Air-air yang mengalir

                “Plung”

            Batuan kecil semacam kerikil Nanda lemparkan ke dalam sebuah sungai panjang yang entah dimana ujungnya. Matanya menunjukkan pandangan kosong akan apa yang dia pikirkan. Gerakan tangannya saat melempar kerikil tersebut seakan terasa lunglai dan tak bertenaga. Hembusan nafasnya tertahan dan tak beraturan pertanda bahwa dia baru saja merasakan kesakithatian yang tak bisa di definisikan.

            Semua memang tak bisa digambarkan tentang bagaimana perasaannya sore ini. Yang dia tau, baru kemarin dia melemparkan senyum geliat tawa yang penuh harapan kepada seorang Gilang. Terkadang memang semua terjadi dengan tak terduga dan tak diharapkan. Tapi kita bisa apa? 

            “Nda, makasih banyak ya buat selama ini yang mau nemenin aku. Kayaknya, setelah hari ini kita gak bisa sedeket ini lagi deh”

            Itulah ucapan Gilang siang tadi yang cukup mengherankan dan membuat hati Nanda berantakan tak beraturan.

            “Loh? Kok kamu bilang kayak gitu? Kenapa emangnya?”

            Tanya Nanda singkat. Meskipun singkat, ada beberapa bait kalimat yang tersirat.

            “Iya, hari ini aku jadian sama Laila. Aku harus menjaga hubunganku sama dia Nda. Kamu tau kan sayangku ke Laila itu kayak gimana?”

            “Hmm” Nanda menunduk lesu “Tapi, kita masih bisa ketemu kan? Kamu masih mau ngeluangin waktumu buat aku kan?”

            Tatapan mata Nanda kini penuh dengan harapan yang mendalam. Mata mereka saling bertemu. Untaian kalimat pengharapan dari Nanda cukup membuat Gilang mengerti apa yang dimaksud. Segera Gilang mendaratkan tangannya di bahu Nanda. Dengan perlahan dan penuh perhatian, tangannya berpindah ke kepala Nanda, kemudian jari-jarinya dengan lembut membelai rambut Nanda.

            Mendapat perlakuan yang membuat nyaman, tanpa diperintah pun Nanda menyandarkan kepalanya di bahu Gilang. Semakin dalam. Perasaan mereka saling berbaur menjadi satu. Hingga jarak antara kepala mereka sudah sangat dekat. Dan mereka saling memberi kecupan kepada bibir yang dari tadi hanya berucap namun belum bertindak. Semua berlalu begitu saja. Sedikitnya ada beberapa untaian kasih cinta yang mendera.

            “Maafin aku Nda. Aku udah kelewatan. Harusnya aku gak berbuat gini ke kamu”

            Sesal Gilang yang beberapa menit yang lalu telah mengecup bibir Nanda.

            “Hmm” Nanda mengeluarkan senyumnya “Gak papa kok Lang. Malah sebenernya kalau bisa, aku pengen setiap hari merasakan kecupan itu”

            “Maafin aku ya Nda? Aku di posisikan dalam posisi yang sulit. Anggap aja itu tadi kado terakhir untuk pertemuan kita yang sebelumnya mengesankan. Aku harus profesional menentukan arahku. Aku udah milih dia, jadi dia yang aku prioritaskan Nda. Maaf ya?”

            Beberapa untaian kalimat dari Gilang itu sangat membuat hatinya runtuh. Dia menahan air mata yang sudah memaksa untuk mengalir. Mencoba melakban kesakit hatian yang tak terbendung. Senyumnya dia paksakan untuk keluar, demi mengucapkan kalimat manis yang telah lama terpendam.

            “Yaudah. Gapapa Lang. Aku sayang kamu. Sejak dulu. Aku mencintaimu”

            Hati Gilang bergetar. Tapi dia tak sanggup berbuat banyak. Dia telah menentukan pilihan. Dan harus tetap pada jalur pilihannya. Sampai akhirnya, pertemuan mereka di akhiri dengan pelukan. Pelukan yang mengeratkan, yang memberi kesan selamat tinggal.

Xxxxx

            Matahari sudah mulai menyembunyikan wujudnya di ufuk barat. Nanda  masih sendiri melihat aliran sungai yang teratur. Mencoba menenangkan lajur hatinya yang berantakan dengan mengikuti alur sungai tersebut. Matanya mulai mengembang, menandakan buliran air yang siap mengalir. Dia rogoh saku kanannya untuk mengambil ponsel yang cukup lama bersembunyi disana. Dia membuka beberapa pesan kenangan peninggalan yang dikirim oleh Gilang.

            “Jangan sedih ya? Kamu tau aliran sungai yang dulu aku tunjukin ke kamu? Air-air itu mengalir bebas, mengikuti setiap lekuk bentangan sungai yang ditentukan. Tapi kamu pasti tau kan ujungnya? Laut. Air-air itu akan berkumpul di laut yang luas. Anggap aja kita itu aliran air yang mengalir pada sungai yang berbeda. Kita bisa berharap suatu saat, kita bisa ditemukan kembali di laut. Tempat yang luas dan cukup untuk kita berdua. Tetep senyum ya. Aku gak pergi kok. Aku masih di situ. Di hatimu, kalau aja kamu masih sudi menyimpanku rapat disana. makasih Nda”

            Kini air mata Nanda mulai mengalir dengan derasnya.

            “Andai aja kamu milih aku Lang. Tanpa harus menunggu kita bertemu di suatu laut yang luas. Aku ingin bersama melalui aliran sungai itu bersamamu”

            Kalimat itu yang berulang-ulang terucap di benaknya, diiringi aliran air mata yang mulai mereda. Sampai akhirnya semua benar-benar mereda dan kering. Nanda mencoba untuk menerima dan berpikir logis.

            “Baiklah. Aku alirkan air mata ini untuk menjagamu mengarungi sungai-sungai itu Lang. Setidaknya, cuma itu yang bisa aku lakuin untuk terus bisa bersama dan mengharapkanmu”

            Semuanya pun berlalu. Hamparan taman di samping sungai itu kini telah Nanda tinggalkan. Dia berjalan lunglai namun mencoba untuk tetap tegar. Langkahnya tertahan, namun mencoba untuk menguatkan.

            Cintanya mungkin belum bisa kesampaian untuk digenggam. Tapi paling tidak, kenangan yang telah terbuat sudah cukup mampu untuk meraba bahwa dari setiap lekuk kenangan itu, ada cinta di dalamnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s