Iringan dedaunan

            #dianjurkan membaca post sebelum ini yang berjudul “air-air yang mengalir”

            Beberapa tahun berlalu. Nanda telah menyelesaian kuliah jurusan teknik informatika dengan tepat waktu, sekitar 4 tahun. Sekarang pun dia telah mendapatkan pekerjaan yang layak dengan penghasilan yang menggiurkan.

            Nanda mempercepat langkahnya ketika  berjalan pulang dari kantornya. Jarak antara rumah dengan kantornya lumayan jauh jika dijangkau hanya dengan jalan kaki. Namun, Nanda tampak menikmati tiap langkah pulang perginya dalam mencari nafkah tersebut.

            Baru sampai pada setengah perjalanan, langkah Nanda terhenti. Dia menolehkan ke arah kirinya, nampak aliran sungai yang menyulut pandangannya. Dia membelokkan arah jalannya untuk sejenak singgah di tempat itu.

            Perlahan. Sedikit tertahan. Dia menyimpulkan lekuk senyum indah dari bibirnya. Di tempat inilah dahulu dia menyandarkan kepalanya di bahu Gilang. Namun beberapa saat kemudian, simpul senyum itu berganti dengan murung kesedihan dari raut wajahnya. Di tempat ini pula dahulu dia menerima kenyataan pahit bahwa Gilang akan berpacaran dengan orang lain.

            Lamunan akan seorang Gilang kembali dia mulai. Sudah beberapa tahun berjalan, dia selalu membuntuti untuk menerima informasi terbaru tentang Gilang. Kabar terbaru yang di dapatkan, sekarang Gilang sudah mendapatkan pekerjaan di salah satu kontraktor bangunan. Nanda tidak pernah sekalipun menyisakan harinya tanpa menghubungi Gilang, seperti sudah menjadi kewajiban untuk para pecinta dalam memberi perhatian kepada sang gebetan.

            “Fyuuuuuh”

            Nanda menghela nafas. Kabar terbaru dan terburuk pun dia ketahui kalau ternyata Gilang dengan Laila masih berhubungan dengan baik. Seakan terlihat mereka memberi ikatan yang kuat dan saling menjaga ikatan itu demi berlangsungnya keharmonisan berpacaran. Senang karena Gilang bahagia, atau sedih karena dia tak suka melihat Gilang dengan orang lain pun saling bertukar tempat pada perasaan Nanda.

            “Sendirian aja nih?”

            Ucap seseorang diselingi dengan tepukan di pundak Nanda dari belakang.

            Nanda menoleh perlahan. Seperti gerak slow motion dalam sebuah film, di akhir tolehannya, hati Nanda bedegup kencang.

            “Gilang? Kok kamu disini?”

            Ucap Nanda cepat ketika dia tau bahwa Gilang lah yang ada di belakangnya.

            “Hehehe gapapa kok. Kebetulan lewat aja, eh ada kamu, yaudah aku mampir bentar”

            Jawab Gilang dengan alunan suara yang membentuk kata-kata indah yang selalu Nanda kagumi darinya.

            Mereka berdua saling bertukar cerita tentang kehidupan beberapa tahun belakangan yang menurutnya berkesan. Saling melempar senyuman kerinduan karena sudah lama tidak ngobrol panjang di samping aliran sungai yang mengalir indah. Selama ini, setelah Gilang menjadi kekasih Laila, seakan komunikasi antara Gilang dengan Nanda di bentengi oleh jarak dan di batasi dengan telepon genggam. Tidak lebih. Maka dari itu, inilah kesempatan, terlebih kesempatan untuk Nanda berdua bersama Gilang.

            “Kamu inget Nda, dulu kita berdua disini bercanda bersama?”

            Ucapan Gilang menjulur ke arah yang serius.

            “Iya, aku inget banget lang. Masa-masa indah”

            Jawab Nanda yang sesuai dengan perasaannya.

            “Jadi, pasti kamu inget beberapa kalimat yang aku ucap terakhir dan juga kejadian yang aku minta ijin mau jadian sama Laila?”

            “Iya, aku inget itu juga, kalimat tentang aliran air kan”

            Nanda memasang raut wajah murung.

            “Hmm… iya, selama beberapa tahun ini kita telah mengalir di tempat yang berbeda. Dan kita berharap suatu saat kita akan di temukan pada titik terakhir yang di sebut laut”

            Nanda tak menjawab maksud dari kalimat Gilang. Dia terus memperhatikan setiap cuap kalimat yang keluar dari bibir Gilang.

            “…. tapi masalahnya, gak semua harapan itu bisa berjalan dan terealisasikan sesuai dengan yang kita ingin. Nyatanya, kita memang dipertemukan disini. Tapi, keadaan yang terjadi, aku sampai disini pun juga karena aku bisa menjalaninya bersama Laila. Kami seakan berjalan beriringan, dan bersama-sama sampai di tempat tujuan yang bernamakan laut.”

            “Ma…Maksudnya?”

            Nanda memotong pembicaraan.

            “Di sinilah aku kambali mengucap kalimat maaf untuk kesekian kalinya” Ucap gilang sembari merogoh dan mengambil secarik kertas yang sudah di bentuk rapi lalu memberikan kertas itu ke Nanda “2 minggu lagi, aku menikah sama Laila. Maaf Nda”

            Alunan detak jantung Nanda seperti berhenti persekian detik. Hati yang beberapa tahun menanti penuh pengharapan itu seketika lebur tak beraturan. Rangkaian kalimat selamat tak kunjung Nanda sematkan. Keadaan menjadi membisu.

            Namun, setelah beberapa saat berlalu dengan kebisuan, Nanda memulai melakukan tindakan. Dia beranjak dari tempatnya duduk. Gerakan perpindahan dari duduk ke berdirinya sangat tergesa dan tak karuan. Sambil mulai melangkah, dia menolehkan pandangannya ke arah Gilang dan berucap :

            “Makasih”

            Kemudian berlalu, memunggungi Gilang yang duduk terpaku penuh rasa bersalah. Gilang tak bisa berbuat banyak. Semua akan terjadi dan tidak mungkin kembali.

            Langkah panjang Nanda pijaki. Bulir air mulai membasahi pipi manisnya. Dalam pikirannya dia mengandai-ngandai ke arah tujuan yang dia inginkan yaitu bersama berdua menjalin rumah tangga dengan Gilang. Tapi dalam kenyataan yang ada, semua tak menyentuh dengan apa yang Nanda harapkan.

            Dalam benaknya yang mulai stabil dia membatin

            “Mungkin, ketika semua telah berlalu cepat dan tak kunjung bisa di putar balikkan, selama ini aku memang bisa di katakan bersama dengannya. Bersama mengarungi aliran-aliran sungai yang berujung. Hanya saja, aku tidak berjalan beriringan. Namun, aku hanyalah dedaunan yang mengikuti alur alirannya sampai tiba di tempat Gilang dan Laila bersama. Dan kemudian aku tersisih terombang-ambing sampai akhirnya tertelan oleh kesakit hatian”

            Dengan sedikit ragu, Nanda menghentikan langkahnya kembali. Dia menghela nafasnya ulang, dan menoleh kebelakang. Sosoknya masih terlihat jelas. Sosok Gilang yang dia kagumi. Dia lemparkan senyuman yang berkesan. Kemudian dengan suara pelan dia berkata :

            “Terimakasih. Aku sangat menikmati masa-masa bersamamu. Masa remajaku”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s