kebohongan yang tersembunyikan

Image

 

Namanya Selvi. Aku mengenalnya sejak dari bangku SMA. Jika ditanya, siapa sih yang tidak mengenal perempuan manis berkulit sawo matang yang selalu menutup rambutnya dengan jilbab itu? Jawabannya hampir pasti semua mengenalnya. Secara, dia adalah model hijabers di majalah muslimah.

                Aku bersahabat dengannya. Sangat menyenangkan ketika bercerita tentang keseharian dan masalah yang selalu hadir di hidupku. Selvi selalu punya saran, masukan, dan penyelesaian yang menurutku itu logis.

                Salah satunya ketika aku bercerita tentang seorang lelaki kelas 12 IPA 4 yang aku sukai. Dia mempunyai masukan bahwa kalau aku menyukai lelaki itu, janganlah terlalu sering aku umbar kesukaan itu kepadanya. Tak jarang banyak lelaki yang ilfil jika melihat perempuan itu frontal.

                Hasilnya, aku memendam perasaan suka itu sampai sekarang. Menyimpan dengan rapi kalimat-kalimat yang sudah tersusun dalam hati. Membiarkan waktu berlalu sebagai mestinya sehingga takdir yang diharapkan bisa mempertemukan.

                Kini aku sudah menjadi mahasiswi semester 7 di universitas janabadra jurusan teknik sipil. Menyelesaikan skripsi adalah hal yang paling menjenuhkan dalam kehidupan kemahasiswaan, tetapi tetap harus dijalani jika menginginkan kalimat sakral bertuliskan “LULUS”.

                Sudah lama aku tidak bertemu dengan Selvi. Kabar terakhir yang aku dengar, sekarang Selvi telah menyelesaikan jenjang S1 nya. Lebih cepat beberapa bulan dariku yang InsyaAllah akan segera selesai bulan ini.

                Selvi memang perempuan yang cerdas. Dia bisa membagi waktu antara kesibukkannya sebagai model dan juga keseriusannya sebagai mahasiswi. Memang tak heran jika banyak sekali lelaki yang jatuh hati kepadanya.

                Selain Selvi, aku pun mengingat seseorang lagi yang juga sudah lama tidak aku jumpai, tetapi hampir setiap hari aku mata-matai dia di jejaring sosial Facebook. Farel. Ya, kabar terakhir yang terdengar pun, dia sekarang sudah lulus S1 dan bekerja di perusahaan telekomunikasi di Yogyakarta. Tampan, asyik, dan jenius. Itu yang selalu aku kagumi dari sosok Farel. Iya, aku hanya mengaguminya diam-diam. Melalui perasaan yang tak sempat aku sampaikan.

                Beberapa bulan berjalan. Aku telah menyelesaikan tugas skripsi yang menjenuhkan. Dosen pembimbing yang menjadi pendamping dalam penyelesaian tugas skripsiku pun memberikan selamat atas keberhasilanku. Hanya tinggal menunggu wisuda, dan semua terlepas bebas. Tak ada lagi beban dan tinggal mencari pekerjaan.

                Selvi? Dia jarang menghubungiku. Tidak tau, apakah dia lupa padaku atau tak sempat mengabariku. Beberapa pesan yang aku kirimkan padanya pun sering kali 1 hari baru dibalasnya. Semua memang berubah sejak waktu SMA telah berlalu. Masa-masa ceria yang sering dibagikan bersama sekarang menjadi kesibukkan yang hanya menjadi sekedar ego yang bergejolak. Sedikit waktu yang bisa di pergunakan untuk bersenang-senang. Sejengkal sapaan yang dapat di lemparkan untuk seorang teman. Semua telah berubah dan berubah.

                “ting tong”

                Bel rumahku berbunyi dengan merdunya. Kebetulan hari itu aku baru duduk di ruang tamu sambil membaca majalah Anekayess langgananku. Segera aku berdiri dari tempat dudukku dan membukakan pintu kepada orang yang telah menekan bel tersebut.

                “Iya, cari siapa ya mas?” tanyaku ramah kepada seorang lelaki berbadan kurus dengan menggunakan rompi bertuliskan “pos indonesia”

                “Apa benar ini rumahnya saudara Irawati Prakasiwi?” tanyanya pun dengan ramah.

                “Iya benar. Kebetulan saya sendiri mas?”

                “Oh iya, Ini ada surat undangan untuk mbak Irawati. Tolong bisa tanda tangan di slip ini?”

                “Iya mas” ucapku sambil menanda tangani slip yang memang harus di tanda tangani sebagai bukti bahwa surat itu telah sampai pada tempat yang benar. “terima kasih ya mas”

                Seiring ucapan terimakasihku yang menggema dan punggung mas tukang pos yang semakin menghilang jauh meninggalkan rumah, aku masih terpaku dengan surat undangan pernikahan yang baru saja aku terima.

                Entah ada kontak batin apa dengan surat itu, hatiku berdebar kencang saat aku mulai membuka perlahan surat tersebut.

                “SELVITA MAHARANI & FAREL

                Tulisan itu yang seakan menyembul keluar ketika surat yang barusan aku terima terbuka. Kosong. Pikiranku seketika kosong saat itu. Apa yang terjadi? Sesekali aku menampar pipi sebelah kiriku agar meyakinkan bahwa ini sekedar mimpi dan aku segera terbangun dari keadaan yang buruk ini.

