Logika yang salah

            Gue punya tabung gas 80kg.

            Sorry gue ralat.

            Gue punya temen, yang badannya kayak tabung gas 80kg.

            Namanya Dian. Ya, boleh lah gue akui kalau dia itu tampan. Kayak jamban.

            Banyak waktu yang gue habisin percuma bersama sesosok kampret kampungan ini. Mulai dari main game sampai nggodain cewek di jalanan. Murahan. Ya emang sih, kalau segala sesuatu yang dilakuin bersama temen itu gak ada yang percuma. Pasti kita bisa mendapatkan hikmah dari kebersamaan itu. Yaaap, tul. Gue dapet hikmah kalau ternyata kejombloan Dian itu lebih kronis dari gue.

            Dalam beberapa moment curhat bersama dalam kesendirian berdua, Dian pernah bercerita panjang lebar masalah hubungan percintaannya. Dan, yak. Ironis. Dian sama sekali belum pernah punya pacar. Bukan karena Dian alim dan bilang pacaran itu gak etis layaknya beberapa oknum orang yang agamanya kuat. Tapi karena Dian selalu ditolak.

            Najis, jijik, iba, kasihan,dan segala bentuk perasaan gak jelas itu gue gambarkan waktu Dian cerita panjang lebar dan menangis sekenanya. Tangisannya seakan menggambarkan Dian meminta pertanggung jawaban karena gue udah menghamilinya. Gak etis.

            “Gue itu capek Feb” nah kan. Najong. Kalau yang bilang kayak gini cewek mah gak masalah.

            “Lo itu capek kenapa sih?” jawab gue datar.

            “Gimana sih caranya biar bisa dapet cewek?” pandangan Dian menengadah ke langit malam yang gelap tertutup oleh awan pekat.

            Gue diem. Entahlah gue harus menjawab pertanyaan itu pake bahasa yang kayak gimana. Yang gue tau, gue jomblo dan sekarang masih belum bisa dapetin cewek. Pertanyaan yang salah kalau itu disodorin ke gue.

            “Feb?” tagihnya yang masih kebingungan akan jawaban dari pertanyaannya.

            “Ya, buat cewek itu nyaman aja?” simple.

            “Nyaman?”

            “Yak. Tul”

            “Kenalin gue sama temen cewek lo dong Feb?”

            Sekali lagi. Gue diem. Dian minta kenalan cewek sama orang yang juga butuh cewek? Goblok, dongo atau oon?

            “Feb?” tagihnya lagi.

            “Sorry Yan. Temen cewek gue udah pada punya pacar”

            “Yaaaaaaah” sesalnya datar.

            Setelah malam itu, waktu berlalu seperti biasanya. 1 hari 24 jam. 1 jam 60 menit. 1 menit 60 detik.

            Esok harinya, adalah pengumuman kelulusan untuk pelajar sekolah menengah atas. Beberapa sekumpulan orang menyerubung di papan pengumuman kelulusan. Gue mendesak orang-orang yang ada disana demi melihat hasil kerja keras gue selama 3 tahun.

            “39.75”

            Angka itu yang gue lihat di samping tulisan bernamakan Febri. Gue melemparkan senyum lebar tanda kesenangan. Oh iya, gue sekolah di sekolah menengah kejuruan yang mata pelajaran UN nya bahasa Indonesia, matematika, bahasa Inggris, dan kejuruan. Jadi, nilai gue hampir pada kata “SEMPURNA”

            “puk”

            Dian menepukkan tangannya di bahu gue. Dia memancarkan senyum bahagia yang menggambarkan bahwa dia LULUS.

            “Gue lulus bro !!!” teriaknya di depan muka gue.

            “Yoi bro” jawab gue simple.

            “Hahaha 34.75 lumayan lah. Masih di atas lo Feb”

            “Hah? Maksud lo?”

            “Iya, NEM gue 34.75. jauh lebih keren dari lo yang NEMnya 30.75 kan?”

            “Eh?” jawab gue simple yang disertai refleks berlari menuju papan pengumuman yang sudah sepi tadi.

            “30.75”

            SIAPA YANG BERANI NGEGANTI ANGKA NEM GUE?!!!!!!!!!!

            Gue mules. Kok jadi 30.75? gue gak ngerti. Ada oknum kampret yang berani ngubah semuanya.

            Waktu berjalan cepat. Sampai akhirnya gue kuliah di salah satu Universitas swasta. Sementara Dian, dia kuliah di Universitas Unggulan di jogja.  Males sebenernya mengakui kehebatan Dian yang mampu kuliah di Univ Favorit. Tapi, ya gimana lagi. Dia temen gue.

            Keadaan kampret menghinggap. Ya sebenernya wajar kalau dunia itu berputar dan seiring berjalannya waktu terkadang teman lama dilupakan. Iya, Dian tiba-tiba menghilang dari gue. Jadi gini rasanya kehilangan temen deket? Hampa.

