#cinta dalam mimpi

 

“Aku mau kok jadi pacarmu”

            Kalimat itu yang membawaku untuk bisa menyusuri jalanan ringroad utara bersamanya. Dengan lingkar tangannya yang dengan indah menyusuri badanku, wajah penuh senyum aku pamerkan kepada setiap orang yang aku salip. Entahlah, gausah di bayangin.

            Jalanan malam itu cukup padat, namun aku mengabaikan kepadatan tersebut dengan melakukan perjalanan yang lambat. Sesekali aku melepas sebelah tanganku yang sedang memegang stang motor itu hanya sekedar untuk bisa menggapai tangannya yang lembut itu.

            Kami berhenti di sebuah taman lampion yang berada di Monumen Jogja Kembali. Suasana penuh dengan lampion yang remang-remang itu kami nikmati hanya berdua. “Abaikan semua orang yang ada di sana. Malam ini milik kami berdua” Ucapku ketika aku mulai menggenggam tangannya.

            Berjalan sambil berpegangan tangan adalah suatu hal yang lumrah untuk setiap orang yang berpasangan. Tapi dilain sisi, ini adalah suatu pemandangan yang haram untuk seorang jomblo yang selalu gagal mencari pacar.

            Setelah cukup lama berjalan dan mulai agak pegal dengan langkah kaki yang terus-terusan melangkah. Kami pun memilih untuk duduk di sebuah kursi kecil yang memang sudah disiapkan di sebelah utara kolam. Tempatnya hanya kecil dan sedikit sekali menerima pancaran sinar lampion yang memang sudah remang-remang itu.

            Kami berdua duduk berhadapan. Tangan kami saling menggenggam. Senyuman pun tak lupa kami lemparkan. Aku melihat bola matanya yang merona penuh dengan rasa cinta. Mungkin dia juga yang melihat keadaanku yang sangat bahagia bisa menjadi miliknya dan sekarang ada di dekatnya.

            Setelah beberapa lama berbicara banyak dan saling memandang, ada satu moment dimana saat aku berdiri dan kembali memulai untuk memegang tangannya, tubuh kami berjarak sangat dekat. Hanya berjarak beberapa centimeter saja. Akhirnya, ketika kepala kami saling dekat, dengan disengaja aku dekatkan lagi kepalaku, dan menggapai bibirnya. Yes, we are kissed. Di sela remangnya suasana taman lampion……

            “Tratak dung dung jess jess jesss lalalalala ting ting ting”

            Suara itu selalu terdengar dari ponselku saat pagi hari. Aku sengaja menyetel suara itu sebagai alarm untuk membangunkanku setiap pagi. Aku melihat layar pada ponselku. 06.00 WIB, angka tersebut yang terpampang jelas disana. cahaya dari luar sana sudah masuk dengan mudahnya melalu jendela yang lupa aku tutupi dengan tirai. Aku duduk sejenak di atas kasur. Ku lihat sebentar pemandangannya, bantal-bantal yang penuh dengan air yang belum kering, beberapa kertas yang berserakan, meja belajar yang sangat berantakan dan semua tidak pada tempatnya.

            Aku berdiri, melangkah dengan langkah tergopoh menuju ke kamar mandi. Baru beberapa langkah, kulihat ada kertas foto yang tersobek menjadi dua. Aku pungut kertas itu, aku lihat siapa perempuan di dalam foto tersebut. Kemudian aku kembali melangkah ke arah kamar mandi.

            Posisiku sekarang ada di depan kaca. Aku mengusap wajahku dengan air yang keluar dari kran tersebut. Mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi malam tadi. Mataku terus memandang tiruanku di kaca tersebut. Ingatanku kembali memulai untuk menempatkanku kepada kejadian semalam.

            Aku dan dia berhadapan di sebuah rumah makan Sirlo Steak. Rasa canggung sama sekali tidak terlihat dari kami karena memang kami sudah akrab dari dulu. Aku pun sudah cukup lama mengejar cintanya, terhitung sampai sekarang sudah genap 1 tahun aku berjuang untuknya.

            Di depan 2 gelas teh botol sosro serta masing-masing chicken steak dan tunderloin, kami saling bertukar cerita. Terutama dia yang dengan lucunya menceritakan tentang ayahnya yang tergolong lucu buatku, juga tentang perjalanannya yang di bus hanya di perdengarkan lagu dangdut yang entah itu apa.

            Aku menenggak sedikit teh botol untuk menyiapkan mental, ya, aku ingin menembaknya sekarang. Aku pandangi dia dalam, aku berikan dia senyuman, kemudian dengan nafas panjang aku pun berani mengucapkan.

            “hmm,, kita kan udah kenal lama nih. Aku udah nunggu kamu selama setahun loh, dulu ada beberapa alasan dari kamu pas pertama aku deket sama kamu. Mulai dari belum bisa move on sampai usaha kamu buat menjalani proses ngelupain mantanmu itu, aku masih nunggu kamu. Jadi, aku disini ada buat membuat kamu lupa sama dia dan memulai untuk nyaman sama aku. Kamu…. mau nggak jadi pacarku?”