                Tanganku menggam erat surat undangan yang tidak aku harapkan. Surat undangan yang aku harap salah penulisan. Harusnya nama Selvita Maharani diganti oleh nama Irawati Prakasiwi. Sampai terlalu lama aku menggenggam, surat undangan itu menjadi kusut dan tak karuan.

Xxxxx

                Aku rebahkan tubuhku di atas kasur yang sudah biasa menjadi tempat bersandar dikala aku lelah. Suasana di luar kamar hari itu sangat cerah dan menyejukkan. Awan-awan putih menutupi lekuk sinar matahari yang memanaskan. Semua terlihat dari jendela yang sengaja aku buka.

                Suasana cerah itu tak mampu membuatku ceria atau berbahagia. Aku mengingat surat undangan yang aku terima  seminggu yang lalu. Malam inilah hari pelaksanaan dari undangan itu dimulai. Selayaknya cahaya kegembiraan, kini semua itu tertutup rapi oleh kesedihan yang mendalam di dasar relung hatiku.

                Aku mengingat masa lampau yang dulu selalu aku elu-elukan. Masa SMA. Masa persahabatanku dengan Selvi yang menyenangkan. Curhat-curhatan tentang perasaan yang terpendam. Tersenyum bersama ketika ada kelucuan yang mampir di pandangan. Semua berjalan baik. Sangat baik. Ketika aku belum begitu peka dengan semuanya.

                Kini aku merasakan beberapa keganjilan dari kekurang pekaanku dahulu. Aku mengingat betul bagaimana mimik lekuk wajah Selvi ketika aku menceritakan tentang ketertarikanku kepada Farel. Senyum yang  tertahan dan saran yang terpaksa mungkin yang jika sekarang aku sadari. Salahkah aku ketika aku bercerita kepada Selvi tentang rasa sukaku yang mendalam kepada Seorang Farel? Yang juga ternyata Selvi menyukai lelaki bernama Farel tersebut. Entahlah. Semua itu perasaan yang tak terkendali dan tak bisa dimunafikkan.

                Malam pun menghampiri. Gemerlapan bintang ku abaikan. Kupanaskan mobil sedan jadul pemberian ayahku di samping rumah. Segera ku lajukan dengan perlahan menuju rute tempat yang ada pada surat undangan.

                Jarak semakin dekat. Detak jantung semakin berdebar tak beraturan. Acara pernikahan bertemakan outdoor yang ramai aku lihat malam ini. Pesta yang cukup meriah dan penuh dengan senyum tawa kebahagiaan. Kebahagiaan di atas penderitaan orang lain lebih tepatnya.

                Aku semakin berat untuk menempatkan posisi mobilku di parkiran. Ketika niat mulai terkumpul untuk ikut bagian dalam pesta itu. Sebuah moment yang tak pernah aku harapkan terlihat.

                Perempuan dengan dress pengantin berwarna putih cerah yang serasi dengan wajah cantik meronanya bersanding dengan lelaki tampan berpakaian jass putih-putih. Hatiku semakin berdebar tak karuan. Rasa amarah yang meluap dan rasa kecemburuan yang tak terbendung.

                Aku ambil ponsel. Aku ketikkan beberapa tulisan pedas.

                “Kamu itu bajingan Sel ! apa maksud dari semua ini? Kenapa kamu melakukannya? Kenapa kamu tega merebutnya dariku? Ingat persahabatan yang telah kita jalin selama SMA? Semua rusak detik ini, rusak hanya karena kalian saling bersanding menggunakan pakaian putih cerah. Seharusnya, aku yang berada pada posisimu sekarang !!! you, my enemy !!!”

                Aku pandangi sejenak kalimat-kalimat itu. Butiran air yang bening dari kedua mataku ini tak lagi bisa terbendung untuk membasahi pipiku. Aku sungguh tak kuasa untuk menerima keadaan yang rumit ini.

                Akhirnya, pesan itu hanya masuk kotak draft ponselku, dan terganti dengan pesan berkalimat :

                “Aduh, maaf ya Sel aku gak bisa dateng. Aku harus keluar kota karena ada wawancara kerja. Semoga kalian menjadi pasangan yang setia sampai tua dan mendapat keturunan yang berguna bagi nusa dan bangsa. Berbahagialah teman”

                Munafik. Kalimat itu yang pantas disematkan untukku. Berkata tidak apa-apa di posisi yang sebenarnya memberatkan? Ya, hanya itu yang bisa aku lakukan. Setidaknya, semua untuk menutupi kelemahanku. Bahwa aku, tak cukup mampu untuk jujur akan perasaan yang sebenarnya.

                Karena terkadang, berbohong untuk sesuatu yang terlihat menyeimbangkan itu adalah benar. Karena suatu saat nanti seiring berjalannya waktu, semua kata kebohongan dari kalimat “tidak apa-apa” akan terealisasikan jika semua kembali pada alurnya dan memang tidak pernah terjadi apa-apa.

Advertisements

6 comments

    1. Uwaaaa makasih banyak kak :3 . ceritanya dapet dari kisah beberapa teman yang cintanya gagal dan di rebut teman kak 😀 . di edit dikit biar lebih mengenaskan, jadi di buat konfliknya nikahan deh 🙂

      1. gapapa biar sopan dan aku merasa muda aja :p . kamu 99? kok masih kecil? kayak kecebong :p
        aaaa makasih ya 🙂 makasih udah mau berkunjung. aku juga berkunjung ke blogmu ya kak :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s