            Sebagai teman yang baik, gue gak mau dong pertemanan yang udah lama kami rajut itu berakhir cuma karena kami udah kuliah. Ya udah gue kepo facebook Dian buat menggeledah apa yang terjadi sama dia.

            SYOK BERAT !!!     

            Itu hal pertama yang gue rasain pertama kali liat facebook Dian.

            “Diancuk sejancuk jancuknya have a relationship with Fitria Anggraini”

            Tulisan itu terpampang jelas di profil Dian. Sorry, gue gak cemburu kayak apa yang gue cemburuin ke gebetan gue yang akhirnya semua memamerkan hubungannya dengan orang lain. Najis kalau nyemburuin Dian.

            Tapi yang bikin kesel, kenapa dian gak ngasih kabar ke gue? Nyebelin.

            Hasilnya, saat itu juga gue pun nyelonong pergi meluncur dengan tampan ke rumah Dian. Beruntung, Dian siang itu lagi duduk dengan enjoy disertai tangan yang setia mengorek lubang hidungnya.

            “Heh? Lo kok jadian sama cewek kagak bilang-bilang sih?”jerit gue mantap sambil turun dari motor.

            “Hah? Apa?” jawabnya dongo.

            “Kok lo jadian sama cewek gak bilang-bilang?” tanya gue sekali lagi.

            “lo siapa ya?”

            Kampret.

            Gue duduk di samping Dian yang dengan tega udah jadian sama cewek lain. Pret. Gue liat dia sibuk memainkan tanktop dengan layar mozilla firefox sebagai background. Sesekali dia mengganti layar mozilla tersebut dengan opera. Aneh. Walaupun kedua peranti buat internetan itu diganti, layar di dalam mozilla sama opera itu tetep bernamakan “Facebook”.

            Gue penasaran.

            “Lo buka apaan sih? Kok dari tadi bolak-balik ganti mozilla ke opera, tapi layarnya tetep facebook?” tanya gue sambil memfokuskan pandangan dengan seksama ke arah tanktop Dian.

            “Hehehe” jawabnya datar.

            “Subhanallah yan? Lo udah gila? Lo punya 2 akun Facebook? Satu dinamain Diancuk sejancuk-jancuknya dan satunya lagi lo beri nama Fitria Anggraini?”

            “Lha emang”

            “Terus sekarang lo buang waktu lo buat mainan tanktop, buka tutup mozilla sama opera cuma buat tukar pesan lewat wall facebook? Yang padahal 2 akun itu lo yang punya?”

            “iya, Jadi biar terkesan gue kayak punya pacar gitu, kan romantis tuh gue di publik saling tukar pesan di wall sama comment status yang romantis unyu. Jarang-jarang loh. Smart kan? Lo musti coba Feb” jawabnya simple.

            “ i… iya. Lo smart banget yan” balas gue sambil senyum-senyum sedikit unyu.

            Setelah itu, gue pulang dari rumah Dian. Gue membiarkan Dian terus begitu kayak orang dongo. Yang penting dia bahagia lah. Sampainya gue di atas kasur. Gue menerawang jauh ke langit-langit. Gue berpikir sejenak.

            Apa sih yang menyenangkan dari membuat 2 akun facebook yang berbeda nama, dibuat saling berhubungan pacaran, and then tukar pesan di wall sama comment-comment status romantis biar diliat publik kayak orang pacaran yang sangat so sweety?

            Menurut gue gak ada. Tapi menurut Dian, ada. Setidaknya, biar dia tidak terlihat jomblo.

            Ya, terkadang kita memang lebih menilai sesuatu dari sudut pandang yang kita lihat. Dan selalu saja menjudge kalau apa yang kita nilai itu benar. Memojokkan, membujuk bahkan sampai memaparkan beberapa ocehan agar orang lain percaya dengan apa yang menjadi penilaian kita semua pasti akan kita lakukan.

            Tapi, kenapa tidak kita mendengarkan apa yang menjadi penilaian orang lain dahulu? Sebelum akhirnya dari dua penilaian itu kita buat kesimpulan yang hasilnya gue yakin pasti akan menemui titik terang yang lebih dari kata logis.

            Dan kalau dari penilaian gue tentang apa yang dilakuian sama dian? Dian menilai kalau dia ngelakuin semua itu biar gak kelihatan Jomblo. Sementara gue menilai semua itu adalah tindakan goblok. Jadi bisa di tarik kesimpulan yang logis adalah :

            “DIAN NGELAKUIN ITU SEMUA BIAR GAK KELIATAN JOMBLO. TAPI BIAR DIA KELIATAN DONGO”

            Sekian…. keren kan?

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s