengan siratan takdir yang mungkin gue sendiri layak dapatkan.

Rese nggak kalau kalian ngerasa udah berniat mau berkorban sesuatu ke gebetan yang disayang, tapi malah kedahuluan orang lain yang juga sayang sama gebetan lo?

Gue ngutip kalimat ini dari sepenggal lagunya bon jovi – always:

When he holds you close, when he pulls you near
Saat dia mendekapmu erat, saat dia memelukmu lekat

When he says the words you’ve been needing to hear
Saat dia ucapkan kata-kata yang telah lama ingin kau dengar

I’ll wish I was him ’cause those words are mine
Aku kan berharap aku adalah dirinya karena itu adalah kata-kataku

To say to you till the end of time
Yang kuKatakan padamu hingga akhir waktu

Ya, gue dulu pernah suka sama seorang cewek. Sebut aja namanya Clara. Dia temen dari temen gue zaman smp. Masa-masa labil dimana gue punya panggilan sayang dan menamakan nomer Clara dengan sebutan “ChAAYAAnKQuh” itu bener-bener gue jalani.

Perjuangan gue ngenal dia lebih dalam juga gak seinstan masa sekarang yang para cowok kampretnya udah les privat sepik menyepik. Dulu gue nyepik dengan skill apa adanya. Nggak ada gombalan dengan metode awalan “bapak kamu…..” gak ada yang begituan. Yang dulu gue inget, cara nggebet gue parah.

Gue : “Hey, boleh kenalan?”

Clara : “Hmm” matanya mendelik ngeliat gue “boleh kok”

Gue : “Nama kamu siapa?”

Clara : “Aku Claraissa Puspita. Kamu siapa?”

Gue : “Claraissa? Namanya bagus, kayak nama-nama ratu di Negara barat J. Aku Febri.”

Clara : “hahaha, kamu bisa aja. Febri? Namanya pasaran, kayak nama supir aku, Febri Dwi Cahyono.

Gue : “Hmmm… anginnya sejuk ya”

Gue bener-bener terpaksa menagakhiri percakapan dengan kalimat demikian. Gak mungkin banget kan kalau gue nyerocos dengan semangat bilang :

“IIIiiiiih cucok, nama panjangku Febri Dwi Cahya. Mirip ya sama supir kamu, siapa tau aku sama supir kamu jodoh. Atau mungkin aku bisa jadi supir kamu kelak? Supir rumah tangga kita. Aaaaa”

Jaman dulu gue gak ngerti gombalan kayak begituan.

Beberapa bulan berjalan, gue pun deket sama dia. Menjalani masa pendekatan dengan selayaknya sepasang cowok sama cewek yang akan memadu kasih. Itulah perkiraan gue dulu. Sebelum akhirnya gue tau, perkiraan emang gak selamanya tepat dan akurat.

Gue berniat nembak dia di hari Kamis, 10 Januari 2008. Kenapa milih hari kamis? Gampang, biar malemnya bisa langsung sunnah rosul *salahfokus.

Rangkaian kalimat yang udah tersalin rapi di otak gue cukup menjadi modal utama gue untuk meyakinkan diri kalau gue bisa diterima Clara dengan mulus.

“Matahari itu terang bersinar, tapi dia enggan muncul waktu malam. Bulan pun demikian, dia bersinar terang dimalam, namun dia selalu enggan bercahaya di siang. Apalagi bintang, yang hanya kecil dan sementara menyinarkan. Gak kayak kamu, yang senantiasa nerangin hatiku diwaktu siang atau malam. Hmm… kamu mau gak jadi pacarku?”

Keren kan? Dulu di tahun 2008 ya kalimat begituan yang jadi modal bagus buat nembak cewek. Ya, harusnya gue berhasil nembak si Clara, tapi sayangnya, waktu habis makan di kantin dan gue lewat di belakang kelas 9B, Gue liat Clara… sama cowok.

Ya iseng-iseng berhadiah, gue mendekat pelan, namun masih tetap jaga jarak biar mereka gak tau kehadiran gue. Gue Cuma pengen tau apa yang mereka lakuin di belakang kelas 9B pas jam istirahat gini.

Samar-samar gue denger si cowok memulai percakapan :

Cowok : “Kamu tau? Langit itu jadi beranda buat matahari, bulan, dan bintang. Makanya langit itu jadi terlihat indah dan berwarna. Itu sama halnya kayak hati aku, mungkin hati aku sekarang ibarat langit yang butuh hiasan matahari, bulan, dan bintang. Kamu mau nggak ngasih hati kamu buat penghias hatiku? Mau ngga kamu jadi pacarku?

CADAAAAAAAAS!!!!!!!!!!! Sepik si cowok itu lebih kece dan super bullshit daripada kalimat gue. Kampret. Gue masih menyimak dengan pasrah dan berharap-harap cemas semoga si Clara tuli untuk beberapa menit.

Clara : “Mmmmmm” mukanya ragu, tapi masang tampang malu-malu “Gimana yaaaaa”?

Cowok : “Kamu ragu sama aku? Gimana? Aku bakal njaga kamu kok” balas si cowok sembari menggenggam erat tangan Clara.

Clara : “Hmm… mau” jawabnya pelan sambil mengangguk.

Gue terdiam. Kalimat  yang udah gue siapkan dan tersalin rapi di otak kini buyar terbawa oleh kenyataan yang menyakitkan.

Perlahan gue membalikkan badan, melangkah menjauh meninggalkan 2 orang yang gak berperikeperasaanan. Dari semua itu gue membalikkan catatan-catatan memory yang dulu pernah gue jalani bareng Clara.

Dan yang paling gue sesali sekarang adalah kenapa dulu gue terlalu lama bertindak ketika dia udah ngasih kode untuk di tembak? Kenapa gue terlalu ragu untuk mengaku ketika dia udah membuka sebelah pintu hatinya? Dan kenapa gue menunda menyatakan rasa itu ketika dia mau menyambut?

Ternyata bener. Cinta itu nyata ada, dan apakah kita mau menyembunyikan kenyataan cinta? Jangan simpan, buruan nyatakan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s