Cinta itu….. (Isi sendiri)

Image

 

                “Emangnya cinta itu apa sih Feb”

            Pertanyaan itu masih terngiang jelas di pikiranku sampai sekarang. Bukan hanya pertanyaannya, namun juga sesosok jelmaan bidadari yang dulu duduk lasehan tepat di depanku pun masih sangat terbayang jelas.

            “Cinta? Hmm mungkin itu sesuatu yang bisa membuatmu nyaman. Dan ketika kamu udah kehilangan, baru kamu tau bahwa itulah cinta dan kamu akan merasa hampa”

            Itulah jawabku sekenanya dari pemikiran yang pendek dan tak tau apa arti dari cinta.

            “Masa kayak gitu? Terus, kalau misal aku nulis, tanganku nyaman sama sebuah pensil dan suatu saat pensil itu hilang, aku pun merasa kehilangan. Apa itu juga termasuk aku mencintai sebuah pensil?”

`           Bingung. Aku menghentikan ucapanku untuk berpikir dan menemukan sebuah jawaban yang pas dari pertanyaan serumit itu.

            “Duh, ya bukan kayak gitu dong”

            Jawabku terhenti sampai disitu.

            “Terus gimana?”

            Tagihnya mantap. Tatapan mata tanda keseriusan itu dia pancarkan kepadaku. Semakin membuatku bergetar dan grogi untuk menemukan sebuah kalimat yang tepat.

            “Aku bingung njelasinnya eh”

            Sekali lagi. Buntu. Hanya itu yang terjawab dari mulutku.

            “Loh? Kok kayak gitu sih. Huh. Kamu tau gak Feb? Aku itu sayang sama kamu. Tapi, kalau masalah cinta, aku gak tau itu apa. Jadi aku gak bisa memastikan apa aku mencintaimu atau enggak”

            Kejutan. Senyum lebarku aku pancarkan kepadanya. Kepastian mulai terjawab ketika kalimat sayang terucap untukku. Namun ketidakjelasan masih merajalela ketika kalimat cinta yang tak tau apa itu artinya.

            “Kamu nyaman sama aku?”

            Tanyaku lembut, seakan meminta kepastian yang lebih pasti dan real.

            “Iya, aku nyaman sama kamu Feb”

            Jawabannya sangat menenangkan hatiku yang sudah kosong beberapa tahun belakangan.

            “Tapi aku gak tau apa itu cinta. Aku buta akan istilah cinta. Aku masih Childis untuk masalah penjelasan mengenai cinta yang entahlah. Kamu tau? Aku tau rasanya laper itu baru kemarin kelas 2 SMA. Laper di perut bunyinya ‘kruuuuuk’ itu aku ngerasain baru kelas 2. Aneh banget kan?”

            Lanjutnya sesekali meyakinkan kepadaku bahwa dia memang tak mengerti apa itu cinta.

            “Iya gapapa kok. Kamu baru kelas 2 SMA tau gimana tandanya laper? Padahal kalau laper itu sebenernya sudah ada sejak kamu lahir, cuma kamu gak menyadari itu. Ya cinta itu hampir mirip kayak laper itu. Kamu gak tau sekarang, tapi seiring berjalannya waktu, kamu akan tau bahwa ternyata cinta itu ada dimana-mana. Bahkan di sekitarmu”

            Jawabku yang mulai menemui titik terang agar bisa mendapatkan kepastian.

            “Tapi aku tetep gak akan tau apa itu cinta. Cinta itu rumit Feb”

            Lagi-lagi dia bersikeras kepada pendiriannya bahwa dia memang buta akan cinta.

            “Kamu mau gak jadi pacarku?”

            Skakmat. Kalimatku yang mendadak dan tak terduga itu seakan menutup rapat bibir tipisnya yang dari tadi berucap panjang lebar.

            Kaku. Keadaan semakin kaku dan gak kondusif. Kami berdua saling diam dan tak berkata. Dia diam karena mencari jawaban yang tepat, sementara aku diam karena menunggu jawaban yang aku harap.

            “Kalau misal aku belum bisa jadi pacarmu, kamu ninggalin aku gak?”

            Jawabnya pelan. Sangat pelan. Bahkan sedikit tertahan. Dia memandangiku dalam. Penuh perhatian. Aku pun melihat jelas bola mata yang terasa penuh harapan untuk bisa bersamaku. Aku tersenyum. Tapi disatu sisi, aku tau, di dalam bola matanya yang penuh harapan itu mengandung arti yang jelas bahwa dia belum bisa menerimaku. Senyumku tak sepenuhnya terumbar sempurna. Tapi senyumku ternoda dengan kekecewaan karena aku belum bisa memilikinya.

            “Iya, aku tau maksudmu kok. Aku gak akan ninggalin kamu, gimanapun jawabanmu”

            Tanpa aku dengar pun, aku akan tau bahwa jawabannya hanyalah :

            “Iya, makasih. Aku masih belum bisa nerima kamu Feb”

            Aku masih bisa tersenyum. Setidaknya karena aku tau kalau dia masih ingin bisa bersamaku. Memberiku kesempatan untuk bisa menemani harinya dan membuat cerita yang berkesan untuk kelangsungan jangka panjang yang tak ku tau akhirnya.

            Bagiku… Cinta bukanlah sebuah alasan yang bisa dijabarkan. Aku tak tau apa itu pengertiannya. Namun yang ku tau, aku selalu merasakan keberadaannya yang selalu mendamaikan.

            Dia memang tak mengerti cinta. Namun dari kalimatnya yang terucap perlahan dan tertahan itu aku pun menyadari sedikitnya ada seberkas perasaan cinta yang bercampur di dalamnya.

            Ya…. untuk itu, aku sangat menikmati perjalanan dan rajutan kisah yang telah dia berikan dan kita lalui bersama.

            Kembalilah kapanpun… aku disini menanti. Dan berharap kau kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s