            Suasana hening.

            Dia melihat kedua bola mataku dalam. Aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi aku pernah membaca bahwa dengan melihat kedua bola mata dari orang yang tulus mencintai itu akan, kita akan bisa melihat pancaran indah dari kedua bola mata tersebut.

            “maaf ya? Gini, aku belum bisa nerima kamu. Gak tau kenapa, selama kita pendekatan ini, kita selalu aja berantem dan berbeda pendapat. Maaf ya, aku belum bisa Feb”

            Jangan tanyakan gimana perasaanku malam itu.

            “aku kayak gitu kan karena kamu belum pernah ngasih kepastian tentang hubungan kita. Dulu pas kamu liburan ke kota kelahiranmu, kamu bilang kalau mau ngasih kepastian tentang hubungan kita?”

            “iya itu kepastiannya Feb. Aku belum bisa”

            “kamu masih sayang sama orang lain?”

            Perdebatan berhenti sejenak. Dia menundukan kepalanya dan tidak menjawab pertanyaanku.

            “iya? Kamu masih sayang sama orang lain? Mantanmu?” tanyaku sesekali menegaskan.

            “hmmm”

            “mantan terakhirmu kemarin?”

            “bukan”

            “jadi?”

            “mantanku sebelum yang terakhir”

            #deg

            Aku yang diam. Aku tak mampu berbicara banyak. Segera aku habiskan makanan yang tersisa di depan mejaku dan mengajakknya untuk pulang.

            Di jalan, yang aku tau hanyalah pulang dan mengantar dia pulang lalu sudah, selesai. Tanpa ada pelukan yang aku harapkan, tanpa ada perjalanan menyenangkan yang aku nantikan, juga tanpa adanya bisikan I love u dari bibirnya yang aku tunggu.

            Setelah mengantarkannya pulang, aku tidak langsung kembali ke rumah. Menyusuri jalan-jalan di tengah gelapnya malam yang aku lakukan, ya, hanya untuk sekedar melewati daerah yang dulu pernah aku singgahi bersamanya.

            Kampus tempatnya kuliah, aku melihatnya berwarna orange dengan lampu yang senantiasa menerangi. Dulu, aku pertama kali menemuinya disini, dengan membawa helm dari rumahkum, aku menjemputnya kembali kerumah.

            Gramedia, aku melihatnya sudah tak lagi terang. Tulisan TUTUP di depan pintu kacanya itu tampak menghiasai. Dulu, aku pernah bersamanya hanya untuk mencari binder buat kuliah.

            Juga jalanan, yang setiap aku mengendarai motor, dia selalu ada untuk menghiasi jok motorku di bagian belakang. Pernah suatu kali aku memegang tangannya. Sungguh, sebuah moment yang tak akan pernah bisa aku lupa nantinya.

            Malam itu pun terasa dingin, sedingin hatiku yang kembali merasakan kesendirian akan kegagalan mendapatkan cintanya. Pikiran kebingungan yang muncul itu terasa banyak sekali. Kenapa dia gak merasa aku tunggu waktu dia mencoba untuk move on dari mantannya? Kenapa dia gak mencintaiku, tapi justru mencintai orang lain? Kenapa nyiapin buat ospek UII ribet banget? kampret !

            *cemplung

            Jam tangan ku tercebur di genangan air yang tersumbat. Refleks, aku tersadar dari lamunanku dan menjerit “aaaaaw” tapi setelah itu aku sadar, jam yang tercebur itu bukanlah masalahku saat ini. Aku pun diam, memandangi jam yang ngambang tersebut. sedikit membatin dalam hati. “mungkin, sekarang aku seperti jam tersebut. siapa yang peduli jika ada yang lebih penting dari jam yang mengambang. Pasti jam itu akan dibiarkannya terus mengambang, sampai akhirnya mati dan hilang dari peradaban’

            Aku kembali memandangi kaca itu lagi. Berkaca dan introspeksi. Aku pun tersenyum. Bersyukur, aku sempat bermimpi memilikinya dan merasakan hangat pelukan serta nikmat kecupan darinya.

            Namun secepatnya mukaku kembali murung. Aku berpikir, cinta itu bukanlah sekedar mimpi yang hanya bisa aku rasakan sendirian. Namun cinta itu harusnya nyata, yang bisa dirasakan oleh semua orang.

            Hanya terkadang, ketika semuanya telah tak berujung, mungkin tiada salahnya kita mensyukuri mimpi tersebut. karena paling tidak, disana, kami berdua bersama dan melakukan seperti hal nyata. Walaupun itu hanya sekedar harapan yang terealisikan lewat mimpi. Laalalalalalaa

Advertisements

3 comments

      1. hahaa iyaa..kl cm angan, mimpi, lamunan mah nggak berasaa..
        aku tahu latar ceritanya kecuali kampus orange 😀
        yep, aku asli sana..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s